"Rahmi, apa ngak masalah kalau kamu muncul di depan Luna bersama Mas. Takutnya malah ada hal-hal yang tidak diinginkan," Farhan melirik sesekali pada istri pertamanya sembari mengemudikan mobilnya.
"Justru kalau ngak ketemu ngak bakal kelar masalahnya Mas."
"Mas yang akan bicara dulu sama Luna Rahmi, setelah Luna tenang baru kamu bicara sama Luna," sambung Farhan yang dari awal tidak setuju dengan ide Rahmi yang mau menemui Luna hari itu juga.
"Ngak bisa Mas, perempuan yang akan lebih mengerti perasaan perempuan. Aku yakin kami bisa bicara baik-baik, Luna bukanlah orang yang tidak bisa mengontrol emosinya Mas. Kalau dia seperti itu, sudah dari awal saat dia melihat aku sama Mas, saat itu juga ia labrak. Tapi buktinya ia memilih pergi dan menanyakannya sama Mas. Itu sudah menjadi bukti kalau Luna orang yang baik dan berpendidikan Mas."
"Iya Mas mengerti, hanya saja... Apa tidak terlalu cepat kalau sekarang kamu ketemu sama Luna, dia bahkan belum hamil Rahmi. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
"Aku harap Mas tidak akan pisah sama Luna meskipun dia mandul seperti aku Mas," ucap Rahmi tegas.
"Rahmi please... tidak ada yang tahu siapa yang mandul diantara kita, bisa jadi ini semua salah Mas. Dan biar menikah sama siapapun Mas ngak bakal punya anak," Farhan selalu merasa tidak senang saat istrinya selalu menyalahkan diri sendiri, tanpa melihat ini adalah kesalahan bersama.
"Tapi Dokter bilang Mas ngak ada masalah, aku yakin Mas bisa punya anak. Mas hanya perlu lebih giat, jika perlu konsultasi sama Dokter spesialis demi cepet dapat momongan Mas," Rahmi mendesak.
"Rahmi please... Kamu tahu kan aku hanya cinta sama kamu dan tidak pernah mempermasalahkan soal anak. Kenapa kamu yang selalu mempermasalahkannya hingga muncul ide gila ini," Farhan mengerem mobil mendadak.
"Mas, hidup kita akan lebih berwarna jika adanya anak. Dan aku tidak bisa memberikan itu."
"Ah..." Farhan keluar dari mobil, menutup pintu dengan kasar.
Selalu saja ini yang menjadi alasan pertengkaran mereka, Rahmi selalu saja membahas kalau dia tidak bisa memberikan anak. Padahal Farhan meyakini ini hanya kuasa Allah, dan Allah belum mempercayakan mereka untuk punya anak. Bukan berarti mereka tidak bisa punya anak.
Padahal Farhan merasa sudah bersusah payah menata hatinya agar bisa memenuhi keinginan Rahmi yaitu menikah lagi dengan perempuan yang baru ia kenal dan bahkan ia tidak punya rasa sedikitpun. Ia hanya merasa perlu memperlakukan Luna dengan baik karena dia sudah sah menjadi istrinya.
Namun kegilaan istri pertamanya itu seperti tiada habisnya, sekarang malah menyuruh pergi ke Dokter secara rutin agar cepat bisa punya anak. Padahal mereka bisa lebih santai dan tidak memikirkan hal seperti itu dulu.
"Mas, Mas kok marah sih?" Rahmi memeluk suaminya dari belakang. Jalanan yang lumayan ramai tidak menghalangi Rahmi untuk berlengket-lengket sama suaminya.
"Rahmi, bisa ngak kita ngak bahas soal anak terus, yang ujung-ujungnya bikin kita berantem. Mas sudah bilang, Mas mau sehidup semati denganmu ada atau tidak ada anak. Harus berapa kali Mas tegaskan hal itu. Mas cinta sama kamu Rahmi, tidak ada yang bisa mengganti hal itu walaupun tidak ada anak diantara kita dan ada anak dengan yang lain. Mas hanya mencintai kamu, satu-satunya Rahmi," Farhan berbalik, menangkup pipi istrinya yang lembut.
Rahmi mencium telapak tangan Farhan.
"Terima kasih Mas, terima kasih sudah mencintai Rahmi begitu besar. Tapi Mas perlu kebahagiaan yabg lebih," Rahmi menatap suaminya dalam.
"Kebahagiaan Mas itu kamu, bukan yang lain. hanya kamu Rahmi, cuma kamu."
"Tolong berhentilah bersikap seperti ini Rahmi. Kamu tahu, sikap kamu yang seperti ini menyakiti Mas dan juga Luna yang ikut terseret dalam luka."
Rahmi tersenyum menatap suaminya, ada hal lain di matanya.
"Mas, mungkin ini sulit di awal. Sulit buat Mas, sulit buat Luna, dan juga Mas harus tahu, ini juga sulit buat aku. Tapi Mas, percayalah! Ini yang terbaik buat kita."
"Terbaik apanya Rahmi? Kamu punya keputusan yang akan kamu sesali diakhir," ucap Farhan setengah berteriak. Ia telah amat kesal dengan sikap keras kepala istrinya sekarang yang semakin menjadi.
"Tidak Mas, percaya deh sama aku. Ini yang terbaik buat kita," ucap Rahmi penuh senyum.
"Ah, terserah kamu lah. Apapun itu, toh semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan kita sudah terlanjur membuat luka di hati luna," Farhan berbalik dan masuk mobil kembali.
Rahmi mengikutinya masuk mobil.
Melaju dengan tanpa berkata-kata lagi. Rahmi hanya sesekali melirik suaminya, pikirannya sibuk tentang bagaimana bicara dengan Luna kelak setelah bertemu.
**