Part 5

1659 Kata
Aileen Aku tak menyangka dia benar-benar pergi dari kehidupan kami. Aku sungguh kehilangan sosok sahabat, begitu banyak janji yang telah kami ukir bersama. Kami telah sepakat untuk kuliah di tempat yang sama bahkan di jurusan yang sama. Jujur, tidak sedikitpun terbesit di hati ini membencinya atau jijik melihat ke agresifannya dalam mendapatkan cinta. Secara tidak langsung aku juga ikut dalam kegilaan Nia untuk mendekati kak Raka yang super duper es itu. Sesekali aku rindu tidur di rumah Nia, setiap aku pulang kuliah. Rumah itu selalu menjadi objekku. Rumah yang sangat ramai, ya walaupun cuman hidup satu orang aneh dengan berjuta keceriannya serasa rumah Nia dipenuhi banyak orang karena celotehannya. Padahal di saat pengambilan surat pengumun kelulusan sekolah, hati ini sangat berharap dia akan menampakkan sosoknya. Kepeercayaan diri serta rindu yang teramat sangat kepada seorang sahabat. Setelah cukup lama menunggu di sekolah, sosok yang kurindu pun tidak muncul walau hanya sebuah bayangan. Terakhir yang ku dengar kak Keinan mengutus seseorang mengambil segala keperluan. Nia benar- benar ingin pergi dari keluarga ini. Mungkin niatnya sudah bulat untuk tidak memperjuangkan cintanya. Nia tidak berhak diperlakuan seperti itu dengan kak Raka, semestinya kak Raka bisa memberi secuil ruang dihatinya menerima Nia. Di sisi lain aku merasa setuju dengan tindakan Nia yang pergi menghilang begitu saja, dan berharap ada rasa rindu di raut wajah kak Raka kepadanya. Namanya juga manusia dingin, mana ada terpengaruh dengan hal seperti ini. Kak Raka malah lebih dingin lagi setelahnya. Dia banyak menghabiskan waktu di luar dari pada berkumpul dengan kami. Bukan dingin lagi, kak Raka cenderung terlihat seperti wanita yang lagi PMS, sesekali di rumah kerjaannya marah-marah tak menentu. Kami semua terkena semprot tidak terkecuali dengan Davi. Hubungannya dengan Chelsea juga tidak terlihat harmonis, biasanya wanita itu sering datang kerumah, apalagi dia tahu Nia sudah tidak ada. Heh, jangan tanya tentang keagresifannya berusaha mencari muka di keluarga kami. Aku merasa kalau benar kak Raka mencintainya, seharusnya kak Raka yang gencar mendekatinya, kenyataannnya malah kebalikan (masa bodoh deh ama hubungan mereka, aku mah nggak peduli). Kami semua merindukannya , Papa, mama, dan aku. Davi jangan di tanya hampir setiap saat menanyakan Nia. "Kak Nia kemana sih, ma?" "Kak Nia nggak mau main kerumah kita lagi ya?" "Kak Nia marahan ama bang Raka?" Pertanyaan itu yang selalu dia lontarkan kepada kami semua. Nia dimanakah kamu. Awalnya aku benar-benar marah kepada kak Raka, namun seiring waktu berlalu aku merasa ka Raka tidak berhak juga untuk disalahkan. Yang namanya cinta tidak bisa dipaksakan. Sekarang, aku sudah mulai dekat dengan kak Raka, malah semakin dekat. Baik kak Raka ataupun aku tidak pernah membahas tentang Nia, bagi kami itu maslah sensitif. Aku tetap berharap cinta Nia dapat dibalas oleh kak Raka. Ya apa boleh buat jodoh sudah ada yang mengatur. *** 6 TAHUN KEMUDIAN. 6 tahun sudah Nia menyembunyikan keberadaannya selama ini hanya untuk menghindari Raka. Rindu, rasa itu pasti menghampiri relung hati Nia ketika malam tiba, namun ia berusaha untuk menepisnya. Hati tidak akan pernah berbohong, sekuat apa Nia mencoba melupakannya maka semakin besar rasa cinta itu bertambah. 6 tahun yang lalu Nia akhirnya memutuskan bersedia tinggal dan melanjutkan sekolahnya di negara tersebut. Tapi, dia memutuskan untuk mengambil cuti sementara waktu. karena pada masa itu adalah masa terpuruk bagi Nia. Atas berkat perhatian kakak satu-satunya dan seorang sahabat kecilnya yang begitu mendukung apapun pilihan Nia. Karena kecintaan Keinan terhadapnya serta sibuknya Keinan merawatnya dari keterpurukan membuat Keinan tidak peduli dengan masa depannya. Keinan rela melepaskan wanita yang dicintainya hanya untuk menyakinkan kalau adiknya itu harus bahagia. Keinan dengan tanpa lelah dan tidak mengenal waktu selalu berada disamping Nia ketika dia membutuhkan sandaran. Di sini,dia kembali ke sini. Ke negara ini Indonesia. Dia harus berada disini hanya untuk menjemput wanita impian Keinan. Saat ini, bukan waktunya lagi Nia bersikap egois hanya mementingkan kebahagiannya tanpa harus melihat ke dalam mata Keinan lelaki itu merindukan wanitanya. Dengan beberapa argumen panas antara Keinan dan Nia beberapa waktu lalu, dimana Nia meminta Keinan menjemput calon kakak iparnya segera sebelum terlambat, sebelum kisah cinta Keinan berakhir menyedihkan seperti kisah cintanya. Keinan pada akhirnya menyetujui permintaan adiknya. Sekarang, Nia sedang menatap pemandangan kota Jakarta dari balkon apartemennya. Sudah berada di Jakarta 1 minggu yang lalu, dia masih takut untuk bertemu dengan sahabatnya Aileen yang sangat dia rindukan. Nia juga merasa takut bertemu dengan cinta pertamanya. Nia takut ketika dia bertemu Raka dan melihat Raka sudah mempunyai keluarga kecilnya , memikirkannya saja Nia tidak berani. Walau dia sudah mempunyai keluarga kecil pun. "Memikirkanku, hmm?" sebuah pelukan hangat melingkupi punggung Nia. "Andrew, darimana saja meninggalkanku sendirian disini?" sungut Nia. "Kami hanya jalan mengelilingi kota dan membeli beberapa cemilan. Tadi aku lihat kamu tertidur, makanya tidak membangunkanmu" "Dimana Adri? Dia tidak ikut denganmu?" "Dia ikut Keinan, Keinan ingin mengunjungi rumah sakit yang baru berpindah tangan atas nama dia." "Oh ya, aku hampir lupa, besok aku juga mau melihat rumah sakit itu. Maukah kamu mengantarku?" "Apapun untukmu princes" rayu Andrew "Gombalanmu menjijikan tahu" Nia melempar Andrew dwngan bantal. "Kenapa wajahmu semerah tomat, ketikaku gombalkan?" rayuan Andrew membuat Nia mendengus sebal. *** Raka Hampir 1 tahun dipindahkan kerumah sakit ini, aku memang sangat menikmatinya. Karena tempat lamaku bekerja selalu mengingatkanku tentang dirinya. Dia memang membuktikan ucapannya untuk tidak lagi hadir dihidupku, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya setelah ciuman perpisahan yang dia berikan kepadaku 6 tahun lalu. Seenaknya saja dia pergi menghilang setelah ciuman yang telah menjungkir balikan hati ini. Tak tahu kah dia? Ketika bibir mungil itu menyentuh bibirku, hati ini bergetar tidak karuan. Mungkin dia tidak menyadari seandainya dia lebih lama menciumku akan kupastikan hari itu akan kubalas melumatnya. Dimanakah dia sekarang? Apakah dia telah menemukan pengganti diriku? Sungguh aku tak sanggup membayangkannya ketika dia telah bersama orang lain. Aku memang salah, sangat bersalah terhadapnya. Aku akui aku memang b0d0h tidak sedikitpun membalas cintanya, begitu banyak yang dia korbankan untuk menarik perhatianku. Begitu banyak air mata yang telah dia keluarkan karena kelakuanku. Aku bukannya tidak peka terhadap perasaannya, semoga dia tahu kelak kenapa aku bersikap seperti itu terhadapnya. Jika masih ada kesempatan atau waktu untuk menjelaskan hal itu, sebelum aku terlambat. Tidak munafik aku merindukannya, sangat rindu ketika melihat tatapan memujanya, rindu teriakannya di pagi hari di rumahku, rindu makanan buatannya, apapun dalam dirinya aku sangat merindukan hal itu. Nia! dimana dirimu? Maafkan aku yang mengabaikanmu. Hampir 1 tahun setelah dia hilang, aku tidak hanya diam, ku coba mengorek informasi yang bisa kudapat dari kenalannya sampai kepada orang terdekatku Kak Olive, karena ku yakin kak Olive pasti tahu dimana keberadaan Nia. Sepertinya kak Olive berusaha menyembunyikan Nia dari pandanganku. "Sungguh Ka, kakak tidak tahu, kamu kan tahu kakak tidak disini ketika dia pergi!" jawaban kak Olive setiap ku menanyakan dimana Nia. Kemana lagi akan kucari dia, sudah 6 tahun aku tidak bisa juga menemukannya. Akan kupastikan ketika aku berhasil menemukannya tidak akan kubiarkan lagi dia menghilang. Dulu, dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkanku, sekarang aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan maafnya, akan kupastikan Nia aku akan membuatmu keluar dari persembunyian ini. Tidak terasa waktu jam istirahat sebentar lagi selesai. Perutku memberontak ingin diisi karena dari pagi belum satu makananpun yang masuk ke dalam perut ini. Biasanya setiap pagi dia selalu mengantar makanan untuk bekalku bekerja. Jika mengingat hal itu rindu di lubuk hatiku semakin tak terbendung mengingatnya. Sekarang, tak satupun yang memperhatikanku lagi, semua hal harus aku siapkan sendiri termasuk urusan perut. Sudah hampir 5 tahun ini aku tinggal di apartemen. Awalnya alasanku pindah adalah menghilangkan kenangan tentang dirinya. Selain alasan itu, kebetulan tempatku bekerja sekarang ternyata sangat dekat dengan apartement. Lagi-lagi kepala berdenyut memikirkan kenangan tentangnya, aku harus bergegas ke kantin sebelum jam istirahat berakhir. Saatnya menuju kantin rumah sakit mencari makanan untuk penganjal lapar. Rasa lelah dan pusing menghampiri tubuh ini. Dari pagi begitu banyak pasien yang telah kutangani sehingga tak terasa sudah waktunya istirahat. Sambil berjalan kuusap pelipis mata agar mengurangi rasa rasa nyeri dan penat tubuh ini. Bukkkkk Aku menabrak seseorang, eh bukan. Ada sebuah benda mungil menabrakku. "Maaf om tidak sengaja," sahut si kecil itu menampakan raut wajah cemas. Aku menatapnya, ternyata dia seorang anak lelaki yang kuperkirakan berumur 4-5 tahun. Ku tatap wajah malaikatnya, dia sungguh tampan, matanya besar dan berwarna biru menatap takut kearahku. Ku sejajarkan tubuh ini dengannya " tidak apa-apa, jangan takut." sahutku lembut mengusap rambutnya. Ada getaran aneh di hati ini ketika menyentuh kulit malaikat tersebut. Begitu hangat dan damai melihat mata bulatnya yang imut. "Adri nggak sengaja, om. Tadinya Adri lihat bunda disana makanya Adri kejar, eh Adri nabrak om" celotehnya menjelaskan. Sungguh lucu mendegar suaranya. "Namanya siapa? Kalau om boleh tahu" " Adri Om, Om boleh panggil Adri seperti Bunda, Papi dan Daddy memanggil Adri" lanjutnya. " Loh!!!! Papi dan Daddy?" tanya ku heran. ( bukan heran tapi kepo) "hm...hm.." sahutnya mengangguk. Tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaku dari belakang. "Kak! ngapain disini nggak diruangan kakak?" tanya Aileen tiba-tiba. Aku bangkit dari posisi semula. "nih, sebenarnya kakak mau ke kantin, tanpa sengaja menabrak Adri" kataku menjelaskan. "Kamu bawa apa?" tanyaku "Kakak udah makan? Nih, Aileen bawakan makanan dari mama." "Oh syukurlah!!!! Kakak dari tadi lapar sekali. Trims adekku" sahutku sedikit menggodanya. "Adri sekarang mau kemana? Bunda, Papi dan Daddy Adri dimana biar om sama Tante antar." katku menghadap ke Adri. "Matanya, matanya mengingatkan Aileen dengan dia" lirih Aileen menatap panjang kearah Adri. "Siapa?" heranku. " Nia kak, iya Nia. Dia mirip sekali dengan Nia, matanya itu memuatku yakin." "Hei...hei sudah ah jangan semuanya kamu bandingkan dengan Nia. Kamu merindukannya lagi, iya?" " ADRII" Sahut seseorang di balik punggung kami berdua. Aileen sedikit kaget apalagi denganku. Suara itu, dia pasti dia tidak salah lagi. Aku tidak pernah melupakan suaranya. Bagaimana bisa lupa setiap hari dia selalu berceloteh dihadapanku. Suara seseorang yang sangat ku rindu bahkan orang yang sangat ingin ku cari 5 tahun belakangan ini. Aku dan Aileen sama-sama menghadap ke sumber suara dibelakang kami. " Nia" lirihku dan Aileen serentak. Dia juga sama kaget dan tidak percayanya seperti kami. Dia hanya diam menatap kearah kami bergantian. " Bunda!" sahut Adri memecahkan keheningan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN