Aku lihat semakin hari Mbak Rahmi semakin pucat, tubuhnya semakin kurus. Persis wanita yang ku temui waktu itu di rumah sakit. Aku lupa akan kecurigaanku bahwa Mbak Rahmi sebenarnya sakit keras, aku lupa karena dalam hidupku akhir-akhir ini rasanya terlalu banyak masalah. Tapi aku harus tahu, karena Mbak Rahmi sudah menjadi orang yang penting dalam hidupku sekarang. Aku memperhatikan Mbak Rahmi yang sekarang lagi duduk di meja makan, dari tadi ia sibuk mau membuatkan sup ayam untukku. Dan sekarang supnya sudah jadi, lagi kami nikmati berdua. Tapi yang aku lihat, porsi makan Mbak Rahmi kalau makan denganku sama seperti Mbak Rahmi yang dulu, lalu kenapa tubuhnya teramat kurus sekarang. “Mbak kalau di rumah biasanya makan apa?” tanyaku yang ingin memastikan. Karena biasanya dari siang sam

