Sang calon pengantin wanita, nyaris tidak bisa tidur seandainya dia tidak memaksakan diri untuk mengalah pada sinyal di tubuhnya bahwa ia butuh istirahat walau hanya dua atau tiga jam saja. Pukul empat pagi dirinya baru terlelap, setelah gelisah sepanjang malam. Namun, ia masih memiliki setitik harapan kalau Attaya akan datang untuk melaksanakan akad nikah hari itu. Pukul tujuh pagi, ia dibangunkan oleh teman-temannya dan dibantu untuk segera mandi. Mereka tidak boleh memiliki keraguan. Setidaknya, apa yang harus dilakukan, tetap dilakukan. Sepasang mata indah itu menatap para sahabatnya satu per satu saat keluar dari kamar mandi berbalut baju handuk selutut. Mereka membalas tatapan Tiara dengan gelengan kepala. Dengan langkah gontai, Tiara keluar kamar menuju kamar tamu di mana ia a

