“Kai, loe baik-baik saja, kan?” ulang Arion tak sabar.
“Aku enggak apa-apa. Cuma syok karena Feby tiba-tiba ngomong begitu.”
“Sori, ya. Gue enggak nyangka kalau Feby bakal ngelakuin hal kayak gini. Gue harap loe enggak jauhin gue karena omong kosong yang dibilang Feby. Dia memang suka cari masalah.”
“Aku ngerti, kok. Dia begitu karena masih suka sama kamu.”
Kaina tidak mengerti mengapa dia mengucapkan kalimat itu. Yang lebih tidak bisa dipahami adalah kenyataan kalau dia merasa sesak saat mengatakannya. Ada rasa tak nyaman begitu kata-kata itu meluncur dari dalam mulutnya. Apa lagi mata Arion membesar begitu mendengar ucapannya. Kenapa? Itu benar, kan?
Perasaan suka yang Feby rasakan membuat gadis itu ingin selalu mempertahankan Arion. Dia tidak peduli meski Arion tak lagi menyukainya. Juga tidak peduli jika orang menganggapnya mengemis cinta. Juga tidak peduli ketika harga dirinya dipertaruhkan. Dia hanya ingin kembali diperhatikan oleh Arion.
Sayangnya, Arion tidak sepeduli itu. Dia pemuda yang pantang mengingkari apa yang sudah diucapkan. Seperti ucapannya tentang tidak akan kembali pada mantan. Kisah manis dan penuh kenangan dengan sang mantan hanya perlu menjadi masa lalu. Dia tidak pernah berniat mengulang semua kisah yang telah usai.
“Tapi kami sudah berpisah. Seharusnya dia enggak memaksa begitu.”
“Enggak semua orang bisa melupakan masa lalunya begitu saja,” kata Kaina setengah menerawang.
“Loe benar, tapi semua orang juga enggak suka kalau dipaksa ngelakuin sesuatu.”
Jawaban tak terduga dari Arion menyentak Kaina. Gadis itu menelan ludah. Dia tidak bermaksud menyinggung masa lalu Arion. Sungguh! Jika Arion belum bisa melupakan luka lama yang telah digoreskan oleh ibunya. Kaina juga sama. Dia masih terus mengingat kepedihan yang ditorehkan oleh sang ayah.
Senyum miris Arion membuat Kaina merasa tidak enak. Pemuda itu kini menundukkan kepala dalam-dalam sambil menghela napas. Lalu, menatap Kaina sambil tersenyum manis. Kaina mengerjap. Detik selanjutnya, dia mengalihkan pandang, malu karena sudah ketahuan sedang memperhatikan lawan jenis.
Bisa Kaina rasakan kalau Dara menyenggol badannya. Dia menoleh pada sahabatnya. Dara mengedikkan kepala ke arah Arion. Kaina menggeleng berkali-kali. Mana bisa dia melihat Arion setelah melontarkan perkataan yang tidak pantas begitu. Bukan sekali, melainkan dua kali. Kenapa otak cerdasnya bisa korsleting begini.
“Gue rasa loe juga punya masa lalu yang sulit buat dilupakan. Apa itu yang membuat loe ketakutan waktu terjebak tawuran dulu?”
Kaina mendongak. Sekarang dia malah ketahuan dengan sangat mudah oleh orang yang katanya memiliki kekurangan dalam semua pelajaran. Dia jadi curiga kalau-kalau Arion hanya malas belajar dan membiarkan nilainya memburuk, lalu tidak baik kelas. Bisa jadi, kan? Tapi, apa alasan Arion melakukan hal itu?
“Aku ... sebaiknya tidak usah membicarakan hal itu.”
“Oh, sori lagi. Gue enggak bermaksud buat loe enggak nyaman.”
“Baiklah. Aku dan Dara harus pergi. Assalamualaikum.”
“Wa ... Wa ... alaikumsalam?”
Kening Arion saat menjawab salam Kaina. Membuat Kaina dan Dara tersenyum geli. Mereka pergi setelah mengangguk sopan. Arion mengusap tengkuk sambil senyum-senyum sendiri. Lidahnya terasa kelu karena lama tidak mengucapkan kalimat itu. Sejak bertemu lagi dengan Kaina, Arion berusaha mengimbanginya.
Sudah berapa lama Arion tidak mengingat Tuhan? Dia terlalu sibuk menyalahkan Tuhan karena memberinya kehidupan yang menyedihkan. Sang ibu hobi bergonta-ganti pasangan dan meninggalkannya begitu saja. Ayahnya hanya diam tanpa ada keinginan untuk membujuk karena dia memang tidak menyukai si istri.
Yang paling mengenaskan adalah Arion harus menyaksikan semua kejadian itu sejak kecil. Orang tuanya tidak bermaksud menyembunyikan keburukan mereka dari sang anak. Mereka berlomba saling menyakiti Arion setiap hari. Arion kecil sempat merasa tertekan dan nyaris mengalami depresi. Beruntung dia bertemu dengan seorang duda tanpa anak yang memberinya banyak pertolongan.
Meski begitu, Arion tumbuh dengan kebebasan penuh. Dia selalu memilih jalannya sendiri. Tidak peduli apa pun risikonya, dia tetap pada pilihan yang dia inginkan. Hidup dengan bebas menjerumuskan Arion dalam pergaulan yang salah. Dia sempat bergabung dengan anggota geng yang disegani.
Itu memang sudah berlalu. Arion tidak lagi mengunjungi geng mana pun. Dia hanya sesekali terlibat pertengkaran dengan orang lain karena sesuatu yang tidak sesuai pikirannya. Atau salah satu temannya dianiaya oleh orang lain. Dia tidak pernah mencari keributan tanpa sebab. Sekarang, dia lebih fokus pada kafenya.
Arion tidak meminta sepeser pun uang dari ayahnya. Dia mengambil tabungan yang disisihkan dari setiap uang jajan. Memang masih dari orang tuanya, tetapi jatah harian. Selain itu, dia juga suka ikut membantu di rumah makan milik ibu Johan. Dari sanalah dia mulai mengumpulkan dan membuka kafe.
Pada awalnya, dia hanya memiliki tempat yang sangat kecil. Dia membuka kafe sederhananya sejak kelas II SMA. Siapa sangka kalau bisa berkembang sampai sebesar sekarang. Dia selalu melakukan perubahan pada interior agar tamu yang datang tidak merasa bosan. Karena diperuntukkan bagi para mahasiswa, dia lebih banyak memilih hal-hal yang berkaitan dengan dunia perkuliahan.
Walau begitu, ada beberapa tamu yang di luar mahasiswa. Kebanyakan datang karena penasaran dengan suasana kafe. Maklum saja, setiap ada yang berkunjung, selalu berswafoto dan mengunggahnya ke media sosial mereka. Arion bersyukur usahanya bisa berkembang pesat di tengah persaingan yang sangat sengit.
“Mau dilihat sampai kapan, Bos?”
Suara menyebalkan Daren memaksa Arion mengalihkan mata dari Kaina. Dia baru sadar kalau sejak beberapa waktu tadi, dia hanya memandangi tempat di mana Kaina menghilang. Melihat Daren dan kedua temannya yang lain, dia mendengkus. Pasti akan ada interogasi dari para sahabatnya itu.
Saat mendengar kalau Kaina dilabrak oleh Feby, Arion berlari tanpa berpikir dua kali. Dia bahkan tidak memedulikan panggilan dari ketiga temannya. Semua itu tentu membuat mereka jadi semakin curiga pada Arion. Apa lagi sekarang mereka menatap penuh selidik padanya. Menyebalkan sekali.
Apa lagi yang bisa Arion katakan. Teman-temannya pasti sudah bisa menyimpulkan apa yang tengah terjadi. Meski Arion sendiri masih meragukan perasaannya pada Kaina, dia memang ingin dekat dengan gadis itu. Setidaknya untuk saat ini, dia mengakui kalau Kaina sudah menarik perhatiannya.
“Kalian sudah selesai makan?”
“Gimana mau makan coba? Orang yang traktir malah pergi begitu saja buat nyelamatin gebetannya,” ujar Johan dengan tampang ditekuk. “Loe tahu enggak, sih, Yon. Gue itu baru makan sedikit. Kenapa pakai acara lari. Loe, kan, bisa tunggu kita selesai makan dulu.”
“Memangnya gue yang minta kalian ninggalin makanan kalian?” balas Arion sengit.
“Kejam banget, Bos. Jadi, sekarang sudah ngaku kalau Kaina itu gebetan loe?”
“Gue enggak bilang gitu,” sangkal Arion.
“Tinggal ngaku saja sudah banget, Bos. Kita-kita juga enggak bakal larang,” ujar Adit. “Iya, kan, Gais?”
“Yoi!” seru Johan dan Daren kompak.
“Tapi, loe serius, Yon? Maksud gue, Kaina itu bukan cewek biasa,” kata Adit lagi.
“Gue setuju. Dia enggak mungkin mau pacaran,” tambah Johan.
“Oh, ya? Jadi, gue harus lamar dia langsung?”
“Serius?!”
Mata Arion melotot kepada ketiga sahabatnya. Tidak bisakah mereka bereaksi lebih normal. Dia hanya mengatakan salah satu jalan keluar yang mungkin bisa dilakukan. Padahal dia tidak benar-benar serius saat mengatakan hal itu. Mana mungkin dia bisa memikirkan lamaran di umurnya yang baru menginjak dua puluh tiga tahun.
