Ketiga orang di dalam ruangan, masing-masing berdiam diri. Attaya berdiri kaku sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan dengan jelas ia melihat bahwa wajah ayahnya tegang dan kesal. Sementara pamannya saat itu tampak gugup dan panik.
"Pa, ada apa ini?" tanya Attaya. Kedua matanya melirik ayah dan sang paman bergantian.
Tedengar helaan napas kasar dari Mahendra, ia memang terkejut dan bingung melihat kedatangan putranya yang tiba-tiba setelah satu minggu tidak bertemu. Namun, sampai detik itu pun, ayahnya belum mengatakan apapun. Suasana seketika menjadi kaku.
Mahendri mengangkat tubuhnya dari kursi, ia menghampiri pemuda itu. "Atta, ayo duduk di sana," ajaknya sambil menarik lemgan Attaya.
"Dengar, Atta ... papamu sedang menghadapi masalah besar. Investasi besar yang dilakukannya, raib begitu saja. Nilainya hampir mendekati satu trilyun. Kita sudah berusaha mengejar mereka bahkan sudah masuk interpol karena mereka menghilang dan kami duga ke luar negeri. Atta ... keluargamu benar-benar terancam," tutur Mahendri berusaha menjelaskan secara sederhana.
Pemuda itu terkejut luar biasa. Otaknya langsung mengkalkukasi seluruh aset yabg dipunyai oleh keluarganya dan ia menggelengkan kepala. Secara kasar, kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya hanya ratusan miliar saja. Jika digabung dengan miliknya pun masih jauh untuk melengkapi jumlah kerugian.
"Om, kalau semua aset dilepas, gimana Om? Papa dan mama bisa bersamaku, bisnisku aman dan aku pun sudah memiliki tempat sendiri," saran Attaya.
Namun, sebelum Mahendri sempat menjawab, Terdengar suara Mahendra menggelegar, "Atta, bagaimana mungkin kamu menawarkan bisnismu yang receh itu kepada papa? Berapa harga rumah yang kamu beli? Ratusan juta? Satu-dua miliar? Apa kamu pantas menyandingkannya dengan orang tuamu sendiri?!" Emosi telah memuncak di kepala Mahendra.
Lelaki setengah baya itu bangkit dari kursinya dengan kasar. Ia memandang tajam ke arah putranya. "Dengar baik-baik! Jika proyek-proyek utama bisa diselamatkan, maka papa tidak akan kehilangan semua yang papa punya! Dan ibumu akan tetap hidup nyaman!"
Setelah mengucapkan kalimat tajamnya, Mahendra menghentakkan sebelah kaki ke lantai dan segera berlalu dari ruang kantor pribadi adiknya.
"Apa maksudnya itu, Om? Katakan jujur padaku, Om ...," desak Attaya, mereka saling melempar pandangan tajam.
"Proyek yang dimaksud adalah ... keluarga Brata. Maaf Atta, om juga belum bisa mencari jalan keluar untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu," ucap Mahendri, ia tidak ingin membahas lebih lanjut tentang hal itu kepada keponakannya, sebab ia tahu bagaimana sikap Attaya terhadap Denada dan ia tidak mau menjadi salah satu orang yang menyumbang ketidakbahagiaan Attaya.
Pemuda itu berdiri tiba-tiba dengan wajah yang memerah. Tanpa mengucapkan apapun, Attaya berbalik meninggalkan Mahendri yang masih duduk mematung di atas sofa. Jelas sudah, pertengkaran antara anak dan orang tua terbuka lebar. Mahendri menghembuskan napas melalui mulut, tanda dirinya merasa kalut dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Attaya segera memacu mobilnya memasuki jalan tol, tidak ada lagi tempat yang hendak ditujunya kecuali kota Bogor. Di sanalah perusahaan utamanya berdiri dan di sanalah kekasih hatinya berada juga mansion yang sangat disukainya.
Perkataan ayahnya masih terngiang di telinga Attaya, Mahendra mengatakan kalau perusahaan yang dipunyai Attaya adalah perusahaan receh yang tidak bisa di sandingkan dengan perusahaan raksasa di mana Mahendra pemegang saham mayoritas di antara anak dan istrinya.
"Papa selalu meremehkan orang lain. Tapi itu tak apa. Hanya saja papa terlalu egois dan memaksakan kehendak," gumam Attaya kesal. Pikirannya sangat kalut saat memikirkan tujuan ayahnya. Lelaki muda itu paham kalau dirinya akan dipaksa mengorbankan diri untuk menyelamatkan perusahaan yang nyaris pailit karena kesalahannya sendiri.
"Aargh! Egois dan tidak adil!" teriak Attaya di dalam mobilnya.
Dering telepon genggam menyadarkan Attaya yang sedang larut dalam pikirannya. Ia meraih ponsel dari saku jaketnya dan sekilas melihat nama yang tertera pada layar. Seketika hatinya merasa tenang menyadari bahwa Tiara yang menghubunginya.
"Halo, Sayang? Aku di jalan menuju kamu. Kamu di rumah kan?" tanya Attaya sambil melirik jam digital pada dasboard. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit.
"Hmm ... aku di rumah. Kenapa kamu gak jadi nginep?" tanya Tiara heran.
"Aku gak ada tempat lain yang dituju selain kamu. Tunggu ya, sebentar lagi keluar tol. Tapi aku gak sempat beli makanan dulu. Udah gak sabar pengen ketemu," ujar Attaya yang tidak ingin membuang waktunya dengan mampir dulu ke suatu tempat untuk membeli sesuatu.
