Nakal Tapi Bukan Murahan

1243 Kata
Suasana pagi itu, masih terasa sunyi. Namun Bu Yumna yang memang sudah terbiasa bangun di awal pagi, tetap keluar dari kamar. Tidak manyangka kalau Ju jasmin sudah mendahuluinya. “Aui, Bu Jasmin ternyata sudah bangun?” “Sudah, Bu Yumna. Mau sarapan sepagi ini?” “Ah, tidak. Justru kalau boleh, saya yang sediakan sarapan,” “Nggak usah repot, Bu Yumna. Biarkan si bibik yang siapin. Oh ya, jadi pulang hari ini?” “Sepertinya jadi, Bu jasmin. Habisnya suami saya juga memikirkan sekolahnya Dahlia. Dia mau diajak liburan ke sini aja, bukan hal yang mudah. Di tambahlah dengan situasi yang serba mendadak ini,” “Saya mengerti Bu Yumna. Sebenarnya, saya dan suami juga masih ingin kalian tinggal di sini. Tapi yah itu dia. Beda orang beda pandangan dan alasan. Apa lagi seperti Sekar ‘kan juga masih shock,” ”Ah, iya Bu Jasmin. Untuk Sekar, saya hanya bisa titip anak saya tinggal di sini sebagai menantu. Ng, mungkin sikap Sekar juga masih belum bisa dikontrol. Seperti cara bicaranya, sikapnya. Tapi sebenarnya, Sekar adalah anak yang sangat peduli. Bawaannya saja yang cuek. Apa lagi dengan hal yang serba mendadak. Jangankan dia, kita juga sebenarnya masih jantungan dengan keadaan ini. Belum lagi nanti kalau kami pulang, dan warga banyak bertanya,” “Iya, Bu Yumna. Kita akan sama-sama belajar memahami. Saya juga minta maaf, kalau kadang-kadang mau terpancing juga dengan sikap Sekar. Tapi kembali pada alasana yang jelas. Dia juga pastinya belum siap dengan ini semua. Apa lagi dengan Devan yang kelakuannya sangat kekanakan,” ujar Bu jasmin yang sebenarnya juga melihat kekurangan putranya. “Dan sebagai seorang ibu, saya juga tidak menyesali pernikahan ini, Bu Jasmin. Jujur, saya sangat senang dan tidak menyangka bisa berbesan dengan keluarga Atmaja. Walaupun kita belum saling kenal banyak,” ujar Bu Yumna. “Terima kasih Bu Yumna. Saya rasa kami juga demikian. Apa lagi sebelum kejadian ini, kami memang sudah sangat ingin Devan menikah dan punya tanggung jawab. Beberapa kali menjodohkannya dengan beberapa anak kenalan, tapi Devan tidak berkenan. Sungguh mengherankan, dengan kejadian seperti ini, Devan langsung setuju tanpa pertimbangan,” “Iya,ya. Kemarin saya sempat dengar begitu. Padahal mereka itu dulu saling membenci di sekolah ya? Dan suami saya sebagai guru di sekolah itu. Hum, seperti yang kita tahu yah Bu jasmin. Kalau rejeki, jodoh dan maut itu, siapa yang tahu,” “Iya, Bu Yumna. Kiranya setelah sekarang ini, Sekar dan Devan bisa menerima takdir mereka,” setuju iistri dari Pak Wahyu Atmaja itu. “Oh ya, Bu Jasmin, kalau begitu, saya ke kamar dulu. Buat bangunkan Dahlia dan suami saya. Di sini sangat dingin. Bisa-bisa tidurnya makin lelap, sampai lupa waktu kalau hari sudah mulai terang,” pamit Bu Yumna. “Ah ya. Silahkan Bu,” Bu Jasmin kembali sendirian. Entah kenapa, ia jadi membayangkan kronologi masa sekolah Devan dengan sekar dulu. “Iya juga yah? Kalau difikir-fikir, hal itu sudah terjadi lama sekali. Bahkan mereka tidka lagi pernah bertemu. Sekali bertemu, mengalami tragedi yang mengharuskan mereka untuk menikah? Apa mungkin ini memang jawaban dari doa dan harapan kami pada devan yah?” Bu jasmin masih kefikiran. “Ibu? Masih pagi sudah melamun. Mikirin apa sih?” suara Jessy membuyarkan fikiran wanita itu. “Nggak mikir apa-apa. Masih nggak percaya aja kalau adik kamu sudah menikah. Dimana istrinya itu adalah gadis yang dulu sering diganggu dan dijahilinya. Ternyata masih ada takdir yang begituan,” “Namanya juga Rahasia sang pencipta, Bu. Siapa yang tahu,” ujar Jessy. “Tapi ngomong-ngomong, kamu nggak keberatan ‘kan sama Devan yang harus duluan menikah dari kamu?” tanya sang ibu menyelidiki hati putrinya. “Lha, kenapa aku harus