Bab 11: Mantan Bar-bar

1581 Kata
“Loe buat masalah apa lagi?” tanya Arion pada Feby. “Oh. Hai, Yon. Loe di sini. Gue cuma ngobrol sama Kaina.” “Ngobrol atau menuduhnya?” “Ya, ampun, Yon! Apa loe sepeduli itu sama dia? Memangnya dia itu siapa loe?” “Harusnya gue yang tanya, loe siapa gue sampai melarang orang lain buat enggak ganggu gue? Loe pikir gue selemah itu?” “Maksud gue bukan begitu, Yon. Gue cuma mencoba menjelaskan sama Kaina kalau loe enggak cocok buat dia.” Ucapan Feby sedikit keterlaluan. Kaina hanya menghela napas mendengar kalimatnya. Dia tidak berani melirik Arion untuk melihat reaksi cowok itu. Sebagai gantinya, dia mengedarkan pandangan pada gerombolan mahasiswa yang semakin banyak. Mereka tidak bermaksud pergi dan melakukan hal yang lebih bermanfaat? Suasana tidak bisa dikendalikan lagi. Kaina merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Kenapa Arion tidak membawa Feby pergi dan membicarakan masalah mereka di tempat lain? Atau paling tidak, dia membiarkan Kaina terbebas dari kerumunan yang mencekik ini. Dia menyesal tidak bisa menghindari Feby. Dara menyenggol tubuh Kaina yang hanya diam. Dia khawatir pada sahabatnya itu. Sedari tadi, Kaina hanya menutup mulut rapat-rapat sambil memandangi sekeliling. Kaina bahkan tidak menyadari kalau Arion terus memperhatikan, meski dia sedang berbicara pada Feby. Sebagai sahabat baik Kaina, Dara ingin sekali membantu. Tapi, bagaimana? Tidak ada celah yang bisa digunakan untuk melarikan diri. Dara menghela napas panjang, lalu kembali memperhatikan Kaina yang menunduk semakin dalam. Dia beralih melihat Arion yang saat ini juga masih menatap Kaina. Ada sorot kekhawatiran di mata pemuda itu. Dara bisa melihat dengan jelas jika kedua tangan Arion mengepal. “Loe bukan siapa-siapa gue. Apa hak loe ngomong seperti itu?” “Tapi, Yon. Gue pengin kita kembali kayak dulu,” kata Feby memelas. “Jangan mempermalukan diri sendiri, Feb. Loe tahu kalau itu enggak mungkin terjadi. Kita sudah selesai. Jangan buat gue bilang hal-hal yang buruk, Feb. Please!” “Loe suka sama Kaina?” tanya Feby. Saking terkejutnya, Kaina langsung mengangkat kepala, bukan untuk menatap Feby, melainkan melihat reaksi Arion. Pemuda itu menegang di tempat. Dari jarak yang cukup dekat, Kaina bisa melihat wajah Arion menegang. Kedua tangan Arion mengepal semakin kencang. Matanya menatap tajam Feby. Tanpa Kaina duga, Arion berpaling padanya. Jantung gadis itu seakan berhenti berdetak saat mereka bertatapan, meski hanya sebentar. Kaina mengalihkan pandangannya pada kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik. Sampai kapan dia harus bertahan di sana dengan perasaan tertekan begini. Tidak bisakah Arion segera menyelesaikan masalah ini? Atau paling tidak, usir semua mahasiswa yang mengelilingi mereka. Bukankah dia terkenal sebagai badboy di kampus. Kenapa malah diam saja saat dia menjadi pusat perhatian. Atau jangan-jangan dia sengaja mengulur waktu agar semua orang tahu kalau dia diperebutkan cewek-cewek. Meski pun Kaina tidak ingin merebut Arion, tetapi kejadian ini seakan berkata seperti itu. Dia bertanya-tanya jawaban apa yang akan diberikan oleh Arion. Semoga saja Arion tidak mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kaina sudah cukup terbebani dengan masalahnya sendiri dan tidak bermaksud mencari masalah baru. “Feby itu gila atau apa, sih, Kai? Otaknya pasti sedang kacau,” bisik Dara. “Dia sedang berusaha mempermalukan dirinya sendiri.” “Menurutmu, masalah ini akan segera selesai?” Kaina balas berbisik. “Mana mungkin. Aku rasa kejadian ini akan menjadi tren topik untuk beberapa hari,” ujar Dara dengan wajah serius. “Atau lebih