"Belum tidur?" Intan menoleh ke sampingnya, ia terbangun karena merasakan kegelisahan sahabatnya.
"Kamu dari tadi diem aja, tubuhmu ada di sini, pikiranmu entah di mana," ujar Intan lirih. "Apa yang membuatmu seperti ini? Apa karena lelaki?" tanya Intan sambil menatap tajam kepada Tiara.
"Aku hanya merasa telah banyak melakukan salah padanya. Tapi, selain tidak punya kesempatan untuk meminta maaf, juga tidak berani melakukannya," sahut Tiara dengan nada sendu.
"Apa yang terjadi? Separah itukah kesalahanmu? Dengar, Ara. Bagaimanapun merasa malunya dan putus asanya kamu, meminta maaf itu wajib. Tidak peduli kamu dimaafkan atau tidak, yang penting kamu udah mengakui salahmu," nasihat Intan meski ia tidak tahu persis permasalahannya apa.
"Ta--tapi, dia tidak berusaha menghubungiku setelah kejadian itu," bantah Tiara.
"Ara! Aku baru denger kamu yang salah, tapi kamu yang nunggu orang itu hubungi kamu? Tidak masuk akal, Tiara. Jika aku menyakitimu, mungkinkah kamu yang kontak aku duluan?!" seru Intan merasa heran dan terkejut.
"Justru itu, karena aku yakin dia pasti menghindariku bahkan mungkin, namaku sudah di hapus dari memorinya, selamanya," timpal Tiara merasa pesimis.
"Ara, kalau kamu memang benar-benar merasa bersalah, ego kamu tidak akan muncul sama sekali, apapun alasannya. Ada sesuatu yang mengganjal dihatimu. Itulah masalahnya. kalau kamu tidak membenahi dulu masalahnya, kamu yang akan tersiksa sendiri," ucap Intan sambil membalikkan badan memunggungi Tiara. "Aku ngantuk, Ara. Night."
"Night ...," lirih Tiara. Kini, ia tercenung sendirian memikirkan kalimat yang terlontar dari mulut sahabatnya.
"Aku merasa bersalah banget, tapi itu kan karena aku tidak mau menerima cinta dari lelaki yang sudah punya kekasih," gumam Tiara tanpa sadar.
Intan kembali berbalik menghadap Tiara dengan sorot mata keheranan. "Ara, salah ya salah. Jangan sekali-kali meminta maaf dibarengi dengan alasan pembenar. Itu sama saja dengan meminta maaf tanpa dibarengi keikhlasan," sergah Intan mengingatkan.
"Cuma sama dia aku begini, In. Jujur aku suka dan kurasa ... dia cinta pertamaku. Tapi, dia punya kekasih yang pernah memakiku meskipun dia menyangkalnya bahkan dihadapan perempuan itu," papar Tiara.
"Menyangkal gimana?" tanya Intan penasaran.
"Ya, dia bilang 'Kita gak pernah pacaran dan aku tidak menyukaimu' begitu katanya," ungkap Tiara.
"Dan aku percaya omongan lelaki itu. Artinya memang tidak ada hubungan di antara mereka. ceweknya aja baper atau terobsesi untuk memiliki. Kamu kenapa jadi bodoh begini sih? Keras hati pula!" omel Intan merasakan kesal dengan cara berpikir Tiara.
"Di tabloid, di berita TV, mereka semua mengangkat tentang hubungan dia dengan perempuan itu, bahkan disebut-sebut mereka akan bertunangan. Jodoh masa kecil," sergah Tiara keceplosan.
"Masuk berita?! Siapa sih yang kamu maksud?" Intan mengangkat kepalanya dan ia terduduk sekarang. Tatapan Intan penuh ingin tahu dan sedikit terkejut. "Katakan padaku, Ara. Siapa yang kamu maksud?"
"Eh ... anu ... itu--itu ya Attaya Mahendrata. Kekasihnya adalah--." Ucapan Tiara terpotong karena Intan yang menyambar, "Denada? Si model ngetop itu? Ha ha ha, Ara! Kamu bener-bener ya? Apa gak pernah lihat kalau mereka dihadapan kamera atau dalam poto? Kelihatan kali kalau Attaya risih dekat Denada. Tatapan matanya sangat dingin dan sering menyeringai kepada perempuan itu, ha ha ha ... itu dibahas setiap orang loh!" Meledak tawa Intan di kesunyian malam itu.
"Ssstt ... Intan! Berisik ih, nanti om dan tante bangun pula. Kan aku gak enak," tegur Tiara merasa khawatir.
"Ini paviliun yang terpisah dari rumah induk, Sayang ... ha ha ha." Intan masih tertawa dengan nikmat dan sama sekali tidak terlihat mengantuk.
Tiara cemberut. Ia kesal menjadi bahan tertawaan Intan, seolah sedang mengolok-olok dirinya sebagai wanita bodoh yang mudah menyerah.
"Ara, aku rasa dia sangat menyukaimu. Tapi, kamu baiknya hati-hati sebab lelaki itu terlalu tinggi buat orang-orang model kita ini. Dia langit sementara kita tanah. Jauh banget, Sayang." Intan menegaskan posisi Tiara dengan tujuan agar sahabatnya itu tidak harus jatuh cinta meskipun banyak wanita yang histeris oleh ketampanan Attaya, apalagi dibungkus dengan kekayaan yang melimpah ruah.
"Eh, tapi jujur aja nih, kalau dibanding Denada, kalah jauh sama kamu dari cantiknya dan bodynya. Dia kurus banget kaya tengkorak jalan, ha ha ha," julid Intan, seperti merasakan kesenangan atas kekalahan Denada bersaing dalam cinta.
Tiara terdiam beberapa saat, wajahnya begitu datar tanpa ekspresi. Kemudian ia berkata, "Apa kamu mau bantu aku?" tanya Tiara serius
"Apaan? Jangan pinjam duit ya, he he he ... lagian, orang itu kan tajir banget ya, kamu udah gak butuh uang sekarang," ujar Intan dengan tatapan menyelidik.
"Ah, sudahlah, jadi ngaco kan pikiranmu. Tidur yuk," ajak Tiara sambil menarik selimut.
"Eeh ... serius, Ara! Bantu apaan nih?" Intan memasang wajah serius.
"Hmm ... anu ... mau gak bantu aku nemuin Attaya? Kita ke Jakarta, ke kantornya?" Tiara terdengar ragu-ragu.
"Emang segampang itu nemuin Atta? Aduh jangan mimpi deh. Mending kamu hubungi dia dulu lewat telepon, kirim pesan kek, atau sekedar nyapa, tunggu reaksinya gimana?" tukas Intan yang menganggap hal itu jalan yang paling mudah.
"Ya udah, aku mengumpulkan keberanianku dulu. Thanks In! Met tidur," ujar Tiara seraya menyampingkan tubuh memunggungi sahabatnya yang sedang tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.
Kenangan indah selama dua minggu, justru membuat hati Tiara bagai teriris-iris. Perlakuan Attaya yang lembut dan sangat memanjakan itu semakin membuatnya sedih. Ia tidak mampu menepis bayangan-bayangan yang saat itu membuatnya bahagia. Keegoisan Tiara yang membuatnya tega mempermalukan Attaya di depan umum. Bayangan Denada saat mencaci maki dirinya masih lekat dalam ingatan.
Menjelang pagi, gadis itu baru bisa tidur. beruntung hari itu adalah hari liburnya bekerja. Intan membiarkan sahabatnya menikmati mimpi dan ia sibuk di dapur menemani ibunya mencoba resep baru sambil memikirkan tentang Attaya dan Tiara.
Semakin dipikirkan semakin ia yakin bahwa hubungan mereka berdua tidak akan berhasil. Selain karena status sosial mereka yang terlampau timpang juga karena sosok Denada. Bukan rahasia jika keluarga mereka terkait bisnis bersama. Bukan rahasia juga kalau kebersamaan dalam bisnis tersebut telah melejitkan keduanya menjadi konglomerat di negeri ini. Pelik dan rumit, demikian yang melintas pada benak Intan.
Kini, ia merasa berkewajiban untuk membantu menghapus nama Attaya dari hati Tiara. Tiba-tiba ia mempunyai ide untuk mengenalkan Tiara kepada teman-teman lelakinya yang sedang mencari pasangan sambil membayangkan sosok mereka satu per satu. 'Siapa yang paling cakep, baik dan bermasa depan cerah ya?' batin Intan.
Intan senyam senyum sendiri. Menjadi mak comblang bagi sahabatnya kenapa tidak? Meski Tiara mengatakan bahwa Attaya adalah cinta pertamanya, bukankah cinta pertama memang untuk dihempaskan? Sangat jarang orang menikahi cinta pertamanya!
Ting Tong Ting Tong.
Suara bel pintu terdengar. Intan dan ibunya saling pandang. "Kamu menunggu seseorang?" tanya wanita setengah baya itu.
Intan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Aku tidak mempunyai janji dan tidak berencana ngapa-ngapain," sahut Intan. "Tamu Mama, kali?" lanjutnya.
"Bu ... ada tamu menanyakan non Tiara dan non Intan," lapor asisten rumah tangga kepada mereka.
"Siapa, Bik? Laki apa perempuan? Ibunya Tiarakah?" tanya Intan yang ingin bergegas ke ruang tamu diiringi oleh pelayannya.
"Bukan, Non. Dia laki-laki, ganteng banget Non," sahut asisten rumah tangga tersebut.
Intan semakin merasa heran. Sejurus kemudian, ia berdiri mematung dalam jarak tiga meter. Merasa tidak percaya atas kehadiran sosok lelaki itu di rumahnya yang sederhana. Dengan kelopak mata yang membola, Intan berseru kaget, "Ka-ka-kamu?! Attaya?!"
◇◇◇◇