Istri Jutek vs Suami Jahil

1284 Kata
Kepulangan Sekar ke rumah, tentunya disambut haru oleh keluarganya, walau jarak mereka berpisah baru terhitung beberapa hari. Dan ternyata bukan hanya keluarga Sekar yang menyambutnya. Tpi juga beberapa teman yang sudah antusias untuk berjumpa. Suasana terasa haru, karena kali ini Sekar pulang tidak sendiri. Melainkan dengan seorang pria yng diketahui kerabat tetangga adalah suaminya. Setelah berpelukan dengan yang lain, dengan mata yang berkaca-kaca, mereka pun menyelutuk Sekar setelah melihat devan. “Bagus banget rejeki kamu, Sekar. Perginya single, pulangnya udah bawa status baru,” celutuk Raya, salah satu teman baiknya. “Aku belum bicara apa-apa, jangan ngajak debat!” balas Sekar. “Yu, kirain setelah beberapa hari menikah, udah nggak jutek lagi. Ternyata sama sekali nggak ngaruh,” tambah Raya lagi. Sedang dua teman yang lain bernama Amal dan Isma hanya bisa terkekeh diam. “Sekar! Suami kamu nggak diajak masuk? Kasihan celingak celinguk di situ nggak digubris,” ujar Isma. Sekar menatap Devan. Ia tidak tahu harus bagaimana menegur laki-laki itu. “Kamu mau di luar terus?” tukasnya. Mendengar sikap sekar yang memanggil Devan, membuat ketiga temannya saling berpandangan. “Sama sekali nggak ada romatisnya, ya? Padahal udah nikah lho?” bisik Amal. Tapi Sekar pura-pura tidak mendengarnya. “Nak Devan? Ayo masuk? Kok bengong aja di situ?” Akhirnya suara Bu Yumna mengajak masu sang menantu. “Ah, baik. Terima kasih, Bu,” ujar Devan yang ternyata punya sikap manisnya. “Keadaannya memang begini yah, Nak Devan. Karena kamu sudah menjadi suaminya Sekar, itu artinya ini juga harus kamu anggap seperti rumah kamu sendiri,” ujar ibu mertuanya. Devan melirik ke arah Sekar dan ketiga temannya yang tersenyum menggoda Sekar. Sedang gadis itu hanya berusaha memasang ekspresi datarnya. Devan pun mendekat. “Apa aku boleh tahu, dimana kamar kamu? Maksud aku, kamar kita, Sayang?” dengan sengaja Devan menekankan kata ‘Sayang’ pada Sekar di depan yang lain, membuat Isma, Amal dan Raya menahan senyumnya. “Itu!” tunjuknya ke arah ruangannya. Sedang wajahnya terasa panas menahan diri. Devan mengerlingkan matanya ke arah Sekar, lalu kemudian masuk ke dalam kamar itu dengan membawa kopernya sendiri. “Aih, Sekar. Lu beruntung banget punya suami tampan dan manis seperti itu,” ujar Amal dengan ekspresi bapernya. “Ah, aku sudah dengar dari ibu kamu. tapi nggak menyangka kalau suami kamu begitu? Aih, aku juga mau dong punya suami dadakan yang manis?” balas Isma lagi. “Kalian ngomongin apa sih? Orang baru datang juga. Kalian ‘kan nggak tahu apa yang aku alami? Seenaknya aja main vonis kalau hidup orang enak,” gerutu Sekar. “Yah, kalau kami bilang hidup kamu enak, aminkan dong. Ini malah mengeluh. Gimana dengan kami yang sampai sekarang masih jomblo?” celutuk Raya. Sekar pun terdiam. Sekalipun itu ocehan temannya, namun ia pun kefikiran juga. “Apa mungkin aku memang lebih beruntung? Astaga, tapi untung seperti apa yang aku dapatkan dari laki-laki begajulan seperti itu? Huff,” batinnya. “Pantesan beberapa hari ini kamu nggak bisa dihubungi. Nggak tahunya udah main nikah aja,” ujar Amal. “Sudahlah, kalian tidak perlu menggodaku. Aku masih kelelahan. Apa kalian sudah lama di sini?” tanyanya. “Nggak juga. Begitu kami tahu kalau kamu mau sampai, kami pun datang ke sini,” ujar Isma. “Oh ya, ngomong-ngomong kamu belum kenalin dia sama kami. Siapa namanya? Kali aja dia punya teman yang bisa juga jadi jodoh aku,” godanya sambil menjulurkan lidahnya. “Malas ah. Gimana juga aku meu kenalin dia sama kalian kalau dia aja masih di dalam sana,” sahutnya. “Oh, ya. Gimana keadaan kantor? Apa mereka juga sudah tahu tentang aku?” tanya Sekar dengan penuh selidik. “Jangan khawatir, walaupun mulut kamu kadang-kadang bocor, tapi kami masih merahasiakan masalah ini kok,” jamin Raya. “Kenapa? Sepertinya kamu malu mengakui status kamu?” “Bukannya malu, tapi memang belum siap saja,” ujar Sekar. “Ngomong-ngomong dari tadi aku belum lihat ayah aku,” “Oh kalau nggak salah tadi katanya lagi pergi bawa sepeda motor. Nggak tau deh kemana,” ujar isma. “Ayah kamu lagi pergi ke rumah paman. Sebentar lagi juga bakalan pulang,” kembali suara Bu Yumna muncul sembari menjelaskan dengan membawa beberapa macam cemilan deh teh hangat untuk Sekar dan lainnya. “Kamu nggak panggil Devan? Kali aja dia sudah lapar. Ibu sudah siapin makan siang,” “Oh, ya Sekar. Kaykanya kami nggak bisa lama deh! Karena masih harus balik ke kantor. Lu cepat masuk kerja lagi yah! Sepertinya lusa manager pengganti itu akan datang,” Amal mengingatkan. “Lho, masih belum masuk juga ternyata? Aku kira dari kemarin sudah masuk?” Sekar menanggapi. “Belum kok, oh ya. Kalau nanti nggak sibu, kami boleh ke sini lagi ‘kan? Lu belum kenalin dia ke kita soalnya. Mana tahu dia punya sepupu atau teman. Nggak salah dong ya!” mereka terus menggoda Sekar. “Berisik ah!” balas Sekar. Bu Yumna hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis itu. “Ayo Sekar! Kamu panggilkan Devan. Mungkin dia sudah lapar dan segan mengakuinya,” “Ibu sama mereka sama saja. Sok peduli sama orang asing kayak Devan. Bukannya lebih kasihan sama aku,” “Sekar, bukannya begitu, Nak!” “Iya iya, Bu. Aku akan segera memanggilnya,” “Yah sudah kalau begitu, ibu juga mau nyusul Bapak. Kok lama sekali. Tadi katanya Cuma sebentar,” ujar Bu Yumna sambil berlalu keluar rumah. Sekar pun masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat suaminya itu sedang asik terlelap. “Aih dasar anak manja. Nggak punya kerjaan, tahunya tidur melulu,” komentar Sekar dalam hati. “Astaga, kenapa aku jadi menggerutu. Wajar dong dia kecapekan, orang dia sendiri yang nyetir mobil ke sini,” sisi lain hatinya pun bersuara. Niat yang tadi untuk mengajak suaminya makan siang pun, ia urungkan melihat devan yang masih terlelap. Sekar mencoba putar haluan untuk meninggalkan. Namun tiba-tiba devan menarik lengannya membuat Sekar terkejut. “Eh, apa-apaan ini?” lirih Sekar mencoba melepaskan tangan suaminya. Mata Devan masih tertutup. Namun mulutnya meracau. “Jangan tinggalkan aku. Aku sangat sayang sama kamu. Tolong!” Devan terus meracau. “Iiih, ini anak ngomong apa, sih? Iiiihhh lepasin,” Sekar masih berusaha untuk tenang. Namun sekuat tenaga, Devan menghentaknya dan seketika posisi berubah. Devan menindih tubuhnya, namun masih dengan mata terpejam. “Hey, Devan! Sadar kamu, Sadar! Kamu salah orang. Siapa sih yang dimimpikan?” Sekar masih terus menggerutu. Namun mulut Sekar terasa ditempel sesuatu hingga berhenti menggerutu. Nafasnya tertahan, sedang aliran darhnya terasa berhenti. Bagaimana tidak Devan menempelkan bibirnya tepat di bibir istrinya. Mata Sekar seketika terbelalak untuk beberapa saat. Akan tetapi setelah sadar, Sekar berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubub Devan. Pria itu pun membuka matanya, dan berteriak. “Eh he?” Devan menyngkir. Karena kesal, Sekar pun meraih bantal dan seketika memukul Devan beberapa kali. “Dasar nggak pake otak. Seenaknya main serobot! Omes kamu! Ih sial sekali aku menghampirimu ke sini,” gerutu Sekar. “Hey hey apa-apaan aku ini. Aku ‘kan nggak sengaja. Siapa suruh kau mendekatiku,” “Jangan banyak alasan! Fikiran kamu yang kemana-mana. Kalau tahu bakal begini, aku nggak akan mengikuti perintah ibu untuk mengajakmu makan siang. Kamu memang cari kesempatan!” “Idiiiiih aku juga mana tahu. Orang lagi asik mimpi,” Devan terus menanggapi ucapan Sekar sambil berusaha menepis pukulan dari istrinya itu. Sambil menggerutu, Sekar pun beranjak dan meninggalkan Devan di atas tempat tidur itu setela mengusap bibirnya. Setelah Sekar menghilang di balik pintu, devan pun tersenyum. “Ternyata mengganggumu bikin suasana makin seru juga yah? Marah? Padahal ‘kan aku ini suaminya? Apa mungkin aku adalah pemuda pertama yang melakukan first kiss untuknya? Kayaknya sih memang iya, kalau dilihat dari segi juteknya, heheheh,” Devan mulai menebak sambil cengengesan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN