Dalam situasi yang sangat tak menguntungkan posisinya itu, Bao Chunlai tak mau mengambil risiko yang lebih besar. Dilihat dari segi mana pun, ia yakin takdirnya adalah bertemu dengan kekalahan. Lebih-lebih, pikirannya masih dipenuhi dengan ucapan Zhou Fu yang membuat nyalinya semakin ciut. “Yang satu adalah pembunuh Mao Mingzao, satunya lagi adalah pembunuh Kaili sekaligus Jenderal Fu Lian! Mengharapkan sebuah kemenangan adalah lelucon paling memalukan dalam situasi ini!” bisik Bao Chunlai pada rekannya, Ji Xiang. “Peringatanmu itu, justru membuat posisi kita terlihat semakin mengenaskan! Diamlah sejenak selagi aku masih memikirkan jalan yang terbaik!” Ji Xiang mulai kesal dengan kegelisahan Bao Chunlai yang juga telah turut menjalari kepalanya. “Memikirkan cara katamu? Apa kau sedan

