Udah beberapa hari semenjak suster Yanti bekerja sebagai suster pribadiku, dan aku masih saja ketus dan berbicara seadanya saja padanya. Berbeda dengan Bi Eti yang aku biasanya bisa mengobrol panjang dengannya. Hari ini jadwalnya aku cek kandungan ke Dokter, dan yang nganter adalah suster Yanti, karena semakin hari Mas Farhan semakin sibuk. Saat aku memasuki area rumah sakit, aku melihat lagi sosok yang mirip dengan Mbak Rahmi, tapi sangat kurus. Aku ngak yakin itu adalah Mbak Rahmi. Dia duduk di kursi roda dan di belakangnya ada seorang suster yang mendorongnya keluar dari gedung rumah sakit menuju area taman di samping. Saat suster Yanti lengah, aku mencoba mengejar wanita yang mirip dengan Mbak Rahmi tersebut. “Mbak, Mbak, suster, suster tunggu,” aku mencoba memanggil, namun seperti