keberatan, Bu? Mungkin memang sudah tertulis kalau yang duluan dapat jodoh itu ya Devan,” “Trus, bagaimana dengan kamu? masih jomblo juga sampai hari ini?” “Ah, ibu. Apaan sih? Ibu kayaknya juga ini bukan pertanyaan pertama deh. ‘Kan aku juga sudah bilang, aku belum siap menikah kalau belum bisa mengelola salah satu perusahaan yang ada. Dengan begitu, aku bisa punya karir dan sukses. Pastinya jodoh akan datang dengan sendirinya,” “Iya, ibu percaya! Tapi kamu juga jangan lama-lama. Umur kamu udah hampir 28 tahun, sayang,” Bu jasmin mengingatkan. “Bu, jangan ingatkan umur, dong!” rengut Jessy. “Tapi ngomong-ngomong, apa ada tanda-tanda aneh?” tanya gadis itu pada ibunya. “Tanda-tanda pengantin baru?” singgung Jessy. “Ahk, kamu. belum nikah aja udah mau tahu tanda-tanda pengantin baru!” “Yah, ibu. Memangnya kenapa? Aku ‘kan tanya sama ibu sebagai bestie, sesama perempuan. Kalau aku tanya sama ayah, itu baru aneh,” candanya. “Nggak ada tanda-tanda. Mereka ‘kan belum akur. Mana mungkin melakukan hal itu,” “Beuh. Akur atau tidak, kalau sudah berada di dalam ruangan yang sama, pasti mulai mikir ‘kan? Kemarin aja aku langsung masuk kamar, Devan udah di posisi atas Sekar?” “Eh, mereka melakukannya?” tanya Bu Jasmin terkejut. “Yah, nggak. Ntah mungkin lagi cekcok atau apa, aku masuk udah dalam posisi itu saja,” “Kamu yah! Makanya kalau mau masuk pintu kamar orang itu ketuk dulu!” “Aku lupa kalau Devan sudah menikah, Bu hehehe,” “Dari sekarang kamu harus ingat. Adik kamu itu sudah tidak lajang lagi. Sudah tidak bisa kamu candain seperti sebelum-sebelumnya,” ceramah Bu Jasmin. “Lagian, kamu juga udha tahu bahas posisi-posisian, aneh kamu,” “Ih, ibu. Jangan suka suudzon sama anak sendiri. ‘Kan wajar kalau fikiran aku sudah travelling. Umur aku tadi ibu bilang sudha 28 tahun. Pastinya nggak perlu jaga image lagilah, Bu. Semua orang tentu tahu tuas yang seperti ituan. Tapi percaya deh, Bu. Kalau teori yang begituan aku udah nalar. Praktek aja yang belum. Dijamin, deh!” “Ibu percaya. Karena memang otak kamu memang suka kemana-mana,” “Ye, nggak apa-apa. Yang pastinya ‘kan aku perempuan normal, Bu. Nakal boleh, muurahan yang jangan, heheheh,” “Sudah-sudah! Kamu mandi sana. Kamu mau ke kantor ‘kan?” “Iya dong ibu ku, sayang. Tadinya aku sengaja cepat bangun. Mau lihat pengantin baru itu bangun cepat dan langsung basaha rambut atau bagaimana? Kata orang ‘kan begitu?” “Jessy, udah ah! Jangan becabda terus,” “Nggak seru kalau pagi-pagi nggak gangguin Devan, Bu,” sahut Jessy yang kemudian beranjak meninggalkan ibunya. Lalu kemudian meluncurkan aksinya mengetuk pintu kamar devan. Tok tok tok Jessy terus mengetuk daun pintu. Bu jasmin yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Sementara di dalam sana terdengar suara mengeluh karena terganggu. “Apa sih, Jes!” suara Devan yang baru bangun. Bisa ditebak kalau nafasnya juga masih bau Naga. “Bangun! Semua sudah menunggu kalian!” jawab Jessy dengan jahil. Tap tap tap Terdengar suara langkah kaki yang berat dan mendekat. Pintu pun terbuka. Wajah Sekar muncul dari dalam sana. “A-ada apa?” tanyanya pada Jessy. “Panggil aku ‘kak’. Karena aku adalah kakak dari suami kamu,” Jessy mengingatkan. “Iya, kak Jessy. Ada apa?” “Udah pagi. Kalau nggak ada kerjaan, memang lanjut tidur enak. Tapi itu akan jadi kebiasan yang ujung-ujungnya bikin sakit-sakitan. Mending kamu ajak Devan olah raga, deh!” saran Jessy. “Devan!” teriak Jessy ke arah tempat tidur. “Berisik!” sahut devan yang kemudian melemparkan bantal ke arah pintu, yang justru mengenai kepala Sekar. Membuat jessy tertawa lepas dan pergi dari sana. Sedang Sekar hanya bisa menghela nafas melihat tingkah kakak-adik itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN