Bab 10: Dilabrak Mantan

1586 Kata
“Hai, Mahasiswi beasiswa!” Mendengar panggilan yang tidak asing itu, Kaina menoleh. Dia menghela napas saat tahu siapa yang memanggilnya begitu. Apa lagi yang akan dia alami sekarang. Sejak lama, dia memutuskan untuk tidak terlibat masalah dengan siapa pun. Sayang, tampaknya kali ini dia tidak berada dalam situasi yang nyaman. Setelah mengatakan omong kosong di ruang klub tata boga, Kaina pikir Feby tidak akan pernah muncul lagi di hadapannya. Siapa mengira kalau sekarang gadis cantik itu berdiri sambil menyilangkan tangan di d**a. Senyumnya terlalu lebar sampai Kaina pikir dia sedang tertawa, bukannya tersenyum. Apakah ada sesuatu yang belum Feby katakan di klub? Jadi, dia datang untuk meluapkan semua perasaannya. Atau dia tersinggung karena Kaina menolak niat baiknya kemarin. Bukan salah Kaina bukan kalau dia akhirnya mencari pengiring musik baru sesudah mendapat penolakan dari klub yang dipimpin oleh Feby. Jika saja Feby lebih cepat, Kaina tidak mungkin kebingungan. Lagi pula, dia sangat menyesali keputusannya meminta bantuan Arion. Karena hal ini, dia harus kembali terlibat dengan Arion, pemuda yang telah lama dihindari olehnya. Sudah terlambat untuk membatalkan keikutsertaan Arion dalam acara bazar kampus. Rambut panjang Feby yang dipotong sagy dan diwarnai dengan warna merah lembut. Sangat cocok untuk gadis secantik Feby. Hari ini dia memakai celana jeans yang sengaja disobek di bagian lututnya. Hanya dengan blouse sederhana merah muda, Feby sudah tampak bersinar. Benar-benar membuat kaum hawa yang lain merasa iri. Kaina tidak tahu pasti apa yang membuat Feby harus repot-repot menghadang langkahnya di koridor. Dia menoleh pada Dara yang juga mengerutkan kening melihat tingkah Feby. Sekali lagi, Kaina menghela napas. Sebaiknya dia segera meluruskan masalah dengan Feby atau gadis itu akan terus mengganggu klubnya. Apa Arion tidak mengatakan pada Feby kalau dialah yang membantu klub tata boga. Kaina pikir, Arion sudah memberi tahu Feby karena mereka berbincang lumayan lama di depan ruang klub. Kaina tidak menguping. Dia hanya sedikit penasaran, jadi dia memeriksa apa yang terjadi antara Arion dan mantanya itu. “Hai, Feby. Ada yang bisa aku bantu?” “Gue cuma mau bilang kalau loe sebaiknya tahu posisi loe,” kata Feby sambil mengibaskan rambut merahnya. Kaina mengerutkan kening. “Aku enggak ngerti maksud kamu. Apa tepatnya yang mau kamu katakan?” “Loe benar-benar enggak tahu atau lagi pura-pura?” “Kalau Kaina bilang enggak ngerti, berarti dia memang enggak tahu maksud kamu apa,” sela Dara geram. Dia tidak suka Kaina dipojokkan oleh Feby. “Gue lagi ngomong sama Kaina, bukan sama loe.” “Tapi cara kamu ngomong itu enggak enak didengar. Bisa, kan, ngomong dengan kata-kata yang baik. Memangnya apa yang dilakukan sama Kaina sampai kamu ngomong seperti itu?” “Dia jelas-jelas sudah menggoda Arion.” “Aku? Menggoda Arion? Apa maksud kamu?” “Kalau ada yang menggoda, sudah pasti itu Arion, bukan Kaina. Kamu pikir Kaina sudi menggoda cowok kayak Arion?” Dara sungguh tidak bisa menahan diri lagi. Berani sekali Feby mengatakan kalau Kaina menggoda Arion. Dia pikir Kaina itu gadis macam apa. Kaina mungkin menyukai Arion, tetapi bukan tipe cewek yang suka memulai. Feby harus belajar menghargai orang lain dan tidak sembarangan menyerang begini. Beruntung tidak ada orang yang lewat saat Feby melemparkan tuduhan kejam pada Kaina. Apa Feby tidak pernah berpikir sebelum mengatakan sesuatu? Reputasinya yang suka mengganggu ketenangan orang lain memang santer terdengar. Agaknya itu benar dan sekarang dia menargetkan Kaina sebagai korban. Tidakkah Feby mengenal Arion? Mereka sudah pernah pacaran. Feby pasti tahu betul bagaimana sosok cowok itu, terutama kelakuannya yang suka menggoda kaum hawa. Apa Feby lupa kalau dia juga salah satu korbannya? Atau dia sudah dibutakan oleh cinta pada Arion, sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Wah! Cinta memang mengerikan seperti itu. Kaina sudah pernah merasakan. Terkadang, orang yang tengah jatuh cinta tidak menyadari apa yang dia lakukan sebenarnya. Dia hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Padahal belum tentu begitu. Namun, manusia terkadang suka lupa diri. Pada kenyataannya, semua itu adalah bisikan setan yang merayu manusia agar menjadi teman mereka di neraka. Sebagai manusia, kita terkadang tidak menyadari dan malah mengikuti perintah setan yang menyesatkan. Itulah sebabnya Allah memerintahkan umat-Nya untuk menahan hawa nafsu. Akan ada waktunya di mana kita bisa mencurahkan rasa cinta pada lawan jenis. Yaitu pada saat kita sudah memiliki pasangan yang sah. Pernikahan membuat kita halal untuk mengagumi seseorang, bahkan mendatangkan pahala. Karenanya, bersabarlah sampai tiba waktu kita bisa mencinta orang yang tepat. “Cowok kayak Arion? Cowok kayak Arion?” teriak Feby histeris. Kaina dan Dara sama-sama tertegun melihat reaksi Feby yang menurut mereka sedikit berlebihan. Feby mengacak rambutnya beberapa kali sambil menggumam tidak jelas. Kaina menoleh ke kanan kiri dan melihat beberapa mahasiswa melirik, ingin tahu apa yang sedang terjadi antar tiga gadis di koridor. Ini bencana. Kaina tidak yakin harus melakukan apa untuk menghindari kemungkinan teman-temannya berdatangan. Dia tidak berminat menjadi pusat perhatian atas sesuatu yang tidak baik. Lebih baik dia meninggalkan Feby yang terus membuat rambutnya berantakan, tetapi apa mungkin dia setega itu? Perasaan Kaina semakin tidak nyaman saat beberapa mahasiswa sengaja berhenti untuk memperhatikan apa yang terjadi. Gadis itu merapalkan doa agar hatinya lebih tenang. Dia tidak mengerti mengapa ada orang yang suka melihat permasalahan orang lain seperti ini. Memangnya apa yang bisa mereka dapatkan? “Feb, kamu bisa tenang dulu. Kita bicara baik-baik. Oke?” Kaina mencoba untuk membujuk agar Feby tidak semakin menggila. “Tenang kata loe? Loe pikir gue bisa tenang sekarang? Teman loe itu benar-benar keterlaluan.” Sudut mata Kaina melirik Dara yang mengembuskan napas dengan wajah di tekuk. Sepertinya Dara tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya tadi. Jujur saja, Kaina juga setuju dengan ucapan sahabatnya itu. Sudah jelas bukan kalau Arion suka menggoda para gadis. Lalu, mengapa Feby seolah tidak terima kalau Arion-lah yang lebih mungkin menggoda Kaina. “Memangnya apa yang aku katakan?” tanya Dara menantang. Kaina menepuk kening. Masalah ini bisa memanjang. “Bagaimana kalau kita membujuk Feby dulu?” bisik Kaina pada Dara. “Kenapa loe malah bisik-bisik? Loe ngomongin gue, ya?” tanya Feby dengan nada tinggi. Dia sudah berkacak pinggang sekarang. “Kalau kamu terus bersikap seperti ini, kamu tidak akan mendapatkan keinginanmu.” “Memangnya loe tahu apa keinginan gue?” “Entahlah. Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan Arion?” Usai menyebutkan nama Arion, Kaina menggigit bibir bagian dalam. Hatinya menggumamkan kata maaf pada pemuda itu karena menyeretnya dalam permasalahan ini. Mau bagaimana lagi. Dia berpikir kalau Arion bisa menjadi alasan untuk menenangkan Feby yang kini mengentak-entakkan kaki tanpa memedulikan sekeliling. Jelas sekali Feby tidak peduli karena menjadi tontonan gratis. Sebaliknya, Kaina sudah sangat sesak berada di tempat ini. Dia ingin pergi secepatnya atau jika bisa, dia ingin menghilang saja. Dia tidak yakin apa yang sedang dipikirkan oleh teman-teman kampus yang sedang melihat perdebatannya dengan Feby. Memang ini hal yang pantas ditonton? Dalam situasi seperti ini, Kaina berharap ada yang datang menyelamatkannya. Siapa saja. Asal dia bisa keluar dari kekacauan ini. Kenapa Feby tidak mengamuk saja kemarin? Kenapa harus menghadangnya di koridor seperti ini? Kenapa tidak ada yang berniat membawa Feby pergi. Kaina memejamkan mata demi bisa menenangkan diri. Jauh di dalam sudut hatinya, Kaina sungguh berharap Arion datang dan menghentikan sikap Feby yang kekanak-kanakan itu. Dia tidak tahan melihat kerumunan yang mulai ingin tahu permasalahannya. Tidak bisakah dia sedikit berharap pada pemuda yang sering mengganggu pikirannya itu? “Akhirnya loe paham juga.” Feby menarik napas, lalu berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Dia memandang sekeliling sambil tersenyum. Kaina dibuat melongo dengan sikap santai Feby. Belum lagi Kaina bisa mengendalikan diri, Feby malah melambaikan tangan. Seakan apa yang sudah dilakukannya tadi hanya angin lalu. Apa urat malu Feby sudah putus? Apa dia tidak menyadari apa yang baru saja dia lakukan? Kenapa dia bisa menghadapi para mahasiswa dengan sangat sabar? Sungguh sebuah kenyataan yang mengenaskan. Di mana lagi Kaina bisa menemukan orang seaneh Feby. Dia tidak bisa menduga sikap gadis berambut merah itu. Kemudian, detik selanjutnya Kaina sadar kalau Feby sudah terbiasa dengan keramaian seperti ini. Selebriti kampus yang memiliki wajah elok dan suara merdu. Siapa yang tidak ingin melihat gadis seperti Feby. Namun, sikap Feby sedikit keterlaluan. Setelah membuat Kaina berdebar, sekarang dia justru menyebalkan. “Loe ada hubungan apa sama Arion?” tanya Feby dengan tajam. “Aku enggak punya hubungan apa pun dengan Arion.” “Loe pikir gue percaya? Kalau loe enggak ada apa-apa sama Arion, kenapa dia ngomong sama loe?” Feby masih belum menyerah. “Karena dia dan teman-temannya bakal bantu bazar kami. Mereka akan menyumbangkan beberapa lagu,” ujar Kaina tenang. “Nah, itu makin enggak masuk akal. Kapan coba sejarahnya Arion mau ikut acara kampus. Jujur saja, deh. Loe ada apa-apanya sama Arion, kan?” “Aku, kan, sudah bilang alasannya. Kalau kamu enggak percaya, ya, terserah.” Mata Feby menyipit. Dia menatap Kaina dengan serius. “Mungkin loe ada benarnya. Lagi pula, mana mungkin Arion punya target kayak loe. Iya, kan?” Kaina tersenyum, lalu berkata dengan pelan, “Benar sekali. Jadi, aku boleh pergi, kan?” “Tapi, tetap saja, loe enggak boleh ganjen-ganjen sama dia. Loe tahu, kan, kalau cowok populer kayak Arion itu cocoknya sama cewek tenar kayak gue?” Feby tiba-tiba melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Kaina mengikuti arah pandangnya. Ternyata Feby menyapa seorang mahasiswa berkaca mata yang membawa setumpuk buku. Pemuda itu menoleh ke kanan kirinya, mungkin dia tidak yakin kalau Feby menebar pesona. Ini sudah cukup menjengkelkan bagi Kaina. “Aku rasa dia memang cocok buat kamu,” ucap Kaina penuh penekanan. “Oke. Ingat, ya, jangan ganggu Arion." “Memangnya loe siapa gue?” Jantung Kaina seperti hendak melompat saat mendengar suara Arion. Dia cepat-cepat menoleh untuk memastikan pendengarannya. Itu memang Arion. Entah mengapa, melihat Arion muncul membuat Kaina lega. Padahal bisa saja keinginannya untuk pergi secepat mungkin, tidak akan terkabul. Pertemuan mantan seperti ini bisa berbuntut panjang. Iya, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN