part 10

626 Kata
Gedung perusahaannya menjulang gagah di pusat kota. Pagi itu, Emyr melangkah masuk ke ruang rapat dengan wajah datar, jas hitamnya terpasang sempurna. Di dalam, para direktur sudah menunggu, berkas-berkas menumpuk di atas meja panjang. Meeting berlangsung seperti biasa—laporan proyek, grafik keuntungan, hingga rencana ekspansi. Emyr mendengarkan dengan penuh konsentrasi, sesekali mengetuk meja dengan jarinya. Setelah semua agenda selesai, ia menutup map di depannya. “Baik. Lanjutkan sesuai rencana. Aku tidak ingin ada keterlambatan,” ucapnya tegas. Para direktur mengangguk patuh sebelum beranjak meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, ruangan itu hanya tersisa Emyr dan asisten pribadinya, Regi. yang setia berdiri di sudut. Emyr bersandar di kursi, melepas dasinya sedikit. Ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. “Bagaimana hasilnya? Sudah ada kabar tentang Greta?” Suara di seberang telpon menjawab. “Kami sudah mencari ke apartemen, perusahaan tempatnya bekerja, bahkan menghubungi beberapa rekannya. Tapi… semuanya seakan bungkam, Tuan. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.” Rahang Emyr mengeras. Ia mengepalkan tangannya di atas meja. “Itu mustahil. Greta tidak mungkin menghilang tanpa jejak.” Orang itu menambahkan, “Ada kemungkinan seseorang sengaja menutupinya. Atau… Greta sendiri yang menghindar.” Mata Emyr berkilat marah sekaligus gelisah. “Teruskan penyelidikan. Gunakan semua koneksi kita. Aku tidak peduli berapa biayanya. Aku harus menemukan Greta.” “Baik, Tuan.” Panggilan berakhir. Emyr terdiam, memandang jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap kota. Hatinya penuh resah. I tidak ingin merasakan kehilangan orang yang sangat ia sayangi untuk kedua kalinya. Sedangkan Jefry baru saja tiba, Langkah berat terdengar menggema di lorong rumah besarnya. Jas kerjanya masih melekat, Ia membuka pintu kamarnya. namun ruangan itu sepi. Tidak ada Alyssa yang biasanya sibuk membereskan atau menyiapkan air minum untuknya. Keningnya berkerut. Ia keluar, lalu memanggil salah satu pelayan.“Di mana Alyssa?” Pelayan itu menunduk gugup, suaranya bergetar. “T-Tuan… Nona Alyssa…dibawa oleh pengawal Nyonya Ruth ke kediaman Hadiwijaya…” Mata Jefry langsung menyala. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. “Apa? Dibawa ke rumah ibuku?? Ibu berani membawa Alyssa tanpa seizinku?!” Ia melempar jasnya ke kursi, lalu bergegas keluar dengan langkah besar. Sopir pribadinya bahkan tak berani bertanya ketika Jefry masuk ke mobil dengan wajah segelap badai. Mobil melaju kencang menuju rumah Ruth. Sepanjang perjalanan, Jefry mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Begitu sampai, ia tidak menunggu pelayan membuka pintu. Jefry langsung masuk ke rumah mewah itu, langkahnya keras, matanya menyapu ruangan dengan penuh kemarahan. “Ibu! Aku ingin penjelasan sekarang juga! Kenapa ibu membawa Alyssa?!” Ruth duduk anggun di kursi panjang ruang tamu mewahnya. Tatapannya tajam namun tenang, “duduklah, kau bisa tenangkan emosi mu dulu” perintah ibunya. Jefry menurut ia duduk di berhadapan dengan ibunya. "Dua hari lalu, pengantin Emyr hilang, jadi ibu minta Alyssa menggantikan nya dengan imbalan ibu akan melunasi hutang ayah nya padamu" jelas Ruth. Kata-kata itu membuat Jefry membeku sesaat, lalu wajahnya memerah ia mengacak rambutnya. “Apa?! Kau… Kau tega menikahkanya dengan keponakan ku yang b******k itu !” Ruth meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap Jefry lurus ke mata. "Jefry !!!.. jaga ucapan mu, Emyr adalah keponakan mu, kenapa kau begitu membencinya" Jefry semakin tersulut tatapan nya tajam ke arah ibunya. "Iyaa..!! Karena dia selalu merebut apapun yang kumiliki" Ruth menghela nafas, mencoba bersikap tenang di tengah amarah putranya. "Apa kau menyukai gadis itu?" Pertanyaan Ruth membuat emosi Jefry melunak. Ia sempat ragu. "Aku.. aku masih belum yakin,, lagipula itu urusan pribadi ku Bu" Ruth tersenyum tipis.. "Alyssa sudah menandatangani kontrak pernikahan nya dengan Emyr.. hanya satu tahun, dan dia kan bebas kau bisa mendekati nya jika kau mau" Suasana hening, hanya suara napas Jefry yang berat dan penuh bara. "Aku tidak yakin Alyssa akan kembali padaku" Jefry bangkit melangkah meninggalkan ibunya, dengan perasaan yang sulit dijelaskan, sakit hati, hancur juga tidak berdaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN