Rena's POV
Udah beberapa bulan sejak kejadian penculikan itu. Sebelum Papa Nevan pulang, dia sempet ngejelasin tentang asal muasal sosok ular yang menghantuiku.
Dulu, pas masih hidup, dia suka banget ngoleksi binatang-binatang liar yang ditangkep sama pengawal pribadinya. Kayak buaya, harimau, landak, burung elang, dan tentu aja ular.
Nah kemudian, suatu hari ularnya itu nyelusup masuk ke dalam rumah dan bikin lemarinya berantakan. Gak tau ngapain, mungkin mau betelor? A-ah, Papa Nevan gak cerita alasannya. Intinya sih, karena marah, ular itu disiksa abis sama dia. Ah, sebutnya Yasmin aja deh. Kan dia sodara kembarnya Carlos.
Ular itu dibiarin kelaperan di dalam ruangan kaca tembus pandang dengan pasir panas yang selalu kena sinar matahari. Setelah beberapa bulan, akhirnya ular itu sekarat. Dan Yasmin dengan kejamnya ngulitin dia, tapi cuma sampe bates kepala. Ular itu masih hidup setelah dikulitin sama Yasmin. Dan para pembantu yang liat kejadian itu kayak ngutuk Yasmin... Dan akhirnya tubuh dia berubah jadi ular deh.
"Kak Nevan lama," Rossie menggerutu sebal.
Aku cuma bisa mengangkat bahu dan memutar koin receh yang tadi kutemukan di sini. Ah, Andy lagi ngumpet di balik meja. Entah ngapain.
"Mungkin Nevan lagi boker," sahutku sekenanya. "Kamu tau sendiri kan, Nevan itu diem-diem hobi pup."
Kepala Rossie manggut-mamggut. "Iya, aku tau, Kak! Kemarin aja, pas dia baru bangun dari nyelamtein Kak Rena itu, dia bolak balik ke kamar mandi terus lho, Kak. Aneh, ya Kak?"
Mungkin perut Nevan gak kuat nahan gejolaknya. Sabar ya Nevan. Aku tau kamu takut sama hal kayak gitu, tapi mereka gak semuanya jahat, kok. Buktinya, Andy sama Rossie, selalu sama aku. Mereka baik, banget malah.
"Nunggu lama?" suara Nevan bikin kepalaku mendongak.
Aku cemberut. "Nevan kalo lagi kebelet boker di sini aja, kamar mandinya bersih, tau. Aku gak enak nunggu sendirian terus. Sebel."
Gak tau kenapa, sekarang ini aku sering banget ngambek sama Nevan. Kayak kejadian di rumah megahnya Carlos itu, pas Nevan lagi tatap-tatapan sama mbak-mbak rambut panjang. Sumpah deh, disitu aku bete berat makanya langsung nampar Nevan tanpa sadar.
Tiba-tiba aja, tangan Nevan terasa mengusap puncak kepalaku. "Ngambek mulu sih lo. Gue cuma telat kali ini, kali." tubuhnya bergeser. "Sorry gue telat, tadi ngobrol sama mereka dulu soalnya."
Mataku melirik salah sepasang muda mudi yang terlihat nyengir barengan. Si cowok, aku pernah liat. Tapi di mana ya. Apa jangan-jangan, dia salah satu setan yang pernah aku temuin entah di mana? Hiiiy!
"Halo Kak," sapa si cewek tiba-tiba. Dia mendekat dan ngambil tanganku. "Kita ketemu lagi."
Keningku berkerut samar. "Kita pernah ketemu di dunia sana, ya?" tanyaku refleks.
Cowok di sebelah Nevan lantas tertawa dan menyenggol lengannya. "Ini cewek yang selalu lo ceritain? Gila, unik banget."
Nevan langsung masang muka datar. Aku bisa liat cowok di sebelah Nevan menjerit tertahan karena kakinya kena injek Nevan. Dia siapa sih?
Tunggu. Tunggu. Tunggu. Nevan pernah cerita tentang aku? Cerita apa? Jangan yang aneh-aneh ya! Eh. Tp kan, aku udah aneh dari sananya juga.
"Aku ikutan duduk sini ya, Kak Rena," gadis itu langsung duduk cantik di sampingku yang masih bengong.
