Pembohongan Lagi

1037 Kata

"Klek," pintu apartemen terbuka. Apartemen ini udah kayak tempat pengungsian bencana banjir, siapapun bisa masuk. "Assalamualaikum," Mbak Rahmi dengan wajah cerianya masuk. Aku duduk di ruang TV yang mana labgsung terhubung ke ruang depan tempat terima tamu. "Wa'alaikum salam," jawabku. Mbak Luna tersenyum manis, tapi hatiku tetap merasa jikalau ada sesuatu yang ia tutupi di balik senyumnya. Aku yang tadinya lagi santuy makan snack sembari menyeruput jus buah bikinan Bi Eti plus nonton TV jadi bangun hanya buat menyambut Mbak Rahmi, minimal cium tangan lah buat ngehormati yang lebih tua. "Di situ aja, di situ aja. Biar Mbak aja yang samperin," mendengar omongan Mbak Rahmi aku ngak jadi mendekati, balik duduk lagi. Saat Mbak Rahmi duduk barulah aku cium tangannya, berapa hari ngak k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN