[Perasaan Aneh]

1401 Kata
"Kenapa sih lo selalu ngikutin Nevan?" Yasmin, berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang. Ah, aku pernah liat adegan macem ini di sinertron yang sering Mama tonton. Pemeran utamanya yang unyu-unyu gak jelas itu lagi di bully sama cewek kebelet populer di angkatannya. Tapi kan, itu biasanya terjadi pas jaman SMA. Kecuali di acara azab-azab itu loh, yang udah pada kuliah kayak aku tapinya masih ditindas. Kasian ya? Eh, berarti aku kasian juga dong? Lho. Aku kan gak ditindas? Sebentar lagi ... si-cewek-kebelet-eksis itu pasti ... "HEH! Denger gue ngomong gak sih?!" Brakk. ... menggebrak meja. Aku benar! Haruskah aku jadi sutradara? Ah, sepertinya aku lebih cocok kalo bikin acara tv yang bersangkutan sama dunia perhantuan. Tanganku terangkat lalu menunjuk satu arah dengan tatapan kosong. "Mau aku kasihtau sesuatu, gak?" Mungkin karena suaraku yang serak, dia terlihat panik. Sebenarnya, aku memang sedang tak enak tenggorokan. Mungkin karena kemarin Rossie dan Andy yang mengerjaiku, memaksaku untuk berteriak karena pakaian dalamku mereka lempar keluar jendela. Argh! Mengingatnya saja membuatku sebal. Memang celana dalamku ada yang mau beli kalau diobral gitu? "Lihat deh, di belakang kamu ..." Yasmin menatapku dengan wajah horor. "Ada muka ancur yang lagi merhatiin ..." "Gak usah bohong lo. Mana mungkin sore hari ada setan?" Mataku gak bohong, lho. Aku serius. Bahkan tangan hantu itu udah gerak-grak macem pengen narik tangan Yasmin. Namun saat tangan berdarah dan mengelupas itu hampir saja menggenggam tangan Yasmin, aku beridiri dan menarik gadis itu menjauh. "Yasmin! Aku kan udah bilang ada yang lagi liatin kamu!" Aku menoleh ke arah Yasmin yang sudah jatuh tersungkur dengan wajah mencium lantai. Pantatnya—bohai ih!—menjulang tinggi di hadapanku. Ah, Yasmin jangan godain aku gitu, dong! Aku ini cewek lho, gak akan tergoda. Maaf banget. "Re-rena ..." dia menggeram seraya berusaha bangkit, diantara tatapan geli beberapa anak yang masih asik mengobrol di kelas. Ah, Nevan ke mana ya? Masa dia ke kamar mandi lama banget sih? Penyakit kebelet boker-nya belum sembuh, ya? Dasar. Beberapa saat aku berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk langsung pulang ke kosan tanpa menunggu Nevan. Dia kan bisa saja boker di kamar mandi kosan. Kenapa harus di kampus segala, sih? "Mau ke mana lo? Kita belum selesai ngomong ya!" Yasmin mencengkram pundakku dengan erat. Sedangkan aku sedang berusaha menahan napas mati-matian karena hantu yang tadi mendekati Yasmin itu semakin mendekat dan baunya ... benar-benar tak enak! Amis, bau daging terbakar. "Yang dari tadi ngomong itu kamu, Yas," aku menghela napas dalam. "Aku mah cuman diem aja dengerin." Dia berdecak sebal lalu wajahnya berubah agak aneh. Mungkin dia mencium sesuatu yang tadi kucium juga? Ah, aku bisa bernapas lega sekarang. Hantu itu sudah hilang disapu angin. Eh, angin bisa nyapu hantu ya? "Lo tau gak? Karena lo selalu ngikutin Nevan ke mana pun, image dia tuh jadi jelek." Emangnya kapan aku ngikutin dia, ya? "Awalnya, dia itu dikenal sebagai cowok