Nevan's POV
Rena tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya. Gue gak ngerti dia kenapa, tapi gue yakin 99,90% berhubungan sama sesuatu yang mengikutinya selama ini.
"Rena," bisik gue sambil mengguncang pelan pundaknya.
Ini sudah satu jam berlalu dan keningnya masih berkerut dalam. Gue bener-bener khawatir. Kalo aja gue punya kemampuan seperti Papa atau Nathan, pasti bakalan lebih mudah buat nolong dia. Sigh.
Setelah menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut, gue duduk di sisi ranjang. Memperhatikan Rena yang sesekali mengerang.
"Lo kenapa sih?" Gue gak tahan untuk tak mengambil tangannya dan menggenggamnya erat.
Anak ini .... selalu sukses bikin gue khawatir.
Tiba-tiba, ada suara ketukan pintu. Anjir. Siapa nih?
"Nevan? Kamu ada di dalam?" MATII! Itu Mami Kos! "Ini Mami Kos."
Ada apaan dia ke sini? Astaga. Gue lupa bayar uang bulanan! Tanggal berapa sekarang?! 7! Pantesan aja dia nagih. Batesnya kan tujuh hari.
Sebenernya sih gak masalah kalo dia mau nagih uang kos. Tapi, sekarang ada Rena! Sedekat apapun gue sama Mami Kos, peraturan tetep peraturan. Gak boleh bawa temen lawan jenis ke dalam kamar. Yes.
Itu aturan pertama di kosan ini yang selalu sukses gue langgar. He he he.
Tau sendiri kan Rena anaknya gimana? Walau terkadang dia lebih suka sendiri, tapi di berbagai waktu dia nempel banget sama gue. Aih. Bahagianya Rena mau nempel sama gue. Bersyukur karena dia anak aneh, jadi jaman SMA dulu gue yang disuruh jagain dia. Ehm. Kenapa omongannya jadi ngelantur? Oke. Back to topic.
"Sebentar, Mi!" Gue langsung ambil kemeja tadi siang dan nutupin muka Rena. Kemudian berdoa. Duh. Dia belum mati, Nevan!
"Mami sabar kok nungguin kamu, Nev!"
Gue langsung buka kaos dan ngambil handuk. Semprot parfum sana-sini kemudian menyampirkan handuk di kepala. Ceritanya abis mandi. Ceritanya.
"Ya, Mami? Maaf, Nevan baru beres mandi," ujar gue setengah berteriak.
Gue ngebuka sedikit pintu kamar dengan tangan mengacak rambut yang sebelumnya udah basah sama air galon. Kalau mau bohong, jangan setengah-setengah biar dipercaya!
Mata Mami Kos langsung menghijau pas liat gue dengan badan seksi. Ahey. Informasi aja nih, Mami Kos itu ganjen. Liat aja, dia udah nyengir gak jelas. Merinding. Kalo aja ni bukan kosan campur dengan harga murah, gue udah nolak dari dulu!
Tapi ... demi Rena. Apapun deh, apapun!
"Aduh, maaf ya Nevan," tangan centilnya menyentuh lengan gue. Astaga. "Mami jadi ganggu kamu."
Tuh kan. Mengerikan.
"Ah, enggak kok, Mi," gue berusaha menormalkan suara yang udah gemeteran karena dia udah menyisir pandangannya ke dalam kamar. "Mami mau masuk dulu?"
"Boleh, nih?" Tolak Mi! Tolak!
Gue agak canggung pas dia nanya gitu. Aih. Gue bisa apa selain ngangguk? Dia kan yang punya kosan ini? Papa ... tolong Nevan.
"Itu apaan Nev di kasur kamu?" Nah. Lho. Apa Rena ketauan? Matilah gue! "Ah, dasar anak muda. Kamarnya berantakan banget."
Gue hanya terkekeh lalu menggaruk tenguk. "Mami mau nagih uang kos ya? Bentar," kaki gue segera melangkah masuk dan mengambil amplop yang udah disiapkan untuk Mami. "Ini, Mi. Uang bulanan Nevan. Maaf ya Mi, Nevan telat bayarnya. Abisnya siang gak pernah ketemu sama Mami, sih."
"Iya Mami juga ngerti kok. Anak kuliahan." Mami menerimanya dengan senang hati. "Aih sebenernya Mami gak enak nyamperin kamu gini. Tapi kalo gak disamperin, kamu ngelunjak. Dikasih hati malah minta jantung."
Gue gak pernah minta hati lo, Mi.
"Yaudah deh, makasi ya, Nevan!" serunya sambil mencolek dadaku.
AAAAARGH! Kalo gue bisa pindah, pindah deh!
Sepeninggal dia, gue langsung nutup pintu kamar dengan cepat. Menguncinya. Lalu menghela napas bahagia. Gak ketauan kalo ngumpetin Rena.
Untung aja sepatu Rena ada di kolong kasur. Kalo tas, punya dia kayak cowok jadi Mami gak akan nyangka kalo tas yang kegantung di kaki kasur itu punya Rena. Haha.
Gue kembali duduk di samping Rena. Mengambil kemeja yang menutupi wajahnya dan menghela napas. "Ren, bangun dong."
Rena sama sekali tak bergeming. Pipinya yang agak tembem gue elus. Empuk. Dan entah bisikan setan dari mana, wajah gue mendekat. Bibirnya keliatan manis. Eh. Mata gue membesar saat hidung kami bersentuhan.
Gue langsung menarik diri. Apa yang tadi barusan gue mau lakuin? Nyuri ciuman dari Rena? Bunuh aja gue! Astaga. Gila.
Tangan gue terangkat dan mengacak rambut. Man, ini gak baik. Susah kalo berduaan sama cewek yang disuka!!
"Gue harus nelpon Nathan," gumam gue lalu mengambil ponsel dan menghubungi bocah kecil itu.
Tangan gue masih menggenggam tangan Rena, sesekali mengusap punggung tangannya dengan lembut. Rena, bangun dong. Gak kasian sama gue yang khawatir kayak gini?
"Angkat elah, Nat," gue mengerang saat sadar tak ada jawaban dari ujung sana. Nathan ke mana sih?!
Kesal. Ponsel gue banting ke kasur lalu menatap Rena. Tenang, Nevan. Gak akan ada sesuatu buruk yang akan terjadi sama Rena.
Setelah marah-marah gak jelas, akhirnya gue kembali nelpon Nathan. Sial. Gak diangkat juga. Sekarang malahan gak nyambung. Setelah beberapa lama menimbang, gue memutuskan buat nelpon masternya.
"Pa?" sapa gue ketika sudah diangkat.
"Ya ampun Nevan! Udah berapa bulan kamu gak nelpon Papa? Gak kangen? Keasikan sama Rena? Kejam!" ujarnya sebal.
"Pa ...," memang sih udah dua bulan gak ngehubungin Papa duluan. Gue palingan ngobrol setelah dia nelpon duluan atau Mama. "Rena dalam masalah."
Dia berhenti sejenak. "Coba ceritain."
Dengan singkat, gue kasihtau Papa kalo selama ini ada yang ngikutin Rena. Dia juga sering pingsan dan mimpi yang dama berulang kali-Rena pernah cerita tapi gak gue tanggepin. Gue takut, sumpah.
"Papa gak tau pasti alasan jelasnya, tetapi kemungkinan besar, dia yang ngikutin Rena mau bawa Rena ke dunianya," kening gue berkerut dalam. "Dan kamu tau artinya apa?"
Gue gak mau mikirin hal buruk terjadi sama Rena.
"Rena bakalan kehilangan nyawa."
Gue menggeram. Memandang Rena yang wajahnya terlihat tenang. "Papa, jangan bercanda."
"Papa serius," dia menghela napas. "Sekarang Papa berangkat ke sana. Karena naik mobil, mungkin Papa baru sampe pagi nanti. Kamu gak usah masuk kuliah dulu."
Gue langsung menutup sambungan setelah Papa menyelesaikan penjelasan singkatnya. Tangan gue lemas. Memandangi Rena yang tampak seperti tidur biasa.
Mata gue melirik jam dinding yang menunjukkan jarum panjang di angka 11. Gue mengambil tangan Rena dan mengecupnya sekilas sebelum benar-benar membungkusnya ke dalam kedua tangan gue.
Rena, bangun, please. Jangan bikin gue khawatir.
♥♥♥
Gue mengerjapkan mata ketika sinar matahari masuk ke dalam kamar lewat celah jendela. Udah pagi ternyata. Mata gue kembali menutup bersamaan dengan tangan yang menarik guling ke dalam pelukan.
Masih ngantuk.
Tapi kok ... gulingnya agak berat ya?
Terus .... empuknya beda.
Tangan gue menyentuh beberapa bagian.
Lembut. Empuk. Hangat.
Hangat?
Tunggu.
Kayaknya ada yang salah.
Bukan kayaknya.
Pasti, ada yang salah.
Mata gue langsung melebar saat sadar Rena yang sejak malam tak sadarkan diri. Rena. Tidur. Di. Kasur. Gue. Sejak. Malam.
"Astaga!" Gue memekik ketika sadar yang tadi gue tarik dan peluk bukannya guling, melainkan Rena. Rena!
Megang apa tadi gue? Sinting!
"Mimpi indah?"
Hampir aja gue teriak histeris ketika sadar asal suara yang barusan menanyakan tentang mimpi gue. Papa. Papa ada di kamar gue, lagi duduk di kursi meja belajar dengan santai. Alisnya naik turun menggoda dan bibirnya tersenyum jenaka. Sial.
Gue berdeham dan segera turun dari ranjang, tanpa bisa menghilangkan rona merah yang menjalar karena sadar telah tidur seranjang dengan Rena. Tidur doang, ya.
"Papa kapan sampe?"
"Sekitar satu atau dua jam yang lalu," jawabnya sambil mengedikkan bahu. "Jadi ... ini yang selalu kalian lakukan tiap hari? Tiap malam?"
Malas menanggapi, jadi gue diem aja. Berjalan ke arah dispenser dan memenuhi gelas dengan air hangat. Papa masih mengikuti gerak-gerikku.
"Nev, kalo Rena hamil sebelum kalian lulus kuliah, Papa pecat kamu jadi anak."
Air mineral yang setengahnya masih berada di dalam mulut gue langsung menyembur keluar. "Papa!" Kepala gue berputar ke arahnya. Gak ada wajah bercanda di situ, hanya ada tatapan serius. Oke, Papa serius sama ucapannya.
"Hubungan Nevan sama Rena gak sejauh itu, Pa. Kita cuma temenan," gue menghela napas. "Ini juga pertama kalinya Rena nginep di kamar Nevan. Tadi malem lagi rame-ramenya di kosan, Nevan gak enak bawa Rena ke kamarnya dalam keadaan gak sadarkan diri."
Tiba-tiba Papa nyengir menggoda. "Ternyata friendzone," gue langsung melotot sebal. "Sabar ya Nak, Papa turut berduka."
Tangan gue terangkat dan mengusap wajah. Beberapa saat kemudian, gue izin sama Papa buat mandi. Setelah mengambil pakaian dan handuk, gue berjalan ke kamar mandi. Tepat sebelum gue nutup pintu kamar mandi, Papa terlihat lagi ngobrol dengan sesuatu.
Gue bergidik ngeri. Gak mau mikirin kalo semaleman ada sosok-sosok aneh berkeliaran di kamar.
Tapi gue bisa nebak, Andy dan Rossie, dua anak kecil yang selalu diceritakan Rena—kenapa Rena harus bisa ngeliat setan, sih?!—pasti ada di deket gue sepanjang malam. Secara, mereka berdua selalu nempel sama Rena. Dan tadi malem gue di sisi Rena.
♥♥♥
"Jadi, Papa punya rencana," ujar Papa tepat setelah gue keluar kamar mandi.
Kayaknya gue sama Papa sama sekali belum ngomongin apapun tentang hal-hal yang berkaitan buat nolongin Rena. Tapi kenapa dia udah punya rencana aja?
Curiga nih gue, jangan-jangan Papa udah berunding sama Andy dan Rossie. Mereka hantu, pasti tau bener apa yang sebenernya terjadi.
"Rencana apa, Pa?" tanya gue setelah duduk di pinggir ranjang.
"Papa bakalan kirim kamu ke tempat Rena berada."
Gue mematung.
"Nanti di sana kamu ajak Rena buat balik lagi ke sini. Secepatnya. Papa bakalan jagain kalian dari luar. Secara, Nevan gak bisa liat hal-hal gaib di dunia nyata, kan? Jadi Papa yang bakalan kirim kamu ke sana."
Papa jangan bercanda.
Emangnya gue paket dikirim ke sana ke mari?
"Nevan mau nolongin Rena, kan?"
Kepala gue mengangguk. Tetapi ketakutan. Gila.
Gue ke dunia sana? Seriusan? Yang bener? Papa kan tau gue ngeri sama hal-hal berbau mistis? Kalo nanti gue gak berhasil bawa Rena balik dan malah gue yang kesedot, gimana?!
"Pa, gak ada cara lain?"
"Itu cara tercepat," Papa bergumam, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rena. Menyentuh tangannya dan memberikannya ke gue. "Tangan dia udah dingin. Kalo nyawa dia gak balik selama 24 jam, dia gak akan bisa buka mata lagi buat selamanya."
Mata gue melotot. "Pa! Jangan ngomong sembarangan!"
"Kamu percaya sama Papa gak?" Papa menghela napas berat. "Papa bisa aja nyamperin Rena ke dunia itu. Tapi Papa gak mau dia ngambil wujud Rena."
"Maksud Papa?" Gue beneran gak ngerti maksud Papa.
"Ada dua makhluk yang ngincer Rena," bisik Papa. "Dan Nevan juga termasuk dalam daftar yang dia incar."
Mampus. Gue diincer sama makhluk begituan?!
Gue menelan ludah. "Yang bener, Pa?"
Papa mengangguk. "Karena Papa belum ketemu mereka, jadi Papa nanya ke Rossie dan Andy. Menurut mereka, dua makhluk itu kembar. Satunya suka sama Rena, yang satu lagi demen sama kamu." Papa tiba-tiba tersenyum penuh arti ke suatu arah. "Salah satunya ingin tinggal di dunia manusia, satunya lagi pengen Rena nemenin dia di dunia sana."
Astaga. Kenyataan gila.
"Jadi, gimana? Kamu mau nyamperin Rena ke alam sana?" tegur Papa, diantara lamunan gue. "Papa bakalan kasih kamu sedikit pengetahuan tentang dunia sana."
Apa yang bisa gue lakuin?
Hanya mengangguk patuh.
Papa menepuk sisi ranjang gue yang kosong. "Berbaring di sini," bisik Papa. Roh gue berasa udah gak ditempat, dengan linglung gue bergerak ngikutin petunjuk Papa.
Setelah gue berbaring, Papa mengangguk menatap gue dalam. "Kamu udah siap untuk pengalaman pertama?"
Gue mengangguk lalu menggenggam erat tangan Rena. Menutup mata dengan keras saat Papa menyentuh kening gue dengan jemarinya. Entah ngapain. Tapi yang pasti gue segera sadar kalo tubuh gue lama kelamaan terasa ringan.
"Inget Nevan, waktu kamu hanya sehari. Jangan buang-buang waktu dan cepat bawa Rena balik ke sini," dan itu adalah suara samar Papa sebelum gue merasakan hentakan keras.