"Mas, kita harus cepat-cepat pulang Mas," Rahmi masih saja sibuk mengirim pesan pada Farhan.
Niat awal mereka ingin segera menemui Aluna ketika matahari terbit, namun apalah daya saat kesibukan Farhan menghimpit.
Farhan ada meeting pagi hari ini, ini yang membuat ia bergegas ke kantor dari pagi-pagi sekali.
Jam makan siang Rahmi menyusulnya ke kantor, namun Farhan masih ada rapat lainnya.
Aluna tidak tahu jika Farhan adalah pimpinan di perusahaan milik almarhum ayahnya. Yang luna ketahui saat orang tua menjodohkannya waktu itu adalah bahwa Farhan sudah termasuk laki-laki mapan yang mampu menghidupinya dan anak-anaknya kelak. Tapi bukan itu yang membuat Aluna dulu bisa dengan mudah menerima perjodohan itu, namun pesona seorang Farhan lah yang membuat ia tidak bisa untuk tidak menerimanya kala itu.
Rahmi masih memandang benda pipih yang ada dalam genggamannya dengan gelisah, berharap suaminya segera membalas.
Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit ia menatap tetap tidak ada respon dari Farhan.
Rahmi masih saja mondar mandir di dalam ruangan kerja suaminya yang ia bisa dengan mudah keluar masuk ke sana tanpa ada yang bisa melarangnya.
Ia melirik kotak bekal yang tadi ia bawa, masih utuh belum sama sekali ia dibuka. Nasi panas di dalamnya membentuk uap air pada kotak bening itu, ia membuka kotak itu dan mengelap air di tutupnya pakai tisu.
Kemudian termangu menyangga dagu sambil sesekali melirik gawainya.
Masih saja hening, hanya ada beberapa kali notif dari grup pengajian yang sering ia hadiri. Mereka juga ada pengajian jam dua siang nanti dan berharap Rahmi juga bisa datang. Kali ini ia belum mau menjawab dan memutuskan, sebeb otaknya sedang tidak memikirkan hal itu. Ada hal penting yang ingin ia luruskan segera, ia tidak ingin ada hal baru bermunculan hingga membuat rencana awalnya menjadi kacau.
"Mas, kok kamu lama banget. Mad aku udah lebih dari satu jam loh di ruangan kamu," ia kembali mengirim pesan. Padahal pesannya yang pertama saja masih belum centang biru.
"Mas segera ke sana," ia membuka notif pesan yang telah lama ia tunggu.
Hanya mengangguk memperhatikan pesan itu, cukup menunggu sebentar bukan dari ruang rapat ke ruang kerjanya.
Namun tetap saja Rahmi menunggu selama lebih dari lima belas menit barulah pintu ruangan di buka dan muncul sosok yang selalu tetap tampan baginya, meskipun sekarang wajah itu tampak lelah.
"Mas," Rahmi mencium tangan suaminya terlebih dahulu.
"Mas aku bawakan kamu makanan. Makan dulu! Udah agak dingin Mas, sebab Rahmi udah lama di sini," Rahmi tidak sampai hati untuk segera membahas kedatangannya ke kantor dengan melihat wajah lelah dan kusut suaminya.
Mungkinkah Mas Farhan tidak tidur semalam?
"Mmm, iya. Mas juga kebetulan laper banget, belum sarapan dari pagi." Farhan tadi pagi buru-buru ke kantor hingga tidak sempat untuk hanya sekedar sarapan. Ia hanya makan roti sepotong lalu pergi.
Orang Indonesia banget, kalau belum makan nasi artinya belum makan.
"Nih Mas," Rahmi membuka kotak makan dan menyodorkannya pada suaminya yang telah duduk di sofa.
"Kok cuma satu, kamu ngak makan? Atau ini dimakan berdua?" tanya Farhan menatap nasi yang hanya untuk seporsi, namun lauknya beragam.
"Aku udah tadi Mas di rumah, karena udah laper jadi makan duluan. Mas makan aja dulu, abis itu kita bicara ya Mas."
"Oh gitu, ya udah Mas makan dulu ya."
"Mmmm"
**