Oke. Aku gak tau dia siapa, tapi dia tau siapa aku. Aneh, ya. Apa jangan-jangan aku udah terkenal? Wuah, ini kemajuan besar. Aku harus merayakannya.
Tapi kemudian, terdengar teriakan histeris Andy. "Kakaaak kakiku diinjek sama diaaa! Kak Renaaa!"
"Eh, eh, kamu nginjek kaki Andy," ujarku sambil melongok ke bawah kolong meja cafe.
Andy keliatan bete berat. Andy, emangnya sakit ya kalo kena injek manusia? Kayaknya pas aku jd hantu juga, nembus tembok pun gak apa-apa. Terbang kesana kemari sesuka hatiii.
Ah, aku memang lagi nungguin Nevan di sini. Ditemenin sama Andy dan Rossie, seperti biasa. Rencananya sih, aku sama Nevan mau pergi gitu. Dia ngajakin nonton film. Yaudah, aku sih mau aja.
"Andy?" tanya cewek itu bingung.
Aku mengangguk. "Oh ya. Kamu siapa? Aku gak pernah liat kalian berdua. Eh salah, kalo cowok itu," jedaku sambil menunjuk cowok di sebelah Nevan. "Kayaknya aku pernah liat deh..."
Nevan berdeham. "Rena, ini Beryl, temen main gue di rumah. Lo pasti pernah liat dia, karena dia satu fakultas sama kita," aku mengangguk mengerti lalu pandangan Nevan tertuju pada gadis itu. "Kalo dia, namanya Airi, pacar Beryl. Dia junior kita."
Ah, denger kata junior ngingetin aku kalo sekarang kita udah di tingkat dua. Waktu bener-bener cepet berlalu ya. Archie, dia apa kabar, ya?
"Kita sering papasan di kantin," ujar Beryl.
Aku mengernyit bingung. "Masa sih? Aku kalo di kantin biasanya ketemu sama makanan."
Nevan terlihat mendengus sebal sebelum akhirnya tertawa kecil dan saling tatap dengan Beryl. Airi pun, di sebelahku hanya terkekeh, gak ngomong apa-apa.
Ih! Orang-orang kenapa sih? Ketawa kok gak ngajak-ngajak. Bikin sebel sendiri, kan.
"Nevan, kita jadi nonton gak sih?" pertanyaanku membuat canda tawa mereka terhenti.
Mata Airi dan Beryl menatap Nevan dengan tatapan aneh. Euh, aku gak ngerti kenapa mereka ngeliatin Nevan kayak gitu. Nevan juga, senyum-senyum gaje sambil garuk-garuk kepala. Setauku, dia gak punya ketombe deh.
"Kita duluan, ya," ujar Nevan akhirnya, menarik tanganku dan berjalan keluar cafe setelah tersenyum singkat pada keduanya.
Rossie dan Andy sudah pergi entah ke mana.
"Nevan, mereka itu siapa?" tanyaku lagi.
"Hmm?" dia bergumam, melirikku sebentar lalu matanya kembali pada jalanan. Mencari taksi kosong. "Tadi kan udah gue kenalin, mereka Airi dan Beryl."
Aku manggut-manggut, tapi entah kenapa aku gak suka banget Nevan ketemu sama cewek yang gak kukenal identitasnya. Hmm, maksudnya, aku baru pertama kali ketemu sama dia. Tapi kenapa dia tadi bilang 'Ketemu lagi' ya, apa aku pernah ketemu sama dia sebelumnya?
"Ayah Airi udah meninggal. Dan lo pernah ketemu sama dia sebelumnya, di warung makan deket kosan. Lo ngomong sama arwah bapaknya."
Penjelasan Nevan bikin aku mikir keras. Kayaknya pernah ada kejadian kayak gitu, deh. Ah, inget! "Hari di mana kita ketemu sama banci juga, ya?"
Muka Nevan langsung gak enak. "Kenapa lo ingetnya sama banci sih?" tanyanya sebal.
Aku terkekeh. "Aku inget waktu itu Nevan gugup banget, mau kenalan aja—"
"Stop," Nevan membekap mulutku. "Gue gak gugup. Pas itu gue cuma ngeri aja kalo dicolek-colek sama banci macrm dia. Hih."
Nevan lucu. Ngaku aja sih, kalo malu kenalan sama orang baru. Lagian salah sendiri, kenapa gak ikut kenalan sama dia pas itu.
Kemudian, hening menyelimuti kami. Nevan tampak diam saja, matanya fokus ke arah depan tanpa melirikku sedikitpun. Kalau diperhatikan, Nevan itu... ganteng. Dia juga baik banget, udah jagain aku selama ini. Makasi ya, Nevan.
Aku tersenyum dan tanpa sadar mengeratkan genggaman kami. Tangan Nevan terasa tengang sepersekian detik, tapi kemudian dia menatapku dengan kernyitan samar.
"Apa?" tanyaku tiba dia hanya diam memandangiku.
Dia menggeleng dan kulihat ada semburat merah di wajahnya. Aku mengernyit bingung. "Nevan sakit? Mukanya kok merah?"
Bukannya menjawab, dia malah membuang pandangan. Ih, Nevan kenapaaa? Kalo sakit bilang dong! Kita gak usah pergi hari ini!
"Gue gak sakit," gumamnya tiba-tiba.
"Terus kenapa muka kamu merah?"
Dan jawaban yang diberikan Nevan hanya tangannya yang berbalik menggenggamku erat. "Jangan dilepas, ya," bisiknya pelan. "Aku gak mau kamu ilang lagi."
Saat itulah... Detakan di dadaku terasa semakin kuat. Berdentum-dentum seperti ada konser musik di dalamnya. Aku penasaran. Tanganku terangkat, menyentuh dadaku yang ternyata benar adanya. Ada perasaan gugup, namun aku menyukainya.
"Nevan, kenapa dadaku deg-deg'an gini, ya?"
Dia menoleh bingung.
Aku menatapnya penasaran. "Di sini," aku menekan pelan dadaku. "Rasanya hangat dan nyaman."
Matanya melebar sedetik, namun kemudian tangannya yang bebas menutup wajah memerahnya. "Bagus dong. Kita ngerasain hal yang sama."
"Oh yaaa?" mataku mengedip senang.
Dia mengangguk pelan, lalu aku bisa melihat ada senyuman tipis di bibirnya. Aku pun, tanpa sebab ikut tersenyum.
Sampai akhirnya sesuatu yang mengerikan terjadi.
Dari kejauhan, aku melihat sedan hitam yang dikendarai dengan kecepatan gila-gilaan menabrak pembatas jalan. Melayang sejenak dengan gerakan berputar sebelum akhirnya terjatuh ke arah kami.
Dan Nevan, dia mendorongku menjauh hingga punggungku menabrak batang pohon. Disusul dengan suara hantaman keras yang memekakkan telinga.
Kejadiannya begitu cepat.
"Kamu gak apa-apa?" seorang ibu bertanya, namun aku sama sekali tak menjawab dan memilih untuk bangkit.
Berlari mendekati Nevan yang sudah dikerubungi banyak orang. Mobil yang tadi menabrak Nevan sudah menghancurkan beberapa motor yang terparkir rapi di depan cafe.
"Nevan..." panggilku pelan ketika aku berhasil menembus kerumunan orang-orang.
Beberapa orang yang mendengarku memanggil nama orang yang berbaring tak berdaya di aspal lantas bergerak menjauh, memberikan ruang padaku untuk mendekat.
"Nevan!" teriakku lagi.
Aku takut.
Dia sama sekali tak bergerak. Kepalanya berlumuran darah, sangat banyak hingga aku merasa ngeri sendiri. Aku benar-benar ketakutan sekarang.
"Rena, aku di sini."
Suara berat Nevan membuatku membuka mata. Tepat di atas tubuhnya, ada Nevan melayang. Dia transparan.
❤❤❤
"Anda keluarga dari anak ini?" tanya Dokter itu pada Papa Nevan. Ketika dihadiahi anggukan, ia melanjutkan ucapannya. "Ada yang ingin saya bicarakan pada Anda."
Setelah berbincang beberapa saat dengan Papa Nevan, mereka pergi meninggalkan aku dan Nevan yang masih mematung. Kami saling padang selama beberapa detik sebelum beralih menatap tubuh Nevan yang berbaring di ruangan berdinding kaca tembus pandang.
"Nevan bisa masuk ke dalam tubuh sekarang, kan?" tanyaku pelan.
Dia menggeleng. "Aku udah nyoba daritadi, Rena."
"Pasti bisa, kan?"
Kepalanya kembali menggeleng, membuatku kesal. Entah, aku juga gak ngerti sama perasaanku yang seperti ini. Aneh. Melihat Nevan yang terlihat menyerah membuatku kesal.
Aku menoleh ke arahnya. "Kamu harus nyoba lagi, Nevan! Seribu kali pun, harus nyoba. Jangan nyerah," suaraku mengecil, dan entah kenapa kata-kataku selanjutnya seperti tersendat di tenggorokan.
"Aku udah coba, Ren, tapi, gak bisa..." bisiknya pelan.
Tubuhku mundur beberapa langkah, terduduk di kursi tunggu berwarna kebiruan. Kedua tanganku saling berkaitan, menopang kening yang sudah menunduk dalam.
Perasaanku benar-benar campur aduk sekarang. Aku tak mengerti. Kenapa aku masih bisa khawatir seperti ini, padahal kenyataannya Nevan masih bisa kulihat? Aku juga masih bisa merasakan kehadirannya. Masih bisa berbicara, bercanda.
Tetapi... kalau hanya dalam wujud roh...
Aku gak mau!
Aku pengen kita makan bareng, bercanda bareng, dan anehnya, aku ingin mengaitkan jemari kami seperti tadi. Aku ingin merasakan kehangatan yang baru kurasakan.
"Nevan..." yang dipanggil bergerak mendekat, aku bisa melihatnya dari ekor mata.
Aku takut, takut dia menjauh dan menghilang.
"Nevan jangan jauh-jauh, di sini aja," bisikku pelan, lalu mendongak. Menatapnya tepat di manik. "Tapi aku mau Nevan di samping aku dalam wujud manusia... Bukan bentuk roh gini," isakan mulai keluar dari bibir.
Beberapa orang mulai memperhatikanku yang tengah berbicara sendirian seperti orang gila. Aku gak peduli!
Nevan semakin mendekat. Tangannya melingkar di sekitar tubuhku dan memelukku erat. Aku menangis kencang di d**a Nevan. Semakin dia berusaha memelukku, semakin aku menangis keras karena frustrasi tak bisa menyentuh wujudnya. Aku ingin Nevan kembali.
"Maaf, maaf," Nevan berbisik di telingaku, "Maaf, aku bakalan berusaha kembali ke tubuh aku. Jangan nangis, Rena."
Tangisku semakin pecah. "Kalo gitu, cepet balik! Harusnya tadi kamu gak usah dorong aku! Harusnya kita ketabrak bareng ...," aku mulai merengek. "Aku gak mau kalo gak ada Nevan ..."
"Aku lebih gak mau kamu kenapa-kenapa," Nevan berbisik lembut. "Kamu gak tau kan gimana paniknya aku pas kamu terjun bebas dari kamar?"
"Itu sama ini beda," ujarku pelan dengan bibir mengerucut sebal.
Nevan menjauhkan dirinya dariku sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya padaku. Jantungku berdetak tak karuan saat menatap maniknya yang berjarak sangat dekat. Dia tersenyum tipis, terlihat sangat aneh untukku, karena Nevan gak pernah menunjukkan senyum seperti itu.
Jemariku terangkat demi mengusap sisa air mata di pipi.
"Aku gak suka Nevan senyum kayak gitu," ujarku pelan.
"Hmmm? Emangnya senyum aku kayak gimana?"
"Jelek," aku membuang pandangan. "Senyumnya jelek."
Nevan mengerang sebal. "Terus kamu maunya gimanaaa?"
"Tetep di sini aja, jangan ke mana-mana," bisikku pelan, menunduk.
Aku gak berani natap Nevan. Beneran. Gak tau kenapa, aku ngerasa malu banget udah ngucapin hal-hal aneh sejak tadi. Aku gak ngerti sama diri aku sendiri!
"Itu gak ngejawab pertanyaan aku," gumam Nevan sambil duduk tepat di sampingku. Dia tak banyak bicara setelah ucapannya barusan. Jadi, kami hanya diam sambil menunduk memandangi lantai rumah sakit yang berwarna putih.
Aku sadar, Nevan berada di sisiku. Tetapi aku tetap takut.
Apa hanya aku yang merasakan ketakutan ini?