"Tidak usah, makanan di sini banyak. Aku sudah belanja dan ibu masak, bahkan bikin kue. Ibu jualan kue sekarang, modalnya ambil dari uangmu itu loh," lapor Tiara. Sebelumnya dia sudah cerita kalau ibunya membutuhkan sedikit modal untuk berjualan makanan.
"Ya, Sayang ... pakai saja. Memang untuk dipakai kok. Ya udah, tunggu ya. Aku lagi nyetir." Attaya ingin segera sampai di rumah Tiara.
"Ok, hati-hati di jalan, mmuach!" tutup Tiara sambil memutus panggilan.
Tiba-tiba perasaan Attaya miris, bagaimana jika benar-benar ayahnya meminta dia mengorbankan diri demi menyelamatkan perusahaan dengan menikahi Denada? Bagaimana dengan Tiara? Bagaimana dengan hatinya? Memikirkan hal tersebut tanpa terasa, air mata jatuh dari sudut-sudut kelopaknya.
Lelaki muda itu kebingungan tidak tahu harus bagaimana. Semuanya terasa berat dan ia memikirkan Elaina yang tidak sanggup jika kehidupannya harus berubah drastis. Attaya tahu, baik ibunya, ayahnya bahkan omnya tidak menyukai Denada. Bahkan ibunya sangat marah kepada gadis itu. Tapi, bagi kedua orang tuanya, harta kekayaan, kedudukan, jauh lebih penting dari apapun, termasuk lebih penting dari anaknya sendiri. Benar-benar sangat mengerikan bagi Attaya.
Notifikasi pesan berbunyi. Attaya telah memasuki area Bogor dan ia mampir ke halaman ruko yang dilewatinya untuk sekedar memarkirkan mobilnya. Ia membuka pesan yang ternyata dari Tiara.
"Sayang, aku dijemput Intan. Kami menuju rumah Rani karena ayahnya meninggal. Aku melayat dulu dan tolong kamu langsung ke rumah Rani ya, jemput aku. Alamatnya aku shareloc."
Selanjutnya ia menerima gmaps dari Tiara. Lelaki itu menghela napas dan melajukan kembali mobilnya menelusuri jalan sesuai petunjuk pada gmaps di ponselnya.
Attaya sampai di suatu daerah dan sudah melihat tanda bendera kertas berwarna kuning ditancapkan diujung-ujung jalan yang menuju lokasi tempat orang meninggal. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang gampang keluar, Attaya turun dan bergegas ke lokasi.
Di sana, ia bertemu dengan Intan dan mengucapkan terima kasih karena selalu ada untuk Tiara. Kemudian, mendampingi kekasihnya untuk melaksanakan layatan. Ia diperkenalkan kepada Rina dan mengucapkan bela sungkawa lalu duduk kembali pada kursi yang disediakan untuk tamu yang melayat.
Sepasang mata memperhatikan Attaya yang berdampingan dengan Tiara. Mata tersebut melotot seolah tidak mempercayai penglihatannya. Ia sama sekali tidak menduga kalau Tiara benar-benar mengenal bigbosnya yang fenomenal.
Ia teringat kekisruhan di kantornya dulu sewaktu mengundang Tiara untuk walk in interview dan karyawan dihebohkan dengan adegan kejar-kejaran sang bigbos dengan seorang wanita cantik yang sederhana.
Gadis itu pun tersentak. Sebuah kesadaran masuk dalam ingatannya. "Tiara?! Yang dikejar bigbos dan dipeluk lalu didatangi Denada adalah Tiara?" pekiknya tertahan.
Gadis itu pun segera berdiri. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mendekati Attaya demi kenaikan posisi di kantor. Ia tergesa-gesa menghampiri Tiara dan akan menyapa dulu Attaya.
"Selamat malam, Pak Atta, saya Fika, temannya Tiara. Saya yqng menjadwalkan walk in interview untuk Tiara waktu itu di kantor Pak, tapi keburu ada insiden Bapak mengejar seorang wanita dan rupanya itu teman saya sendiri," sapa Fika panjang lebar.
"Fika?! Sst ... nanti dulu, duduk sini," ajak Tiara sambil menarik tangan Fika dan sedikit menoleh kiri kanan karena mereka menjadi pusat perhatian.
Wajah Attaya memerah, jelas sikap Fika adalah bukan sikap sumber daya manusia yang profesional yang tidak tahu tempat di mana harus berkata apa. Detik itu juga, dirinya merasa malu memiliki karyawan yang tidak beretika. Lelaki itu berbisik kepada Tiara, "Sayang ... apa kamu masih lama?"
"Tidak juga, ayo kita jalan," sahut Tiara sambil mengangguk.
"Abaikan teman kamu, si Fika itu," lanjut Attaya.
"Kenapa?" tanya Tiara keheranan.
"Malu punya pegawai tidak beretika. Masa menyapa atasan seperti itu? Ayo!" Attaya berdiri dan merangkul Tiara hingga gadis itu tidak bisa menoleh ke sampingnya di mana ada Fika yang sedang menunggu bisa mengobrol ria dengan mereka.
"Eh, Tia! Mau kemana?" tanya Fika dengan lantang.
Tiara hanya melambaikan tangannya di atas kepala tanpa bisa menengok ke belakang.
◇◇◇◇