Kebenaran Yang Terungkap

1276 Kata
Sekar menghempaskan tubuhnya di atas sofa, setelah pada akhirnya kedua orang tua dan juga adiknya meninggalkan dirinya di rumah orang asing. Kendati yang kini menjadi keluarga barunya secara dadakan. Saat sedang seperti itu, Bu jasmin selaku ibu mertuanya pun mendekati. “Ibu tahu kamu pastinya masih merasa sedih tinggal di sini. Tapi ibu harap kamu bisa terbiasa. Apa lagi, menghadapi Devan. Dia memang terlihat bandel, tapi sebenarnya, dia punya sifat yang begitu peduli,” ujar wanita itu. Sekar berusaha untuk tersenyum menanggapinya. “Saya juga minta maaf, Bu. Mungkin kesan pertama kita bertemu, saya juga masih shock. Makanya, omongan saya juga agak kasar,” Sekar juga menghaturkan permohonan maaf. “Tidak apa-apa. Ibu mengerti. Kamu, masih dendam dengan Devan sejak masa sekolah ya? Kalau nggak keberatan, kamu boleh kok cerita sama ibu, gimana Devan yang dulu yang bikin kamu sampai sekarang itu masih tidak percaya bisa menikah dengannya,” bujuk Bu Jasmin. “Ng?” “Jangan khawatir, ibu lebih suka cerita yang jujur tentang nakalnya Devan, dari pada sok memuji yang nyatanya lain di mulut lain juga di hati,” “Ah, aku juga nggak tahu gimana persisnya, Bu,” Sekar mulai mengingat. “Yang pastinya aku ingat kalau Devan Atmaja itu adalah sosok pemuda yang nggak peduli sekitar, jahil dan suka mengolok-olok. Nggak tahu kalau sama yang lain. Tapi itu yang aku alami. Karena waktu itu aku dan Devan sekelas. Bahkan dia juga tahu kalau ayahku adalah salah satu guru di sekolah itu, dan Devan tidak perduli,” “Hm, dari kecil Devan itu memang anak yang jahil. Kamu lihat saja hubungannya dengan Jessy. Saling menjahili. Itu karena dulu Jessy adalah orang yang selalu menjadi korban kejahilannya,” jelas Bu Jasmin. Sekar mengangguk mengerti. “Tapi Bu, ngomong-ngomong, nggak apa-apa ‘kan kalau aku memang belum siap bersikap baik menanggapi Devan?” “Untuk hal itu, yang menjalani hubungan ‘kan kalian sendiri. Jadi, ibu nggak perlu tahu. Hanya saja ibu ingin mengingatkan, kalian saling mengimbangi dalam pendekatan saja. Gimana yah memaparkannya? Mungkin dengan cara saling mengenali kekurangan masing-masing. Jangan khawatir, ibu juga akan terus berusaha untuk mengingatkan Devan. Karena bagaimana pun, ayah dan ibu juga ingin Devan mengubah sikapnya itu,” ujar Bu Jasmin. “Ngg, iya, Bu. Trus, bagaimana dengan kak Jessy?” “Huh, tentang Jessy, kami juga sangat menginginkan dia segera menikah. Tapi sayang, jodohnya belum ada hilal,” membuat keduanya tertawa. “Kamu, sudah lama kerja di Gretta?” “Baru 3 tahun belakangan ini, Bu,” sahut Sekar. Sedang asyik berbincang-bincang, terdengar ada suara pemuda memanggil Devan. “Van! Devan! Lu di dalam? Kami udah datang, nih!” panggil mereka. “Bu, kok di depan ada rame-mare, yah?” tanya Sekar mengerutkan dahinya. “Aih, itu pasti teman-temannya Devan. Apa dia sudah memberitahu teman-temannya yah kalau dia sudah menikah?” gumam Bu Jasmin. “Devan ada di kamar yah?” “Iya, Bu. Di kamar. Kayaknya lagi tidur,” jawab Sekar. Bu Jasmin segera membuka pintu. “Halo, tante? Devannya ada ‘kan?” “Ada. Tapi dia sedang tidur. Kalian tidak bisa mengganggunya,” jawab Bu Jasmin. “Lha, kenapa Tan? Bukannya kami bisa membangunkannya dengan segera? Eh, ada cewek tuh? Siapa?” seketika dua orang pemuda seumuran itu refleks menatap ke arah Sekar. “Nah, itu dia! Makanya kalian udah nggak boleh sembarangan masuk ke kamarnya Devan lagi. Karena sekarang situasinya sudah berbeda. Devan sudah menikah, dan itu adalah istrinya,” jelas Bu Jasmin mengejutkan dua orang itu. “Apa Tante? Devan sudah menikah? Sejak kapan? b******k sekali Devan nggak ngasih tahu. Pantesan beberapa hari ini nggak muncul. Nggak tahunya udah jadi pengantin baru aja,” tukas mereka. Dan seperti sudah terbiasa mereka pun masuk ke rumah. “Astaga, anak-anak ini,” gerutu Bu Jasmin. “Halo? Saya Abi,” salah satunya memperkenalkan diri. “Dan saya Yusuf. Kami teman baiknya Devan. Boleh kami panggil Devan?” tanya mereka menunjukkan kesan manis di depan Sekar. “Silahkan saja! Dia ada di dalam,” ujar Sekar mengizinkan. Seketika keduanya mendekati kamar Devan sambil menggerutu. “Mereka adalah teman-teman Devan. Itu yang paling akrab. Selainnya masih banyak lagi. Sudah berapa kali diingatkan. Tapi mau bagaimana, dari dulu Devan memang punya teman yang begajulan. Dan yang sering diingatkan, boleh berteman. Namun jaga jarak. Dan jangan sampai menggunakan obat-obatan terlarang, atau bahkan sampai salah pergaulan. Dan syukurnya sampai saat ini, Devan hanya mendapat bagian jahil dan nakalnya saja,” jelas Bu Jasmin. Sekar mengamati apa yang terjadi di dalam kamar sana. Dua pemuda itu terdengar mengganggu Devan. Ada rasa geli melihat tingkah pertemanan laki-laki itu. “Lu nikah nggak bilang-bilang! Kurang ajar lu,” umpat yang satu. “Gue sengaja nggak bilang. Abisnya lu semua pada kacau,” “Pantesan saja nggak adda kabar. Jadi lu nikah mendadak? Diaman lu dapat cewek seperti itu? Tanyain dong? Ada temannya nggak? Gue juga mau nikah dadakan kalau ceweknya cantik kayak gitu!” sambung yang lain. “Sial amat gue lihat muka lu. Mana aku tahu dianya punya teman atau nggak,” jawab Davin. “Aih ngomong-ngomong udah berapa ronde lu kasih? Udah puding belum?” Devan menjitak salah satu kepala temannya itu. Namun tidak mengeluarkan komentar apapun untuk hal yang berbau ranjang itu. “Bisa diem nggak?” hanya itu balasannya. “Awas kalian! Nggak baik masuk ke dalam kamar orang yang sudah berpasangan,” “Aih, Mak! Sombong yah sekarang!” ledek yang lainnya. Begitu pun mereka tetap keluar dari kamar Devan tersebut. Di ruang tamu, Sekar sudah menyiapkan suguhan untuk Devan dan teman-temannya. Dan itu juga atas saran dari ibu mertuanya. Melihat Sekar menyiapkan sesuatu, entah kenapa Devan terkesima. “Kenapa kamu yang menyiapkan? Bik Ipah kemana?” tanya Devan. “Bik Ipah sedang pergi belanja untuk masak makan malam nanti,” sahut Sekar seadanya. Lalu kemudian segera menghilang ke bagian belakang rumah itu. Ketiganya pun mulai bercengkrama atas apa yang dialami Devan hingga bisa menikah dadakan seperti itu. ** Sementara itu, sesampainya di rumah Bu Yumna menitikkan air mata karena sudah meninggalkan Sekar di kediaman Atmaja. “Bagaimana Sekar akan terbiasa berada di sana,” lirihnya. “Sekar itu anak yang kuat dan cerdas. Ia pasti bisa melakukan apa yang terbaik untuknya, Bu,” ujar Pak Rahmad. “Sebenarnya apa yang kamu fikirkan saat berkeras untuk menikahkan Sekar, Ayah?” tanya Bu Yumna pada suaminya. Lama Pak Rahmad menanggapi. Lalu ia pun menceritakan sebuah rahasia yang ia ketahui tentang Devan saat itu. “Ayah melihat Devan dikejar beberapa pemuda. Tadinya ayah tidak perduli. Tapi setelah mendengar percakapan antara dua orang, ayah yakin kalau Devan adalah pemuda yang baik. Devan hanya menegur salah seorang dari mereka karena sedang berusaha untuk mengganggu seorang perempuan. Terus Devan bilang kalau itu adalah adiknya dan menyuruh gadis itu untuk meninggalkan tempat. Setelah diselidiki, ternyata perempuan itu sama sekali bukan adiknya. Kalau ditelusuri, mungkin salah satu dari yang mengejar itu, pastinya mengenal Devan dengan baik. Ayah sempat mendengar Devan mengatakan, kalau kalian mau mengajak ribut, tidak masalah. Tapi aku tidak menjamin kalau video kalian yang menggunakan obat-obatan terlarang ada di tanganku,” begitu Pak Rahmad mencontohkan bahasa devan waktu itu. “Bagaimana ayah bisa tahu itu semua?” “Karena ayah mendengar itu berkelanjutan. Ayah memperhatikan keadaan sekitar. Bahkan saat Devan di kejar, ia masuk ke jendela Sekar pun ayah tahu. Siapa sangka kalau Devan itu adalah muridku di masa yang lalu,” jelas Pak Rahmad. “Tapi bagaimana kalau nanti justru Sekar mendapat masalah karena punya suami yang brandalan?” “Devan tidak berandalan, Bu. Pergaulannya saja yang berandalan,” sahut Pak Rahmad. “Ayah percaya, Devan juga pasti akan melindungi Sekar. Sudahlah, Bu. Percaya sama Ayah,” bujuk Pak Rahmad pada istrinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN