Setelah sepakat dengan Sekar dan juga keluarganya lewat ponsel, akhirnya Sekar pun diberi kebebasan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Namun, tidak sepenuhnya bebas. Karena devan juga akan ikut bersamanya.
“Gimana Sekar? Kamu setuju kalau Devan ikut dengan mu?” tanya ibu Jasmin.
“Aku harus bilang apa, Bu. Tentu saja aku nggak boleh keberatan, karena Decan sudah menjadi suamiku,” ujarnya lambat.
“Yah, mungkin resepsi pernikahan kalian akan diadakan awal bulan ini. Dan seperti yang kamu dengar tadi, ibu kamu minta pestanya dibuat di rumahmu. Dan kami tidak mungkin keberatan. Setelah itu nantinya, kamu juga nggak bisa menolak, karena kita juga akan buat pesta di sini lagi setelah dari rumah kamu,” jelas Bu Jasmin.
“Tapi aku tetap bisa tinggal di kota ku setelah resepsi di sini ‘kan?” Sekar memastikan.
“Tentu saja. Kamu ‘kan kerja di sana,” jawab Pak Wahyu.
“Terima kasih, Pak, Bu,” ujar Sekar dengan wajah berseri.
“Sekar, sudah berapa kali kami ingatkan kamu. Panggil kami dengan sebutan ayah dan ibu. Jangan Pak dan Bu,” Bu Jasmin mengingatkan.
“Trus, Devan ada dimana?” tanya Pak Wahyu.
“Saya juga klurang tahu, ayah. Tapi yang jelas, tadi temannya datang mengajak keluar,” jawab Sekar.
“Anak itu, yah! Entah kapan bisa bersikap lebih dewasa,” lirih suara Pak Wahyu.
**
Di tempat Devan saat ini, ia sedang bersama dengan teman-temannya.
“Bagaimana kau bisa menikah tanpa memberi tahu kami, Van. Kau tidak menganggap kami sebagai teman lagi?” ujar Iqbal.
“Bukan begitu, Bal. Ini semua juga di luar dugaan. Okey, aku akan ceritakan kenapa aku bisa mendadak menikah,”
“Jangan bilang kalau ini semua ada hubungannya dengan Genk Brutal,” tebal Hamdi.
“Justru itu,” ujar Devan.
“Apa? Bagaimana mungkin ada hubungannya dengan mereka?”
“Tadinya aku lagi gabut. Ortu aku terus mendesak mau mencarikan jodoh untukku. Jadi, pas lagi duduk sendirian, aku naikin aja angkotnya si Botak menuju pemandian air hangat. Aku fikir, bisa menyenangkan diriku sendiri. Tepat di atas kawah, aku tidak sengaja melihat salah satu anggota Genk Brutal ada di sana. Kayaknya baru makek obat-obatan gitu. Dia sedang mendekati seorang gadis. Setiap gadis itu menghindar, dia terus pepet, bahkan berani mencolek. Padahal di sana ada beberapa gadis, tapi yang lainnya tidak berani membela,” jelas Devan.
“Lu cari masalah, sih,” potong Boy membayangkan cerita Devan.
“Aku lihat perempuan itu sudah ketakutan, kemana dia melangkah, anak buah itu terus mepetin. Aku nggak mau ribut. Aku dekatin laki-laki itu, terus aku bilang kalau gadis itu adik aku. Aku yakin kalau si anak buah tadi memang nggak kenal aku. Dia pun pergi, setelah perempuan tadi aku suruh pergi dan udah menjauh, eh anak buah yang lain kenal sama gue. Jelas dong dia bilang ke temannya yang makek tadi kalau aku pembohong. Apa lagi dia tahu kalau aku salah satu dari dari kita. Nggak ada suara, tapi mereka ngejer gue,”
“Trus kenapa lu bisa jadi dinikahin?” tanya Zidan.
“Nah itu, yang gue inget, nggak sengaja gue nyenggol ayahnya bini gue. Kayaknya dia tahu deh kalau aku sedang ada masalah. Gue cari jalan pintas, nyelonong aja ke sebuah kamar yang jendelanya ke buka lebar. Semuanya sama sekali nggak ada direncanakan. Lu semua pada nggak tau ‘kan, itu bini gue musuh dari sekolah,”
“Musuh gimana? Orang kita satu sekolah, mana ada dia di sekolah,” jawab Iqbal.
“Makanya dengarin dulu. Kan ceritanya belum siap,” umpat Devan.
“Dia ini teman sekelas gue waktu sekolah di kota P. Ayahnya bahkan guru killer waktu itu. Tapi mana pernah gue takut. Malah gue sering isengin anaknya. Nggak tahu kenapa sekarang malah jadi bini sendiri,” papar Devan.
“Itu artinya memang lu ditakdirkan nikah sama perempuan yang dulu sering lu isengin. Memangnya kenapa dulu suka gangguin anak pak guru?”
“Abisnya jelek?”
“Apa? Jelek dari mana? Cantik, berarti mata lu dulu burem,” sahut Yusuf.
“Sumpah, Suf. Dulu memang jelek banget. Pas gue sadar gue juga kaget tahu. Eh, malah terima desakan bapaknya,”
“Itu artinya, setelah lama nggak ketemu, lu jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Bisa dibilang begitu. Tapi sampai sekarang, dia kayaknya masih dendam sama gue,”
“Jangan bilang karena dendam, kamu belum rasain yang namanya malam pertama,” ejek Danu.
“Sialan lu!” Devan menjentik kepala temannya itu, membuat semuanya tertawa.
“kalau lu bertingkah seperti itu, berarti benar. Lu masih perjaka ye ‘kan? Cashingnya aja yang galak,” sahut yang lainnya.
Teman-teman Devan berjumlah 7 orang. Tapi yang paling dekat adalah Abi dan Yusuf. Mereka sudah terbiasa bermain ke rumah Devan dengan bebas, sejak Devan menjadi siswa baru beberapa tahun yang lalu.
**
Selesai makan malam di kediaman Atmaja, Pak Wahyu pun memberi tahu pada putranya kalau besok Devan dan Sekar akan berangkat ke kota tempat tinggal Sekar.
“Kenapa secepat itu? Bukannya orang tua Sekar baru berangkat kemarin?” tanya Devan sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
“Tidak ada yang dadakan. Kamu yang sejak tadi entah kemana. Orang tua Sekar juga butuh waktu untuk memperkenalkan kamu dengan keluarga besarnya. Ayah dan ibu berharap, kamu jangan bikin malu keluarga kita, Devan,” nasehat pria itu.
Setelah menyampaikan semuanya, tentunya Devan mulai mempertimbangkan. Walau sebenarnya dia juga tidak punya alasan untuk menolak.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Saat Devan masuk ke dalam kamar, ia melihat Sekar dengan wajah berseri menyusun perlengkapannya yang tidak seberapa.
“Senang banget yang mau pulang?” dengan iseng Devan menggodanya.
“Itu lebih baik, setidaknya aku punya kerjaan, dari pada harus bosan melihatmu,” jujurnya.
“Widih, Pede sekali kamu, kalau aku juga mau lihatin kamu. Aku juga males kali kalau 24 jam harus lihat kamu terus. Makanya aku juga pergi seharian. Sok cantik banget kamu. rugi banyak aku nikah sama kamu!”
“Jaga mulut kamu! kamu fikir kamu saja yang rugi? Aku juga nggak dapat keuntungan apa-apa yah nikah sama kamu. Udah pengangguran, brutal...,” Sekar kehilangan kalimatnya ketika tiba-tiba Devan membekap mulutnya dan harus melangkah mundur hingga terhimpit ke dinding.
“Sekali lagi kamu bilang aku brutal, aku akan benar-benar melakukan hal brutal yang kamu mau. Kamu mau minta tolong sama siapa? Kamu itu istri aku. Tentunya aku punya hak dong, mau melakukan apa saja sama kamu. Atau, kamu memang sengaja bersikap seperti ini untuk menarik perhatian aku, yah?” lirih suara Devan yang menatap tajam ke dalam mata istrinya.
Deg!
Seketika Sekar merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Iiihhh, lepaskan aku! Berani-beraninya yah kamu!”
“Kenapa aku nggak berani? Merebutmu dari ayahmu yang galak aja aku sudah berhasil,” ujar Devan dengan tenang dan tanpa rasa bersalah.
Mendengar Devan mengejek ayahnya, Sekar yang mulutnya baru terlepas dari tangan kekar itu, langsung mengambil bantal dan akan melemparnya ke arah Devan. Namun, Devan selangkah lebih gesit dan justru menarik bantal itu dari tangan Sekar. Dan hanya satu sentuhan ringan saja, Sekar justru terjatuh ke dalam pelukan Devan, karena berusaha mempertahankan bantal itu.
Devan yang tidak kuasa menahan tubuh yang tiba-tiba oleng ke arahnya, seketika tertindih oleh tubuh Sekar. Tepat di atas ranjang. Ini adalah kedua kalinya mereka tidak sengaja bersentuhan. Kedua pasang mata itu saling bertatapan.
“Kamu mau lebih lama di atas aku? Aku nggak masalah kok kalau malam ini keperjakaanku lepas,” Devan menyempatkan diri menggoda Sekar.
Secepat kilat Sekar pun menempelkan telapak tangannya di wajah itu.
“Mimpi!” ucapnya dengan kesal yang kemudian memilih untuk tidur di sofa. Dan meninggalkan Devan di ranjang seperti biasa.
***