Attaya Mahendra Melangkah panjang-panjang di selasar rumah sakit, Attaya tampak cemas sekaligus gelisah. Ia khawatir jika harus tinggal menunggui ibunya sementara besok pagi adalah hari pernikahannya. Begitu pun Elaina sakit apa, masih belum jelas baginya. Tidak perlu mencari tanda pada pintu untuk mencari di ruang mana Elaina di rawat sebab, dua orang pengawal stand by di depan pintu. Ruangan yang mirip unit apartemen mewah, dibukakan pintunya oleh salah seorang pengawal pribadi. "Silakan, Pak." Attaya mengayun langkah menuju ruangan yang dengan satu set sofa dan terhubung ke dapur. Kemudian ia melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah ruangan tanpa pintu, di sanalah Elaina terbaring menunggu kedatangan putranya. "Ma .... Mama kenapa sih? Kemarin-kemarin baik-baik saja? Apa kata

