Hari sudah magrib dan Luna masih saja belum pulang, Rahmi semakin gelisah. Ia terus saja mondar mandir di ruang nonton memikirkan bagaimana mencari Luna tanpa adanya gossip miring diantara mereka. Jika mereka bertanya pada orang tua Luna atau teman-temannya maka mereka akan tahu kalau Luna tidak pulang dan sedang bermasalah dengan Farhan.
“Mas, ini sudah jam tujuh malam. Kok Luna belum pulang juga, ngak mungkin kalau masih di sekolah.” Rahmi menemui Farhan di ruang kerjanya.
Farhan masih sempat-sempatnya bekerja di ruangannya, ia tidak terlihat khawatir seperti Rahmi. Matanya malah fokus pada computer dan pekerjaannya.
“Mungkin Luna pulang ke rumah orang tuanya Rahmi, sudah lah kamu jangan terlalu khawatir begitu. Nanti besok kita ke rumah orang tuanya Luna, kita jelaskan semuanya dia sana,” ucap Farhan bernada santai.
“Iya kalau benar pulang ke sana Mas, kalau ngak gimana? Aku takut karena Luna kecewa jadi berpikir hal yang tidak-tidak.” Rahmi dengan wajah gelisah yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Rahmi… Luna itu wanita berpendidikan, mana mungkin memikirkan hal yang aneh-aneh. Aku tahu Luna adalah wanita yang cerdas. Lagian kalau dia ngak pulang ke rumah orang tuanya pasti ia bawa baju, ini bajunya masih utuh di lemari. Kalau di rumah orang tuanya kan bajunya tentu masih ada kan.” Farhan masih dengan ketenangannya.
“Tapi tetap saja Mas, kalau belum di pastikan aku masih khawatir. Sekarang Mas telpon deh mertua Mas, atau kita langsung ke sana saja.”
“Ya sudah Mas telpon dulu, biar kamu ngak khawatir lagi.”
Farhan mengambil ponselnya yang berada di samping computer, menggulir nama di kontaknya kemudian mengklik nama Papa Burhan.
“Assalamu’alaikum Pa.”
Farhan langsung mengaktifkan speaker setelah panggilan terhubung.
“Wa’alaikum salam”
“Ini Farhan mau tanya, Luna ada di sana?”
“Ngak ada, Luna belum pulang ya? Kok jam segini belum pulang?”
“Oh, gitu ya Pa. Mungkin belum sampe aja Pa.”
“Kamu udah telpon dia?”
“Belum sih Pa. Sebab Farhan pikir dia mau nginep tempat Papa.”
“Oh, ngak tuh. Luna juga ngak telpon Papa. Ngak biasanya Luna seperti itu, atau mungkin dia lagi makan malam dulu sama teman-temannya yang juga mengajar di sekolahnya.”
“Bisa jadi sih Pa. Farhan telpon Luna dulu ya Pa.”
“Ya udah, nanti kabari Papa ya kalau udah bicara sama Luna.”
“Iya pa. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Panggilan mereka kemudian di putus.
“Tuh kan Mas apa aku bilang, gimana kalau ada apa-apa sama Luna. Kita bakalan berdosa banget loh Mas sama Luna.”
“Mas telpon Luna dulu, mudah-mudahan Luna mau ngangkat telpon Mas.”
“Iya Mas.”
“Tut… tut…tut,” tulisan di w******p hanya memanggil, itu artinya tidak terhubung ke ponsel Luna. Bisa saja Luna mematikan ponselnya.
Farhan menggeleng menatap Rahmi.
“Coba telpon langsung aja Mas, ngak usah dari Whatsapp.”
Farhan kemudian menuruti kata Rahmi.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
“Gimana ini Mas? Aku jadi makin khawatir. Nanti kalau Pak Burhan nanya gimana?”
“Atau kita hubungi teman-temannya Luna dulu, barang kali dia nginap di tempat mereka,” ucap Rahmi yang semakin gelisah.
“Mas ngak ada satu pun nomer teman-temannya Luna.”
Tiba-tiba Rahmi merasa kesadarannya mau menghilang, pandangannya tiba-tiba kabur, wajahnya memucat. Farhan memeganginya saat ia hampir terjatuh.
“Sayang,” Farhan sigap mengangkat tubuh Rahmi dan membaringkannya di sopa.
“Sebentar Mas ambilkan minum dulu,” Farhan kemudian berlari ke belakang dan mengambil segelas air putih.
“Ini kamu minum dulu,” Ia memberikan segelas air putih itu pada Rahmi.
“Ayo Mas kita cari Luna, aku benar-benar khawatir Mas. Mana mungkin aku bisa tidur kalau Luna ngak di temukan malam ini.” Rahmi hampir menangis.
“Iya, kamu tenangkan dulu diri kamu. Gimana kita bisa cari Luna kalau keadaan kamu seperti ini.”
“Aku ngak apa-apa Mas. Ayo kita ke rumah pak Burhan saja dulu, kita minta nomer teman-temannya Luna siapa tahu Pak Burhan ada ngesave.” rahmi kini tengah duduk dan menggenggam tangan Farhan memohon agar mau menuruti kemauannya.
“Kamu beneran udah ngak apa-apa, kamu pucet begini loh Sayang,” Farhan mengelus lembut pipi halus Rahmi.
“Aku ngak apa-apa Mas, ayo!” Rahmi mengambil tasnya yang ada di sopa di dekat mereka.
“Iya baiklah,” Farhan menurutinya.
**
Sesampainya di rumah mertuanya, mertuanya pun terkejut karena farhan datang dengan istri pertamanya. Pak Burhan dan istrinya bukan tidak tahu jika Farhan sudah punya istri, namun karena Rahmi memohon pada Pak Burhan dan istrinya jadi mereka setuju dengan rencana Rahmi yang menjodohkan mereka berdua. Meski mereka tahu ini akan sulit bagi anaknya namun mereka tetap melakukannya.
Selain karena permintaan Rahmi yang ingin merasakan punya anak dari suaminya, Farhan adalah donatur utama di yayasan sekolah yang dipimpin oleh Pak Burhan. Pak Burhan menjadi kepala sekolah di yayasan yang sama dengan tempat Rahmi mengajar. Namun Rahmi mengajar di tingkat TK dan Pak burhan menjadi Kepala Sekolah di tingkat SMA, jadi mereka tidak satu tempat.
Pak Burhan juga tahu betul kalau Farhan adalah laki-laki yang baik yang selalu memperlakukan istrinya dengan lembut.
Namun meskipun terkejut mereka tetap di sambut hangat oleh kedua orang tua Luna.
Farhan menceritakan kejadian tentang Luna yang sekarang telah mengetahui semuanya, sebelum pergi entah kemana. Farhan kemudian menanyakan apakah Pak Burhan menyimpan nomer teman-temannya Luna.
Pak Burhan ternyata hanya punya satu nomer temannya Luna yang bernama Winda, karena Winda di nilai paling akrab dengan Luna jadi bisa saja Luna sedang bersama Winda.
Winda juga sangat terkejut mendapat telpon dari Farhan dan menanyakan Luna. Winda bercerita jika Luna memang datang ke sekolah hari ini namun ketika di ajak pulang bareng Luna menolak, Winda juga bercerita jika Luna sedang tidak enak badan katanya. Winda kemudian menceritakan jika Luna memang terlihat tidak fokus dengan rapat yang mereka lakukan tadi pagi.
Kemudian Farhan meminta nomer teman-teman sesama mengajar mereka, mungkin saja Luna ada bersama mereka. Namun dari semua nomer yang mereka hubungi juga tidak ada yang tahu keberadaan Luna. Terakhir ada teman mereka yang bilang jika melihat Luna pergi dari sekolah saat sekolah sudah sepi.
“Mas, gimana ini?” Rahmi dengan kekhawatirannya menangis memeluk Farhan.
“Sayang, kita cari lagi besok ya. Mas antar kamu pulang, kamu istirahat dulu, kamu terlihat capek sekali.”
“Tapi Mas, aku ngak mungkin bisa tidur dengan tenang sebelum tahu keberadaan Luna di mana.”
Farhan hanya bisa memeluk istrinya dan menenangkannya, sementara orang tua Luna hanya diam. Karena khawatir tidak bisa berkata apa-apa.
“Kita lapor polisi saja Pa,” ucap Bu Sulis, ibunya Luna.
“Ngak akan diproses sebelum dua puluh empat jam Ma, bercuma.”
“Iya benar kata Papa Ma. Besok kalau Luna masih belum ketemu kita lapor polisi,” jawab Farhan yang masih mendekap istrinya.
“Kemungkinan Luna akan mengajar besok, kita cari di sekolahnya besok,” ucap Pak Burhan.
“Tapi Mama khawatir Pa, gimana kalau terjadi apa-apa malam ini,” Bu Sulis, juga hampir menangis karena khawatir.
“Ma, jangan berpikir begitu. Kita berdo’a saja agar Luna baik-baik saja.”
“Iya Pa.”
Lalu Farhan mengantar Rahmi pulang, Farhan ingin menginap di rumah Rahmi namun Rahmi menyuruhnya pulang. Rahmi khawatir jika Luna pulang dan Farhan tidak ada di rumah, atau mungkin saja Luna sudah pulang saat mereka meninggalkan apartemen. Ia meminta farhan mengabarinya jika memang Luna pulang.
**