Pencarian

1218 Kata
“Lun, Luna…” Farhan mengetuk pintu kamar. “Kamu di dalam? Mas masuk ya,” Farhan membuka pintu. Saat Farhan masuk, Rahmi mengikuti dari belakang. Namun kamar terlihat lengang tidak ada siapapun. Hanya selimut dan bantal yang berantakan karena Luna tadi tidak sempat membereskan sebab bangun kesiangan. “Luna, kamu di dalam kamar mandi?” Farhan menuju kamar mandi. Ia menekan gagang pintu, jika terbuka artinya Luna tidak ada di dalam, sebab Luna tidak pernah mandi dengan tidak mengunci pintu. Benar saja, pintu terbuka dengan mudahnya. Farhan tanpa ragu menyusuri kamar mandi. Dan benar tidak ada siapapun di sana. “Coba kita cari di ruangannya lain Mas,” ajak Rahmi. Mereka sejak awal masuk rumah sudah menuju kamar utama, jadi belum mencari ke ruangan lainnya. “Luna, “ “Luna,” Mereka menyusuri apartemen, dari dapur, kamar tamu, ruangan kerja Farhan dan tidak ada siapapun di sana. “Mas, jangan-jangan Luna udah pergi dari apartemen. Aduh gimana ini Mas, kan udah aku bilang, harusnya kita temuin Luna dari tadi pagi,” Rahmi gelisah. Farhan bergegas masuk ke kamar kembali. “Mas, Mas mau kemana?” Rahmi mengikuti Farhan yang berjalan terburu-buru. Tanpa menjawab, Farhan membuka lemari pakaian mereka. Semua masih utuh dan masih sama seperti kemarin. farhan melirik koper yang terletak di atas lemari. “Luna ngak pergi, mungkin dia masih ada urusan di sekolah jadi belum bisa pulang. Kita tunggu saja sebentar lagi, mungkin tidak lama lagi dia bakalan sampai,” Farhan berbalik dan menatap Rahmi yang dari tadi membuntutinya. “Kalau lama gimana? Kita susulin aja ke sekolahnya Luna Mas. Aku pengen masalah kita cepat kelar,” Rahmi memegang lengan Farhan sambil menatap dalam. “Ngak mungkin lah Rahmi. Itu sekolahnya Luna, apa kata orang kalau kita datang berdua ke sana. Kamu mau kita jadi bahan gossip. Justru semuanya bakalan jadi lebih kacau kalau kita datang ke sana.” “Iya sih Mas, aku ngak kepikiran sampe sana,” Rahmi menunduk. ‘Ya udah, kamu sabar aja. Kita tunggu sampai Luna pulang. Yang penting kan kita sudah tahu kalau Luna tidak pergi dari apartemen, jadi kita bisa lebih lega.” “Iya Mas kamu betul.” “Ya sudah, kita tunggu di ruang nonton aja Mas, Jangan di sini. Aku ngak enak kalau tiba-tiba Luna pulang terus kita lagi berdua di kamar. Nanti malah tambah runyam urusannya.” “Kamu sendiri di ruang tamu ngak apa-apa kan? Mas mau mandi terus ganti baju, udah ngak enak, lengket rasanya.” Farhan mengusap pelan pipi Rahmi. “Oh.. ya udah. Mau sekalian aku buatin teh ngak Mas?” “Boleh,” ucap Farhan dengan senyuman khasnya. “Oke baiklah, nanti kalau udah cepet-cepet temuin aku di ruang nonton ya Mas, tehnya aku taruh di sana nanti,” Rahmi sedikit berteriak karena farhan sudah hampir mencapai pintu maker mandi. “Iya Sayang, siap,” ucap Farhan menoleh sembari membuka pintu kamar mandi. “Oh iya Sayang, nanti selesai Mas mandi kita sholat berjamaah ya.” “Oh iya, aku sampe lupa loh Mas kalau bentar lagi masuk waktu ashar.” “Ya, kamu tungguin Mas di ruang nonton aja. Nanti kalau udah masuk ashar kita sholat di sana saja.” “Iya Mas,” Rahmi keluar ruangan. Satu hal yang Rahmi takuti, ia takut jika ia sedang menyiapkan teh atau berada si ruang nonton sendirian lalu tiba-tiba Luna pulang dan membuat salah paham, lalu kemudian Luna tidak mau mendengar penjelasannya. Jika bertemu dengan Luna saat ada farhan, entah mengapa ia merasa sedikit lebih tenang untuk menjelaskan semuanya. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Aluna “jadi… beneran ngak mau cerita nih?” Priska masih saja melanjutkan permohonannya saat kami sudah masuk kost. “Udah jam empat sore, aku belum sholat ashar lagi,” aku melihat jam di ponsel dan memilih tidak menggubris perkataan Priska. “Ah… ngak asik ah, ngak sohib lagi kalau begini deh,” Priska manyun. Beneran deh, kalau lagi manyun bibirnya bisa di kuncir biar kayak ekor kuda. “Udah sholat dulu mending. Ngak penting juga aku cerita ke kamu, emang kamu bisa bantu?” Aku menarik lengan kemeja panjangku karena mau berwudhu. “Kamu kok gitu sih Lun, sakit aku kalau kamu ngomong gitu. Kayaknya kita bukan sahabat lagi deh. Cerita sama sahabat itu bisa meringankan beban di hati. Bisa atau ngak bisa dia ngebantu, itu urusan belakangan.” “Iya urusan belakangan, bisa atau ngak bisa cerita. Yang pertama dan paling utama sholat dulu, ngadunya sama pemilik hidup dulu, baru sama yang diberikan hidup,” aku langsung masuk kamar mandi untuk berwudhu, tidak lagi ku hiraukan celotehan Priska di luar. “Iya, iya yang udah alim karena nikah sama ustadz,” Priska masih saja menyindir ketika aku keluar kamar mandi usai berwudhu. “Sholat itu bukan masalah alim atau ngak alim Priska, sholat itu masalah kewajiban yang harus kita penuhi sebagai hamba,” aku menjawab sembari memakai mukenah. “Iya Buk Ustadzah. Duh… udah pandai ceramah lagi.” Priska kadang memang terdengar nyinyir, tapi hatinya baik kok. Kenyinyiran dia hanya sebatas bercanda saja. Justru dialah orang yang paling perduli sama aku diantara teman-teman ku yang lainnya di saat aku punya masalah. Dia bakalan melakukan hal-hal konyol demi menghiburku di saat aku sedang sedih. Dialah best friend foreverku. “Gimana?” tanya Priska spontan saat aku selesai berdo’a. Dari tadi ia terus saja melototi ku saat aku sholat, hingga sholat pun tidak begitu khusyuk kerena tatapan elangnya. “Apa dih Priska? Kamu lihatnya sampe begitu banget, aku jadi takut loh ini,” aku melepaskan mukena putih berenda pink milik Priska. “Buruan! Kemari, katanya mau cerita,” desaknya. Tukang maksa bener nih anak, udah tahu aku lagi ngak mau cerita. “Sholat dulu gih, udah keburu tua asharnya. Ngak baik loh sholat ditunda-tunda, nanti riskinya juga di tunda sama Allah,” aku menggantung mukenah tapi membiarkan sajadah masih tergeletak di sana. Biarlah, biar Priska bisa cepet sholat. “Baru juga jam empat Lun, masih lama habisnya. Cerita dulu dong, aku benar-benar penasaran gimana orang ganteng yang terlihat begitu sempurna membuat masalah. Apa aslinya dia tempramen? Atau ternyata tukang main perempuan? Atau dia kayak arena jadi Bandar judi lagi.” “Priska… sholat gih! Biar otak kamu ngak gesrek lagi karena kebanyakan nonton drama.” “Nanti sebentar lagi,” rengek Priska. “Priska sholat dulu, aku jandi bakalan cerita kalau kamu mau selesai sholat.” “Serius?” Priska sumringah banget, kayak ketiban riski aja aku mau cerita doang. “Iya serius.” “Ya udah, kalau gitu aku sholat dulu ya Luna. Tungguin, ngak lama kok. Hehe.” Jangan-jangan sholatnya bisa secepat kilat karena pengen cepet-cepet mendengarkan ceritaku. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN