“Masya Allah Luna,” Mama langsung memelukku setelah membukakan pintu dan menjawab salamku.
Pagi-pagi sekali aku sudah memacu kendaraanku menuju kemari, bahkan mata hari saja masih bersembunyi di balik cakrawala. Aku sudah berani membelah jalanan dan menembus dinginnya embun pagi, bahkan helm yang ku kenakan saja sempat basah karena terpaan embun kala matahari masih bersembunyi.
“Ya Allah Luna, kamu dari mana aja? Kita semua nyariin kamu loh, sampe Farhan ke sini dan nanya-nanya semua temen-temen kamu. Tapi ngak ada yang tahu kamu di mana. Mama khawatir banget sama kamu Nak.” Mama melepas pelukannya, tangannya beralih memegang penuh kehangatan kedua pipiku.
“Maaf Ma, Luna nginep tempat teman,” aku dan mama bertatap-tatapan.
“Teman kamu yang mana? Semua teman kamu di yang kamu tahu sudah di hubungi dan mereka bilang ngak tahu. Atau kamu sengaja suruh mereka bilang ngak tahu, padahal kamu ada di sana.” Mama masih saja mengoceh di depan pintu, aku masih menatap wajah Mama yang belum mau berhenti berceloteh.
“Ma… biarin Luna masuk dulu, Luna capek banget.”
“Oh iya… Mama sampe lupa nyuruh kamu masuk.”
Mama masuk duluan dan aku membuntutinya. Biasanya sampai di rumah aku selalu langsung masuk kamar, tapi kali ini aku duduk di sopa ruang tamu. Itu karena aku datang ke sini dengan sebuah tujuan.
“Papa mana Ma?”
“Papa kamu udah berangkat ke sekolah tadi barusan. Kalian cuma berselisih waktu beberapa menit saja.” Mama juga ikut duduk di sopa.
Kali ini aku merasa datang ke rumah orang tuaku seperti tamu, namun bedanya tidak ditawarkan minum sama Mama. Paling kalau mau minum disuruh ambil sendiri, iya lah. Masak nyuruh orang tua.
“Ma, Luna dateng ke sini membawa banyak pertanyaan yang dari kemaren pengen Luna tanyakan sama Mama, tapi Luna sendiri takut mendengar jawabannya.”
Mama terdiam seketika, mungkin Mama sudah bisa menebak apa yang ingin aku tanyakan.
“Mama telpon Papa kamu dulu ya, siapa tahu Papa kamu bisa balik lagi ke sini. Kasihan Papa kamu khawatir sampe susah tidur semalam.”
Mama terlihat seperti sedang menghindari pertanyaanku, benarkan Mama sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan.
“Ma please Ma, Luna perlu nanya dulu sama Mama,” aku menangkupkan ke dua tanganku dan memohon pada Mama.
“Apa ngak sebaiknya tunggu Papa kamu pulang baru nanya? Nanti kalau jawabnya berdua akan lebih afdol.”
“Kali ini aku mau tanya Mama dulu aja.”
Mama diam, tidak mengiyakan juga tidak menolak. Artinya kau bisa melanjutkan perkataan ku.
“Mama udah tahu kenapa aku sama Mas Farhan berantem?”
Mama masih diam, kemudian menganggukkan sedikit kepalanya.
fix… dari sini aku sudah bisa menebak.
“Mama udah tahu semuanya?”
“Sayang, percaya sama Papa sama Mama, kami tidak mungkin menjerumuskan kamu.”
“Jawab dulu Ma! Mama dan Papa udah tahu kalau Mas Farhan sudah punya istri tapi tetap menjodohkan Luna sama Mas Farhan?”
Mama diam lagi, diamnya aku artikan bahwa semua yang aku pikirkan memang benar dan nyata.
“Kenapa Ma? Kenapa?”
“Kenapa kalian ngak ngomong dulu sama Luna? Sekarang Luna udah terlanjur jadi orang ke tiga dalam rumah tangga orang Ma,” Maaf, maaf jika aku berbicara dengan nada tinggi di hadapan Mama. Semua ini sangat sulit ku terima.
“Luna… ngak gitu Sayang. Istri pertamanya lah yang meminta langsung sama Mama dan Papa. Dia juga datang kemari nyariin kamu semalam.” Mama yang tadi duduk di hadapanku berpindah duduk ke sampingku dan membelai kepalaku.
“Apa? Sulit Luna percaya Ma. Mama dan Papa bahkan sudah akrab dengan istri pertama Mas Farhan tapi Luna ngak tahu.”
“Luna, percaya sama Mama. Semua hanya berat di awalnya saja, pada akhirnya kamu akan bahagia.”
“Ceh, bahagia yang mana Ma? Bahagia sudah jadi perusak rumah tangga orang?”
“Luna… kamu bukan perusak rumah tangga orang.”
“Cukup Ma,” teriakku. Sungguh aku berdosa, sangat sangat berdosa.
Aku bangkit dari tempat duduk, tergesa gesa keluar. Ku dengar Mama yang terus memanggilku.
“Bilang sama Mas Farhan buat ngak usah cari Luna! Luna mau nenangin diri,” aku berbalik sejenak.
"Luna minta maaf. Luna pamit."
"Tunggu dulu Nak!"
"Jangaj pergi dulu, Luna."
Aku tak menghiraukan lagi perkataan Mama. Memakai helm, menyalahkan motor lalu pergi dari sana.
**