“Luna,” Kak Ferdi memanggilku saat aku mau keluar ruangan. Ia bersandar di tembok sembari satu kakinya di angkat. Aku menghentikan langkah namun tidak mau menoleh. Matilah aku kali ini, ngak mungkin Mas Farhan ngak lihat. “Maaf Kak, Luna harus ke toilet.” Dari tadi aku mau ke toilet tapi ku tahan karena acaranya hampir selesai. Mbak Rahmi masih berbincang dengan para ibu-ibu di tempat acara yang tidak ada satupun yang aku kenal. Ku pikir beruntung aku mau ke toilet, jadi tidak perlu membuat-buat alasan. Namun kenyataannya malah ada Ferdi yang menunggu ku di sini. “Maaf,” ucap Kak Ferdi kemudian. Aku yang baru melangkah satu langkah berhenti lagi. “Maaf Luna kalau pertemuan kita membuat kamu makin susah. Tapi kalau kamu tidak bahagia, kamu boleh berlari padaku. Sebisa mungkin aku mau m