Menikah muda tidak pernah menjadi rencana dalam kehidupan Arion. Dia masih mempunyai banyak mimpi. Kaina juga sepertinya belum bisa membuka hati untuk orang baru. Arion sudah beberapa kali berusaha mengetuk pintu hati Kaina, tetapi selalu gagal. Kaina tidak ingin didekati oleh pemuda mana pun.
Tidak. Arion tahu kalau cewek berjilbab umumnya tidak mau pacaran. Namun, bukan hanya karena itu Kaina tidak mau didekati oleh lawan jenis. Salah. Kaina tidak mau menerima siapa pun dalam hidupnya. Dia lebih suka menyendiri, entah sampai kapan. Dan pasti ada penyebab yang membuat Kaina memutuskannya.
“Mana mungkin gue ngelakuin hal kayak gitu,” ucap Arion, lalu tertawa.
“Terus, apa rencana loe sekarang?” tanya Adit.
“Rencana? Memangnya gue harus ngerencanain apa?”
“Kaina itu butuh cowok yang baik, Yon. Loe yakin mau dekati Kaina?”
“Entahlah. Saat ini, gue pengin banget dekat sama Kaina. Gue enggak tahu apa yang bakal gue lakuin. Untuk pertama kali dalam sejarah, gue bingung menghadapi cewek.”
“Bukankah itu artinya loe memang jatuh cinta sama Kaina?” Pertanyaan Daren membuat tiga pemuda di hadapannya menatap. “Kenapa? Bisa jadi, kan?”
“Terlalu cepat buat menyimpulkan. Gue masih belum yakin gimana perasaan gue sebenarnya,” kata Arion. Dia menarik napas di akhir kalimat.
“Tetap saja, Yon. Kaina enggak seperti kebanyakan cewek yang loe dekati. Gue enggak masalah kalau loe pengin berteman sama dia, tapi jangan sampai lebih.”
“Maksud loe apa, Dit?” Arion mengerutkan kening mendengar petuah ajaib Adit.
“Tahu, nih. Kalau Arion suka Kaina, hubungan mereka bakal lebih dari sekadar teman, kan?” Daren ikut menimpali.
“Kalian sadar enggak, sih, kalau kita lagi bicara soal Kaina?”
“Memang itu yang kita bahas. Terus, maksud loe apa kalau Arion cuma boleh berteman sama Kaina. Jelas-jelas Arion lagi naksir Kaina.”
“Gue enggak pernah bilang kalau gue naksir Kaina, ya,” bantah Arion.
“Tapi loe enggak rela dia disakiti siapa pun. Loe bahkan ninggalin kami demi dia. Loe bela dia habis-habisan di depan umum. Loe khawatir kalau dia terluka. Apa itu kalau bukan naksir?” berondong Johan.
“Gue cuma ....”
“Ya, sudahlah. Apa pun yang dirasakan sama Arion, itu hak dia. Kenapa kita harus ikut campur. Dia sudah cukup dewasa buat menghadapi masalah ini.” Lagi-lagi Adit menengahi.
“Thank’s, Bro, sudah ngerti gue.”
Memiliki sahabat seperti Adit, Johan, dan Daren sangat disyukuri oleh Arion. Di antara mereka, memang Arion-lah yang berasal dari keluarga kaya. Bukan berarti ketiga temannya miskin. Orang tua mereka cukup terpadang di kota ini. Terlepas dari status mereka, Arion senang bisa menemukan mereka dan bersahabat.
Panggilan Bos adalah ide dari Daren. Itu karena di antara mereka berempat, Arion yang paling menonjol. Paling kaya, paling setia kawan, paling tampan, paling banyak penggemar, dan paling-paling yang lainnya. Intinya, Arion hampir memiliki segala hal, kecuali keluarga yang bahagia.
Hidup dalam keluarga yang sudah rusak memaksa Arion menjadi pribadi yang kuat. Dia berlatih seni bela diri sebagai antisipasi dan perlindungan. Ayahnya terlalu cuek untuk memperhatikan sang anak. Siapa tahu ada yang berniat jahat, jadi dia bisa, setidaknya, melindungi dirinya sendiri.
Lama sekali Arion tidak berjumpa dengan sang ayah. Dia lebih memilih tidur di kafe bersama teman-temannya. Tinggal satu atap dengan pria tua yang hanya diam membuat Arion bosan. Karena itu, dia memutuskan untuk membuat sebuah kamar nyaman di kafe. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung empat sekawan itu.
Begitulah. Kehidupan Arion yang awalnya datar, jadi lebih berirama setelah pertemuannya dengan tiga pemuda itu. Kini akan semakin berwarna karena Kaina mulai memasuki kehidupan Arion yang penuh kehampaan. Ke mana rasa akan melabuhkan pilihan? Arion juga ingin tahu. Dia harus lebih sabar. Harus!