“Gue enggak tahu kalau Feby bar-bar kayak gitu,” celetuk Hilma begitu Arion menarik Feby keluar.
Suasana di ruangan klub sedikit ribut setelah adegan penarikan yang dilakukan oleh Arion. Mereka mulai membicarakan hubungan Feby dan Arion di masa lalu. Kemudian, mengaitkan dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sementara Kaina hanya menarik napas berat. Dia kembali mengawasi roti yang dipanggang.
Kalau Kaina menuruti hati, dia ingin sekali mengamuk. Bagaimana bisa Feby mengatakan semua itu di klub ini? Dia juga bertanya-tanya apa alasan Arion datang ke klub sebenarnya? Kenapa Arion harus muncul dan membuat kegaduhan? Parahnya lagi, Kaina terus memikirkan apa yang sekarang Arion lakukan di luar bersama Feby.
Kepala Kaina menggeleng-geleng keras. Haruskah dia mengambil keputusan ekstrem dengan membatalkan kerja sama dengan Arion. Tidak! Acara bazar kampus sudah di depan mata. Bagaimana kalau dia tidak bisa menemukan pengganti di waktu yang tepat? Teman-temannya bisa kecewa, kan?
Menggantikan Arion dengan Feby juga bukan ide yang bagus. Kaina sudah sangat sering mendengar tentang reputasi buruk Feby, tetapi dia tidak menyangka kalau gadis itu begitu angkuh. Dia bahkan berani mengatakan hal-hal jelek mengenai klub tata boga ketika berada di tengah-tengah anggotanya. Padahal dia sedang sendiri.
Tidakkah Feby pernah berpikir apa akibat dari perbuatannya. Bagaimana jika anggota klub yang merasa tersinggung kemudian menyerang Feby. Hal itu bukannya tidak mungkin terjadi. Setelah menggantikan Dea selama hampir dua minggu ini, Kaina cukup memahami bagaimana kepribadian para penghuni klub dan mereka cukup mampu untuk mengeroyok Feby.
“Kamu baik-baik saja, Kai?”
Suara familier itu membuat Kaina menoleh dan tersadar dari lamunan mengenai Arion. Dara. Dia tidak tahu sejak kapan temannya itu berada di sana. Kening Dara mengerut sambil menatap serius Kaina yang kini mulai memandangi seisi klub yang juga tengah mengawasinya. Apa dia tadi terlalu lama melamun?
Mencoba melenyapkan sisa-sisa bayangan Arion yang merongrong pertahanannya, Kaina mengerjap. Dia tersenyum pada Dara dan juga semua anggota klub untuk meyakinkan kalau dia baik-baik saja. Mereka tidak perlu mengetahui apa yang ada di dalam hatinya saat ini. Cukup memalukan kalau dia ketahuan menyukai Arion.
Tidak menutup kemungkinan kalau ada anggota klub yang memiliki penglihatan hebat. Bagaimana kalau ada yang menyadari perasaannya pada Arion. Dia harus berhati-hati dalam setiap tindakan agar tidak mempermalukan diri sendiri. Pesona Arion sangat mengganggu ketenangan hidup Kaina.
“Kaina,” panggil Dara lagi.
“Oh, maaf. Aku baik-baik saja.” Kaina menggeser posisi agar dapat melihat anggota klub yang lain. “Maaf, ya. Tadi aku hanya sedikit syok. Semoga kalian tidak terlalu mempermasalahkan apa yang dikatakan Feby tadi.”
“Tapi dia itu sudah kelewatan, Kai. Enak saja bilang klub kita enggak populer. Kami tahu kalau klub ini memang tidak setenar klub lainnya, tapi kami berusaha tampil maksimal dalam setiap kegiatan kampus.”
“Aku mengerti. Maaf kalau aku tidak bisa bertindak tegas sebagai pengganti Kak Dea.”
“Loe enggak salah, Kai. Kak Dea juga akan melakukan hal yang sama kalau dia ada di sini. Dia, kan, cinta damai.”
“Makasih sudah mau menerima kehadiran aku di sini. Aku minta maaf karena sudah membuat ketua klub kalian terluka dan harus terbaring di rumah sakit. Aku mengacaukan rencana kalian.”
“Ya, ampun, Kai. Sudah berapa kali kami mengatakan kalau itu bukan salah loe. Lagi pula, loe cukup kompeten buat menggantikan Kak Dea. Iya, kan, Teman-teman?” Hilma yang paling menyukai Kaina bertanya pada semua anggota klub. Mereka serentak menjawab “iya”.
“Tetap saja, Kak Dea lebih baik.”
“Itu karena Kak Dea sudah lama bersama dengan kami. Loe enggak pengin jadi anggota klub kalau nanti Kak Dea balik lagi?”
Pertanyaan itu sedikit sulit untuk dijawab. Kaina menoleh pada Dara yang tersenyum singkat. Dia lebih suka menghindari segala bentuk keramaian. Berada di suatu tempat dengan banyak orang membuatnya tidak nyaman. Ditambah lagi, klub ini memiliki beberapa anggota cowok. Keadaan yang semakin membuat Kaina sulit.
Untungnya, semua anggota cowok itu sangat baik pada Kaina. Tidak ada yang berpenampilan aneh atau urak-urakan. Mereka rapi dan ramah sejak pertama kali Kaina muncul. Tetap saja, Kaina menyukai kesendirian. Dia berdoa setiap hari agar Dea segera sembuh dan bisa kembali ke posisinya. Semoga saja segera.
Akan sangat baik kalau Dea sembuh secepatnya. Dia hampir menyerah untuk menggantikan Dea. Menyiapkan sebuah bazar kampus bukanlah hal mudah. Ada banyak pekerjaan yang mesti dipikirkan. Kaina belum pernah melakukan kegiatan yang melibatkan orang sebanyak ini. Dia bersyukur karena Dara mau menemaninya di klub ini.
Mengingat semua pertolongan Dara membuat Kaina sedih. Dia ingin sekali lepas dari belenggu ketakutan yang mengungkungnya selama ini. Sayang, bayangan kelam masih saja menghantui Kaina. Terutama saat dia sendiri dan bertemu dengan orang-orang baru. Dia belum siap sepenuhnya untuk membuka diri.
Ada banyak hal yang masih mengganjal di hati Kaina setiap dia bertemu dengan orang baru. Rasanya sulit sekali memercayai sosok yang baru dikenal. Selalu ada ragu dalam hati ketika muncul orang yang menyukainya. Dia tidak mau menaruh harapan, lalu dihempaskan oleh kekecewaan karena salah menilai.
Bukannya Kaina berburuk sangka pada orang yang mendekat padanya. Ini lebih pada dirinya sendiri. Dia terlanjur kesulitan menjalin pertemanan dan percaya. Dulu, dia pernah sangat memercayai seseorang, tetapi justru dikhianati dengan begitu kejam. Nyaris tak ada kepercayaan yang tersisa dalam hati gadis itu.
Jika memang begitu, mengapa Kaina justru menyukai Arion. Padahal sosok seperti Arion-lah yang sangat berpotensi membuatnya kembali kecewa. Dia harusnya lebih berhati-hati dan tidak gegabah. Namun, Arion memberikan kesan pertama yang sangat sulit dilupakan. Kaina tidak kuasa menghalau semua setan yang membisikkan keindahan padanya.
Padahal semestinya Kaina tahu, berani menyukai Arion, berarti berani menyelami kembali masa lalu. Jika tidak ingin tenggelam dalam penyesalan, dia harus berhenti sekarang. Bisakah dia mengendalikan hati ketika Arion malah semakin mendekat? Mampukah dia mengusir Arion dari hidupnya? Sanggupkah dia?
“Iya, Kai. Loe juga kelihatannya suka menghabiskan waktu di dapur. Gabung saja sama kami,” dukung yang lain. Kaina tersenyum singkat mendengar usulan para penghuni klub.
“Aku bukannya enggak mau gabung. Cuma ... ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku tidak yakin bisa membantu di sini. Kurasa, aku hanya akan bertahan sebentar.” Kaina menghela napas. “Tapi aku akan mendukung klub kalian. Selalu.”
“Tidak adil. Padahal kita sudah cukup nyaman bersama,” ujar Hilma. “Tetap saja. Kami mendukung semua keputusan loe, Kai. Makasih sudah mau membantu klub kami.”
“Aku tidak banyak membantu.”
“Yang benar saja. Loe bahkan mengundang Arion, cowok super keren yang bahkan enggak pernah menyapa kami selama ini. Bukankah itu keren?”
“Keren apanya? Dia cuma mau bantu acara amal kampus.”
“Loe enggak bakal bilang begitu kalau loe kenal betul siapa itu Arion?”
“Maksud kamu? Memangnya Arion kenapa?”
“Dia itu cuma cowok yang hobi bersenang-senang. Dia sama sekali tidak peduli dengan kuliah, apa lagi kegiatan kampus. Kalau loe bisa bujuk dia, artinya loe cukup berharga. Meski begitu, gue berharap dia enggak ganggu loe.”
“Kami kebetulan saja pernah saling kenal waktu SMA. Itu saja.”
“Semoga memang begitu. Dia itu orang yang cukup berbahaya. Gue dengar, dia sering ikut tawuran dan buat masalah. Tapi, dia juga berbakat dalam musik. Kamk pernah lihat dia manggung dadakan sama teman-temannya itu.”
“Jadi, apa menurutmu, dia layak menjadi musik pengiring bazar?”
“Tentu saja. Loe tahu, kan, kalau dia sangat terkenal. Terlepas dari berbagai keributan dan masalah yang ditimbulkan, dia punya banyak penggemar. Kehadirannya bisa memancing keramaian bazar kita. Dia salah satu ikon kampus kita.”
“Sepertinya memang begitu.” Kaina terdiam sebentar. “Sebaiknya kita melanjutkan aktivitas. Masih banyak yang harus kita siapkan.”
“Perintah dilaksanakan!”
Melihat tingkah Hilma dan anggota klub lain yang seolah tunduk pada Kaina membuat gadis semringah. Dia tidak pernah merasa diterima sedemikian baik oleh komunitas baru. Dia bersyukur bisa bertemu dengan mereka semua. Ini prestasi yang sangat baik bagi Kaina. Senang sekali bisa mengukir prestasi selain di bidang akademik.
Tib-tiba Kaina merasa mendapatkan banyak dukungan. Dia mulai menyukai suasa dalam klub yang diikutinya dua minggu terakhir. Mungkin karena memasak memang hal yang dia sukai. Atau karena dia menemukan kehangatan dari orang baru. Atau hanya kesenangan karena bisa memenuhi tugas Dea dengan baik.
Entah mana alasan yang tepat untuk menggambarkan kesenangan Kaina saat ini. Yang pasti, dia bahagia berada di sini, untuk sekarang. Setelah hari ini, masih banyak hal yang akan dia lalui. Pertunjukan sebenarnya akan terjadi saat acara bazar berlangsung. Sanggupkah dia menyukseskan event yang dibanggakan klub Dea itu?
Mata Kaina mengamati teman-temannya di klub. Semua tersenyum dan menikmati kegiatan mereka. Kaina menghela napas. Awalnya, dia sedikit ragu ketika harus memasuki ruangan ini. Janjinya pada Dea menguatkan keteguhan hati gadis itu. Dia tidak mungkin mengecewakan penolong yang rela bertaruh nyawa demi dirinya.
Ruang klub cukup luas. Dea sudah membagi tugas dan wilayah setiap anggota berdasarkan jenis kelamin. Sama seperti Kaina, Dea juga ingin berkumpul dengan sesama jenis. Akan tetapi, dia tidak kuasa menolak saat ada mahasiswa yang ingin masuk klub. Toh, memang tidak ada aturan tertulis mengenai persyaratan keanggotaan klub mereka.
Untuk sementara, Dea hanya bisa memisahkan anggota klub dengan cara mengelompokkan tugas dengan sesama jenis. Dia sudah meminta ruangan baru agar dapat memiliki lebih banyak anggota yang bergabung. Sayangnya, pihak kampus belum menyetujui. Mungkin karena klub tata boga kurang familier bagi mereka.
Apa pun itu, Kaina berharap klub ini bisa berjalan baik dan lancar. Terutama acara bazar yang akan segera mereka selenggarakan. Urusan apa dia akan tetap bertahan atau keluar saat Dea kembali, abaikan saja dulu. Dia hanya ingin fokus menyelesaikan tanggung jawabnya. Masalah lain pikir belakangan.