"Selamat ya Luna, akhirnya kamu bisa hamil. Itu artinya Mama akan segera punya cucu," Mama mendekati aku setelah selesai menyantap beberapa makanan berat yang di beli oleh Mas Farhan tadi. Sekarang gantian, Mas Farhan yang makan. "Iya Ma," aku menjawab dengan senyum. Entah kenapa, setelah kejadian itu aku jadi sedikit canggung sama mereka. Rasanya masih ada batasan untuk aku agar tidak perlu banyak bicara. "Luna masih marah sama Papa dan Mama?" lanjut Mama. Sebenarnya aku malas membahas hal semacam ini. Tanpa menjawab, aku hanya menggeleng dengan senyuman. Masak iya aku bisa marah sama Mama sendiri lama-lama. Iya sih, aku akui memang ada rasa marah. Tapi setelah di pikir-pikir, ya sudahlah. "Beneran ngak marah lagi?" "Luna ngak pernah marah kok Ma," aku ngeles. Bukan ngeles pelaja

