Bab 13 : Hatiku

1495 Kata
“Astagfirullah,” kata Kaina, entah sudah yang ke berapa kalinya. “Kamu enggak apa-apa, Kai? Dari tadi kamu istigfar terus.” “Aku baik-baik saja. Makanya aku masih bisa istigfar.” “Kamu yakin?” Kaina berhenti beristigfar, lalu menoleh pada Dara. Dia berusaha keluar dari dalam pikirannya yang buruk. Sejak kejadian Feby melabrak tadi, dia terus memikirkan Arion. Ini sama sekali bukan hal yang dapat dibiarkan begitu saja. Dia tidak boleh memenuhi kepalanya dengan bayangan pemuda itu. Membaca istigfar adalah salah satu cara yang Kaina lakukan agar bisa terhindar dari bisikan setan. Dia sudah tahu kalau memikirkan seorang pemuda adalah perbuatan yang salah. Namun, menghindarinya bukan perkara mudah. Itulah sebabnya dia banyak beristigfar. Kalimat tayibah yang selalu membuat Kaina sadar jika dosanya bertumpuk-tumpuk. Hati Kaina yang masih lemah menjadi sebab dia sering goyah. Ada banyak pintu yang belum tertutup dalam diri Kaina. Dia terkadang, tanpa sadar, masih membiarkan seseorang masuk dan menggerogoti pertahanannya. Dalam masalah ini Arion yang telah merongrong Kaina terus menerus. Kaina sulit mengusir pemuda itu dalam hidupnya. Dara memperhatikan tatapan Kaina yang kosong. Meski gadis itu menoleh ke arahnya, dia tahu jika pikiran sang sahabat berkelana ke mana-mana. Dia mengembuskan napas dengan sedikit kasar. Matanya bisa melihat kedua tangan Kaina yang mengepal erat. Mulut Kaina bahkan sedikit terbuka. Jelas sekali dia tidak menyadari tingkahnya. Dari dulu, Dara selalu tahu apa arti Arion bagi Kaina. Meski begitu, dia tetap membiarkan Kaina terperangkap dalam kesalahan. Terkadang, ada kalanya dia tidak bisa menyelami hati Kaina yang penuh misteri. Dia mungkin sahabat sekaligus saudara terdekat Kaina, tetapi bukan berarti Kaina bersedia berbagi semua hal. Baiklah. Kaina telah menceritakan banyak hal pada Dara. Begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, Dara merasa ada yang masih Kaina simpan. Dara pernah mencoba mencari tahu rahasia Kaina lewat ibunya. Sayang, sang ibu juga tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Kaina. Dara pun tidak berniat memaksa Kaina. Biarkan Kaina menjalani kehidupan yang dia inginkan. Itu yang selalu ibu Dara ucapkan saat Dara menanyakan sesuatu mengenai Kaina. Dara cukup nyaman berada di dekat Kaina. Meski tidak sepintar Kaina, dia diperlakukan dengan baik. Kaina tidak pernah melakukan hal yang terkesan menonjolkan kecerdasannya pada Dara. Bosankah Dara karena selalu menjadi nomor dua setelah Kaina? Jawabannya tidak. Sebab Kaina terlalu baik untuk menerima rasa iri dari seseorang. Ya, kecuali orang yang memang tidak Kaina dengan baik, seperti Feby misalnya. Feby hanya tidak suka karena ada yang mengunggulinya dalam hal mendekati Arion. Kalau Arion lebih memilih Kaina dibandingkan Feby, apa itu lantas menjadi kesalahan Kaina. Pemuda seperti Arion menyukai gadis adalah sesuatu yang biasa. Dia sudah berpasangan dengan banyak cewek. Jika sekali lagi, dia menyukai kaum hawa, itu bukan hal aneh, kan? Kecuali saat dia suka pada cewek berhijab seperti Kaina. Sudah bukan rahasia kalau Arion termasuk pemuda yang urakan. Sementara Kaina gadis yang menjaga norma dan kehormatannya. Melihat sekilas, mereka berdua tidak akan pernah bisa disatukan. Namun, siapa yang akan bisa menebak perjalanan hidup seseorang. Semua ketetapan sudah dibuat oleh Allah. “Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” tanya Kaina. Matanya masih belum fokus. “Entahlah. Kamu hanya beristigfar dan tidak mengatakan apa pun dari tadi.” “Memangnya salah kalau aku membaca istigfar?” “Aku tidak bilang begitu. Tapi, apa yang sebenarnya kamu pikirkan sekarang?” “Yang aku pikirkan sekarang?” ulang Kaina linglung. “Iya. Apa kamu memikirkan ...,” Dara berhenti sebentar. “Arion?” “Arion?” Kaina masih belum menyadari pertanyaan Dara. “Kamu memikirkan Arion, kan?” Dara menggenggam tangan Kaina, lalu meremasnya pelan. Alisnya terangkat dengan mata tajam. Dia berani bertanya mengenai masalah Arion karena mereka sekarang sedang berada di taman kampus yang cukup sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk di bangku-bangku panjang taman. Pepohonan tinggi yang mengelilingi hampir seluruh taman membuat suasana bertambah senyap. Harusnya Dara dan Kaina ada di ruang klub tata boga, tetapi Kaina mengajak duduk di taman dulu. Sejak Kaina bersandar di bahu bangku, dia terus beristigfar dan Dara hanya memandangi sekeliling. Dara berharap tidak ada yang mendengar Kaina. Bukan karena istigfar itu hal buruk. Hanya saja, sedikit aneh kalau kalian mengucapkan istigfar di taman. Kalian bisa ke masjid saja, kan? Benar juga. Kalau Kaina ingin beristigfar, bukankah masjid bisa menjadi pilihan tepat. Masalahnya, jarak masjid cukup jauh dari tempat dia dihadang Feby. Lagi pula, Kaina harus melewati ruang klub tata boga jika ingin ke sana. Padahal dia tidak mau berjumpa dengan siapa pun dulu untuk sementara, terutama anggota klubnya. Kekhawatiran Kaina kalau ada yang melihat kejadian tadi sedikit memengaruhinya. Apa dia akan menjadi bahan gosip setelah insiden itu. Dia berharap tidak ada yang merekamnya atau yang lebih parah, menyebarkan ke media sosial. Belakangan ini, para pemuda suka mengunggah hal-hal aneh seperti ini, kan? Karena terlalu takut mengangkat wajah, Kaina tidak tahu apa saat kejadian ada yang mengacungkan kamera. Kaina tidak bermaksud suuzan, dia hanya tidak ingin ada hal buruk terjadi. Semoga apa yang dia takutkan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Memikirkannya saja membuat gadis itu bergidik. “Kaina!” “Kenapa berteriak begitu, sih, Ra?” “Soalnya kamu enggak fokus.” “Aku cuma lagi menenangkan diri. Aku masih agak syok dengan serangan tiba-tiba dari Feby.” “Tapi kamu senang, kan, karena Arion membelamu?” “Tentu saja.” Kaina tersenyum. Hanya sekilas. Karena detik selanjutnya dia sadar kalau apa yang dilakukan itu salah. “Maksudku, aku senang karena Arion segera menahan Feby,” ucapnya, lalu berdeham. “Bukan karena Arion datang dan membelamu?” “Itu ... juga sedikit melegakan.” “Melegakan?” Dara memutar bola mata. “Kamu masih belum bisa berhenti memikirkan Arion, kan?” tanyanya serius. “Aku payah, ya, Ra? Aku memintamu untuk membantu melupakan Arion, tapi aku terus membuka jalan bagi Arion agar mendekat.” “Itu bukan salahmu, Kai. Kita butuh pertolongannya untuk acara bazar. Kamu hanya sedang melakukan tanggung jawabmu.” “Tapi kehadiran Arion memang sangat menggangguku, Ra. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau dia selalu muncul di hadapanku. Ini terlalu sulit.” “Aku tahu, Kai. Hanya tinggal beberapa hari. Toh, tidak setiap hari kamu bertemu dengannya.” “Kamu benar. Aku harap, dia tidak tiba-tiba muncul lagi di klub. Itu membubarkan konsentrasiku.” “Semoga saja. Aku juga berharap dia tidak terlalu gigih untuk mendekatimu.” “Arion gigih mendekatiku?” “Kamu tidak sadar atau pura-pura tidak tahu?” Kening Kaina mengerut. Dara menepuk jidat. “Aku lupa kalau kamu cerdas di semua bidang selain ini.” “Ada banyak bidang yang tidak aku kuasai, Ra. Kamu membuatku terdengar sangat sempurna di semua hal. Padahal tidak begitu.” “Tapi kamu hanya butuh waktu sebentar untuk mempelajari hal baru. Seperti menjadi ketua klub. Kamu yang terbaik, Kai.” “Terima kasih, tapi kamu sedikit berlebihan.” “Oke. Kita tidak akan membahas itu sekarang. Yang terpenting, kamu harus meningkatkan kewaspadaan pada Arion. Dia jelas sedang mendekatimu. Dia berusaha membuatmu terkesan dan kamu mau melihatnya.” “Apa benar begitu?” Anggukan kepala Dara membuat Kaina menghela napas panjang. Benarkah apa yang dikatakan oleh Dara? Sebelum kemunculan Arion saat rapat klub tata boga, pemuda itu nyaris tidak terlihat. Kaina sudah kegirangan karena berhasil menghindari orang yang melemahkan hatinya. Ternyata dia salah menilai. Munculnya Arion seakan sudah direncanakan. Dia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyerang pertahanan Kaina. Mana mungkin dia tiba-tiba muncul di ruang klub padahal sebelumnya dia jarang pergi ke daerah itu. Yang lebih mengherankan, dia jadi sering terlihat di kampus dibandingkan sebelum ini. Banyak berita yang kalau Arion tidak berminat mengikuti mata kuliah apa pun. Itu sebabnya dia nyaris tidak pernah muncul di kampus. Kata orang-orang, dia lebih suka menghabiskan waktu di kafe dari pada mendengarkan kuliah. Dia tidak berniat untuk lulus tepat waktu. Kalau terus begitu, dia bisa saja di drop out. Apa tidak naik kelas dua kali tidak cukup bagi Arion? Apa dia juga ingin dikeluarkan oleh pihak kampus? Sebagai anak dari salah satu donatur yayasan, harusnya dia menjaga nama baik ayahnya, kan? Kenapa malah berbuat buruk dan menyia-nyiakan waktu dengan bermain. Kaina tidak mengerti jalan pikiran Arion. Apa hubungan Arion dan ayahnya seburuk itu? Apa sang ayah tidak memperhatikannya? Jika benar, maka kelakuan Arion mungkin bisa dimengerti. Namun, tetap saja, Arion bukan lagi anak kemarin sore yang butuh belaian orang tua demi bisa memperoleh pengakuan. Awalnya Kaina cukup senang dengan kelakuan Arion yang menghindari kampus. Sekarang dia mulai cemas kalau harus melihat Arion setiap hari. Pemuda itu seakan sengaja menggoda pertahanan Kaina dengan selalu memberikan kejutan. Kaina harap hatinya cukup kuat untuk menanggung cobaan ini. Wahai hati, kuatkanlah dirimu. Jangan sampai lemah hanya keran seorang pemuda. Berusahalah lebih keras agar menjadi lebih kuat. Mulai saat ini, Kaina harus mempersiapkan diri agar kekuatannya lebih besar. Menghadapi pemuda seperti Arion sangat sulit. Bukan karena ketampanannya. Bukan juga karena kekayaannya. Bukan juga karena reputasinya yang bisa menundukkan gadis mana pun. Bagi Kaina, semua itu bukan hal penting. Ketertarikan Kaina pada sosok Arion, seperti yang sudah kalian ketahui, adalah karena uluran tangan pemuda itu. Pelajar yang menyelamatkannya dan berkata akan melindungi dia. Tangan yang memberinya sapu tangan untuk menghapus air mata. Senyum yang menyemangati dan menguatkannya. Kaina belum mampu menyingkirkan semua itu dari pikirannya. Begitu berharganya Arion sebagai penolong Kaina. Orang yang pertama kali mengulurkan tangan dan tidak berbuat buruk padanya. Orang yang mengatakan kalau dia kuat. Orang yang berhasil mengeluarkannya dari mimpi buruk. Meski tidak sepenuhnya, Arion telah membantu Kaina bangkit dari keterpurukan. Mampukah Kaina mengabaikan Arion?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN