Manager Baru Bikin Tersipu

1297 Kata
Terhitung seminggu setelah menikah. Hubungan Sekar dan Devan juga masih datar dan dingin. Hanya Devan yang sering menggangu istrinya karena merasa tidak punya kerjaan. Hari itu, Sekar sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia melihat Devan yang masih terbaring di atas karpet. Mereka merubah sistem sebelumnya. Jika berada di rumah Devan, maka penguasa tempat tidur adalah Devan, begitu juga sebaliknya. “Hey! Aku akan berangkat kerja. Ibu aku juga akan pergi ke pasar. Hanya kamu yang ada di rumah. Kalau kamu mau makan, tinggal ambil sendiri. Jangan iseng menggangguku saat aku sedang bekerja. Kamu tahu ‘kan kalau aku sudah ambil cuti terlalu lama,” tuklas Sekar memberi tahu. “Ahk, berisik kamu!” hanya itu balasan Devan. Sekar pun tidak ambil pusing untuk berdebat, karena tidak ingin merusak moodnya setelah selama ini vacuum dari dunia kerja yang dicintainya. Akan tetapi, tidak seperti yang disampaikan oleh Sekar, tepat setelah ia keluar rumah tanpa diantarkan oleh suaminya, justru ayah dan ibu Sekar sampai di rumah setelah pulang belanja. Sayangnya mereka tidak berpapasan dengan putrinya. “Sepertinya Devan masih tidur?” ujar Pak Rahmad. “Biarkan saya, Ayah. Nanti juga dia bakalan bangun,” “Mau sampai kapan? Tentu Sekar akan semakin kesal kalau suaminya itu hanya bermalas-malasan,” ujar Pak rahmad lagi. “Nggak heran sih, namanya juga anak manja. Tapi ‘kan Yah, sepertinya keluarganya itu misterius sekali,” bisik Bu Yumna. “Misterius? Misterius gimana maksudnya?” “Yah, sampai sekarang ‘kan kita nggak tahu apa usaha mereka. Ayah juga sih, nggak mau menyinggung. Jangan-jangan memang keluarga Atmaja itu adalah keluarga yang berada. Banyak aset kekayaan yang bikin Devan jadi malas-malasan. Masuk akal ‘kan kenapa dia malas bekerja? Kalau di lihat dari segi mapan, yah dia mapan, ganteng. Lulus kuliahan lagi,” “Apapun itu, Bu. Tetap saja tanggung jawab seorang laki-laki itu di lihat dari jerih payahnya. Kalau malas-malasan seperti ini terus, aset emas segunung pun bakalan habis kalau niat hanya untuk menghabiskan,” ujar Pak Rahmad. “Iya, sih. Tapi nggak apalah. Kali aja setelah tinggal di sini, Devan jadi merasa nggak enakan dan menemukan pekerjaan yang baik,” “Ayah juga berharapnya sih begitu, Bu. Mana tahu dengan Devan punya kegiatan, hati Sekar bisa luluh. Karena Ayah rasa, Sekar masih berhati dingin dengan pernikahannya. Padahal sebenarnya, ayah bisa jamin kalau Devan itu adalah anak yang baik,” ujar Pak Rahmad. “Hm, yah sudah kalau begitu, Ayah. Ibu ke belakang dulu mau siapin makan siang,” ujar Bu Yumna. Sedangkan pak rahmad meraih remot dan menyalakan TV. Sementara dari balik pintu kamar, Devan mendengar percakapan itu. Walau tidak sepenuhnya, tapi di akhir percakapan ayah dan ibu mertuanya itu, Devan tahu kalau keduanya memuji dirinya. Ia pun tersenyum mengetahui hal itu. ** Di tempat kerja, Sekar memang sudah menyiapkan muka tebal jika sewaktu-waktu ada yang menanyakan statusnya. Untungnya, seperti yang dikatakan oleh teman-temannya, tidak seorang pun yang tahu kepastian tentang kisahnya. Namun salah seorang dari karyawan di sana, memberanikan diri untuk memastikan info tersebut. “Sekar, maaf nih, aku mau tanya sama kamu. Apa benar, kamu cuti untuk menikah?” tanya gadis bernama Inez. “memangnya kenapa?” tanya sekar tidak terkejut dengan pertanyaan itu. “Jadi benar?” “Bagaimana mungkin kau bisa menyimpulkan? Aku ‘kan belum jawab?” ujar Sekar. “Kalau memang nggak benar, tentu kamu akan langsung bilang nggak, tapi ini kamu malah balik ngasi aku pertanyaan, wajar ‘kan kalau aku bisa menyimpulkan?” “Aku menikah atau bukan, apa kamu mendapat keuntungan? Nggak ‘kan?” “Memang nggak sih, tapi setidaknya ‘kan kalau itu kabar bahagia tentu kamu bisa mengumumkannya? Ini malah menikah diam-diam,” ujar Inez. Sekar hanya bisa menatap Inez dengan tatapan kesal. Hal itu bukanlah yang pertama. Tapi memang sudah terbiasa terjadi setiap mereka bertemu.Melihat Sekar sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan itu, Isma pun mendekat. “Sekar, ngapain lu di sini?” Isma menatap Inez dan Sekar secara bergantian. “Dari tadi aku memang di sini mau moto copy. Eh nggak taunya ada orang yang paling kepo buat nanyain info pernikahan dadakan gue. Yah, gue emang udah manikah. Sengaja belum beberin biar jadi kejutan. Soalnya kalau koar-koar duluan, biasanya lu paling suka gagalin rencana. Makanya gue nikah diem-diem. Tapi tenang aja kok, pas resepsi nanti lu pasti diundang, biar bisa makan enak dan menutup mulut kamu yang nyinyir itu!” ucap Sekar membuat Isma menahan tawanya. “Sialan lu!” gerutu Inez. “Kenapa? Mau marah? Makanya jangan suka kepoin urusan orang. Kena ‘kan lo. Untung Sekar nggak nyinggung yang jomblo. Pasti gue juga nyesek banget, hiks,” Isma turut meledek. “Udah yuk! Nggak ada untungnya juga ladeni si Miss kepo ini,” ucap Sekar sambil menarik isma dan membawa hasil copy-annya. Tidak perduli apapun yang terucap dari bibir Inez untuk mereka. “Hahahah, dia pasti kena mental sama omongan lu barusan,” Isma masih terkekeh. “Siapa suruh dia datangin gue khusus untuk nanyain hal itu. Yah gue kesallah,” umpat Sekar. “Sekar!” panggil Raya. “Ini lagi! Apaan sih lu, manggil gue semangat sekali?” “Yaiyalah semangat. Tuh suami kamu nungguin kamu sana!” “Eh busyeet. Apa? Devan datang ke sini?” Sekar merasa tidak percaya. “Hu um. Bayani bekal makan siang kamu. manis banget tahu nggak sih?” Sekar langsung menempelkan kertas hasil copy-an itu ke wajah Raya. “Apanya yang manis? Itu sama saja akan bawa sial untuk aku,” gerutunya yang segera menghampiri Devan meninggalkan Isma dan raya. Namun kedua temannya itu tetap mengejarnya. Devan yang melihat Sekar mendekat ke arahnya pun tersenyum. “Aku ke sini di suruh ayah dan ibu buat antar bekal makan siang untuk kamu,” jelasnya sebelum Sekar bertanya. “Makasih! Walaupun sebenarnya nggak perlu. Lagi pula, kenapa kamu bisa sampai di sini?” “Kenapa aku nggak bisa sampai di sini? Sekarang ini zaman sudah mulai canggih, sayang,’ lagi-lagi devan menggodanya dengan sebutan ‘Sayang’. “Jaga bicaramu! Karena aku nggak suka kamu sok manis sama aku,” “Aku rasa, baru kamu perempuan yang nggak suka kalau suaminya bersikap romantis,” “Romantis kalau didasari cinta nggak masalah. Tapi kau dan aku, sampai kapan pun akan selalu jadi musuh. Dan kata-katamu itu semuanya hanya racun,” “Okey, kamu boleh bilang kalau kata-kataku adalah racun. Tapi tidak dengan makanan ini. Nggak mungkin ‘kan ibu mertuaku bikin racun untuk makanan anaknya sendiri?” devan masih terus mencandainya. Sekar menatap rantang mini tempat makanan itu. “Kamu mau di sini terus celingak-celinguk nungguin aku pulang biar semua kawan-kawanku mengakui kalau aku punya suami yang sangat manis?” “Kalau kamu tidak keberatan, kenapa nggak?” jawab Devan. “Terserah kamu deh! Kalau begitu aku masuk dulu,” ujar Sekar. Devan pun melepas sang istri dari pandangannya. “Sekar, kamu benar-benar beruntung sekali mendapatkan laki-laki seperti itu,” ujar ketiga temannya yang memuji sikap Devan. “Kalian benar-benar berisik!” ucapnya. Sekar semakin mempercepat langkahnya. Namun pada saat ia akan masuk ke ruang kerjanya, karena kurang hati-hati Sekar pun tidak sengaja menyenggol tubuh seseorang. “Eh,” lirihnya. Dengan sigap justru tangan yang kekar merangkul pinggangnya agar tidak oleng. Sekar terkejut dengan laki-laki di depannya yang tidak ia kenali. Masih terkesima dengan pria tersebut, dari jarak beberapa langkah, ketiga temannya pun terkejut melihat adegan Sekar itu. Ditambah lagi dengan Inez yang turut menyaksikan. “Kamu nggak apa-apa?” tanya laki-laki itu dengan suara yang eksotis. “A-aku nggak apa-apa, Sekar pun merapikan dirinya. “Ma-maaf. Saya nggak sengaja,’ “Nggak apa-apa. Kamu, kerja di bagian apa?” “A-aku di bagian creator iklan,” jawabnya. “Senang bertemu dengan kamu. Saya Winandika. Panggil saja Dika. Saya Manager baru di sini. Baru masuk hari ini,” “Eh, Pak Manager. Sa-saya benar-benar minta maaf,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN