“Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Ra?” “Aku juga enggak yakin, Kak. Semoga saja pikiranku ini salah.” Dea tadi melihat Arion dan ketiga temannya berlari keluar dengan terburu-buru. Sebelumnya, Arion berbicara pada Dara. Jadi, pasti Dara sesuatu. Lalu, mengapa sekarang Dara justru hanya menatap layar telepon seluler. Dea juga tidak melihat Kaina di mana-mana. “Kaina di mana, Ra?” Dara menatap Dea sebentar, lalu kembali mengamati telepon genggamnya. Belum ada berita dari Arion. Tidak bisa begini. Kalau Arion tidak menghubungi, Dara yang akan menelepon. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan bagaimana keadaan Kaina saat ini. Jadi, dia menekan nomor Arion. Sayang, panggilannya tidak tersambung karena telepon Arion selalu sibuk. Dengan siapa Arion

