Hari keempat tanpa kehadiran Attaya, kemunafikan yang direncanakan Tiara, tidak berjalan mulus. Ia berencana untuk menyangkal semua yang dirasakannya. Berusaha untuk tidak mengakui ketertarikannya pada lelaki yang telah menyenangkan hatinya selama dua minggu.
Penyangkalan itu muncul karena rasa bersalah yang begitu dalam. Tindakan impulsifnya meninggalkan Attaya di cafe yang ditonton puluhan mata, adalah tindakan keji. Bagaimana Attaya bisa menanggung rasa malu seperti itu hanya karena mengungkapkan perasaannya, bukan telah melakukan tindakan jahat.
Sudah berapa malam, Tiara terus menangis. Ia sangat menyesali tindakannya yang ceroboh. Tindakan yang mungkin saja tidak terma'afkan oleh Attaya. Kesadaran tersebut membuatnya semakin sakit, bagaikan patah hati akut yang tiada obatnya.
Kemarin, di dalam taksi yang ditumpanginya, ia meraih telepon genggam sambil berharap ada notifikasi pesan dari Attaya. Namun, lagi-lagi ia kecewa. Sejak hari penolakan itu, dia tidak pernah lagi dihubungi oleh Attaya. Kekecewaan diiringi rasa pedih, membayang pada wajah cantik itu.
Pukul dua siang, Tiara keluar dari dalam kamar di paviliun tersebut dan Intan menyambutnya di depan pintu dengan seringai senyum yang mencurigakan. "Ada apa? Kok rasanya ada yang aneh?" tanya Tiara bergumam.
"Tidak ada apa-apa kok. Aku bikin kue tapi kamu harus mandi dulu sebelum nyicipin kuenya! Ayo, sini ... langsung mandi. Udah siang," ajak Intan sambil berupaya menghalangi pandangan Tiara ke arah depan.
Tiara seakan digiring memasuki kamar mandi oleh Intan, di tangannya ia mengenggam ponsel. Kebiasaan baru Tiara, kemanapun tidak lepas dari ponselnya. Hati kecilnya berharap jika Attaya menghubunginya walaupun hanya mengirim pesan tanda titik sekalipun, ia akan langsung membalasnya.
Sambil duduk di atas toilet, ia membuka telepon genggam dan merasa kecewa karena tidak menemukan sedikitpun jejak Attaya pada semua kolom pesannya. Ia hanya menemukan pesan dari ibunya. Rubyah.
"Bu, hari ini Ara mau nginap di rumah Intan ya."
"Kamu baik-baik sajakah?"
"Baik, Bu."
"Kamu gak bawa baju?"
"Besok kan libur, Bu."
Tiara menghela napas. Saat ia berkomunikasi dengan ibunya, dalam keadaan bingung jika harus melewatkan waktu libur hanya di rumah saja dalam kondisi hati yang sedang hancur.
"Nak, dengar ya, keputusanmu sudah tepat, hanya saja caramu memang tidak benar. Tidak apa, kalau ada kesempatan, minta maaflah pada Attaya atas perlakuan burukmu."
Itu adalah pesan terakhir dari Ruby yang dikirim pagi tadi.
Membaca kalimat ibunya, perasaan Tiara semakin tercabik-cabik dengan kejam. Ia tahu, bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan berat dan wajar jika Attaya tidak memaafkannya bahkan membencinya. "Kenapa harus terulang mempermalukannya di depan orang-orang? Ah, bodohnya aku," rutuk Tiara dengan lirih. Ia teringat peristiwa saat Attaya dipermalukan oleh Hilda, teman satu kamar waktu tinggal di kos-kosan.
"Hai, Ara! Aku masih kangen nih, jangan lama-lama mandinya! Mama nungguin kamu loh!" seru Intan dari luar pintu. Ia tidak mendengar suara air mengalir, berarti sahabatnya itu masih melamun di atas toilet.
"Hmm ... udah tidur bareng juga masih kangen aja." Tiara mulai menekan tombol flash dan bangkit sambil meletakkan telepon genggam pada meja kaca di sampingnya. Ia segera melucuti seluruh pakaian yang dikenakannya dan masuk ke ruang shower.
Sekilas, ia melihat baju ganti yang telah disiapkan Intan. Tiara tersenyum tipis. Sahabatnya yang satu ini memang paling peka atas kebutuhan teman-temannya. Ia ingat waktu kemarin sore sampai di rumah ini, bagaimana keramahan Intan membuatnya merasa nyaman.
"Ara! Aku sekarang tinggal di paviliun yang dulu ditempatin kakakku. Ayo, kita langsung ke sana aja. Ketemu mama-papaku ntar pas makan malam ya!" seru Intan saat menyambut kemarin seraya memeluk erat dirinya.
Paviliun tersebut terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruang tamu, ruang kamar serta kamar mandi. "Wah, enak tempatnya ya, aku bisa ngumpet di sini dong. Ngumpet dari ... perasaanku sendiri," ucap Tiara sendu.
"Kamu boleh kok tinggal sini, itung-itung nemenin aku," timpal Intan dengan tulus.
"Thanks, Tan. You are my favorit besti!" canda Tiara disambut tawa Intan.
"Kamu gak bawa baju? Aku siapin dulu ya, kamu mau mandi langsung kan?" tanya Intan melihat baju seragam Tiara.
"Iya, pengen mandi sih," sahut Tiara sambil melihat kesekeliling ruangan, mengagumi interior yang rapi dan bagus. Seketika, ia merasa betah berada di sana.
"Bentar, ya." Intan meninggalkan Tiara di sofa ruang tamunya yang cukup nyaman.
Tidak lama kemudian, Intan menghampiri Tiara dengan baju dan handuk baru. "Nih, sana mandi dulu, biar segar. Aku nunggu kamu cerita semua di sini," ujar Intan seraya menyerahkan barang dari tangannya kepada Tiara.
"Intan ... hatimu bagai malaikat. Begitu tulus dan murni. Dengan apa akan kubalas semua kebaikanmu padaku ....," gumam Tiara sambil menikmati guyuran air yang keluar dari lubang-lubang shower.
Gadis itu sangat menikmati berada di kamar mandi. Tidak seperti biasanya, ia selalu mandi dengan terburu-buru karena harus berangkat kerja atau merasa kelaparan kalau sore pulang kerja. Kali ini, ia benar-benar membasuh diri dengan seksama.
Tok Tok Tok
"Ara! Kamu ngapain sih?" Suara Intan terdengar was-was.
Tiara tersenyum geli mendengar Intan mengkhawatirkannya. "Ya, udah kok. Tinggal pakai baju," sahut Tiara.
Intan yang merasa kasihan kepada Attaya telah menunggu dari pukul sembilan pagi di ruang tamu paviliunnya tanpa bergeser sedikit pun, merasa tidak sabar atas keleletan Tiara. Suguhan kue sampai makan siang yang disediakan oleh ibunya, tidak disentuh sama sekali oleh Attaya. Hal itu membuatnya sangat cemas dan merasa gemas serta greget pada Tiara.
Gadis itu berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tatapan menerawang. Di matanya, Tiara memang belum dewasa untuk menjadi kekasih seseorang. Mereka satu usia, tapi Tiara masih sangat kekanak-kanakkan. Butuh lelaki yang super sabar dan bisa mengayominya. Diam-diam, Intan salut kepada Attaya, seorang billioner yang sangat rendah hati dan penuh kesabaran menghadapi ulah Tiara.
Cekrek.
Pintu di buka dan Tiara terkejut melihat Intan sedang berdiri tepat di depan pintu. "Kamu?! Ngapain nungguin aku? Ya Tuhan .... Intan!" seru Tiara dengan heran.
Intan tidak menggubris keterkejutan Tiara, sebaliknya justru ia memandangi gadis itu dengan seksama. Rambut panjangnya yang terurai dalam kondisi basah, berpadu dengan wajah polos yang segar, terlihat seksi dalam kecantikan alami.
"Ada apa sih, Intan? Aku kenapa?" tanya Tiara bingung sambil melihat pada dirinya sendiri memastikan tidak ada yang salah. "Apa aku salah pakai baju? Ini baju yang akan kamu pakaikah? Sorry, Intan, aku gak tahu," ucap Tiara seraya hendak berbalik kembali ke dalam kamar mandi untuk melepaskan baju yang sedang dikenakannya.
"Eit .... Ara! Dengar, gak ada yang salah. Tapi, ada seseorang menunggumu di depan," bisik Intan sambil meraih lengan Tiara.
"Ha? Siapa?" Tiara ketularan berbisik juga.
"Ayo, sini ... ikut aku," ucap Intan seraya menggandeng Tiara melangkah melewati pintu kamar tidur menuju ruang tamu paviliun yang mungil tapi asri.
Tiara tidak berpikir banyak saat itu, karena tidak ada lagi yang lebih penting baginya selain sosok Attaya. Ia tidak ingin peduli apapun, hanya menjalankan peran saja sebagai sahabat Intan tanpa banyak bertanya atau mengeluh. Sambil mengibaskan rambut basahnya dengan tangan, ia pasrah digeret oleh Intan.
Namun, saat kedua matanya bersirobok dengan sepasang mata dari lelaki yang dirindukannya, Tiara terkejut dan mematung. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Ia tidak mempercayai penglihatannya. Otaknya mendadak beku, tidak mampu berpikir apapun.
Attaya tampak terkesima melihat pemandangan indah di depan matanya. Gadis itu benar-benar bagai bidadari dalam kepolosannya yang sangat indah. Tanpa sadar ia bangkit berdiri, dengan mulut yang sedikit terbuka. "Benarkah kamu, Tiara?" gumam Attaya merasa kikuk.
Tidak ada yang menduga kalau Tiara akan menghambur, menabrakkan diri pada tubuh Attaya. Gadis itu melakukannya dan jatuh ke dalam pelukan lelaki itu sambil meraung dalam nada penyesalan. "Ma-ma-maafkan a-aku, Atta ... maaf-maafkan Aku ... huaaa huu huu ... a-aku menye-sal," pecah tangis Tiara dengan ucapan terbata-bata.
Sementara itu, diam-diam, Intan melipir tanpa disadari oleh kedua insan di ruang tamunya, ia menghilang menuju rumah induk dan membiarkan mereka berdua menyelesaikan permasalahannya.
Attaya memejamkan matanya erat-erat, ia mendekap Tiara yang sesenggukan, merasakan suasana hatinya yang terasa damai dan memahami perasaan apa yang sedang bergejolak pada gadis itu. "Sstt ... tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Aku ngerti kalau kamu takut aku akan menyakitimu, Denada akan menyakitimu. Aku paham kamu sedang membentengi dirimu sendiri. Jangan merasa bersalah ya, please. Aku tidak akan menyakitimu." Attaya menekan kepala Tiara ke d**a^nya yang bidang.
"Sungguh? Kamu tidak akan menyakitiku?" tanya Tiara sendu sambi menengadahkan kepalanya, hendak menatap kesungguhan dari sorot mata Attaya.
"Aku janji, Sayang ... aku tidak bisa menjalani keseharianku tanpa melihat kamu, tanpa tahu kabarmu. Apapun yang pernah terjadi, kumohon ... lupakan semuanya, Ok? Aku ada di sini sekarang dan aku tidak akan meninggalkanmu," desah Attaya, kedua matanya menyiratkan kesungguhan. Ia memang terbius oleh kecantikan dan kepolosan Tiara.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Seketika ia merasa malu hati dalam keadaannya yang seperti ini. Semburat warna merah menjalar ke seluruh wajahnya. Ia hendak menunduk tapi, dua jari Attaya tidak mengijinkannya. Dagu mungil itupun mengarah ke atas kembali ditarik oleh dua jari lelaki itu dan tidak diduga oleh Tiara, bibir ranumnya dipagut lembut oleh bibir Attaya.
Tiara mendelik, saat merasakan bibirnya terlumat basah dan hangat. Ia terkejut bukan kepalang. Tubuhnya memberi respons menghindar karena gugup dan malu, tapi, pelukan Attaya tidak mengendur. Ciuman yang dilancarkan lelaki itu cukup bertenaga meskipun ia mempertahankan kelembutannya.
Bibir yang terasa manis dan menggoda, membuat Attaya betah melumatnya. Ia tidak ingin melepaskan cepat-cepat meskipun Tiara tidak bergeming dan terus berusaha menghindar.
"Mmph ... mmpph ... le-lepas, A-atta ...." Tiara berusaha bicara disela-sela ciuman panas Attaya. Namun, lelaki itu tidak mengindahkannya. Sebaliknya, ia mengangkat Tiara dan memposisikan gadis itu untuk duduk di atas pahanya sambil menghempaskan diri ke atas sofa tanpa melepaskan pagutannya dari bibir Tiara.
Sebelah tangan menekan kepala Tiara, sebelahnya lagi menekan punggung gadis itu agar tidak lepas dari keasikannya merasakan bibir polos yang tidak pernah tersentuh oleh lelaki manapun di seumur hidup Tiara.
Napas Tiara tersengal-sengal. Lambat laun, ia mulai rileks dan menikmati ciuman bibir dengan d**a^ yang bergemuruh. Sesuatu yang baru dirasakannya, seolah tubuhnya dialiri setrum yang mengalirkan perasaan asing tapi menyenangkan. Perlahan, mata gadis itu terpejam. Bibirnya yang kaku mulai mengendur. Permainan dari goyangan lidah Attaya mulai dinikmatinya. Secara naluri, ia mengikuti permainan itu dan mulai bergerak, membalas ciuman Attaya dengan lembut meskipun masih ragu-ragu.
Keduanya benar-benar tenggelam menikmati kebersamaan mereka. Attaya semakin memburu, tenggelam dalam gairah yang tiba-tiba saja muncul dan menggebu. Tapi, ia harus menahan diri sekuat tenaga. Bagaimanapun, bagi Tiara, bentuk kemesraan antara dua lawan jenis adalah hal asing yang bisa saja membuatnya ketakutan.
Perlahan, Attaya menyudahi ciumannya, berganti dengan kecupan berulang kali pada bibir yang kini sudah mengatup dengan gemas. Tidak ketinggalan, lelaki itu pun terus mengecup seluruh wajah Tiara dengan rakus, kemudian memeluknya erat-erat dengan penuh rasa syukur dalam posisi Tiara masih duduk di atas pangkuannya.
"Sayangku, kekasih hatiku ... mulai saat ini, kamu adalah kekasihku secara nyata. Aku adalah milikmu, hatiku utuh untukmu, cintaku telah bertekuk lutut padamu. Mulai saat ini, kamu tidak sendiri lagi. Kita adalah sepasang kekasih yang akan terus saling menyayangi dalam suka dan duka. Terimalah lamaranku kali ini, Sayang!" Kedua tangan Attaya menangkup wajah Tiara, memaksanya untuk saling tatap.
Wajah yang bersemu merah itu, dengan bola mata menatap Attaya, menyiratkan kebahagiaan tapi masih ada keraguan. Namun, ia tidak mampu menepis pesona lelaki itu yang bayangannya telah menyiksa hati sejak tidak ia meninggalkan Attaya di cafe. Saat itu, Tiara bertekad tidak akan pernah meninggalkan lelaki itu lagi selamanya!
"Ya ... a-aku menerimanya," lirih suara Tiara yang tidak tahan atas penyiksaan dari rasa malunya. Ia ingin segera menyudahi keintiman itu. Perlahan, ia menurunkan dirinya dari pangkuan Attaya sambil menundukkan wajah.
Degup jantungnya yang terus bertalu-talu dan desiran-desiran aneh dalam hatinya membuat Tiara kebingungan. Desiran itu adalah perasaan ingin menempel terus pada tubuh Attaya, tapi, kewarasannya menolak hal itu, bagaimana jika dilihat orang lain? Lagi pula, masa iya seorang perempuan harus menyosor lelaki? Sungguh membingungkan!
Attaya membiarkan Tiara turun dari atas pangkuannya. Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa malu karena dirinya menangkap kegugupan dan kepanikan dari Tiara.
"Sayang, aku suapin kamu makan ya. Katanya, kue ini bikinan Intan loh, cobain yuk," ujar Attaya sambil mengambil potongan kue di atas piring kecil dan memotongnya dengan garpu lalu membawanya mendekati mulut Tiara.
Diliputi rasa malu yang tidak berkesudahan, Tiara membuka mulutnya sedikit sambil mengerling. Ia menerima potongan kue ke dalam mulutnya dan tanpa disadarinya tubuh Tiara jatuh ke samping, bersandar pada tubuh Attaya yang terkejut menyadari bahwa gadis itu bersikap sangat manja dan menggemaskan.
Lelaki itu memejamkan matanya sesaat, ia begitu bahagia menemukan sisi lain dari Tiara yang biasanya ganas, ternyata memiliki kemanjaan yang menyenangkan hatinya. 'Thanks, God!' seru Attaya dalam hati.
Sambil menikmati menyuapi gadis yang sangat dicintainya, saat itu, Attaya bertekad akan memanjakan Tiara dalam segala hal karena ia mampu melakukannya! Lahir batin hidupnya adalah untuk Tiara, demi Tiara dan ia akan membuktikannya satu per satu.
Sejak saat itu, yang diterima oleh Tiara adalah pelukan demi pelukan Attaya, kalimat-kalimat lembut, memiliki seorang pendengar yang baik, kemanutan Attaya atas semua yang diinginkan Tiara. Lelaki tersebut, memberikan surga dunia yang tidak pernah terbayangkan oleh sang gadis sebelumnya. Membuat cinta Tiara semakin tertancap erat ke dasar bumi dan menutup semua penglihatannya dari kemolekan lelaki-lelaki lain dibelahan bumi manapun!
◇◇◇◇