lama?” “Aku juga merasa begitu. Bisakah kita pergi dari sini sekarang?” “Kamu enggak bisa lihat para mahasiswa yang pengin tahu kelanjutan kisah ini? Menurutmu kita bisa melewati mereka?” “Enggak. Tapi aku sudah enggak tahan. Haruskah aku minta Arion membawa Feby pergi?” “Kamu pikir Arion sudi melakukan itu? Diamlah! Drama sesungguhnya baru akan dimulai.” Kening Kaina mengerut mendengar kalimat aneh Dara. Apa ada drama yang lebih menggelikan dari pada Arion yang masih saja diam. Dia harus cepat menjawab atau semua orang akan berpikir kalau apa yang ditanyakan Feby itu suatu kebenaran. Kenapa Arion berpikir selama itu hanya untuk menjawab mengenai perasaannya pada Kaina. Sikap bungkam Arion sungguh mengganggu Kaina. Apa lagi ketika Feby memberikan tatapan tajam padanya. Seakan Kaina yang bersalah di sini dan pantas diberi hukuman. Dia tidak bisa memahami kenapa Feby merasa terganggu dengan perbuatan Arion. Mereka bukan sepadang kekasih lagi. Kenapa masih suka mencampuri urusan mantannya? Sedalam apakah Feby mencintai Arion sampai rela mempermalukan dirinya begini? Arion jelas tidak ingin diganggu lagi olehnya. Kenapa masih nekat mendekat. Kaina rasa, cinta Feby sudah berubah menjadi sebuah obsesi untuk memiliki Arion seutuhnya. Dia tidak mau melihat Arion dekat dengan wanita mana pun. “Loe mau gue jawab apa?” Suara Arion menyentak Kaina. Tidak bisakah Arion segera menjawab? Membuang-buang waktu saja. Feby mengerucutkan bibir mendengar pertanyaan Arion. Dia mengembuskan napas dengan sedikit kesal, lalu menatap tajam Arion yang terkesan mengulur waktu. “Jawab saja. Kenapa malah berbelit-belit.” “Dengar, ya, Feb. Kehidupan pribadi gue bukan buat diobral.” Arion menyapukan pandangan pada kerumunan yang kini mulai mundur, tetapi masih enggan pergi. “Soal Kaina. Gue menghormati cewek baik kayak dia. Sebaiknya loe enggak ganggu dia.” “Loe cuma menghormati dia?” Feby sengaja menekankan kata “cuma” dalam kalimatnya. “Pergilah, Feb. Loe sudah kelewat lama di sini.” “Tapi, Yon, gue masih pengin sama loe.” “Feby, please!” Feby mendengkus. “Loe bakal balik sama gue.” Feby mengentak-entakkan kakinya sebelum pergi. Dia sengaja menabrak bahu Kaina dengan cukup keras, membuat Kaina sedikit terhuyung. Untung Dara sigap menahan tubuh Kaina yang oleng. Feby mengibaskan tangan sambil bersumpah serapah untuk menyibak kerumunan. Dia juga masih sempat melempar tatapan tajam pada Kaina. Perbuatan Feby itu membuat Kaina menggelengkan kepala. Kecantikan dan bakat yang sempat Kaina kagumi dari sosok Feby lenyap seketika. Dia sudah sering mendengar keburukan Feby, tetapi tidak mengira jika separah ini. Apa, sih, yang dipikirkan Arion saat menjadikan Feby sebagai kekasihnya. Memikirkan hal itu tidak ada gunanya. Playboy seperti Arion hanya melihat kecantikan atau ketenaran cewek yang diincar. Dia tidak mungkin melihat bagaimana kepribadian sasarannya dengan baik. Kenapa Arion terdengar seperti pemuda buruk yang haus perhatian dari lawan jenis, ya? Atau memang iya? Otak Kaina langsung meluncur pada kejadian di perpustakaan. Chessy bilang, Arion sebenarnya adalah korban dari sikap buruk sang ibu. Kasihan sekali jika Arion memang hidup di bawah bayang-bayang keburukan ibunya. Kaina jadi merasa kalau dia dan Arion memiliki nasib yang sama. Baik Kaina maupun Arion sama-sama dikhianati oleh orang tua mereka. Ayah dari sisi Kaina dan ibu dari sisi Arion. Mereka juga terkena dampak dari keburukan sikap orang-orang yang semestinya melindungi mereka. Bedanya, Arion memilih menciptakan keramaian untuk menutupi luka. Sementara Kaina menutup diri agar tak seorang pun menyadari masa lalu kelamnya. “Kalian mau nonton sampai kapan? Bubar sana!” teriak Arion. “Senang banget lihat orang berdebat. Nolong enggak, melotot iya,” gumam Arion setelah kerumunan berangsur hilang. “Loe enggak apa-apa, kan, Kai?” tanya Arion setelah mendekati Kaina. Arion tidak tahu apa saja yang sudah diucapkan oleh Feby pada Kaina. Melihat wajah Kaina yang mendung dan banyak menunduk sejak tadi, Arion menebak pasti kalimatnya penuh kebusukan. Dia tidak mengerti kenapa Feby menyerang Kaina di depan umum seperti ini. Benar-benar menyusahkan. Beruntung seseorang memberi tahu Arion jika Feby sedang melabrak Kaina di salah satu koridor kampus. Dia berlari secepat yang dia bisa ke tempat yang ditunjukkan. Bahkan dia meninggalkan ketiga temannya yang tengah asyik menikmati makanan di kantin. Siapa peduli. Pikirannya tidak tenang begitu bayangan Kaina yang bersedih muncul di kepala. Sejujurnya, Arion ingin langsung membubarkan para mahasiswa itu, tetapi tidak. Dia harus memberi Feby pelajaran. Setidaknya, tidak akan ada yang berpikir kalau Kaina yang telah merayunya. Karena itu, dia membiarkan mereka dan mengeluarkan sedikit serangan kecil pada Feby yang sok dekat dengannya. Belum pernah Arion merasa ingin memukul seorang perempuan. Baginya, pria sejati tidak boleh main kasar. Namun, sikap Feby sungguh keterlaluan. Arion tidak bisa memahami Kaina yang tidak berbuat apa-apa untuk melawan. Maksudnya bukan melawan dengan kekerasan, tetapi dengan perkataan. Bisa, kan? Saat Feby melemparkan tatapan tajam pada Kaina, Arion ingin sekali menghampiri gadis itu dan memberinya pelajaran. Sekali lagi, Arion tidak melakukan sesuatu yang biasa dia lakukan. Dia tidak bermaksud untuk bersikap seperti itu. Entah mengapa, alam bawah sadarnya seolah meminta agar jangan membuat onar di depan Kaina. Pemuda berambut melewati bahu ingin Kaina melihatnya sebagai pribadi yang cukup baik mengendalikan diri. Dia tidak peduli meski Kaina sudah sering mendengarkan keburukan-keburukannya selama ini. Tidak masalah. Yang penting, mulai sekarang, dia berjanji untuk memperbaiki perilakunya. Dia ingin dinilai baik oleh Kaina. Untuk apa? Sejujurnya, Arion juga tidak mengerti jalan pikirannya sendiri. Dia masih belum bisa memahami apa yang terjadi padanya? Dia ingin diakui sebagai pemuda baik oleh Kaina. Dia ingin terlihat cukup baik sehingga pantas untuk berada di dekat Kaina. Tidak hanya sementara, dia ingin selamanya menatap Kaina dengan bangga. Sebagai apa? Pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban super dari sang ahli. Arion tidak yakin bisa menjawab dengan benar. Sebab, dia juga belum menemukan apa tujuannya ingin berada di sisi Kaina. Selain cinta. Dia memang mengagumi sikap Adila, tetapi hanya karena Kaina terlihat hebat di matanya. Benarkah begitu? Arion bahkan tidak bisa mengizinkan Kaina terluka barang sedikit. Bukankah itu alasan kenapa dia berlari dengan cepat ke sini? Sejak kapan dia peduli pada gadis yang dekat dengannya seperti ini? Dulu, dia hanya diam ketika ada mantan-mantannya yang mencari masalah. Dia tidak peduli. Bagi Arion, mantan adalah masa lalu yang tidak penting lagi dalam hidupnya. Dia tidak mau ikut campur saat mereka menimbulkan masalah. Toh, dia memang sering menjadi rebutan. Lalu, mengapa sekarang berbeda? Mengapa dia harus bergegas untuk melindungi Kaina? Mengapa dia tidak cuek seperti biasa? Karena Kaina berbeda. Arion yang ingin dekat dengan gadis itu, bukan sebaliknya. Sikap Kaina yang terkesan selalu menghindar, semakin membuat Arion ingin mendekat. Dia kesulitan mengendalikan diri begitu mendengar nama Kaina disebut. Padahal Kaina bukan siapa-siapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN