Nevan's POV
"Kakak, aku takuuut!" Rossie menempel erat sama gue kayak lem.
Rena terbang ke sana ke mari sama Andy, mereka kayak dua bocah petualang yang baru aja keluar dari penjara--sekolah. Gue di belakang mereka, memperhatikan Rena sambil sesekali menyahuti rengekan Rossie.
Ah, ini gila. Kenapa juga gue harus ikutin saran Papa buat jemput Rena? Kenapa gak Papa aja? Emangnya Papa gak kasian apa, liat anaknya yang ketemu sama makhluk-makhluk menyeramkan dengan bau amis menyengat?
Liat tuh kelakuan Rena yang rada-rada. Tu anak, dalam bentuk roh aja masih bisa nyengir lebar. Lah gue, berasa mau mati aja.
"KAKAAAK!!!" oke, teriakan Rossie kali ini bener-bener berlebihan.
"Apaan lagi sii ..." erang gue sebal.
Tangan Rossie udah narik-narik lengan gue, tangan satunya yang bebas menunjuk satu tempat. Otomatis, kepala gue muter dan seketika itu juga, mata gue terbelalak. Dari lantai, ada banyak tangan yang berusaha buat narik Rena.
ASTAGA. "RENA!"
"Nev-Nevaaan! Ini tangan-tangannya gelitikin kaki aku!" teriakan Rena benar-benar membuatku menggelengkan kepala tak percaya.
RENA. ELO ITU LAGI DITARIK, BUKANNYA DIGELITIKIN! Rasanya gue pengen teriak gitu di muka dia yang lagi nyengir lebar, tapi gue gak melakukannya karena dia keliatan gak takut sama sekali. Gue benci diri gue sendiri. Kenapa cewek yang gue suka bisa sekuat ini? Maksud gue, mental dia bener-bener kayak baja.
Gue takut, dia berani.
Gue gemeteran, dia nyengir lebar.
Sebenernya yang cowok tuh, gue apa dia?
"Ren, sini," gue narik dia sekuat tenaga, dibantu Rossie yang narik pinggang gue erat. Andy ada di depan kita, dia ngasih semangat gue dengan muter-muterin kepalanya di udara. Oh astaga, ini bener-bener gila. Gak ada yang bantuin gue ini sih!
"Makasih Nevan," wajah Rena terlihat lega saat gue berhasil membebaskan dia dari para tangan yang gelitikin dia."Kalo gak ada Nevan, aku pasti udah mati ketawa!" tambahnya senang.
Gue masang muka datar. "Please Ren, mereka mau narik elo. Bukannya gelitikin."
"Masa sih?" mukanya miring ke salah satu sisi. "Tapi geli, Nev."
"Terserah," gue mengerang sebal lalu membawa tangan Rena ke genggaman. Biar gak terbang ke sana ke mari dan gak ilang. Eh. Padahal mah, gue genggam dia karena gue takut kalo sendirian begini. Ah, Rossie sama Andy yang nempel sama sekali gak menciutkan ketakutan gue yang udah segede gunung.
"Kak, kita nemu jalan keluar kapan?" tanya Andy.
Gue ngelirik sebentar. "Secepatnya, ya. Tunggu aja."
Gue sok-sok-an ngomong pake nada percaya diri. Padahal mah, gue gak tau kapan kita bisa keluar dari tempat kayak gini. Oke, kita gak bisa terus jalan lurus tanpa ngintip ke dalam tiap pintu. Kali aja ya kan, salah satu pintunya ada jalan keluar.
Kalo sial, yaaa dapetin pintu dengan sosok mengerikan. Semangat, Nevan. Gak boleh malu-maluin depan Rena!
"Nevan, kenapa berhenti?" tanya Rena bingung saat gue berdiri tepat di depan salah satu pintu.
"Gue mau periksa," sahut gue singkat.
Rena mengangguk singkat. Memperhatikan gue yang masih ragu buat buka. Kalo dalemnya aneh-aneh, gimana? Ah, kalo gak dibuka, gak akan tau kan, kalo di salah satu pintu ini ada jalan keluar? Gue menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu itu. Tegang.
Pintu pertama, kosong. Gak ada pintu keluar atau tangga turun menuju lantai bawah.
"Hmm?" Gak ada apa-apa.
Gue melayang ke pintu di sebelahnya. Diikuti Rena, Rossie serta Andy yang berdiri di belakang gue. Elah, kenapa pada mau-maunya ngumpet di belakang punggung orang yang lagi gemeteran gini?
Dan ketika pintu kedua gue buka, banyak bayangan putih yang menyeruak keluar ruangan. Dengan seenaknya aja, beberapa bayangan itu nabrak gue sampe mundur beberapa langkah. Otomatis, tubuh gue menimpa tiga orang yang udah bertebaran kayak ikan di lantai.
Gue bangkit dengan tangan gemetar, menahan suara di perut agar tidak teriak sekencang-kencangnya. Sumpah, serem banget. Gue liat jelas muka-muka mereka. Pucet. Matanya cuma keliatan satu, dan mereka semua melotot memperhatikan gue. Ada cengiran aneh yang diperlihatkan mereka.
"Nevan ih, kamu kenapa? Sama asep aja kok kalah," protes Rena.
Mata gue melotot. "Mereka bukan asep, Rena ..." gue emang harus bener-bener tahan banting kalo sama Rena.
Begitu seterusnya. Sampe beberapa pintu ke depan, Rena selalu protes karena gue yang tiba-tiba aja mundur setelah bertemu dengan sosok-sosok yang memiliki panggilan lucu dari Rena. Kayak sesosok putih yang loncat-loncat ke kanan dan kiri, Rena nyebutnya permen loncat. Gue ... bener-bener gak ngerti sama cara pikir dia.
"Aku mau coba buka pintu ini," ujar Rena tiba-tiba.
Gue ngangguk, mundur sedikit buat ngasih ruang sama Rena untuk membuka pintu. Perlahan-lahan, setelah pintu terbuka gue bisa liat ada sesuatu hitam yang terlihat di lantai. Perasaan gue udah gak enak, nih.
"Rena, tutup," pinta gue pelan, tapi dia sama sekali gak denger.
Dengan cuek, dibukanya lebar pintu itu dan dia masuk ke dalam. Gue sempet narik tangan dia, tapi ditepis cepat. Ni anak, maunya apa deh? Lama-lama gue iket juga biar gak bandel.
Rossie sama Andy udah saling pandang. Sedangkan gue masih ragu, mau masuk ke dalem apa enggak. Rena sendiri udah menghilang, jalan mengikuti arah rambut yang panjangnya banget banget ini.
"Nevaaaan, nyahahaha," tawaan Rena membuat gue melongo.
"Kak Rena kenapa?" Rossie ingin masuk duluan, namun Andy menahannya.
"Liat yuk?" ajak Andy semangat.
"Ayuk!"
Atmosfer yang sebelumnya tegang kini berubah menjadi keceriaan. Andy yang pertama kali masuk. Disusul Rossie, dan gue yang melayang dengan mata tak lepas dari rambut hitam ini.
Gue bener-bener gak mau liat dari mana asal rambut ini. Dan yang lebih bikin gue bengong adalah, kelakuan mereka bertiga yang sejak tadi bikin gue geleng-geleng kepala gak percaya.
Dan bener aja, kelakuannya Rena.. Bener-bener ajaib.
Mata kepala gue bisa liat sendiri gimana dia lagi duduk di ayunan yang terbuat dari rambut itu. Dia berayun ke depan ke belakang. Bisa gue liat kalo rambut panjang ini memenuhi ruangan. Anjir, mana nih sumbernya?
Andy sama Rossie udah ikutan duduk di kedua sisi Rena. Mereka tertawa bahagia di atas ketakutan gue. Sumpah, ini gak adil. Andai gue bisa ikut main ayunan sama mereka... Eh.
Fokus, Nevan! Fokus!
"Hai, pemuda di sana," suara itu beras dari sebelah kanan gue.
Oke, ini horor. Karena suaranya kedengeran jauh. Dan lo tau sendiri kan, kalo suara jauh, artinya dia... deket? Seketika itu juga, bulu kuduk gue meremang. Gue menoleh.
Tepat di depan muka gue, jaraknya cuma beberapa centi tepatnya, ada wajah perempuan cantik, cantiiik banget kayak model. Muka tirus, hidung mancung, dan bulu mata lentik yang menaungi mata bulatnya. Dia putih banget sumpah. Mukanya yang cantik itu bikin gue terpesona. Tapi, kulitnya kelewat pucet buat ukuran manu-OH ASTAGA. Dia bukan manusia!
Plak.
Tamparan keras panas di pipi kiri menyadarkan gue.
Gue menoleh. Melihat Rena tengah menggembungkan wajah dengan sebal. Bibirnya cemberut sebal dan gue gak ngerti kenapa dia kayak gitu.
"Barusan... Lo nampar gue?" tanya gue dengan mata mengedip beberapa kali dan tangan udah maik ke pipi buat ngusap.
Rena tiba-tiba aja membuang pandangan. "Rossie, Andy, udahan ah main ayunannya. Aku bosen," dia memberi isyarat pada mereka untuk keluar ruangan.
"Yaaah Kakak," Rossie merengek. "Aku masih mau main."
Andy ikut cemberut. "Iya Kak, aku belum mau keluar dari sini."
Gue masih bengong. Rena terlihat benar-benar kesal. Dia sama sekali gak peduliin gue, cuma matanya tajem natep kedua bocah itu. Rossie sama Andy akhirnya turun dari ayunan rambut dan melayang mengikuti Rena. Dan gue menyusul, berjalan mengikuti Rena.
Anak itu... Kenapa coba tiba-tiba nampar gue dan jutek?
"Hei, aku belum selesai berbicara denganmu," wanita yang tadi sempet bikin gue klepek-klepek mendadak manggil gue lagi, dan kali ini terdengar dekat.
Gue berhenti dan berbalik arah. Mungkin, nanya jalan keluar sama dia gak ada salahnya. Dan entah kenapa, gue gak ngerasa takut setelah bertatapan tadi.
"Kalian harus cepat keluar dari sini," ujarnya tiba-tiba.
Ah. "Tapi, gimana caranya? Kita udah muterin tempat ini berjam-jam dan gak nemu jalan keluarnya."
Wanita itu tersenyum. Beneran, cantiiik banget.
"Kamu harus menemukan pintu bergagang emas. Setelah berhasil membuka pintu itu, jangan pernah berbalik ke belakang dan tetaplah melangkah maju sampai tiba di seberang sungai," penjelasan singkat iu bikin gue mengangguk mengerti.
"Kamu... Gak bohong ato nipu kita, kan?" Gue ragu, tentu aja. Secara, dia kan setan.
Dia menggeleng. "Aku ingin kalian segera bebas."
Gue segera berbalik karena suara Rena udah kedengeran kayak anak kecil yang gagal dibawa ke taman bermain. Namun tiba-tiba aja, gue berhenti lagi. Berbalik arah dan mendekati wanita berambut panjang dengan senyum ramah itu.
"Kalo boleh tau, kenapa kamu ngasihtau jalan keluar? Bukannya kamu tinggal di sini?" kepala gue miring ke salah satu sisi. "Berarti kamu bersekongkol sama sosok yang udah nyulik Rena, kan?"
Dia tersenyum. "Kami semua di sini adalah korban dari kekejamannya. Kami dikurung dan tidak mendapatkan kebebasan. Kami selamanya akan terkurung di sini, berbeda dengan kalian yang bukan berasal dari dunia ini."
Gue... Terharu.
Rasanya pengen meluk dia.
"KAK NEVAAAN!" teriakan panik Rossie dan Andy bikin gue terkejut. Kenapa lagi mereka? Kenapa?
Gue langsung berlari keluar, tersenyum sekilas sebelum akhirnya menutup pintu ruangan itu. Sebenernya gue pengen dia bisa keluar juga dari tempat ini, tapi, gimana gue bisa nolong dia, sedangkan gue aja belum bisa menyelamatkan Rena dan diri sendiri?
Ketika sampai di lorong, mata gue menangkap mereka bertiga yang ditarik paksa oleh Carlos. Rena sudah tak sadarkan diri di pundak Carlos. Kepala Andy terlihat menggantung di tangan kanan Carlos, rambut kedua bocah itu sama-sama dijambak. Tubuh Andy meluk Rossie dengan erat. Keduanya nangis kejer.
Dan gue... Harus apa?
❤❤❤
"Lepasin Rena sekarang, b******k!" gue melompat di depannya dan langsung nonjok wajah gantengnya. Oh No. Gue gak maho.
Walau tonjokan gue gak sampe bikin dia merenggangkan pegangannya pada mereka bertiga, setan satu itu tampak kesel. Pandangan dia penuh dendam, dan gue lanjut nampar dia kanan kiri. Nendang kaki dia kanan kiri sekuat tenaga. Bahkan, gue udah ngetekin dia.
"Berenti, Sialan," desisnya kesel.
Dia dorong tubuh gue sampe menabrak salah satu gagang pintu. Gak kerasa sakit sih, cuma kesel aja kalo dilempar kayak kapas bekas. Dan beberapa saat kemudian, gue sadar kalo Rena gerak-gerak di gendongan dia.
"Lepas!" Rena berontak, dia kesal dan mukul d**a Carlos.
Gue udah bangkit, berusaha nerjang dia lagi tapi sia-sia. Tubuhnya kayak gak bisa disakitin gitu. Astaga. Tolong. Bahkan Rossie sama Andy yang udah gigit kaki Carlos kayak gak ngasih efek apa-apa.
Dia melayang gitu aja, melewati gue yang masih berusaha buat ngalahin dia. Dan lagi-lagi, tubuh gue terlempar dan menabrak dinding.
"Minggir, jangan halangin jalan," ujarnya singkat.
"Lo tuh udah mati! Kalo mau kawin cari setan yang masih jomblo sana!" teriak gue, marah.
Dia berhenti dan menatap gue tajam. "Bukan urusan lo."
"Apapun yang nyakitin Rena, itu jadi urusan gue!"
Rena berhenti memberontak. Dia natap gue dengan sorot kaget. Gue mencoba bangkit lagi dan berusaha buat ngambil Rena dari gendongan Carlos. Dan tetep aja, itu gak berhasil. Gue kesel banget, sumpah. Mata gue menyisir sekitar, rencananya mencari barang yang kali aja bisa digunain buat melukai Carlos.
Dan saat itulah gue liat.
Pintu bergagang emas.
Pintu itu tepat di belakang Carlos!
Tapi, gimana caranya gue ngambil Rena? Seandainya gue punya kekuatan super kayak hero di film-film barat, gue pasti bakalan gampang ngalahin dia. Tapi, disini gue gak punya kekuatan apa-apa.
Dan di saat gue lagi bengong itu lah, rambut panjang hitam terlihat keluar dari berbagai sisi. Rambut itu perlahan mendekati Carlos seperti bayangan. Dan ketika Carlos menyadarinya, rambut-rambut itu sudah mengelilingi tubuhnya. Melilit dengan erat seperti sosok ular yang sering mengganggu Rena.
Gue mendongak. Di depan pintu ruangan yang sebelumnya kami masuki, wanita cantik itu berdiri. Dia mencekik Carlos hingga tubuh Rena terlepas dari gendongannya dan terjatuh.
Rossie dan Andy dengan cepat menangkap Rena dan menariknya hingga berada di dekat gue. Tangan gue langsung meluk Rena, pokoknya bocah satu ini gak bakalan gue lepas lagi. Udah kayak monyet aja sih, susah banget ditangkepnya. Ilang melulu.
"Pergilah, sekarang," bisik wanita itu. Terdengar jelas di kuping gue.
Gue mengangguk patuh.
Saat Carlos merintih karena ditarik paksa seperti itu, kami berempat mengambil kesempatan. Berdiri dan berlari, menuju pintu bergagang emas. Mata gue masih bisa liat Carlos tak henti merutuk dan meronta.
Tiba gue sampai di pintu bergagang emas, gue berhenti sejenak untuk menatap wanita yang tersenyum lembut itu.
"Terima kasih karena membantu kami," ujar gue sopan.
Dia mengangguk. Lalu menghilang masuk ke dalam ruangan bersama dengan tubuh Carlos yang sudah diselimuti oleh rambut-rambut hitam itu.
"Nevan, ayo," bisikan Rena bikin gue sadar dan segera menoleh. Dia berdiri di samping gue, bingung harus ngapain. Ah ya gue belum bilang apa-apa sama dia.
Tangan gue memegang gagang pintu berwarna emas ini. "Nanti pas gue buka, jangan nengok ke belakang sampe kita tiba di sungai okay?"
Setelah mereka mengangguk mengerti, gue membuka pintu itu.
Dan saat itulah... Gue sadar.
Kami udah berada di pintu utama rumah megah ini. Dengan dua penjaga mengerikan yang hanya menatap kami tanpa melakukan apapun. Gue tau, mereka adalah korban dari kekejaman pemilik rumah megah ini. Sama seperti wanita tadi.
"Ayo," gue genggam tangan Rena seerat mungkin. Tangan kiri gue yang bebas udah diambil sama Andy. Sedangkan tangan kanan Rena udah digenggam Rossie.
Kami berempat melayang perlahan tanpa berniat membalikkan tubuh atau sekedar melirik ke kanan kiri. Pandangan kami hanya lurus ke depan, tempat di mana sungai itu berada.
❤❤❤
Gue sadar ada seseorang mengguncang tubuh gue. Kepala gue masih kerasa berat dan tubuh gue dari leher ke bawah berasa kaku. Tenggorokan kering dan lidah kelu.
"Nevan," itu suara Rena. "Nevan, bangun," kayaknya dia yang dari tadi guncang tubuh gue.
