Rena's POV
ANEH. Sejak kemarin, aneh. Sejak Nevan menghilang, aneh. Sejak dia bilang mau ngomong sesuatu, perasaan aku jadi aneh. Sejak sikap perhatiannya bertambah berpuluh kali lipat, rasa aneh itu semakin pekat.
Intinya, semenjak kehadiran Nevan, semuanya berubah.
Aku gak ngerti diri sendiri yang tiba-tiba suka ketawa kalo inget perlakuan dia yang menurutku lucu.
Terkadang, aku bisa gampang marah sama dia. Contohnya, pas dia mandang setan cewek itu lho, aku bener-bener kesel. Terus, saat dia tiba-tiba aja nyium kening aku dan kabur gitu aja.
Apa coba maksudnya? Nyium orang sembarangan. Apa jagan-jangan, dia lagi latihan drama? Tapi kan, Nevan gak ikut klub apapun...
"Rena," suara berat seorang cowok membuat gue mundur beberapa langkah. Merapat pada dinding. Kaget.
Ah, ternyata itu...
"Hahaha," Beryl tertawa. "Kayaknya lo lebih takut sama manusia ya daripada setan."
Cowok itu duduk di kursi kayu koridor kampus. Sebenernya aku mau langsung ke rumah sakit, mau jenguk Nevan. Kali aja roh dia dari kemarin ada di deket tubuh. Ya ya ya bisa jadi.
"Kenapa gak ikutan duduk di sini?" Beryl menepuk-nepuk sisi sebelahnya yang kosong. "Kaki lo gak pegel berdiri dengan posisi kuda-kuda gitu?"
Eh? Kuda-kuda?
Aku menunduk. Baru sadar kalo posisi udah ngajak orang brrantem. Yah, abisnya salah dia sih. Ngagetin orang gitu aja.
"Sini deh," Beryl dengan nyebelinnya narik tanganku sampai aku terduduk di sebelahnya. "Gue mau nanya-nanya tentang Nevan."
Keningku berkerut dalam. "Kamu kan lebih kenal Nevan daripada aku." dia mengangguk , kemudian tersenyum. "Terus kamu kenapa senyum-senyum gitu? Kamu gak gila, kan?"
Dia menggeleng, tapi sama sekali gak ngomong apa pun.
"Eh!" aku mendorong dia hingga terjatuh ke lantai. "Ada yang lewat!" iya, itu ada kepala terbang lewat.
Aku kenal dia. Dia itu suka mondar mandir di koridor kampus. Kalo sampe kena, nanti badan kamu bisa bau beberapa hari. Bau amis, lebih tepatnya. Ewh. Aku pernah ngalamin itu soalnya.
Dari ekor mata, aku bisa liat Beryl yang meringis kesakitan sesekali menggumam sebal.
"Ada apaan sih?" tanyanya seraya bangkit dan duduk kembali di tempatnya semula. "Ah... " dia kayak yang inget sesuatu. "Lo abis liat setan, ya?"
Olala. Tebakan tepat. Kok dia bisa tau?
"Gue tau lo punya kemampuan buat liat hal-hal mistis," Beryl manggut-manggut paham. "Tapi plis, biasa aja. Jangan terlalu ditunjukkin."
Entah kenapa, ucapan dia ingetin aku sama Nevan.
"Orang ngeri, tau. Kalo lo tiba-tiba melakukan hal janggal. Terus bilang ada ini-itu di sekitar mereka," tambahnya.
Aku inget Nevan lagi...
Beryl terus aja ngoceh kayak ibu-ibu kantin yang suka nagihin utang anak-anak kampus. Berbeda sama aku yang pikirannya udah melayang jauh ke masa lalu, mengingat masa-masa kebersamaan bareng Nevan.
Dia ke mana, sih. Dipanggil gak nyaut. Biasanya juga pagi-pagi udah duduk di sisi kasur aku. Duduk diem. Merhatiin aku. Tapi tadi pagi, dia gak ada...
"Rena?" Beryl menyentuh pundakku, membuyarkan lamunan singkatku. "Lo kenapa nangis?"
Aku nangis?
Tanganku terangkat, mendekati wajah dan mengusap pipi perlahan. Basah. Iya, aku menangis. Kenapa bisa sampe gak sadar begini?
"Lo kangen Nevan, ya?"
Wajahku mendongak, menatap Beryl yang tersenyum tipis. Tapi aneh, karena wajah Beryl tiba-tiba aja memburam dan berganti wajah Nevan. Mungkin, aku beneran kangen Nevan. Sampe bayangin muka Nevan gitu...
"Aku pengen ketemu sama Nevan..." lirihku seraya menunduk dalam.
Enggak tau. Aku gak ngerti kenapa jadi kayak gini.
"Lo gak ketemu sama dia?" nada suara Beryl benar-benar kaget.
Aku menggeleng. "Kemarin aku sempet berantem sama dia. Pas aku di kamar dia, dia bilang mau ngomong sesuatu. Terus tiba-tiba aja, dia ilang. Dan sampe sekarang gak ada kabar lagi."
"Kok..." suara Beryl yang meragu membuatku mendongak. "Gue pikir arwah Nevan ada sama lo."
"Biasanya memang gitu. Dia selalu sama aku."
"Terus dia ke mana sekarang?"
Kedua bahuku terangkat. "Gak tau."
Hening menyelimuti kami selama beberapa saat. Wajar aja sih kalo Nevan ngejauh dari aku. Mungkin dianya udah gak tahan sama sikap aku yang beda dari yang lain. Kayaknya sih gitu. Iya, pasti.
"Ya udah deh, aku —" suara dering ponsel di dalam tas membuat aku menggantungkan kalimat yang niatnya ingin berpamitan sama Beryl.
Dan betapa kagetnya ketika nomer Papa Nevan yang tertera di sana. Sempat ragu, namun akhirnya aku mengangkatnya.
"Rena?" sambut suara di sana.
"Iya, Oom, ini Rena."
"Nevan ada sama kamu, gak?"
Keningku berkerut dalam. Mataku menatap Beryl yang juga kebingungan. Oh, dia pasti bingung karena gak tau arti tatapan bertanyaku.
"Roh Nevan gak sama aku, tubuh dia ada di rumah sakit. Jadi, aku gak sama Nevan."
"Hah-kamu gak sama Nevan?"
"Enggak, Papa Nevan. Kan tadi aku udah bilang, ih..."
"Tapi tubuh Nevan udah gak ada di kamar rawatnya."
Hah?
"Tadi Papa rencana mau jenguk dia. Tapi kamarnya kosong, rapi. Dan suster yang jaga pun, gak sadar kalo Nevan udah gak ada di kamarnya."
Papa Nevan... Ngomong apaan sih?
"Rena? Kamu masih ada di sana, kan?"
Aku gak tau musti jawab apa...
Dan tiba-tiba aja, telpon di telinga kiri aku ditarik paksa. Siapa lagi kalo bukan Beryl? Dia satu-satunya orang yang sekarang ada di deketku, kan.
Tanpa ekspresi, aku menoleh dengan bingung. Menatap Beryl yang tampak kebingungan dengan omongan Papa Nevan. Sama, Beryl. Aku juga bingung sama yang dibilang Papa Nevan.
Tapi lama kelamaan, muka Beryl tampak serius. Kemudian, dia memutuskan sambungan telpon sebelum memberikannya kepadaku.
"Tenang, Rena. Kita pasti bisa temuin dia."
❤❤❤
Aku gak ngerti, ke mana Nevan? Udah tiga hari ini dia gak ada kabar sama sekali.
Papa Nevan udah ngehubungin polisi. Beryl, kemarin dia udah bantuin aku nyari Nevan. Oh ya, Airi juga ikutan bantu. Tapi berhubung sekarang lagi ujian, aku gak enak kalo musti minta bantuan mereka lagi.
Andy sama Rossie? Mereka gak ada kabar. Kenapa semuanya tiba-tiba ilang gini, sih?
"Mas Nevan ke mana Neng Rena? Biasanya kalo ke sini selalu bareng." ujar abang nasi goreng setelah memberikan satu bungkus pesananku.
"Gak tau, Bang. Dia ilang ditelen bumi."
Kening babang nasi goreng itu mengerut dalam kemudian menerima uangku. Setelah berterima kasih, aku berbalik arah. Mau pulang ke kosan. Makan di kamar Nevan. Kali aja, dia ada di sana.
Aku melangkah lunglai, sesekali memberiksn salam ketika bertemu dengan salah satu teman-hantu. Yah, aku memang tidak banyak teman di dunia nyata. Baik dulu, mau pun sekarang. Tapi saat ini, setelah aku bisa melihat mereka, aku memiliki banyak teman. Tentunya, dari kalangan hantu. Aku gak tau sih, ini baik atau buruk.
"Kak Renaaa, tunggu," keningku berkerut dalam ketika Rossie menarik ujung sweater yang kukenakan.
"Lho, kupikir kamu ilang kayak Nevan," mataku berbinar-binar melihat sosok Rossie. "Selama ini ke mana ajaaa? Aku kangen tauuu," rengekku.
Dia terkekeh geli lalu melayang dan duduk di pinggir trotoar jalan. Tangan kecilnya menepuk-nepuk sebelahnya yang kosong.
"Sini Kak sini," ujarnya dengan riang, "makan di sini aja."
Aku cemberut. "Gak mau."
"Kenapaaa? Ih, Kakak mah!" Rossie berdiri dan menghentakkan kaki. Dia kesal. Ih. Nyebelin!
Aku menggelengkan kepala dengan keras, lalu menunjuk satu arah. "Nenek yang gak suka sama manusia liatin aku daritadi," aku gak bohong! "Matanya hampir gelinding keluar tuh gara-gara melotot!
Rossie akhirnya memutar kepalanya demi melihat arah tunjukku. Tepat ketika nenek itu melihat Rossie memandangnya, senyuman mengerikan terlihat di sana. Spontan saja, aku langsung lari terbirit-b***t. Astaga. Seram sekali. Mendingan dia melotot aja deh, dari pada senyum kayak gitu!
Tapi, setelah nenek itu senyum mengerikan ke arahku, beberapa hantu mulai berdatangan dari luar kompleks kosan. Ada yang main lompat-lompatan sama mbak-mbak berambut sepanjang mata kaki, trus ada bocah-bocah cilik berkepala kinclong ber-pampers sedang berlarian. Intinya, mereka semua mengarah padaku!
Mereka mau ngajak main atau bagaimana?
"Rossie," tanganku menggapai udara bebas mengarah pada Rossie. "Ini temen-temen kamu ngapain kumpul di sini? Ada arisan bulanan?"
Rossie yang melayang di sebelahku tiba-tiba meloncat dan nyengir lebar di depanku, tepat bersamaan dengan Andy yang nongol tanpa kepala.
"Kak Renaaa!" kepalanya berputar di sekelilingku.
Duh, rasanya kepala dia pengen aku gebok pake tongkat kasti, deh. Agar bisa rusak kaca jendela tetangga dan aku bisa ngumpet di sana.
Sekarang, aku kayak cokelat yang jatuh ke rerumputan di taman. Dikerubungi sama semut-semut. Bedanya, bukan kaki-kaki semut yang berusaha menggapaiku. Melainkan tangan-tangan pucat ini.
"Kalian mau apaaa sihhh?" beberapa setan berwajah rusak mendekatiku, mengakibatkan keningku berkerut karena mereka terlalu dekat. "Aku cuma beli nasi goreng satu," ucapku saat bungkusan di tanganku ada yang menariknya. "Jangan diambil! Ini akhir bulaaan! Akunya nggak punya duit!"
Aku menutup mata rapat-rapat karena kini tubuhku di dorong-dorong.
Pluk. Hueeee. "Nasi goreeeengkuuuu!" teriakku histeris.
Sebenernya didorong gini nggak masalah sama sekali, tapi yang bikin aku kesel tuh, nasi goreng satu-satunya harapan untuk mengenyangkan perut malam ini harus terjatuh mengenaskan di tanah.
Akhirnya aku pasrah. Tubuhku dibawa ke sana ke mari seperti bumbu dapur yang diaduk-aduk di dalam wajan. Mak. Aku laper. Cacing di perutku kasian belum makan.
"Kak Renaaa!" wajah Rossie tertawa, berbeda dengan wajahku yanh cemberut garis keras. "Ayo buka kamarnya Kak Nevan!" serunya semangat.
Keningku berkerut.
Kepalaku mendongak, sadar bahwanpara hantu ini membawaku ke kosan, tepat di depan kamar Nevan.
"Ada apaan di kamar Nevan?" tanyaku bingung, tetapi saat mrlihat wajah Andy yanh tersenyum lebar membuatku berpikir bahwa di dalam sana ada Nevan. Beneran, nggak nih?
Tanpa berpikir panjang, aku mengeluarkan kunci kamar Nevan dan membukanya secepat mungkin.
"Nevaaan! Kamu ke mana aj—" suaraku terhenti saat melihat wanita berambut super panjang yang berdiri di salah satu sudut.
Dia! Setan yang godain Nevan tapi dianya nolong kita. Aku nggak tau dia itu baik apa jahat. Tapi, dia adalah sainganku. Saingan!
"Kok kamu ada di sini," ujarku dengan bibir cemberut sebal.
Senyuman hadir di wajahnya. "Aku sebagai wakil dari para hantu yang sebelumnya terkurung di dalam rumah mewah itu," matanya melirik para hantu yang tadi mendorongku keras. "ingin mengucapkan terima kasih karena telah datang dan membebaskan kami. Kami benar-benar mengucapkan terima kasih."
Apa? Aku nggak ngerti.
"Sudah beratus tahun kami terperangkap dalam rumah itu. Sepasang kembar itu membuat benteng yang nggak bisa kami lewati. Tapi saat salah satu kembar lenyap, kekuatannya berkurang," mungkin yang dibicarakan adalah Yasmin? Aku nggak merasa matiin Carlos. "Dan dengan berkurangnya kekuatan mereka, kami bisa melenyapkan yang satunya bersama-sama."
"Oooh ..." aku manggut-manggut saja mendengarnya.
"Dan sebagai pengungkapan rasa terima kasih kami," rambut panjangnya menarik sesuatu hingga terhenti tepat di hadapanku. "Kami memberikan ini. Semoga kamu menyukainya, ya."
Aku mengangguk bingung, tapi tetap mengambil kotak itu. Tapi, tepat setelah aku memegangnya, satu per satu setan yang berkeliaran di belakangku menghilang. Ah, itu hantu nenek-nenek yang menjaga pintu masuk rumah! Aku membungkuk ramah, disambut wajahnya yang menyeramkan. Sungguh terlalu.
Kemudian, mereka benar-benar menghilang. Tersisa Rossie, Andy, serta wanita barambut panjang itu.
"Kamu nggak pulang?" tanyaku sebal.
Tapi, dia malah tersenyum lagi.
"Bukalah," wanita itu memintaku untuk membuka kotak yang lumayan besar. Isinya apa, ya? Makanan? Kalo iya, aku— "kami dengar hari ini kamu berulang tahun," ucapan ramahnya disambut mataku yang mengedip beberapa kali saat membuka kotak itu. Hari ini ulang tahunku? "Semoga kamu menyukainya."
"Dan juga, jangan pernah menyerah soal pemuda itu," tambahnya.
Pemuda itu? Maksud dia, Nevan, kan? Enggak. Aku nggak akan nyerah. Aku pasti bakalan ketemu sama dia!
Lalu, dia menghilang.
Menyisakan kado berupa gaun putih panjang berkilau yang menurutku sangat-sangat-sangaaat bagus. Mereka dapetin ini dari mana ya? Masih sebuah misteri.
"Whoaaa!" Rossie memekik heboh.
Andy terlihat antusias. "Kak Rena cepetan pake!"
Tapi... Kenapa dia ngasih aku gaun putih? "Dia kepengen aku bergabung sama para wanita berambut panjang yang suka cekikikan di pohon mangga sebelah rumah ya?"
"Kak Renaaaa enggak gituuuu!" Rossie terlihat sangat gemas. "Dia emang pengen ngasih kakak hadiaaah!"
"Terus aku harus make kapan?" tanganku mengambil gaun itu dan membolak balikkannya. "Ini formal banget. Nggak mungkin aku make ke kampus."
Andy bergerak dan mendorong punggungku. "Kakak coba dulu ajaaa di kamar mandi," sahutnya.
Aku pun akhirnya masuk kamar mandi. Gaun itu benar-benar bagus. Kalau Nevan liat aku make baju itu, reaksi dia gimana, ya? Apa dia bakalan seneng? Mungkin dia akan muji aku 'cantik', kayak pasangan di luar sana? Mungkin aja.
Eh? Kenapa aku mikir aneh-aneh sih?
Pasangan?
Aku kan sama Nevan cuma temenan. Kita nggak mungkin jadi pasangan di luar sana yang mesra-mesraan. Tapi kok, nggak mungkin itu berefek besar ke hatiku ya? Rasanya... Sakit. Apa karena penyangkalan ini?
Penyangkalan?
Tunggu!
Pergerakanku terhenti. Apa aku barusan nyangkal tentang aku yang nggak punya perasaan apa-apa sama Nevan? Iya, nggak mungkin aku nggak punya perasaan sama Nevan. Dia sahabat terbaikku, tentu saja.
Duh, sakit lagi.
"Nevaaan! Kamu enggak ada tapi kok nongol terus sih?" di kepalaku! Dia nongol terus! Ini pasti gara-gara baju yang kupake. Tapi masa iya perasaan sakit itu juga karena gaun ini? Salah apa gaun cantik ini? Enggak ada. Kasian ih, disalahin.
Jemariku mengusap bagian pinggangku yang sudah terbalut gaun. "Maaf, ya. Aku nggak sengaja nyalahin kamu."
"Kak Rena kenapaaa?" Rossie tiba-tiba nongol, diikuti Andy di belakangnya. Wajah mereka berdua panik. Aw, mereka khawatir sama aku? Jadi terharu, kan.
"Nggak banget kalo Kak Rena teriak karena liat kecoak," gumam Andy.
Aku mendengus sebal. "Bukan!" kemudian aku merasa pipiku terasa panas saat sadar suatu hal. Tungguuu! Aku kepikiran Nevan kan dari tadi? "Kenapaaa?!" teriakku tanpa sadar.
Kening Rossie dan Andy berkerut dalam ketika aku menerobos keluar kamar mandi dan langsung duduk di sisi ranjang. Kedua tanganku menutupi wajah. Apa ini? Kenapa? Aku bener-bener nggak ngerti kenapa tiba-tiba jantung aku berdetak nggak karuan.
Ini bukan pertama kalinya aku merasa kayak gini. Sebelumnya juga pernah. Beberapa kali. Tapi kayaknya aku nggak musingin banget. Aku nggak mau kepikiran hal yang bahkan aku nggak ngerti.
"Kakak kenapa?" Rossie duduk di sampingku.
Kenapa?
"Kakak sakit? Dari tadi kok, megangin d**a aja?" tanyanya perhatian.
Aku bahkan nggak ngerti sama perasaan ini. Jadi, gimana aku bisa ngejawab pertanyaan Rossie? Apa aku harus bilang kalau tiba-tiba d**a aku terasa penuh, sesak, tapi menghangat di saat bersamaan. Rasanya aku ingin meneriakkan sesuatu, tapi nggak tau apa...
"Apa Kak Nevan nggak bilang apa-apa sama kamu, sebelum dia ilang ke tempat antah berantah yang nggak aku tau?" aku benar-benar ingin ketemu Nevan.
Rossie menggeleng. "Kayaknya enggak ada deh, Kak," jawabnya yakin.
"Kak Rena," suara Andy mengalihkan pandanganku. "Kata Kak Nevan, kalo dia tiba-tiba ilang, Kakak disuruh buka laci meja belajar dia."
Keningku berkerut. Andy yang tengah melayang di atas meja belajar membuatku medekat dan menunjuk beberapa laci yang berderet di sana.
"Buka laci ini?" tanyaku, dihadiahi anggukan kepala. "Ada apaan di dalemnya?"
Andy mengangkat bahunya.
Aku menghirup napas dalam kemudian mengeluarkannya dengan sangat perlahan, berusaha meredam degup jantungku yang sudah berpacu gila-gilaan. Tanganku terjulur, menyentuh bagian bawah laci dan menariknya keluar.
Laci teratas, hanya ada buku catatan dan modul kuliah. Mataku melirik Andy, namun ia menyambut dengan gelengan kepala. Dia masih tidak mengerti. Laci kedua, berisi peralatan tulis, bercampur charger ponsel serta earphone dan teman-temannya.
Benar-benar, bikin aku penasaran.
Akhirnya aku membuka laci ketiga, dan di sana ada buku tahunan. Ini adalah kenang-kenangan saat kami masih SMA. Aku sedikit kecewa karena tidak menemukan apa-apa, tapi selanjutnya aku memutuskan untuk mengambil buku tebal itu dan membukanya satu per satu.
Aku ingat para guru yang selalu bersikap baik, meskipun sikapku suka di luar pemikiran mereka. Tetapi, mereka dengan baik selalu membimbingku, bahkan kepala sekolah sampai mengutus Nevan untuk membantuku lulus. Aku tersenyum, begitu banyak orang baik di sekitarku.
Berdampingan dengan orang baik, para siswa dan siswi yang senang mengejekku masih kuingat jelas wajahnya. Ah, mereka juga selalu mengejekku yang bersama dengan Archie. Aku penasaran dengan burung kecil itu. Bagaimana kabarnya sekarang?
Tiba-tiba saja, Rossie menyentuh tanganku dengan cengiran lebar. Andy pun mengikuti perilaku Rossie dan ikut menggenggam tanganku. Meski kami tidak bersentuhan secara fisik, namun aku bisa merasakan hangatnya perasaan mereka dari cara pandang kedua bocah kecil itu.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Makasih ya Kak, selama ini selalu ada buat kita yang bandel ini ...," Rossie berjeda, "Kakak udah kita anggep sebagai kandung kami, meski pun suka aneh, tapi Kakak tuh baik banget."
Andy nyengir lebar. "Maaf ya Kak, kita suka nyusahin ..."
Aku tersenyum kecil. "Aku juga perlu bilang makasih, karena kalian, aku ngerasa lebih seneng. Nggak kesepian lagi. Aku punya banyak temen sekarang, meski bukan manusia ...," aku terkekeh pelan. "... tapi aku tau, ini lebih baik dari sebelumnya."
Andy dan Rossie mengangguk senang.
"Dan cuma hal ini yang bisa kita kasih ke Kakak," tiba-tiba saja gelang perak keluar dari dalam laci yang kubuka tadi, melayang rendah ke arahku. "Kita minta beliin Kak Nevan, buat hadiah ulang tahun Kak Rena."
Oh ya ampun. "Kalian yang pilih?" tanganku terangkat dan mnegambil gelang dengan hiasan bunga di tengahnya itu. "Bagus banget."
Dan ini bener-bener cocok di tanganku. Apa Nevan juga ikut ambil bagian dalam memilih gelang ini? Tunggu. Tunggu. Mereka berdua nggak mungkin kan beli gelang ini dalam bentuk roh? Tadi mereka bilang apa? Minta beliin sama Nevan?
Kepalaku terangkat, hendak bertanya namun terhenti karena Rossie sudah bersuara.
"Kita sampe nakut-nakutin tukang jualannya lho Kak! Mereka kaget karena uang dan gelangnya terbang-terbangan gitu. Beberapa orang yang liat langsung foto kita. Takjub gitu," celoteh Rossie.
Aku mengedip beberapa kali kemudian tertawa.
Buku di pangkuanku berguncang, lalu terjatuh ke dekat kakiku. Membuka di salah satu tengah buku, tepat di kelasku. Tepat di mana fotoku ditampilkan. Tapi ada sesuatu di sana. Selembar kertas.
Aku terkesiap dan mengambilnya. Itu tulisan Nevan.
Dear Rena,
Kalo kamu baca surat ini, itu artinya aku udah nggak ada di sisi kamu. Karena aku nggak mungkin ngebiarin kamu baca surat ini di saat aku masih ada di dunia ini. Mendingan ngomong langsung, bukan? Hehe. Namanya pengakuan, nggak asik kalo nggak langsung.
Oke, aku mau bilang, makasih karena saat itu udah nyelametin aku dari rasa malu yang teramat besar. Mungkin kamu nggak inget, tapi, pertama kali kita masuk SMA, aku jatuh tepat di depan gerbang sekolah pas lagi rame-ramenya. Wuah, semua anak-anak langsung ngetawain dan aku nggak tau harus gimana. Bergerak pun nggak mampu. Tapi pas itu, kamu dateng dan langsung mengulurkan tangan ke aku. Senyuman lebar itu tampak, tepat setelah kamu bilang, "kamu nggak apa? Kalo jalan itu jangan bengong, kasian tuh jidat kamu merah."
Astaga, kalo diinget-inget rasanya aku mau ketawa aja. Malu banget. Tapi di sisi lain, aku malah ngerasa lucu karena perkataan kamu. Kamu khawatirin jidat aku di saat sikut aku berdarah? Astaga haha. Terus aku bangkit, dibantu sama kamu. Tapi pas aku mau tanya nama, kamu langsung lari gitu aja kayak dikerjar sesuatu. Haha. Kamu lucu banget, Rena.
Semenjak itu, aku selalu merhatiin kamu. Kamu itu unik. Berbeda dari yang lain. Orang-orang selalu anggep kamu rendah, jelek, dan berpikiran negatif tentang kamu. Padahal aku tau, kamu itu baik banget. Dan senyum kamu, sayang banget nggak ada yang sadar kalau senyuman kamu bener-bener manis.
Suatu hari di ruang guru, aku denger mereka bicarain nilai kamu yang buruk. Mereka juga membicarakan perilaku siswa lain yang selalu ganggu kamu. Mereka ingin ada seseorang yang jaga dan bimibing kamu. Saat itulah, aku langsung masuk dan mengajukan diri untuk jadi pembimbingmu.
Kamu mungkin nggak tau, tapi itu adalah langkah awalku untuk deketin kamu. Yah, meski aku tau, kamu nggak punya rasa yang sama kayak aku, tapi aku seneng kalo kamu pengen berada di sisi aku. Di samping aku. Itu udah cukup banget, Rena.
Kalo aja aku masih ada di samping kamu, aku mau bilang, aku sayang sama kamu. Jangan lupain aku ya, Rena.
Surat itu berakhir, diikuti cairan panas yang mengalir dari mataku. Aku menunduk, membiarkan tetes demi tetes air mataku membasahi kertas berwarna biru muda yang ditulis Nevan ini.
Nevan ...
Sekarang aku tau apa arti dari perasaanku ini. Terima kasih untuk suratnya, Nevan. Terima kasih untuk memberitahuku semua ini. Terima kasih karena telah menjawab kembimbangan hatiku.
❤❤❤
Aku masih duduk di pinggir ranjang Nevan, tapi saat ini sendirian. Rossie dan Andy sudah pergi entah ke mana. Yang pasti, mereka langsung menghilang ketika aku membaca surat dari Nevan.
Sudah berulang kali, mungkin puluhan kali, aku membacanya. Dan air mata itu terus mengalir, tumpah ruah. Aku bingung harus bagaimana. Ingin menjelaskan perasaan ini namun Nevan tak ada. Dia belum kembali.
Tiba-tiba saja, pintu kamar Nevan diketuk seseorang. Aku menoleh, masih diam saja dan tidak berniat menjawabnya. Kalau dia mengetuk kamar Nevan, artinya dia mencari Nevan. Karena cowok itu tak ada di sini, aku nggak perlu menjawab ketukan itu apalagi membukakan pintu kamar.
"Rena," aku terkesiap mendengar suaranya. "Aku tau kamu di dalem ...," dia berjeda, "... buka dong. Aku mau ketemu sama kamu."
Telingaku ini masih normal dan aku yakin kalau aku nggak salah dengar. Suara itu adalah suara yang kurindukan. Yang kucari-cari beberapa hari ini.
Aku segera membuka pintu, dan benar saja, pemuda itu berdiri di sana dengan kemeja putih kotak-kotak. Sangat rapi, seperti dia akan menghadiri acara kampus.
Nevan. Aku sangat merindukannya.
"Kamu ngapain sih di dalem? Lama banget nggak buka-buka," dia menggerutu, aku rindu itu. "Kamu nggak tau apa ke sini tuh susah banget. Papaku itu sengaja ngurung aku di dalem rumah. Dia masukin Andy ke dalam tubuh aku dan ngelabuin pihak rumah sakit kalo aku udah baik-baik aja. Jasad aku dibawa ke rumah, dan aku langsung ditarik masuk ke dalem tubuh!"
Jemarinya menyisir rambut ke belakang dengan gusar, tapi penjelasannya tidak berhenti. "Aku tau Papa bisa balikin aku ke dalem tubuh. Tapi apaan coba maksudnya ngebiarin aku jadi roh selama ini? Kenapa juga dia segala ngumpetin aku di rumah? Nggak boleh ke mana-mana. Dipenjara di rumah sendiri," bibirnya mencebik lucu. "Bahkan Airi sama Beryl pun sekongkol sama Papa buat ngumpetin aku. Mereka nyebelin banget, kan?"
Aku nggak bisa berkata apa-apa, tapi kakiku maju selangkah dan langsung menubruknya. Lenganku melingkar erat. Aku memeluknya sepenuh hati, membiarkan kerinduan ini tersalurkan pada Nevan.
"Re-Rena? Ada apa?" tanyanya bingung.
Aku menggeleng. "Nggak ada apa-apa," aku berjeda, "tapi kayaknya aku tau kenapa Papa ngumpetin kamu di rumah."
"Kenapa?" tanyanya bingung, namun aku tak menjawab.
Karena Nevan menghilang, aku merasakan kerinduan dan menyadari perasaan yang meluap-luap ini. Air mataku sudah menyatakannya bukan saat membaca surat Nevan itu?
Aku menyukai Nevan, tanpa kusadari perasaan manis itu sudah sebesar ini. Tak terbendung. Apa karena ini pertama kalinya aku jatuh cinta? Pasti.
Perlahan, aku menyadari tangan Nevan dengan kikuk mencoba untuk memelukku dan akhirnya, tangannya melingkar erat di pundakku. Memelukku erat dengan ujung dagunya yang menyentuh puncak kepalaku. Aku merasakan dia tersenyum.
"Rena, makasih karena tetep ada di sini," ucapnya pelan. "Makasih karena tetep di samping aku. Aku bener-bener bahagia sekarang."
Aku tau itu, Nevan.
Meski aku sudah tau, namun kepalaku mengangguk samar mendengar ucapannya. Kemudian ketika aku akan merenggangkan pelukan kami, Nevan menghentikannya.
"Jangan dilepas dulu," dia mengeratkan pelukannya. "Aku masih mau kayak gini. Sebentar lagi. Nggak apa, kan?"
Sebenarnya, aku hanya ingin melihat wajahnya. Penasaran dengan ekspresi yang ditampakkan. Tetapi, berada di pelukannya begini juga nggak masalah. Bahkan sangat meyenangkan. Kalau saja aku bisa berteriak, aku akan memberitahu dunia bahwa saat ini aku sangaaaat bahagia.
Tapi aku nggak melakukannya. Aku hanya diam, menunggu hingga Nevan melepaskan pelukan hangatnya.
"Rena," suaranya berubah menjadi horor. "Kamu abis baca apaan itu?"
Aku mengedip beberapa kali. Baca apaan?
Dalam hitungan detik, pelukan kami merenggang dan terlepas. Mataku mengikuti arah pandang Nevan. Ke arah kanan. Matanya bukan melihat ranjang, tapi mengarah pada kertas di sebelah buku kenangan kita saat SMA dulu. Tepat di mana aku meletakkan surat Nevan.
Dia berjalan dengan sangat perlahan, mengambil kertas itu dengan wajah kaget.
"Kamu ... baca surat ini?" tanyanya, tanpa menatapku.
Aku diam.
"Rena, jawab aku," dia kini berbalik arah, menghadapku.
Sedangkan aku hanya bisa menunduk, memainkan tautan jemari dengan gugup. Bingung juga sebenarnya, mau menjawab apa. Karena surat yang k****a itu kan berisikan sesuatu yang sangat pribadi. Kalau Nevan tau aku membacanya, apa dia akan marah?
Baru saja aku akan mendongak, mataku menangkap kaki Nevan yang berada tepat di depanku.
Tangan hangat itu menangkup wajahku, mengakibatkan pandanganku tepat menatap maniknya. Wajahnya berubah serius, namun ada semburat merah di sana.
"Kalo kamu keberatan sama perasaan yang kupunya, kamu bisa anggep perasaan aku nggak ada. Yang jelas, aku mau kita tetep deket kayak sekarang. Nggak apa kan?"
Aku tak bisa bergerak sedikitpun. Dia bilang aku harus berpura-pura nggak pernah tau tentang perasaannya dia? Terus, perasaan aku gimana?
"Ta-tapi ..." suaraku tercekat.
Nevan menungguku melanjutkan kalimat, namun aku sama sekali tidak berucap sepatah kata pun sampai lima menit ke depan. Kami hanya beradu pandang dengan mulut terkunci rapat.
Sampai akhirnya Nevan menghela napas dan menjauhkan tangannya dari wajahku. Ah, suhu panas tubuh Nevan berganti menjadi sapuan udara dingin yang menerpa kulitku. Tapi anehnya, pipiku terasa panas.
"Jadi, buat hari ini," Nevan berdehem, membuyarkan lamunanku tentang ucapannya tadi. "Aku udah nyiapin dari jauh-jauh hari."
Aku mengangkat wajah, memandang Nevan yang mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Boneka burung, cukup besar untuk kupeluk tiap malam. Aku ingat Archie.
"Sebenernya aku mau beliin hal lain yang mungkin aja bisa bikin kamu tambah cantik," tiba-tiba dia batuk, "ehm, maksudnya, aku pengen beli sesuatu yang bisa melengkapi penampilan kamu saat ini. Tapi kayaknya hadiah itu hanya cocok dikasih sama seorang pacar," dia berjeda kemudian menyerahkan boneka besar itu padaku. "Jadi, aku beliin kamu boneka ini. Maaf kalo kamu nggak suka."
Aku suka banget. Sukaaa banget.
Tanganku langsung memeluk boneka itu dengan erat. Aku kangen Archie. Kalau aku ke pemakaman itu, apa aku akan bertemu dengannya?
"Kamu tau kalo hari ini hari ulang tahun aku?" tanyaku bingung.
Nevan mengangguk. "Tau. Aku dan yang lainnya udah rencanain mau ngadain pesta kejutan buat kamu, tapi nyatanya, malah gagal gara-gara aku," dia terkekeh, menggaruk ujung hidungnya. "Mungkin lain waktu rencanaku bakalan berhasil."
"Kamu dateng ke sini juga udah kejutan banget buat aku," aku tersenyum, menunduk malu.
Kami tak saling berbicara selama beberapa saat. Suara detik jam seperti saling berkejaran, berlari semakin jauh. Meninggalkan kami yang hanya diam di tempat. Waktu diantara kami seperti terhenti.
Mataku melirik Nevan yang tengah memandangi jendela kamarnya yang langsung menghadap langit malam. Ada senyuman tercetak jelas di sana. Menular pada bibirku untuk tertarik ke atas, membentuk setengah lingkaran. Aku hanya tersenyum singkat karena Nevan sudah berpaling menatapku.
"Ngomong-ngomong, tadi pas aku dateng matamu merah, ya," dia memiringkan wajah. "Kenapa? Sekarang juga masih agak merah," tambahnya lalu bangkit.
Dia berniat mendekat! Kalau dia sampai sadar aku habis menangis, apa yang harus kukatakan padanya? Berkata bahwa aku menangis karena mambaca suratnya? Berkata bahwa aku ingin mengucapkan aku sayang kamu tapi nggak bisa keluar dari mulutku?
"Aku punya lagu buat kamu," suaraku membuat Nevan berhenti bergerak.
"Lagu apa? Kamu nyanyiin sendiri?" tanyanya bingung setelah kembali duduk di sisi ranjang.
Aku menggeleng. "Dengerin aja ya," jawabku singkat kemudian mengambil ponsel dan mencari lagu yang sepertinya pas dengan suasana hatiku. Cocok dengan apa yang ingin kusampaikan untuk Nevan.
Setelah mendapatkan track yang kuinginkan, aku segera menekannya dan lagu mulai terdengar. Kuletakkan ponsel itu di depan boneka yang sedang kupeluk. Aku menyembunyikan wajah, tak ingin dia melihatnya.
"Baby, I got love for thee. So deep inside of me. I don't know where to start. I love you more than anything. But the words can't even touch what's in my heart," benar sekali, aku menyukai Nevan lebiiih dari apa pun di dunia ini.
"When I try to explain it I be sounding insane. The words don't ever come out right. I get all tongue-tied and twisted. I can't explain what I'm feeling." Sulit sekali bukan mengekspresikan apa yang ada dalam hati kita?
"All I'm tryna say is you're my everything, baby. But every time I try to say it. Words, they only complicate it."
Musik tetap terdengar, suara merdu Ariana Grande memenuhi kamar Nevan yang saat ini terasa sangat kosong karena hanya suaranya lah yang bergema. Memantul dari dinding ke dinding lainnya.
"See Baby, I been feelin' you. Before I even knew what feelings were about." Benar-benar lucu ketika kita menyukai seseorang tanpa sadar.
"Straight up you got me. All in, how could I not be, I sure hope you know. If it's even possible, I love you more. Than the word love can say it. It's better not explaining. That's why I keep saying ..."
Tiba-tiba, musik berhenti. Punggungku menegak bersamaan ponsel yang diambil tanpa izin dari genggaman tanganku. Boneka yang sejak tadi menutupi sebagian wajahku pun sudah menghilang entah ke mana.
"Kenapa nggak bilang langsung aja?" Nevan berjalan mendekat, mengambil tanganku dan menggenggamnya erat.
Aku menunduk. "A-aku nggak tau mu-musti gimana ...," berjeda, menelan ludah dengan gugup. "... ini ba-baru pertama kalinya aku ngerasain. Ja-jadi aku nggak tau musti gi-gimana."
Nevan membungkukkan badan agar tatapannya sejajar denganku. Dia melepaskan genggamannya dan meletakkan kedua tangannya di atas lututnya. Mau tak mau, mataku memandang maniknya.
"Malem ini kamu beda," gumamnya kemudian tersenyum.
Aku memalingkan wajah dan berusaha menghindar darinya, namun Nevan malah melangkah maju hingga punggungku menabrak dinding. Ini gawat. Jantungku mau meledaaak!
"Apaan sih Nevan? Beda apanya? Aku sama aja kayak biasanya," ujarku sebal.
Nevan terkekeh dan mengusap pipiku lembut. "Kamu gugup. Kamu lebih dewasa. Kamu juga lebih berani. Kamu nggak jujur. Kamu bertindak seperti ...," dia memutuskan kalimat, membuatku rasa penasaranku meningkat dan menatapnya penuh kebingungan.
"Seorang gadis yang sedang jatuh cinta," tambahnya penuh dengan nada penekanan.
Mataku melotot mendengarnya.
Nevaaan!
Wajahku panas. Panas. Panas!
Aku menunduk dalam, sama sekali nggak berani menatapnya balik. Ini baru pertama kalinya Nevan mandang aku kayak gitu. Serius. Dalam. Sekaligus lembut.
Tapi, aku ingin memandangnya lagi. Maka dari itu, kuberanikan diri untuk mendongak.
Kagetnya, wajah Nevan sudah merah parah. Mungkin sekarang wajahku juga semerah itu. Beberapa saat kami saling pandang akhirnya Nevan menjauhkan wajahnya. Dia memalingkan wajah dan mengusap hidungnya dengan gugup.
"Jangan liat aku kayak gitu," ujarnya pelan.
Aku menunduk. Apa yang salah dengan caraku menatapnya? Apakah aneh? Atau malah buruk? Aaaah bikin aku bingung harus melakukan apaaa!
"Kenapa kamu nggak bilang langsung aja?"
Kening Nevan berkerut, dia nggak jawab pertanyaan aku.
"Emangnya kamu puas, liat aku yang tau perasaan kamu lewat surat kayak gitu?"
Dia masih diam.
Aku menghela napas, ikut terdiam. Tapi aku nggak mau kayak gini teruuus! Aku menghirup napas dalam-dalam, kemudian memandangnya lekat.
"Nevan," aku melambaikan tangan, memberi isyarat padanya untuk mendekat.
Setelah dia mendekat, aku berucap, "kamu nggak penasaran sama apa yang aku rasain? Kamu mau mengabaikan perasaan aku?"
Dia menutup matanya sekilas, kemudian menbukanya dengan cepat sampai aku berhenti bernapas. Aku menahan napas saat dia menatapku tajam.
"Aku sayang sama kamu. Aku mau kita sama-sama terus mulai dari sekarang," dia menghirup napas dalam. "Aku mau kita lebih dari sekedar teman."
Aku masih membeku.
"Aku udah ungkapin semuanya sesingkat mungkin," dia berjeda lalu melirikku yang masih bengong. "Menurut kamu, gimana? Apa itu ide buruk kalo kita memiliki hubungan khusus?"
Kakiku berjinjit, tanganku terangkat dan melingkar di sekitaran pundaknya. Aku tersenyum lebar, menghirup aroma tubuh yang sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali bertemu.
"Itu ide yang bagus," aku tersenyum geli. "Aku juga nggak mau ada setan yang ngerebut Nevan dari aku."
Nevan balas memelukku yang sudah menenggelamkan wajah diantara lekukan lehernya. Aku bisa merasakan pelukannya mengerat, namun terasa semakin nyaman. Semua ini terasa benar adanya. Seharusnya, aku menyadari perasaan ini dari awal.
"Aku sayang kamu, Nevan."
Nevan menghela napas lega kemudian mengecup pipiku secara kilat. Aku terkesiap. Hampir saja aku melepaskan pelukan, namun dia nggak mengizinkan. Momen romantis diantara aku dan Nevan harus berakhir karena Andy dan Rossie yang tiba-tiba nongol dan berputar-putar di sekitar kami.
"CIEEE Kak Rena sama Kak Nevan CIEEEE!" mereka meledek, bersahut-sahutan seperti suara burung di pagi hari.
Aku hanya bisa menghela napas frustrasi. Enaknya jadi Nevan, bisa meluk aku tanpa sadar kalau Andy dan Rossie sedang mengitari kami.
Yahh, tidak apa lah.
Aku yakin sekali, segalanya akan menjadi lebih baik mulai sekarang. Karena aku sudah memiliki seseorang yang mengerti diriku yang menerima segala kekuranganku, serta beberapa teman hantu yang senantiasa hadir saat aku merasa sendirian.