[Ingin Bersama]

2104 Kata
Nevan's POV Udah dua hari sejak kecelakaan yang merenggut kesadaran gue. Dan sejak saat itu juga, gue jadi arwah gentayangan yang ngikutin Rena ke manapun. Oh, kecuali kamar mandi. Gue gak ikutin lho, ya. Kayak di kelas, Rena sengaja duduk dengan mengosongkan bangku di sebelahnya demi bisa gue dudukin. Ah, sebenernya gue juga bisa kok tetep berdiri merhatiin dia. Karena gue sama sekali gak pegel, jd berdiri seharian juga gak masalah. Asalkan liat Rena seneng aja, udah bikin gue nyengir bahagia. Ah, dia noleh ke arah gue. Ada cengiran lebar yang ditampakkan di sana. Kemudian, dia menuliskan sesuatu. - Nanti temenin aku ke suatu tempat, yuk. Itu yang tertulis di buku catatannya. "Mau ke mana emang?" gue bertopang dagu, menatapnya yang seperti berpikir. "Bukannya lusa ujian? Belajar dong, jangan main." Dia cemberut lalu menarik bukunya, menuliskan sesuatu di sana. - Aku bosen. Bosen. Bosen! "Belajar, Rena." - Gak mau! Nanti aja. "Terserah deh ah," kata gue cuek lalu kembali menatap papan tulis. Memperhatikan dosen, dong. Biar nanti pas ada ujian susulan, gue gak ikut remedial. Tapi... Apa gue bisa bangun? Gue menghela napas frustrasi. Memikirkan kemungkinan kalo gue gak akan hidup itu rasanya bener-bener bikin gue takut. Kalo nanti gue udah gak ada, siapa yang bakal jagain Rena? Siapa nanti yang bisa tahan sama tingkah ajaib cewek itu? Apa nanti orang yang di samping Rena bakalan jaga dia baik-baik? Gak akan nyakitin Rena? Argh. Mikirin itu bikin gue kesel sendiri. - Kamu ngapain? Emangnya gak sakit ya benturin kepala kayak gitu? Gue menghela napas lagi. Tangan gue menyisir rambut dengan kasar ke belakang. Bersandar pada sandaran kursi sebelum menghela napas dengan keras. "INI NYEBELIIIN!" teriak gue kencang. Rena hampir terjungkal dari kursinya karena melihat sikap gue yang aneh. Iya, gue aneh. Gue stress kalo gak bisa bikin Rena bahagia. Gue berdiri, diikuti dengan Rena yang mendongak. Kelas masih ramai dan gue membungkuk mendekati wajah Rena. Liat Rena yang khawatir bener-bener bikin gue bingung harus ngapain. Diantara senang dan juga sedih. Satu kecupan mampir di kening Rena. Meski gak sampe dua detik tapi gue bisa liat muka Rena yang merona. Dia mengedip beberapa kali, memandang gue dengan tatapan bertanya. Sedetik kemudian, dia menutupi sebagian wajahnya dengan buku. "Nevan, gak boleh kayak gitu di tempat umum," gumamnya. Gue tersenyum tipis lalu pergi keluar ruangan dari jendela. Ah, seandainya gue punya wujud, gue gak akan berani melakukan hal kayak gitu. Karena sekarang gue bisa ilang dan ngumpet, jadi gue berani melakukannya. Tapi, kalo gue balik ke tubuh, apa gue bisa seberani ini? Bukannya langkah yang gue ambil ini terlalu... buru-buru? Kalo Rena kabur, gimana? Enggak, dia gak akan kabur dari gue. ❤❤❤ Langit mendung. Gue duduk sendirian di undakan tangga depan pintu masuk kampus. Beberapa anak yang gue kenal masuk dan keluar gedung fakultas, menembus tubuh gue yang transparan. Gue gak ngerti kenapa ini kejadian. Dan Papa, dia sama sekali gak bergerak atau melakukan sesuatu. Dia pasti liat kan, kalo gue ada di luar tubuh kayak gini? Ya, kan? Terus, kenapa dia gak nolongin gue? Malah balik ke rumah. Ninggalin tubuh gue di rumah sakit. Sungguh terlalu. "Lho Kak Nevan ternyata di sini, toh?" suara Rossie terdengar dari atas, membuat gue mendongak dan tersenyum kecil. Dia melayang rendah lalu duduk