part 11

1327 Kata
Hari-hari pertama di rumah besar keluarga Emyr terasa sepi bagi Alyssa. Ia tidak terbiasa dengan kemewahan yang serba lengkap. Segala kebutuhan tersedia hanya dengan satu panggilan pelayan, membuatnya bingung harus berbuat apa. Pagi itu, setelah sarapan sendirian di meja makan panjang, Alyssa berjalan-jalan di dalam rumah. Suasana begitu hening. Ia merasa dirinya seperti tamu, bukan penghuni tetap. Di dapur, tercium.aroma masakan. Alyssa melangkah masuk, mendapati Bibi Sari—pelayan berusia paruh baya—sedang mengatur bahan-bahan makanan “Bibi Sari…” panggil Alyssa ragu. Wanita itu menoleh, lalu tersenyum ramah. "Alyssa, kenapa ke dapur? Kalau ada yang ingin dimakan, biar saya yang siapkan.” Alyssa tersenyum canggung. “Bukan itu… aku hanya bosan. Tidak terbiasa diam saja. Apa aku boleh membantu?” Bibi Sari terkejut, lalu tertawa kecil. “Membantu? Alyssa, pekerjaan dapur bukan untuk Anda. Tugas Anda hanya beristirahat dan menikmati rumah ini.” Alyssa menggeleng cepat. “Justru itu masalahnya, Bi. Aku terbiasa bekerja. Kalau hanya duduk, rasanya seperti… tidak berguna.” Bibi Sari memandang Alyssa sejenak, lalu akhirnya menyerah. “Baiklah, kalau begitu tolong iris sayuran ini. Tapi hati-hati, jangan sampai tergores.” Alyssa mengambil pisau dengan senyum lega. Jemarinya luwes memotong sayur, "Bibi sudah lama kerja disini" ucap Alyssa membuat bi sari berhenti sejenak. Dan memandang nya "bibi disini sejak tuan Emyr masih kecil" Alyssa sedikit terkejut mendengar nya. Bibi Sari menghela napas panjang sambil menatap kosong ke arah jendela dapur. “Kau tahu, Alyssa… Tuan Emyr itu bukan pria yang dingin tanpa alasan.” Alyssa mendongak, wajahnya penuh tanya. “Maksud Bibi?” Perempuan paruh baya itu tersenyum getir. “Aku sudah bekerja di rumah ini sejak lama. Sejak sebelum ibunya Tuan Emyr meninggal. Dulu, ia anak yang manis sekali. Ramah, penyayang… selalu ingin melindungi orang-orang di sekitarnya. Tapi segalanya berubah ketika ibunya meninggal. Saat itu usianya baru dua belas tahun.” Alyssa membelalakkan mata. “Ibu Tuan Emyr meninggal saat ia masih kecil?” “Iya,” jawab Bibi Sari pelan. “Setelah itu, ia memilih tinggal bersama Nyonya Ruth. Sejak saat itulah sikapnya berubah. Ia tumbuh keras kepala, nakal, dan sering memberontak. Mungkin karena luka di hatinya belum sembuh. Nyonya Ruth memang sangat menyayanginya, tapi beliau bukan tipe yang bisa memberikan kelembutan seorang ibu.” Alyssa terdiam, hatinya terasa nyeri mendengar cerita itu. Kini potongan-potongan sikap dingin Emyr yang ia lihat perlahan mulai masuk akal. Bibi Sari melanjutkan, suaranya lembut namun penuh penekanan, “Tuan Emyr itu sesungguhnya baik, hanya saja dinding di hatinya terlalu tinggi. Mungkin ia takut kehilangan lagi, seperti kehilangan ibunya dulu " Alyssa menggigit bibirnya, ia mengerti bagaimana perasaan yang dialami Emyr karena ia sendiri pun pernah mengalaminya. Ia juga kehilangan ibunya ketika masih kecil. "Oh iya bi..apa bibi tau mengenai wanita yang harus nya menikah dengan Emyr" tanya Alyssa yang penasaran tentang hubungan Emyr dan Greta. "Bibi kurang tahu, karena tuan Emyr tidak pernah membawanya kemari, bibi pun tau saat pengumuman pernikahan nya. Tapi ada kabar kalau nyonya Ruth tida menyetujui pernikahan nya." Jelas bi sari. Alyssa hanya mengangguk ia sebenarnya tidak ingin terlalu tertarik dengan kehidupan Emyr namun selama setahun ia harus berusaha bertahan dengan sosok pria yang tertutup dan dingin. Alyssa menahan gejolak di d**a. Ia tidak pernah berpikir pernikahan paksa ini akan membawanya pada kisah yang jauh lebih rumit daripada sekadar hutang keluarganya. cahaya jingga menyapu balkon rumah modern milik Devan. Di meja kayu yang menghadap taman kecil, dua botol bir dingin sudah terbuka. Devan bersandar santai di kursinya, menatap sahabatnya yang tampak muram. “Kau tidak biasanya datang ke rumahku dengan wajah seperti itu, Emyr. Ada apa?” Emyr mengangkat botol birnya, meneguk panjang seolah ingin melupakan sesuatu. “entahlah aku merasa semuanya tidak berjalan seperti yang kuharapkan” Devan terdiam, memberi ruang untuk sahabatnya meluapkan amarah. “greta,, gadis itu membuat hati ku hancur untuk kedua kalinya, dan nenek yang memaksa ku menikah dengan seorang gadis yang tidak kukenal.” Emyr menaruh botolnya dengan kasar di meja, suaranya bergetar menahan emosi. “Dan lebih parahnya lagi… aku tidak bisa melupakan Greta." Devan menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “kau hanya perlu waktu untuk menerima nya, dan istrimu..bagaimana Dengan nya.." Emyr menatap sahabatnya tajam. “Alyssa? entahlah aku tidak terlalu tertarik dengan gadis itu?” Devan mengangkat bahu. “Aku mengingatkan mu, jangan sampai kemarahanmu menghancurkan dirimu sendiri. Dan Alyssa… kurasa gadis itu tidak memiliki niat buruk.” Emyr terdiam, meneguk lagi birnya. Kata-kata Devan menancap, meski ia tak mau mengakuinya. Keheningan menggantung di antara mereka, hanya suara botol yang beradu pelan ketika Emyr kembali menaruh minumannya dengan kasar. Botol bir ketiga sudah hampir kosong. Wajah Emyr mulai memerah, matanya sayu namun penuh gejolak. Ia tertawa kecil, getir, sebelum tiba-tiba berubah muram. “Greta…” namanya lolos dari bibirnya, lirih namun penuh kerinduan. “Kau tahu, Van? Aku benar-benar mencintainya. Aku sudah menyiapkan semuanya untuknya—rumah, masa depan, hidup bersama… Tapi dia meninggalkanku begitu saja. Tepat saat aku paling membutuhkannya.” Devan menatap sahabatnya dengan iba. “Kau yakin dia meninggalkanmu, Emyr? Bisa saja ada alasan lain. Kau terlalu cepat menyimpulkan.” Emyr menggeleng keras, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak, Van. Greta berbeda. Aku mengenalnya. Kalau dia menghilang, pasti ada yang salah… sesuatu yang tidak dia ceritakan padaku.” Ia meneguk sisa bir dalam sekali teguk, lalu menatap kosong ke arah langit senja. “Tapi nenekku, menganggap dia hanya seorang model murahan. Mereka tidak tahu betapa berharganya dia bagiku. Greta… adalah satu-satunya yang membuatku merasa hidup.” Devan mendesah panjang, menepuk bahu sahabatnya. “saranku, kau tidak perlu terburu-buru, aku akan membantumu menyelidiki nya" Hening menyelimuti balkon. Angin sore berhembus membawa dingin, seolah menegaskan luka yang Emyr simpan rapat-rapat. Langit sudah berganti kelam, lampu-lampu kota menyala di kejauhan. Botol bir keempat kini tergeletak kosong di meja, sementara Emyr tertunduk dengan wajah memerah, kepalanya berat. “Van…” gumamnya dengan suara parau, “kau tahu rasanya… hidup tapi jiwamu sudah mati? Seperti itulah aku sekarang” Devan menahan helaan napas, lalu menepuk bahu sahabatnya dengan kuat. “Cukup, Emyr. Kau sudah minum terlalu banyak.” Namun Emyr hanya tertawa hambar, tubuhnya goyah ketika mencoba berdiri. “Aku tidak butuh siapa pun, Van. Tidak nenekku… tidak pernikahan konyol itu… Tidak ada yang bisa menggantikan Greta!” serunya, sebelum langkahnya terhuyung dan hampir jatuh. Devan cepat menangkapnya. “Astaga, Emyr… kau benar-benar mabuk.” Ia meraih kunci mobil di atas meja, lalu membantu sahabatnya berjalan keluar. Dengan susah payah, Devan memasukkan Emyr ke kursi penumpang. Sepanjang perjalanan, Emyr hanya meracau, seolah mimpi buruk yang tak bisa ia lepaskan. Mobil berhenti di halaman rumah besar Emyr. Pengawal segera keluar, terkejut melihat tuannya dalam keadaan kacau. “Bawa dia ke kamarnya,” perintah Devan singkat, membantu menurunkan Emyr Pelayan menuntun Emyr masuk ke ruang tamu. Tubuhnya terhuyung, wajah merah padam, aroma alkohol kuat menyelimuti. Alyssa yang tadinya hanya berdiri di tangga, memberanikan diri turun. “biar aku yang bantu…” ucapnya lirih, mencoba meraih lengan Emyr untuk menuntunnya. Namun Emyr menepis tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh aku!” suaranya berat, matanya setengah terpejam. “Aku tidak butuh kau… aku hanya butuh Greta.” Alyssa terdiam, perasaan nya campur aduk antara marah, terluka juga khawatir. tapi ia tetap berdiri di tempat, Devan, yang melihat itu, menghela napas panjang. Ia menepuk bahu Alyssa pelan. “Biarkan saja. Emyr… dia belum bisa menerima semua ini.” Alyssa menunduk, berusaha tersenyum meski jelas terlihat getir. “Aku mengerti. Aku hanya… tidak ingin dia terluka.” Devan menatapnya lekat-lekat. Di wajah polos itu, ia menangkap kekhawatiran tulus—sesuatu yang mungkin tidak pernah Emyr sadari. “ Percayalah, di balik keras kepalanya, Emyr bukan orang jahat. Dia hanya… terluka terlalu dalam.” Kata-kata itu membuat Alyssa menunduk lebih dalam. Ia tak bisa menjawab, hanya memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan perasaan yang menyesakkan. "Terimakasih.... Karena sudah mengantarkan nya pulang" ucap Alyssa saat Devan hendak pergi. "Tidak masalah,, dia adalah sahabat baik ku, kalau begitu aku pamit" Devan tersenyum lalu berlalu menuju mobilnya, Alyssa hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN