Mas Farhan membukakan pintu mobil untukku, melayaniku layaknya seorang putri. Sayangnya perlakuan Mas Farhan yang begini amat langka, kalau setiap hari aku menerima perlakuan begini, aku yakin aku adalah wanita paling bahagia sedunia. Mas Farhan mengajakku ke daerah pinggiran. Aku melihat dari kejauhan keramaian dan antusias orang-orang di sana. Gelak tawa dan music yang menggema bercampur menjadi satu. “Ini apa Mas?” tanyakku. Ku kira awalnya Mas Farah mau mengajakku ke mall dan nonton, demi menyenangkan hatiku yang tadinya ia buat kecewa. “Coba tebak? tuh lihat itu apa?” Mas Farhan menunjuk biang lala yang terlihat dari luar meskipun arah yang kami tuju sebenarnya tertutup pagar yang sepertinya terbuat dari seng-seng yang mereka dirikan. “Pasar malam?” tanyaku lagi dengan wajah kage