di samping gue dengan kaki ditekuk. "Aku pikir Kakak ke mana. Tadi aku nyariin lho. Biasanya Kakak kan di kelas Kak Rena." Bukannya gue udah bosen di sisinya Rena, gue cuma ngerasa malu karena udah nyium kening dia tanpa izin. Ah, ngingetnya bikin malu sendiri. Kenapa gue melakukan itu cobaaa?! Tanpa sadar, gue tertawa kecil karena kelakuan aneh tadi. Yaudah lah, udah terjadi, gak bisa diulang. Itu spontanitas! "Kak Rena lagi ngapain?" "Hmmm," Rossie mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. "Tadi lagi ngobrol sama cowok gitu," cowok? "Dan Kak Rena kayaknya seneng banget." Gue langsung berdiri. "Dia lagi ngobrol di mana tadi pas kamu liat?" "Di kelas, Kak." Wuah. Bahaya level gebetan-diambil-orang nih! Gue harus buru-buru. Tapi, siapa juga yang kepengen ngobrol sama Rena, ya kan. Secara, dia tiap di kelas cuma diem. Palingan cuma gue, Yasmin, dan Carlos doang. Bah. Yasmin sama Carlos udah gak keliatan lagi. Bagus lah. Mereka udah gak ngincer gue atau pun Rena lagi. Baru aja gue mau jalan ke kelas, tiba-tiba Rena udah muncul dari balik tangga. Mukanya cemberut. "Kenapa?" tanya gue spontan. Dia membuang pandangan, mendengus. Lah, dia udah bisa ngambek sama gue, ya? Eh tapi, semenjak diculik sama Carlos itu dia emang sering ngambek gitu tanpa alasan yang jelas. Aneh banget, kan. "Rena, hei," gue mencoba menghentikan jalan dia yang cepet, tapi gak berhasil. "Aku mau ngomong sama kamu." "Ya udah, ngomong tinggal ngomong," gumamnya. Eh, ni anak kok ngeselin amat sih? Minta dicium ya. Eh. Salah. "Kamu kenapa sih?" gue melayang sampai berhenti tepat di depannya. Memberikan isyarat agar ia mau menghentikan langkah dan mendengar ucapan gue. "Nevan nyebelin," ujarnya singkat lalu pergi meninggalkan gue dan Rossie yang bingung. Kami saling pandang sebelum Rossie akhirnya melayang mendekati gue. "Kak Nevan lagi berantem sama Kak Rena?" Rossie bertanya dengan kening berkerut dalam. Gue menggeleng. "Lebih tepatnya, dia yang tiba-tiba marah sama Kakak." Rossie mengerutkan kening. "Kenapa?" lalu matanya melunak dan senyuman hadir di bibirnya. "Bukannya Kakak sama Kak Rena selalu baik-baik aja, ya?" Gue sama Rena selalu baik-baik aja? Kenapa Rossie bisa nganggep gitu? Sorot mata berbinarnya bisa gue artiin sebagai dia serius sama ucapannya. Ah, anak kecil mana ngerti. Kita memang baik-baik aja. Kita temenan, bersahabat--mungkin. Tapi, hati gue gak baik-baik aja. Dia harus mendapatkan kepastian. "Iya, kita memang selalu baik-baik." Yaaa, hubungan pertemanan gue sama Rena baik-baik aja. "Mungkin sekarang Kak Rena lagi kesel sama sesuatu, nanti juga baik lagi." Rossie mengangguk cepat. "Rossie seneng kalo Kakak sama Kak Rena bisa bareng-bareng terus!" Ah, itu juga keinginan gue, Rossie. Gue pengen bersama Rena selamanya, kalo bisa. "Kak Nevan bakalan ngabulin permintaan Rossie yang satu itu." "Kak Nevan suka sama Kak Rena, ya?" Suara Andy yang tiba-tiba terdengar hampir aja bikin gue lompat. Dia nongol dari balik dinding perpustakaan, menatap gue dengan cengiran lebar. "Jangan ngagetin gitu deh." Andy nyengir lebar. "KAK NEVAN SUKA KAK RENA! KAK NEVAN SUKA SAMA KAK RENA!!!" teriaknya bahagia sambil berputar mengelilingi gue. Rossie juga ikutan muter-muter dengan mata berbinar-binar. Bener-bener, bocah dua ini kenapa bisa nebak tepat sasaran? Apa perasaan gue terlalu keliatan jelas? "Heh," gue nangkep kedua kepala mereka. "Berisik. Mendingan pada main, gih." "CIYEE KAK NEVAN MALU-MALUUU!" teriak Andy lagi. Ah, gue gak tahan! Digodain sama dua bocah cilik memang bener-bener nyebelin. ❤❤❤ Akhirnya, setelah berjam-jam ngegodain gue, Rossie dan Andy nyerah. Mereka bosen, lebih tepatnya. Dan memilih untuk menghilang dan main. Ya, bener! Jauh-jauh sana! Daripada godain gue mulu. Dasar setan, kerjaannya gangguin manusia mulu. Eh. Gue kan sekarang juga setan. Sekarang, gue cuma lagi merhatiin Rena dari jauh. Ngeliatin dia yang lagi jalan nunduk sambil nendangin batu. Dia sesekali nyapa hantu yang lewat. Rena itu... dia bener-bener baik dan ramah. Hanya aja, jalan pikirannya suka beda dari yang lain. Tapi sekarang dia udah mulai keliatan normal, sih. Gak separah SMA dulu. Sesampainya di kosan, Rena langsung naik ke lantai atas. Gue tau, dia pasti bakalan masuk ke kamar gue. "Aku tau kamu di sana," Rena berbisik seakan gue ada di belakangnya. Dan ya, dia bener. Gue menghela napas. "Iya, aku di belakang kamu, Rena." Rena lalu mengambil kunci kamar gue dan membuka pintunya dengan santai. Masuk tanpa mengucapkan salam dan langsung menutup pintunya dari dalam. Bagus. Sekarang dia udah jadi pemilik kamar gue kayaknya nih. "NEVAAAN! BURUAN BALIK KE DALAM TUBUUUH!!" teriaknya kencang. Anjrit. Si Rena apaan coba? Teriak-teriak dari dalem kamar gue. Itu tetangga kamar langsung pada nongol semua. Nengok kanan kiri nyariin si Rena. Ah, semua penghuni kosan udah apal sama suara Rena. Gue menggeleng frustrasi dan memutuskan buat masuk ke dalem kamar. Tepat di pojokan kasur, dia duduk sambil meluk kakinya yang ditekuk. Gue gak bisa liat mukanya karena dia sengaja nyembunyiin mukanya di balik lipatan tangan. "Rena." Gue melayang perlahan mendekatinya. "Kamu kenapa, sih?" Dia menampakkan wajah kusutnya dan menatap gue sebal. "Tadi ke mana? Kok gak ikut aku ke rumah sakit?" "Aku nemenin Andy sama Rossie," gue berdusta. Ngapain juga gue nemenin mereka? Gak mungkin kan gue bilang abis ditarik paksa dan digoda abis-abisan sama mereka? Dua bocah itu tadi sama sekali gak mau melepaskan gue! "Tadi... Kamu marah kenapa? Apa karena aku.. Cium kening kamu tanpa izin?" cicit gue. Rena mengerutkan kening. Gue bingung. Kita hening. Suasana ini jadi aneh! Harusnya gue gak perlu bilang hal itu. Nevan begooo. "Kamu lebih seneng dalam bentuk roh, ya?" tanyanya tiba-tiba. Hmm, gimana jawabnya, ya? Bisa dibilang, jadi roh itu asik. Duh. Gue ketularan pikirannya si Rena nih. Gak apa, gak apa. Gak bakal ada yang nyalahin gue ini. Tiba-tiba aja, tubuh Rena terkulai. Jatuh begitu saja di atas kasur. "Rena?" gue mendekat, tapi pas mau nyentuh muka dia, ternyata dia udah nongol duluan di depan gue. Dia lepas dari tubuh. Anak itu sekarang dalam bentuk roh, sama kayak gue. Mak. Untung gue gak punya penyakit jantung. Kalo ya, bisa mati di tempat saking kagetnya. "Kamu lebih suka dalam bentuk roh?" mukanya serius, ini beneran, tumben banget. "Menurut kamu, gimana?" Dia menunduk dalam. "Aku gak ngerti, kenapa kamu gak balik ke tubuh kamu aja?" "Rena," bisik gue pelan, mendekat dan mengusap pipinya lembut. "Aku udah bilang ribuan kali kan, aku gak bisa. Atau lebih tepatnya, belum bisa." Duh, amit-amit banget gak bisa balik ke dalam tubuh. Rena keliatan mikir keras. Woah, sampe ada asepnya. Ren, jangan mikir terlalu keras. Kasian otaknya nanti konslet. "Tapi kata dokter gak ada yang salah," dia semakin menunduk. Entahlah, gue ngerasa dia sedih banget. "Fisik kamu udah sembuh total. Roh kamu juga gak sakit atau sekarat. Tapi kamu gak balik-balik ke dalem tubuh. Itu artinya ..." Rena mendongak tiba-tiba, bikin gue terkesiap karena tatapan polosnya menghilang entah ke mana. "Kamu lebih seneng jadi roh. Kalo gitu ...," tiba-tiba dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "... aku juga bakalan jadi roh selamanya." Mata gue terbuka lebar ketika gunting di atas meja belajar melayang. "Aku mau bareng sama kamu, Nev," tambahnya bersamaan dengan gunting yang terbang mendekati tubuh tanpa rohnya. "RENA!!" OH, suara gue meninggi, gak kayak biasanya. Spontan, tangan gue menahan pergelangannya. Bersamaan dengan itu, gunting yang sebelumnya hampir menancap di leher Rena langsung terlempar ke dinding. "Kamu mikir apaan, sih? Mau bunuh diri?" tanpa sadar, cengkraman gue menguat. "Jangan bego!" Gue tau roh kayak kita gak akan bisa mengeluarkan air mata, tapi liat Rena dengan muka melas bikin gue pengen nangis. Dia mendongak, manik matanya menatap gue yang udah bertumpu pada kedua lutut. Wajah gue menunduk, menatapnya tajam. "Abisnya aku bisa apa kalo gak ada Nevaaan," rengeknya. Ah, Rena. Apa lo mau bilang kalo gue harus ada di sisi lo selamanya? "Kamu harus bisa ...," gue menangkup wajahnya dengan perasaan campur aduk. "Jangan bergantung sama orang lain. Dulu, kamu bisa kan sendirian? Sekarang, kamu pasti bisa, Rena." Dia menggeleng keras, membuat hati gue mencelos. Rena... "Itu kan dulu, bukan sekarang!" teriaknya marah. "Sekarang, aku maunya sama Nevan! Pokoknya, kalo ke mana-mana harus sama Nevan! Berangkat pulang kampus barengan, di kelas juga kita barengan, makan bareng, bercanda bareng. Semuanya, harus bareng!" dia berjeda. "Tapi kalo mandi dan boker... Sendiri-sendiri ya..." Duh. Rena. Jangan. Bercanda. Gue terkekeh dan mengusap pipi kanannya dengan ibu jari. "Kamu maunya gitu?" Dia mengangguk. "Kalo nanti ujan, kita sepayung berdua juga?" "Gak ah, sempit," dia cemberut dan menggeleng. "Kalo aku bokek, kita makan sepiring berdua ya?" "Nanti kalo aku gak kenyang, gimana?" tanyanya dengan muka melas. Gue langsung ngakak dan mencubit pipinya keras. "Tadi katanya mau barengan terus? Gimana sih. Bohong nih." "Aku gak boong kok. Aku bener-bener mau barengan terus sama kamu. Tapi, gak semua hal harus dilakuin bersama, kan? Aku harus mikirin kesenengan kamu juga," dia mengambil napas dalam. "Kalo kamu bokek, aku bisa traktir kamu makan. Kalo kamu keujanan, aku bisa beliin kamu payung di supermarket terdekat. Aku gak mau kamu sakit. Terus—" "Iya-iya, aku ngerti," potong gue seraya menarik tubuhnya medekat. Gue gak ngerti, kok Rena bisa ngomong hal-hal kayak gitu, ya? Gue boleh seneng, kan? Boleh berharap, kalo dia punya rasa yang sama kayak gue? Papa, kayaknya anak Papa yang satu ini udah terbebas dari friendzone deh. Semoga. Mungkin gue harus memastikannya sekarang? "Rena," gue merenggangkan pelukan kami dan mendorong pelan tubuhnya menjauh agar bisa mematapnya tepat di manik. "Yaaa?" Jantung gue! Jantung gueee! Tolong bawa dia ke tempat aman dulu. Gue mau mengungkapkan perasaan, dan kalo gugup kayak gini, gak bakalan berhasil! "Aku mau ngomong sesuatu." "Apa?" tanyanya dengan wajah miring ke salah satu sisi. "Aku... " Sial. Kenapa suara gue gak bisa keluar? Kenapa semuanya menggelap? Rena ke mana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN