Kata Sayang Untuk Mengundang

1277 Kata
Pria yang bernama Winandika itu pun tersenyum. “Santai saja. Aku tidka ingin kesan pertama itu menjadi kesan yang buruk,” ujarnya. “Kalau begitu, terima kasih, Pak,” ujarnya bersamaan dengan mendekatnya ketiga temannya itu. “Sekar, kamu nggak apa-apa?” tanya Raya. Yang matanya bergantian anta menatap temannya dan juga pria tampan di depannya itu. “Nggak apa-apa, kok tadi nggak sengaja,” “Apa kalian juga karyawan di sini?” tanya pria bernama Winandika. “Iya,” sahut Isma. Sekar segera memberi kode dengan ekspresi. “Itu manager baru. Yang hormat!” gerutunya. “Eh, Pak manager?” ujar Isma membuat Raya dan Amal juga turut menghormat. “Tidak apa-apa, senang bertemu dengan kalian. Kalau begitu, saya duluan dulu yah!” ujar Dika meninggalkan mereka semua. “Uhuy, untung aku masih jomblo. Berkesempatan bertemu dengan pria gagah yang ternyata adalah manager,” gumam Isma. “Jangan mimpi, kalau pun kau bisa selangkah lebih maju dari kami untuk mendapatkannya, kau pasti akan kehilangan pekerjaan,” celutuk Amal mengingatkan. “Kalau beneran dapat pria ganteng, apa lagi seorang manager, aku rasa kehilangan pekerjaan juga tidak akan membuat duniaku runtuh,” sahut Isma lagi membuat mereka tertawa bersama. “Sudah-sudah, mimpinya nanti aja. Kerjaan masih banyak tahu!” tukas Amal. Dan mereka pun meninggalkan tempat itu. Tidak peduli kalau wanita bernama Inez itu, di sana. “Sok kecakepan sekali Sekar? Bukannya dia suda menikah seperti pengakuannya? Eh malah ketemu sama cowok ganteng lagi, manager pula!” gerutu gadis itu dengan kesal. ** Sekar pun sampai di rumahnya menjelang sore hari. Saat ia akan melepaskan pakaiannya, ia hampir menjerit melihat Devan yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Namun suaminya itu langsung menutup mulutnya. “Ngapain kamu mau menjerit? Nggak enak ‘kan kalau orang tua kamu mikir kita lagi ngapain di dalam kamar?” “Iiiiihh,” Sekar menepis tangan suaminya. “Siapa suruh kamu muncul tiba-tiba pas aku mau mandi? Awas kamu! jangan dekat-dekat!” “Yah mana aku tahu kalau kamu udah pulang dan mau langsung mandi? Aku tadi lagi BAB,” “Bodo amat kamu lagi ngapain di dalam sana,” “Berarti nggak ada yang salah ‘kan? Kita sama-sama nggak tahu. Orang kamu juga pulangnya nggak bareng sama aku,” “Gimana mau pulang bareng kalau kamu udah duluan?” “Yaitu, tadinya aku nungguin kamu, nggak tahunya malah kebelet. Aku yah segan masuk ke kantor kamu buat numpak BAB doank,” Devan terus membela diri. “Alaaaaaah udah udah. Ribet amat ngomong sama kamu nggak ada habisnya. Kayak emak-emak bunting tahu nggak? Kamu keluar aja sana! Aku mau mandi,” ucap Sekar hanya masih berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk, karena sebagaiannya sudah terlepas. “Kalau aku nggak mau gimana? Aku ‘kan juga mau mandi?” Devan mencoba menggodanya. Namun sekar lebih gesit mendorong wajah itu dengan telapak tangannya membuat devan merasa geli sendiri. Kendati demikian, Devan pun memilih untuk keluar menuju teras. Baru saja ia duduk, ponselny berdering. Nama sang ayah tertera di sana. “Ada apa ayah?” tanya Devan. “Bagaimana kabarmu?” suara sang ayah dari seberang sana. “Aku baik-baik saja ayah,” jawabnya. “Sudah ayah tebak. Lalu, apa yang kamu lakukan selama di sana?” “Seperti biasa. Bangun di waktu kapan aku suka,” “Devan, kapan lagi kamu harus berubah, Nak? Kamu itu sudah menikah. Kamu harusnya belajar dari sikap istri kamu yang tidak suka dengan karakter kamu,” “Lalu ayah mau aku melakukan apa?” “Bekerja,” jawab Pak Wahyu. “Aku belum siap mencari pekerjaan di kota ini, Ayah,” “Kenapa kau harus mencari? Kau bisa bekerja di kantor sekar. Kamu tahu ‘kan kalau sebagian besar saham Greetta Advertising itu masih kita yang memegang. Kemarin kakak sepupu kamu Winandika sudah ayah kirim sebagai manager di sana. Kamu bisa hubungi dia,” “Bagaimana dengan Sekar? Apa dia sudah tahu dengan perusahaan itu?” “Ayah rasa Sekar belum tahu. Tapi kalau kamu mengatakannya, yah terserah,” “Baiklah, ayah. Aku akan fikirkan tentang itu,” ujar Devan. Ia tersenyum sendiri setelah menerima panggilan dari Pak Wahyu. “Sepertinya sangat menarik kalau bisa membuat Sekar bertanya-tanya,” fikirnya yang kemudian berjalan menuju kamar. “Kau?” Sekar terkejut lagi melihat suaminya yang masuk ke dalam kamar. “Aku masih belum pakai baju, keluar sana! Dasar laki-laki omes,” Sekar memasang wajah kesal sambil mencoba menutupi bagian tubuhnya yang tidak tertutup handuk. Bukannya mundur, Devan justru semakin mendekat. “Ah, aku malas di luar sendirian. Kalau kau butuh bantuan, aku bisa kok bantuin kamu pasangin baju,” ujar Devan yang melangkah maju dan Sekar sendiri melangkah mundur. “Ka-kau mau apa? Jangan mendekat!” lirih suara Sekar seperti ketakutan melihat senyum di wajah tampan itu. “Kenapa? Kau meu menjerit? Aku tidak akan melarangmu lagi. Silahkan! Tapi aku nggak janji, setelah itu aku akan bikin kamu terus meminta,” lirihnya. Tepat pada saat Sekar tak bisa bergerak lagi karena tersandar di dinding. Wajah keduanya sangat berdekatan. Bahkan bisa merasakan hembusan nafas yang tidak beraturan dari orang di hadapannya. “Mmenjauhlah!” ucap Sekar sambil memalingkan wajhnya dengan mata terpejam. “Sampai kapan?” tanya Devan yang kini tangannya berhenti di atas tangan Sekar yang masih memegang kuat mengikat handuknya. Dalam keadaan seperti itu, Devan pun membentuk jarak. Dan terkekeh pelan. Mendengar itu, Sekar pun membuka matanya. Terasa wajahnya memanas dan semakin kesal melihat tawa suaminya itu. “b******k!” umpatnya. “Hahahaha, kau terlihat lucu saat ketakutan,” ucap Devam di sela-sela tertawanya. “Besok aku akan mengantarkanmu bekerja. Aku juga mau punya kegiatan. Bisakah kau atur kerjaan untukku di kantor itu?” “Omong kosong! Jangan mimpi kamu. kau tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di kantor yang sama denganku,” “Oh ya? Tapi aku rasa aku akan mendapatkannya. Sekaligus mau lihat gimana kamu bekerja,” yakin Devan. “Jangan cari gara-gara kamu. Aku nggak mau konsentrasiku terganggu gara-gara ulahmu. Kamu fikir Gretta itu punya Pak Wahyu?” “Hahahah, memang punya ayah aku,” jawab devan asal yang kemudian berlalu dari hadapan Sekar. Ketika pintu kamar itu tertutup. Sekar pun memastikan kalau jantungnya masih ada di dalam sana. “Huuff, lama-lama aku bisa jantungan kalau harus terus begini. Laki-laki seperti ini pasti akan selalu mencari kesempatan,” ucapnya dengan kesal. Dan saat ia melihat cermin, tidak sengaja ia pun memperhatikan tubuhnya yang hanya terbalut handuk itu. “Aneh juga kalau dia nggak selera lihat aku,” lirihnya. Namun segera ia menutup tubuh itu kembali. Ia tidak mau kalau suaminya itu semakin menertawakan kebodohannya di depan cermin itu. Meski begitu mulutnya juga tidak berhenti mengoceh. “Awas saja kalau dia bernai macam-macam besok ke kantorku. Tapi bagaimana kalau itu benar? Karena dia memang laki-laki yang nggak tahu malu,” ceracaunya membayangkan Devan akan mengacaukan semua pekerjaannya. Belum lagi membayangkan bagaimana teman-temannya akan terus menanggapi laki-laki itu sebagai pria idaman yang begitu manis. Sekar pun segera menepis bayang-banyang Devan yang menurutnya sangat konyol itu. Kreeek, Terdengar pintu kamar terbuka lagi. “Apa kau memikirkanku?” kepala Devan muncul dari baliknya. Untung Sekar sudah selesai mengenakan pakaiannya. “Nggak usah Ge Er kamu. Siapa juga yang mau memikirkanmu,” elaknya. “Hahahah, semakin kau marah, aku akan semakin punya cara untuk mengganggumu,” “lebih baik kau tidak usah bicara denganku!” “Ayah dan ibu menyuruhku untuk memanggilmu makan bersama, Sayang!” “Berhenti memanggilku begitu! Karena kamu semakin terdengar munafik menyebutku ‘sayang’,” komentar Sekar. “Kata-kata itu ‘kan adalah doa, mana tahu setelah aku sering memanggilmu begitu, kita jadi beneran saling sayang,” “Banyak bacot,” celutuk gadis itu dengan wajah kesalnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN