Beberapa menit setelah akad nikah selesai, Sekar menyalami kedua orang tuanya. Dan dengan berat hati, juga mulai menyalami kedua ibu mertuanya.
“Selamat datang di keluarga Atmaja, yah Sekar,” ujar Bu jasmin.
“Terima kasih, Bu. Pak,” ujar Sekar.
“Jangan panggil ‘Pak’ lagi, panggil ayah saja. Karena anak perempuan yang masuk ke dalam rumah ini, akan juga menjadi anak perempuan kandung,” ujar Pak Wahyu.
“Terima kasih, Ayah,” Sekar menekankan panggilan ‘ayah’.
Saat giliran Devan yang mengucapkan terima kasih pada orang tuanya, terdengar ada banyak nasehat yang disampaikan oleh kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Sekar. Ia hanya bisa diam meneriam nasehat dari keduanya sambil berlinang air mata. Karena tidak ada gunanya lagi ia mendebat.
Suasana sakral itu pun kembali sepi, karena mereka yang tadi ada di sana kemudian pulang ke rumah masing-masing untuk melanjutkan aktivitasnya. Kini hanya ada keluarga inti di sana.
“Ini, apa setelah ini tidak ada resepsian?” tanya Bu Yumna lagi-lagi dengan wajah polosnya.
“Terserah Bapak dan ibu. Kalau pun mau diadakan resepsi, itu bisa kita rencanakan belakangan. Dan Alhamdulillah akad nikah sudah terlaksana. Itu yang utama,” balas Pak Wahyu.
“Benar. Saya juga tidak menyangka kalau tujuan untuk liburan ini berakhir dengan pernikahan dadakan seperti ini. Yah, di sisi lain saya kecewa. Tapi di sisi lain, juga pastinya bahagia. Saya rasa, kita bisa jadi keluarga yang bisa saling berkomunikasi dengan baik,” ujar Pak Rahmad. Pak Wahyu hanya mengangguk mendengarkan itu.
“Ngomong-ngomong. Sekar ini kerja dimana?” tanya Bu jasmin tiba-tiba.
“Sekar, ibu mertua kamu tanya itu!” bisik Bu Yumna, yang melihat putrinya masih sibuk dengan lamunannya.
“Ng, kenapa Bu?” tanya Sekar.
“Kamu kerja dimana?” tanya Bu Jasmin mengulangi pertanyaannya.
“Saya, saya bekerja di Gretta Advertising,” jawabnya.
Jawaban Sekar ternyata membuat keluarga Atmaja memandang serius.
“Gretta Advertising? Sebagai apa?” tanya Jasmin.
“Saya, sebagai creator periklanan di sana,” ujar Sekar dengan nafas berat.
“Iya, Bu jasmin. Kemarin Sekar baru saja membuat konten iklan yang menurut perusahaannya sangat memuaskan client. Itu sebabnya Sekar mendapat bonus, sekaligus cuti. Karena anak saya ini orangnya pekerja keras. Bahkan jarang libur saking semangatnya kalau sedang bekerja,” ujar Bu Yumna yang mengunggulkan kelebihan putrinya.
Bu Jasmin hanya tampak menarik nafas mendengar itu.
“Gretta Advertsing adalah perusahaan yang terbaik di provinsi ini. Bagaimana kamu masuk kemana? Memangnya Sekar ini lulusan dari mana?” sikap diktator Bu Jasmin pun muncul.
Namun Bu Yumna yang polos, sama sekali tidak curiga dengan pertanyaan besannya itu. Ia terus menyentil Sekar untuk menjelaskan pada mertuanya.
“Saya kuliah di Universitas swasta di tempat saya. Bidang Manajemen Perkantoran,” jelas Sekar lagi.
“Lalu, nak Devan sendiri apa sudah bekerja atau masih kuliah?”
“Devan sudah lulus kuliah bidang Tehnologi Informasi. Tapi sama sekali tidak berniat cari kerja,” celutuk Jessy. Membuat Pak Wahyu menatap putrinya.
Pak Rahmad, Bu Yumna bagaimana kalau kita makan dulu?” ajak Pak Wahyu sambil menatap istrinya.
“Ah, betul sekali,” ucap Bu Jasmin.
“Devan, kamu juga tunjukkan kamar kalian untuk Sekar,” ujar pak Wahyu mengingatkan kedua pengantin itu. Devan dan Sekar pun tak saling menyahut.
Setelah mengantar kedua besannya dengan hormat, Pak Wahyu pun undur diri menuju kamarnya. Namun ternyata Jessy mengikuti sang ayah.
“Ayah, kenapa ayah nggak bilang saja sama sama mereka kalau Gretta Advertising itu adalah perusahaan milik keluarga kita? Itu perusahaan yang baru akan ditangani sama Winandika. Iya ‘kan?” tukas Jessy.
“Biarkan Sekar dan keluarganya tahu dengan sendiri. Dan soal Winandika, apa kamu sudah hubungi dia untuk segera turun tangan ke sana?”
“Kemarin sudah aku ingatkan, Ayah. Mungkin Minggu depan dia juga akan segera ke sana. Apa perlu aku jelaskan tentang Sekar padanya?”
“Tidak usah,” ujar Pak Wahyu.
“Kenapa nggak usah? Biar Winandika tahu kalau Sekar itu adalah istri dari Devan. Kalau nggak dikasih tahu, apa ayah bisa menjamin, kalau suatu saat Winandika suka sama Sekar?” ujar Jessy.
“Kamu ini. Yah sudah terserah kamu saja,” ujar Pak Wahyu menanggapi kalimat putrinya.
Sementara itu, di dalam kamar Devan Atmaja yang terbilang luas, Sekar duduk di pinggir tempat tudur. Sedang Devan sendiri mulai membuka bajunya membuat Sekar heran.
“Mau apa kau? Kenapa kau buka baju?” tanya Sekar.
Seketika Devan berhenti bergerak. Lalu tersenyum sambil melanjutkan mengganti pakaiannya.
“Apa yang kau fikirkan? Kamu kira aku langsung beraksi mau menyentuhmu?” ujar Devan dengan senyum yang jelas itu mengejek Sekar.
“Kelihatan sekali kalau otak kamu sudah kemana-mana,”
“Jelas saja. Memangnya fikiran laki-laki brutal sepertimu memeikirkan apa lagi? Munafik! Sudah jelas-jelas kamu bisa menjelaskan dan menghalangi pernikahan ini biar nggak terjadi.
“Ahk, sudahlah. Kamu nggak perlu bahas itu lagi. Udah jadi suami istri juga. Kamu nggak lapar? Kamu mau makan dengan pakaian seperti ini?” tanya Devan.
“Aku bilang sama kamu, kalau aku belum siap menikah. Juga belum siap untuk satu kamar sama kamu,”
“Nggak masalah, kau bisa tidur di kandang bekas kambing Pak RT di ujung sana!” tukas Devan datar.
“Apa kau akan tetap di sini selama aku ganti baju?” tanya Sekar mengalihkan pertanyaan.
“Ada yang salah? Kau ‘kan istriku sekarang?”
“Tapi aku nggak mau ganti baju kalau kamu di sini,” ujar Sekar mempertahankan pendapatnya.
“Maksudmu, aku keluar duluan. Sendirian. Dan ketika mereka bertanya padaku tentangmu, aku harus jawab kalau kau sedang ganti baju dan tidak membiarkan aku di kamarku sendiri. Begitu? Ahk, kau fikir, pernah terbayang dalam fikiranku kalau guru yang killer itu bakalan jadi mertuaku sendiri?”
“Tutup mulutmu. Jangan bicarakan ayahku seperti itu. Sebaiknya kau kaluar. Karena aku juga sudha mulai gerah dengan pakaian ini!” tukas Sekar.
“Aku nggak mau. Aku juga nggak tahu harus jawab bagaimana kalau meraka menanyakanmu padaku,” balas Devan mengelak.
“Keluar aku bilang!”
“Eh, aku nggak mau! Ini ‘kan kamarku. Enak saja kau mengusirku!” Devan pun berkeras.
Sekar beranjak untuk mendorong suaminya. Namun justru Devan menahan membalikkan tubuhnya. Otomatis terjadi tolak menolak, membuat devan tidak sengaja menginjak kaki Sekar. Gadis itu terkejut.
“Aduh!”
Sekar tidak kuasa mengimbangi tubuhnya. Tangannya yang menahan Devan seketika justru menarik pemuda itu. Sekar jatuh yang diiringi tubuh Devan menindihnya ke atas tempat tidur. Bukan hanya itu. Bibir keduanya pun bertemu. Keduanya saling terbelalak, tidak menyangka akan merasakan sensasi bibir yang bersentuhan itu.
Di saat adegan itu belum terlepas, Jessy datang membuka pintu.
“Devan, ayo makan...,” sang kakak terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya.
“Eh...,” Jessy tidak dapat berkata-kata melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Oleh karena itu, Sekar pun segera mendorong Devan. Dan pemuda tersebut juga memperbaiki posisi.
“Kak Jes...,” Devan pun terbata.
“Ka-kalian lanjut saja. Aku-aku nggak lihat apa-apa,” ujar Jessy yang segera berlalu dan meutup rapat kembali pintu itu.
“Ini semua gara-gara kamu!” lirih suara Devan.
“Enak saja kamu. yah gara-gara kamulah. Kalau saja dari awal kamu keluar, pasti aku nggak akan dorong akmu keluar. Kamu malah nginjak kaki aku. Sakit tahu. Bertemu denganmu memang selalu akan membawa sial untukku,” ceracau Sekar.
“Kamu fikir kamu adalah keberuntunganku? Ahk, sudahlah kau fikir aku akan selera melihat kau menggantai pakaian. Aku rasa otak kamu jauh lebih koslet,” gerutu devan yang akhirnya mengalah hingga keluar dari ruangan itu.
Dalam keadaan sendiri, kembali Sekar berfikir apakah dia sanggup bisa bertahan selamanya dengan laki-laki ini.
***