Ah, gue bersyukur Rena gak kenapa-kenapa, bisa ngomong sama gue. Tapi, kenapa gue gak bisa gerak begini deh?
"Heh, bangun, udah malem," itu suara Papa. "Masuknya jangan setengah-setengah. Baru kepala doang tuh."
Apaan tuh maksudnya?!
Gue melek.
Tepat di depan gue, ada Rena yang menatap gue dengan pandangan khawatir. Di sisi ranjang, ada Papa yang lagi duduk santai sambil senyum-senyum menggoda.
"Kamu gak apa-apa?" Rena ngebantu gue buat bangkit hingga akhirnya gue duduk bersandar di kepala ranjang.
Tangan gue terangkat, menyentuh kepala yang masih terasa sakit. "Pa, Nevan udah balik lagi ke tubuh? Sejak kapan? Kok gak sadar?"
Papa tersenyum. Tetapi bukannya ngejawab pertanyaan gue, dia malah berdiri dan berjalan mendekati pintu kamar.
"Papa keluar dulu ya, laper. Belum makan," ujarnya singkat.
Gue mengangguk patuh. Ketika dia menutup pintu dari luar, gue menatap Rena. Dia sudah berganti posisi, duduk di tepi ranjang.
"Hei," sapa gue akhirnya.
Rena tersenyum lebar, lalu beberapa detik kemudian ekspresinya berganti cemas. "Nevan gak apa-apa?"
"Gue gak apa-apa," gue ngangguk dan berusaha bangkit.
Tapi sial, kaki gue gemeteran. Ah. Mau ngambil minum aja sampe susah begini.
Sial. Sial. Sial.
Apa tubuh gue langsung merespon ketika inget sama berbagai wajah mengerikan yang gue temui saat nyamperin Rena tadi?
"Nevan, kamu gak apa-apa, kan?" Rena mendekat, kali ini dia berjinjit dan menyentuh kening gue. Mungkin dia meriksa, gue demam apa enggak?
Dan gue gak suka keliatan lemah di hadapan Rena. "Gue gak apa-apa," ujar gue singkat.
Rena mengangguk mengerti dan menjauhkan tangannya. Dia kembali duduk di sisi ranjang dan mulai berbincang. Mungkin sama Rossie dan Andy? Pasti. Ah, jadi pengen liat mereka lagi.
"Mau minum?" tawar gue sambil menyerahkan segelas minuman pada Rena.
Manik mata Rena menatap gue lurus-lurus. Gue mengernyit bingung ketika dia liat gue dan gelas secara bergantian. Rena mengangguk mengerti, lalu mengambil gelas yang gue sodorin ke dia.
Gak lama kemudian, setelah gue menyesap minuman, dia ngambil punya gue dan meletakkannya di atas meja belajar. Bersebelahan dengan gelas miliknya. Cewek itu belum minum sedikit pun.
"Kenapa?" siapa yang gak bingung coba, minumannya diambil gitu aja dan diletakkan di atas meja?
Rena menggeleng penuh arti. Tangannya menyentuh tangan gue dengan perlahan dan membungkusnya dengan hangat. Gue masih gak ngerti kenapa Rena genggam tangan gue seerat ini.
"Nevan," dia berjeda sejenak. "Kalo Nevan takut, harusnya gak usah paksain diri buat nyamperin aku."
Sial. Tangan gue yang gemeter karena terus inget sama setan-setan mengerikan itu ketauan sama dia.
Ah, malu banget. Malu! Rasanya gue pengen ngumpetin muka di balik bantal! Kenapa Rena harus seberani ini sih?! Mental baja!
"Gue gak takut," jawab gue sekenanya.
Pernyataan ragu gue dihadiahi cengiran lebar. Dia tertawa kocak dan bikin gue membuang pandangan. Saat gue berusaha buat membalikkan badan untuk kabur dari hadapannya, lengan Rena melingkar erat di pinggang gue.
Jantung gue... Rasanya pengen meledak.
Rena meluk gue. Dia gak ngomong apa-apa, jadi gue cuma bisa diem aja tanpa mengucapkan apa pun. Tapi pas gue pengen lepas dari pelukannya, dia malah mengeratkannya.
Gue gak bisa melakukan apa pun. Hanya menunduk, memperhatikan puncak kepala Rena yang menutupi wajah malunya—mungkin. Entah kenapa, gue mikir Rena lagi merasa malu.
Beberapa detik kemudian, tangan gue tanpa sadar terangkat dan balas memeluknya.
Akhirnya, Rena gue kembali.