Karena kalakuan Mas Farhan yang muji-muji wanita lain, aku jadinya ngak nafsu makan. Mas Farhan masih makan dengan santainya tanpa melirikku yang mulutnya udah manyun kayak kuda. “Kok ngak di makan Buk nasi gorengnya? Katanya mau makan nasi goreng tadi?” tanya Sunter Yanti. “Jadi ngak nafsu,” ucapku ketus. Karena dialog kami itu, Mas Farhan yang tadinya makan sambil lihatin ponsel jadi menoleh padaku. “Loh, kenapa cuma diaduk-aduk aja?” tanya Mas Farhan. Aku pelototin sambil manyun, terserahlah Mas Farhan mau mikir aku kayak apa, aku ngak perduli. Yang aku tahu Mas Farhan hari ini ngeselin banget. Kalau dia muji-muji Mbak Rahmi aku bisa maklum meskipun sakit hati juga. Karena Mbak Rahmi adalah istrinya yang paling ia sayang, jelas aku kalah. Tapi kalau itu adalah wanita lain yang ia