misterius yang mengagumkan dan patut untuk diperebutkan oleh para gadis. Tapi semenjak dia selalu bareng sama lo, sekarang dia dikenal jadi cowok-aneh-pacar-Rena." Dia bukan pacar aku. Aku sama Nevan memang dekat, tapi menurutku Nevan bukan cowok misterius. Dia bahkan takut sama hantu lho. Kamu gak tau kan? "Jadi, gue harap lo jauhin Nevan." Kenapa aku harus jauhin dia? "Gue kasian sama Nevan, nilai dia pasti bakalan turun gara-gara sama lo terus." Hmm ... "Yasmin suka sama Nevan, ya?" Blush. Wajahnya memerah seperti tomat. Aku hanya bisa memiringkan wajah. Yasmin suka sama Nevan? Masa sih? Perasaan suka-suka kayak yang di film-film itu? Apa nanti mereka bakal pacaran? Terus nanti Nevan .... "Rena! Ayo pulang!" .... mungkin bakalan ninggalin aku? Seperti di mimpi itu? Aku menoleh mengarah pada asal suara. Nevan dengan rambut acak-acakan berdiri di pintu masuk. Dia menatapku sambil mengatur napasnya yang tersengal. Dia dari mana? Apa boker begitu sulit untuknya? Tetapi kemudian, kakiku melangkah begitu saja mendekati Nevan. "Sorry gue lama. Tadi ada dosen yang minta bantuan ngambil berkas-berkas di ruangan." Aku hanya diam mengangguk tanpa berbicara apa pun. Tubuhku mendekat pada Nevan sebelum benar-benar menubruknya. "Re-rena? Kenapa?" Kepalaku menggeleng dengan cepat. Entahlah, memikirkan Nevan akan meninggalkanku tiba-tiba saja membuat dadaku bergetar hebat. Ada ketakutan di sana. Ah, kenapa aku harus khawatir saat Nevan masih bisa kupeluk seperti ini? ♥♥♥ "Lo udah nempel sama gue sejak dua jam yang lalu, Rena," aku bisa mendengar suara Nevan yang agak berbisik dari bawah sini. Tanganku tak mau lepas dari lengan Nevan! Hei, aku tau kenapa di mimpiku gadis itu terus bergelayutan pada Nevan. Ternyata, tangannya memiliki pemikiran sendiri. Sepertiku saat ini. Tanganku ini benar-benar tak mau lepas dari Nevan. "Gue mau mandi," Nevan menghela napas. "Lo mau nempel terus?" Oh ya. Tidak terasa kami sudah sampai di kosan. Dan sudah hampir satu jam pula, kami duduk di depan kamar Nevan. Setelah aku melonggarkan tanganku dari lengan Nevan, ia dengan cepat bangkit dan menarikku untuk berdiri. "Balik ke kamar sana." Aku menggeleng. "Terus mau di sini aja?" Aku mengangguk. Nevan menghela napas gusar dan mengacak rambutku dengan gemas sebelum benar-benar menarik kepalaku. Agak kasar memang, tapi aku tak keberatan. Aku pun hanya diam mengikuti langkahnya hingga ia mendudukkanku di sofa kamarnya. "Tunggu di sini. Gue mau mandi dulu," jeda Nevan, "setelahnya, kita makan malem." ♥♥♥ Seusai memakan nasi goreng buatan Nevan di kamarnya, aku masih saja berdiam diri menatap pergerakan Nevan. Pemuda itu tampak asik main game di laptop. Tetapi saat aku menyadari ada tangan transparan pucat yang keluar dari kolong meja Nevan, kakiku langsung melompat. "Nevan! Ada yang mau narik kamu ke dunia lain!" teriakku keras. Nevan mengerutkan kening setelah tubuhnya berputar menghadapku. "Jangan! Jangan bawa Nevan!" ujarku lagi. Beberapa saat kemudian, aku bisa melihat dengan jelas wajah dari pemilik tangan itu. Benar-benar membuatku merinding. Matanya hitam pekat, tak ada sinar kebaikan di sana. Rambutnya panjang menjuntai hingga aku tak melihat di mana ujungnya. Beberapa tetes darah terlihat keluar dari mulutnya. Astaga, dia kenapa? "Apaan sih lo? Jangan bercanda!" Nevan mulai membentak. Dia menaikkan kedua kakinya karena aku sejak tadi tak henti menatap kolong meja yang ia gunakan untuk main game sejak tadi. Aku berjalan mendekati Nevan dan menendang setan itu agar menjauh dari Nevan. Wajahnya aku suguhkan dengan pemandangan indah telapak kakiku. Meskipun tembus dan sama sekali tidak berefek pada setan itu, tetapi kakiku tetap saja menendangnya hingga ia benar-benar pergi. "Lo kenapa sih dari tadi kok aneh banget?" Itu adalah pertanyaan kesekian kalinya yang terlontar dari bibir Nevan. Aku membuang pandangan dari Nevan dan berbalik arah menuju ranjang. Berbaring di sana dan membelakangi Nevan. "Jangan cuekin gue!" Nevan mulai kesal, sepertinya. Ah, bodo! Aku juga gak ngerti kenapa bisa kayak gini. "Rena," suara berat Nevan terdengar dari arah belakangku. Saat ini aku yakin dengan sangat, Nevan sudah duduk di sisi ranjang. "Lo kenapa sih? Ada yang ganggu pikiran lo?" Pertanyaan itu lagi. Nevan gak kreatif banget nih. "Gak tau, aku bingung." "Bingung kenapa? Hm? Coba sini cerita," Nevan memaksaku untuk berbalik arah dan menatapnya tepat di manik. Aku baru sadar, senyuman Nevan itu ternyata benar-benar bisa membuatku lupa akan segalanya. Bahkan aku lupa kalau aku ini anak aneh. Nevan selalu bersikap biasa padaku, bersikap seolah-olah aku adalah manusia normal lainnya. Padahal kenyataannya, aku berbeda. Tak ada yang mau berteman denganku, bahkan sebelum aku mendapatkan kemampuan aneh ini. "Nevan, apa suatu saat nanti kamu bakal ninggalin aku?" Mataku bisa melihat dengan jelas, ada sorot kaget dari pandangan Nevan. "Enggak lah," Nevan mengibaskan tangannya dengan cepat. "Gue bakal tetep di sisi lo, bagaimana pun keadaan lo. Dan kalo pun gue pergi, itu pasti karena ..." "Karena?" "Karena elo yang nyuruh gue pergi." "A-aku gak akan setega itu!" teriakku tanpa sadar. Nevan terkekeh dan mengusap kepalaku dengan pelan. Baru saja aku akan terduduk agar bisa mengobrol lebih leluasa dengan Nevan, tubuh bagian belakangku terasa sangat dingin sampai-sampai aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Ada sesuatu ... yang menahanku. Kepalaku sama sekali tidak bisa digerakkan, padahal aku sangat ingin menoleh. Ucapan Nevan tidak terdengar sama sekali, aku hanya bisa melihatnya tanpa berkedip. Tubuhku ini kenapa? Saat itulah, mataku bisa melihat dengan jelas apa yang menahanku. Sesuatu yang panjang seperti ular, melilit dengan erat seakan aku adalah mangsanya. "... na! Rena!" Guncangan keras di tubuhku membuat kesadaranku kembali. "Lo kenapa? Muka lo pucet banget," Nevan mengusap pipiku yang terasa dingin. "Eng ... enggak, aku gak apa-apa." "Bener?" "Iya," aku mengangguk dan segera turun dari kasur. Tetapi baru saja aku berniat mengambil tas dan beranjak dari kamar Nevan, pandanganku memburam. Kepalaku terasa sangat berat dan tiba-tiba saja, tubuhku ambruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN