Pergi Lagi

761 Kata
Segera ibunya Luna menelpon suaminya yang sudah berangkat kerja lebih awal. Katanya ingin mencari Luna dulu di sekolahnya. "Pa, tadi Luna pulang." Ibunya Luna menelpon suaminya. "Terus sekarang Luna ke mana?" "Udah pergi Pa. Luna marah sama kita," ibunya Luna panik dan hampir menangis. "Oke, oke Papa ngerti. Mungkin Lun pergi ke sekolah, Papa bakalan tunggu di sekolah saja." "Baiklah Pa, nanti kabari Mama kalau udah ketemu sama Luna ya Pa." "Iya Ma." . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rahmi tidak bisa tidur dengan nyenyak, hanya bisa tidur beberapa saat. Pagi-pagi ia sudah menelepon suaminya dan orang tua Luna menanyakan apakah Luna sudah pulang atau belum. Barusan ia mendapat telpon lagi dari suminya yang baru dikabarkan oleh orang tua Luna jikalau Luna baru saja pulang lalu pergi lagi. Karena bingung harus pergi mencari Luna ke mana, akhirnya ia memutuskan menemui Farhan terlebih dahulu di kantornya. Mereka berdua sama-sama pergi kesekolah Luna demi bertanya lebih detail terhadap orang-orang di sekolahnya. "Pa, gimana? Apa Luna dateng ke sekolah?" Farhan dan Rahmi baru tiba dan bertemu dengan mertuanya yang sudah dari pagi menunggu anaknya barangkali masuk ke sekolah atau setidaknya memberi kabar ke sekolah karena tidak masuk. Namun hasilnya nihil, Luna tidak masuk bahkan tidak ada kabar sama sekali. Satu sekolah mengawasi gerak-gerik mereka, terutama Rahmi dan Farhan. Winda menyoroti kemesraan antara Rahmi dan Farhan, seketika tangan Rahmi yang tadinya merangkul lengan Farhan ia lepaskan. Sadar sedang di perhatikan Rahmi sedikit menjauh dari Farhan. Inilah yang awalnya membuat Farhan tidak mau datang ke sekolah Luna bersama Rahmi, pasti semua orang di sana akan bertanya-tanya. Namun karena Rahmi ngotot ingin mencari Luna di sekolahnya tidak perduli apapun yang terjadi, akhirnya Farhan menuruti saja. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . "Om Burhan," Winda yang memperhatikan dari kejauhan mendekat. Hanya Winda yang berani mendekat karena rasa ingin tahunnya, yang lainnya hanya menatap dengan tatapan aneh mereka sebelum berlalu begitu saja. Ada juga yang memperhatikan agak lama, namun pada akhirnya mereka juga punya kesibukan. "Winda, gimana udah ada kabar dari Luna? Dia nelpon kamu?" Tanya Pak Burhan. "Ngak Om, tapi tadi aku udah ganti kelas Luna sama orang lain biar nggak kosong." "Jadi dari kemarin Luna ngak ada ngabarin kamu? Atau kamu di suruh sama Luna buat ngak kasih tahu Om." "Ngak kok Om, Luna belum ngabarin. Om, boleh kok cek handphonenya Winda kalau ngak percaya." "Ya sudah Om percaya deh," Pak Burhan tidak enak mengambil ponsel yang di sodorkan Winda. Namun di dalam hatinya masih tidak percaya jikalau Luna tidak membarikan kabar sama sekali pada sahabat karibnya itu. "Winda mau tanya? Mbak ini siapanya Mas Farhan? Adiknya?" Tanya Winda melirik Rahmi. "Mmmm," Farhan menggaruk tengkuk, bingung harus berkata apa. "Iya, saya adiknya Mas Farhan," Rahmi langsung menyauti. "Perkenalan saya Rahmi," Rahmi mengulurkan tangannya. "Saya Winda, saya sahabat yang paling dekat sama Luna di sini," Winda menjabat tangan Rahmi. "Oh... Begitu, hehe…." Rahmi merasa canggung, tidak biasanya ia berbohong. Pak Burhan mengerti, betapa baiknya hati Rahmi. Demi menjaga reputasi Luna dan membahagiakan suaminya ia rela melakukan banyak hal, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri. Tapi putrinya tidak sedewasa Rahmi dan tidak selapang d**a Rahmi. Andai putrinya tahu seberapa besar hatinya Rahmi istri pertama Farhan ini, mungkin putrinya akan berpikir. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN