Hari pertama di rumah keluarga Atmaja, tentu saja membuat Sekar resah. Sedang ayah, ibu serta adiknya, justru bersikap biasa saja di rumah besannya itu. Selesai makan malam, Sekar juga tidak tahu harus melakukan apa di sana.
“Sekar, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, Nak. Ibu tahu, semuanya ini serba mendadak. Dan bagimu terasa sangat berat. Tapi Ibu harap kamu bisa melakukan tugasmu sebagai istri dengan baik,” pesan Bu Yumna berbisik. Lalu beranjak mengikuti yang lain menuju ruang tamu.
Saat ini, Sekar sendirian menghadap meja makan.
“Apa aku sendiri yang akan membereskan meja ini?” fikirnya dengan perasaan kesal. Karena selama ini, ia hanya tahu makan, dan segera meninggalkan meja. Atau sesekali, jika ia tidak merasa lelah, akan membantu ibunya merapikan semuanya.
Saat ia akan bergerak membereskan, tiba-tiba seseorang menegurnya.
“Nggak usah, non. Biar Bik Ipah saja yang bereskan!” tukas wanita yang paruh baya.
“Eh, nggak apa-apa, Bik?” tanya Sekar merasa terbantu.
“Nggak apa-apa. Sudah menjadi tugas saya, Non. Oh iya, kenalin nama saya Ipah. Biasanya dipanggil Bik Ipah hehehehe,” ujar wanita itu.
“Nama saya Sekar, Bik,”
“Ah iya. Ibu Jasmin udah kasih tahu, Non Sekar. Non bisa gabung kok dengan yang lain. Biar saya aja yang membereskan,” ujar wanita itu.
Sekar semakin bingung. Namun ia tetap meninggalkan wanita itu melakukan tugasnya. Dan menyusul yang lain di ruang tamu.
“Besok kami akan pulang,” terdengar suara Pak Rahmad menyampaikan niatnya.
“Kenapa begitu mendadak, Pak Rahmad? Bukannya sudah tidak ada lagi yang harus dikejar?” tanya Pak Wahyu.
“Tapi Dahlia ‘kan masih sekolah, Pak Wahyu. Ini adalah hari ketiga di absen dari sekolah. Dan hanya permisi lewat pesan saja. Kalau bisa lebih cepat ya lebih baik,” jelas ayahnya Sekar.
“Saya juga ikut pulang ‘kan, Ayah?” Sekar merasa ada harapan untuk itu. Semua mata tertuju padanya.
“Sekar? Kamu ini bicara apa?” tanya Bu Yumna.
“Ta-tapi ‘kan aku harus bekerja juga, Bu, Ayah? Mungkin aku tidak mengambil keseluruhan cuti yang aku ambil,”ujarnya.
Bu Yumna dan pak rahmad saling bertatapan. Sedang Devan hanya menanggapinya dengan santai.
“Yumna, kalau kamu mau pulang, boleh saja. Tapi tunggu seminggu atau beberapa waktu,” ujar Bu Jasmin.
“Kenapa harus menunggu selama itu? Aku juga punya pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ujar Sekar dengan nafas berat menahan tangis.
“Tidak apa-apa, nanti akan kita atur,”
“Nggak bisa begitu, Bu. Di tempat kerjaku, Awal Minggu akan ada pergantian pemimpin. Aku harus menghadirinya,” jelas Sekar memberi alasan.
Bu Jasmin menatap suaminya, sebagai kode bagaimana menjelaskan pada Sekar.
“Sekar, apa nama kantor tempat kamu bekerja?” tanya Pak Wahyu sambil memainkan ponselnya.
“Gretta Advertising,” jawabnya.
“Memangnya, kenapa Pak?”
“Saya kenal seseorang di sana. Mungkin, saya bisa jelaskan padany, agar kamu bisa sementara libur dulu. Namanya Pandi. Dia sering dipanggil Tuan Pa,” jelas Pak Wahyu.
“Tuan Pa? Bukannya itu seorang Direktur?”
“Yah, dia berasal dari Thailand. Memang sudah terbiasa mengelola bisnis periklanan,”
“Tuan Pa adalah direktur di kantor saya. Tapi...,” Sekar mulai merasakan hal yang aneh. Bagaimana bisa ayah mertuanya kenal dengan Direktur di perusahaannya.
Sementara jessy yang mendengar ucapan sang ayah pada Sekar, hanya menahan senyumnya. Yang justru membuat Sekar semakin curiga. Dan Devan, hanya memasang wajah masa bodoh ke arahnya.
“Jangan khawatir, Sekar. Nanti ayah akan selesaikan masalah kamu menunda untuk hadir di kantor,” ujar Pak Wahyu.
“Sebentar, saya ke kamar dulu,”
Tanpa kalimat apa-apa, Bu Jasmin pun mengikuti suaminya. Jessy mendekati keluarga baru itu.
“Pak Rahmad, Bu Yumna. Kalau tidka keberatan, nggak apa-apa kok istirahat di kamar. Dan kamu adik kecil, kamu bisa gunakan kamar yang itu untuk kamu pakai,” ujarnya mengarah pada Dahlia.
“Terima kasih kak. Tapi aku nggak apa-apa kok satu kamar saya ayah dan ibu,” ujar Dahlia.
“Ah, ya. Itu terserah sama kamu. Kalau begitu, aku juga ke kamar sebentar yah,” ujar Jessy.
Devan masih memainkan gawainya. Pak Rahmad sebenarnya juga keberatan dengan tingkah menantunya yang tidak ada basa-basinya itu. Namun sebagai orang tua, ia pun menegur pemuda itu.
“Nak Devan, bagaimana menurutmu, kalau ke depannya kalian tinggal di kota kami. Karena Sekar masih harus bekerja. Kalau Nak Devan tidak keberatan, nanti ke depannya kita akan carikan pekerjaan untuk Nak Devan,” ujar pak Rahmad.
Di luar dugaan, Devan merespon ucapan ayah mertuanya itu dengan baik.
“Tidak masalah dimana pun saya tinggal, Ayah. Kota P dengan Kota T jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin hanya memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Tergantung bagaimana maunya Sekar. Tapi juga, kita tunggu bagaimana keputusan ayah,” sahut Devan yang mencuri pandang Sekar.
“Ah, baiklah kalau begitu,” ujar Pak Rahmad.
Devan pun beranjak. Dan permisi untuk masuk ke dalam kamarnya. Sekar menatap pria itu. Ketika Devan membuka pintu kamar, sekar menahan nafasnya. Bagaimana tidak, kamar itu bagaikan neraka untuk ia masuki. Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke sana.
“Sekar, kalau kamu juga mau istirahat, kamu ikutlah dengan suami kamu,” saran Bu Yumna.
“Kenapa ayah dan ibu mendadak menyampaikan untuk pulang? Tidak bisakah kalian masih di sini bersamaku? Apa karena ayah dan ibu merasa sudha lepas tanggung jawab setelah menikahkanku dengan laki-laki yang datangnya entah dari mana?” tanya Sekar dengan nada lirih, namun terkesan ada penekanan.
“Kamu sudah dengar alasannya. Adik kamu Dahlia, dia juga harus bekerja,”
“Apa aku sudah tidak ada artinya lagi di mata kedua orang tuaku?” matanya mulai berkaca-kaca.
Bu Yumna segera menarik kepala putrinya.
“Jangan bicara seperti itu lagi, Nak. Ayah dan ibu sangat menyayangi kamu. Ini adalah takdir yang terbaik. Apa kamu tidak melihat bagaimana sikap baik keluarga ini memperlakukan kita?”
“Sikap baik yang mereka tunjukkan bukan berarti bisa jadi jaminan kalau aku semua akan baik-baik saja, ‘kan? Lagian, kita baru terhitung 2 hari mengenal mereka,”
“Sudahlah, Nak. Mau kita mengenal mereka lama atau cepat. Semua orang pasti punya masalah. Kalau kau menganggap pernikahanmu ini adalah masalah, maka hanya kamu yang bisa menyelesaikannya dengan baik. Cobalah mengimbangi sikap baik di keluarga ini. Baru kamu ambil kesimpulannya,” ujar Pak rahmad memberikan motivasi untuk putrinya.
“Ayo, Bu. Ayah juga mau istirahat,”ajak pria itu.
Tanpa disebutkan namanya, dahlia juga memilih untuk ikut bersama dengan orang tuanya.
Sekar yang kini menyendiri. Mau tidak mau harus masuk ke dalam ruangan, dimana Devan sudah terbaring.
Ceklek
Devan yang sedang terbaring, menatap ke pintu yang terbuka. Menyaksikan Sekar masuk ke dalam kamar pribadinya dengan tatapan santai.
“Kenapa kamu masuk? Bukannya kamu sudah tahu kalau aku ada di sini? Atau kamu sengaja ya, untuk menggodaku?” canda Devan di luar dugaan Sekar.
“Dasar omes! Siapa juga yang mau menggodamu?”
“Ough, perempuan mana yang tidak b*******h di malam pertama? Aku sering dengar kalau perempuan itu, selangkah lebih agresif kalau sudah urusan ranjang...,”
Pluk
Dengan kesal Sekar melemparkan bantal sekuat tenaga ke wajah suaminya itu. Devan hanya cengengesan menikmati ekspresi wajah Sekar, yang justru mengambil bantal, guling dan selimut untuk tidur di atas karpet.
“Nggak usah jual mahal! Kayak di sinetron. Pura-pura pilih tidur di ranjang terpisah. Padahal hanya ingin menarik simpati dariku, biar aku angkat ke atas ranjang, hahaha,”
“Berisik! Aku nggak akan sudi satu ranjang sama kamu,” gerutu Sekar yang kemudian berbaring membelakangi Devan.
**