[Tidak Disangka]

1722 Kata
Takk! Plakk! Beberapa kali aku menabok nyamuk berdosa yang berusaha menggigit Rossie dan Andy yang sedang bermain guling-gulingan di lantai depan kamar Nevan. Aku menunggu kedatangan cowok itu di lorong kosan lantai atas—khusus cowok. "Kak Rena, kapan-kapan ajak aku makan es krim stroberi, dong!" ucap Rossie. "Nanti aku buatin es krim dari s**u kudanil aja, ya," jawabku sekenanya. "Kenapa kudanil, Kak?" tanya Andy dengan kening berkerut. "s**u kudanil kan warnanya pink." "Boong, dih," cibir Rossie. Dia berhenti beregerak dan menatapku dengan sebal. "Kakak tuh diajarin boong sama siapa, sih? Kak Nevan?" Mataku mengedip beberapa kali ketika sadar ada sesuatu yang melayang dari kejauhan. Itu apaan, yak? Kok cowok itu terbang pake buletan gede, gitu? Kayak melindungi dia... Trus di sebelahnya itu apa? Tuyul? Eh, bukan. Tuyul, kan, pake popok. Tuyul juga kepalanya botak, kalo ini ada rambutnya. Dan... tuyul gak mungkin juga kan, punya sayap warna item gitu? "Wuih, aku baru pertama kali liat setan bentuknya kayak gitu!"seru Andy. Rossie mendongak. "Itu bukan setan, ah," jeda Rossie, "mungkin siluman. Masa ada setan secantik itu, sih?" Pandanganku sama sekali tidak terlepas dari keduanya. Mereka menatap kami, namun segera mengalihkan pandangan dan melayang turun sebelum mendarat mulus di tanah. Aku bangkit dari posisi duduk dan memanjangkan leher, memperhatikan si tuyul—ah, kata Rossie siluman—itu menggumamkan kalimat hingga sesuatu yang mengelilingi tubuh cowok itu menghilang. Kepala cowok itu menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari seseorang. Ketika ia mendongak dan matanya bersitatap denganku, ia sempat terkesiap dan berbisik-bisik pada siluman itu. "Bisik-bisik tetangga, kini mulai... terdengar..." aku bernyanyi seperti Mama yang diam-diam hobi berdangdut ria di dapur. "Hai," sapa cowok itu akhirnya. Aku menaikkan sebelah alis. "Kamu siapa? Kok bisa terbang? Bisa ajarin aku?" Dia mengedip beberapa kali. Saling berpandangan dengan siluman itu sebelum benar-benar kembali menatapku. "Lo bisa liat gue—kita?" "Iya. Kamu itu setan apa manusia?" kemudian telunjukku mengarah pada siluman itu. "Kamu tuyul apa siluman?" "Dia manusia, Kak!" Rossie nyeletuk sembari berputar mengelilingi cowok itu. Andy sendiri sudah terlihat nemplok di kepalanya. Cowok itu hanya terkekeh dan melambaikan tangan pada Rossie. "Iya, manis, aku manusia," sapanya ramah. Tiba-tiba tubuh gadis kecil itu membeku. Dia menatap cowok itu tanpa berkedip, sedetik kemudian berteriak kesenengan. "AKU DIBILANG MANIS! KAK RENA AJA YANG SELALU BARENG AKU GAK PERNAH BILANG AKU MANIS! AAAA!" Kemudian dia hilang. "Kalo kamu manis, sih, dari dulu udah dikerubutin sama semut, Rossie," celetukku. "ROSSIE LENYAAP!" teriak Andy panik. Dan bocah satu itu pun ikut lenyap. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Ah, gak jelas. Dunia emang gak jelas. Beberapa saat kemudian, aku menyadari bahwa sekarang sudah jam sebelas malam, dan Nevan belum pulang. "Nevan kemana, sih?" gerutuku. Aku duduk kembali dan mulai merengut kesal. Tak lama kemudian, orang asing itu menaiki tangga dan berjalan mendekatiku. Sampai mereka tiba di hadapanku, ia tersenyum. "Lo pacarnya Nevan?" "Pacar?" aku memiringkan kepala. "Bukan, aku temen dia dari SMA." "Oh..." Dia manggut-manggut dan duduk di sebelahku. Siluman yang tadi terbang kini sudah duduk di pundak cowok itu. Hening melanda kami. Aku masih sibuk dengan aktivitas tepok nyamuk. Sampai akhirnya cowok itu berdeham, membuatku menoleh. "Pernah merasa terpesona sama seseorang, gak?" tanyanya tiba-tiba. "Enggak." "Pernah merasa ingin selalu dekat sama seseorang?" "Umm.... Mungkin." "Pernah jatuh cinta?" Kini ia menatapku lurus-lurus. Manik matanya memancarkan sorot penuh pengharapan bahwa aku akan menjawab pertanyaannya. "Gak pernah," jawabku akhirnya. "Trus lo ngapain di sini?" "Nungguin Nevan pulang kerja kelompok." Dia menaikkan sebelah alis. "Lo bilang cuma temenan sama dia. Tapi, kenapa sampe nungguin selarut ini? Di depan kamarnya pula. Lo gak takut orang-orang mikir aneh-aneh?" Aku tertawa kecil mendengarnya. "Aku emang aneh, kok. Eh, tapi enggak, deng. Emm, lagipula, kamarku ada di bawah." "Ohh.. Lo ngekos di sini juga?" Aku mengangguk mantap. Dia ini siapa, sih? "Eh, kamu, ajarin aku terbang, dong," aku berputar dan menatapnya, "aku males kalo cuma bisa terbang saat keluar dari tubuh." Matanya melotot. "Keluar dari tubuh?" "Dek?" Mataku melirik asal suara yang berasal dari balik punggung cowok itu, mendapati Nevan yang masih dalam keadaan kaget. Siapa dia bilang? Dek? Adik? Kok adik Nevan bisa terbang, sedangkan dia enggak? "Kak Nevan, astaga," cowok itu bangkit sembari menggelengkan kepala. "Gak baik nyuruh cewek nungguin di depan kamar lo sampe selarut ini." Sang kakak mengerjapkan mata berkali-kali, mungkin otak dia masih beku karena stress ngerjain laporan tadi. "Sia—astaga, Rena! Lo ngapain?" "Nungguin elo," aku mengedikkan bahu. "Kan tadi aku udah bilang minta temenin. Karena kamu gak bisa nemenin aku di kamar, aku nunggin kamu di sini. Biar aku bisa di kamar kamu malem ini." Suasana hening kembali. Si adik melongo, mulutnya melongo lebar dan siluman kecil di pundaknya melotot tak percaya. Tak berapa lama kemudian, Nevan dan cowok itu saling tatap dan berteriak kencang secara bersamaan. "KAK! LO GAK SEHARUSNYA MELAKUKAN HAL ITU!" "LO SALAH PAHAM! OTAK DIA EMANG AGAK MIRING!" "Ehh... Udah malem, jangan berisik, pssst," aku meletakkan jariku di bibir. "Kasian tetangga kita udah bobo cantik nanti keganggu..." "Rena." Nevan menggeram, tangannya terkepal kuat dan bibirnya berkedut menahan tawa. "Iya? Kamu kenapa?" aku kembali teringat saat di camping waktu itu. "AH! Kamu pasti nahan boker, ya, kan?" Si adik menahan tawa, ia memegang perutnya dan sesekali melirik Nevan. Siluman kecil yang masih bertengger di pundaknya itu bahkan sudah tertawa ngakak. Wajah Nevan terlihat agak kesal dan menarik pipi adiknya. "Lo jauh-jauh ke sini cuma mau ketawa bareng dia?" Cowok-tanpa-nama itu menggeleng sekali. "Gak lah Kak, gue mau ngasih sesuatu buat lo." Nevan melepaskan cubitannya dan beralih menatap tangan cowok-tanpa-nama yang terlihat sibuk mencari sesuatu di sakunya. Ah, aku penasaran. Sosok yang di pundaknya itu apa, sih? Tanpa basa basi lagi, kujulurkan tangan dan menarik rambutnya. "Ih! Kamu kenapa narik-narik rambut aku?" pekiknya sebal. Eh, gak tembus. Berarti bukan setan. "Kupikir kamu setan. Terus kamu apa, dong?" "Dia pelindung gue, penjaga, babysitter—aw!" tangan adik Nevan beralih mengusap kepala yang baru saja dijitak lalu menatap siluman dengan garang. "Redhood Witch! Sakit!" "Redhood Witch?" aku memiringkan kepala. Dia mengangguk dengan cepat, lalu menyerahkan suatu kotak pada Nevan. Tak sampai beberapa detik, cowok itu mendekat dan memeluk Nevan dengan singkat. "Happy birthday, Kak." Aku melotot. "NEVAN ULANG TAHUN?!" "Dah, Kak Nevan! Dah, pacarnya Kak Nevan!" dia melambaikan tangan dan berlari sebelum melompat dari pagar pembatas ini. Aku memekik kaget dan melongok ke bawah, memperhatikan gerakan terjun bebas yang dulu pernah aku lakukan. Hmm, jadi kepengen lagi, kan. "Nevan, yuk, kita juga ikutan terjun bebas!" "Dia dilindungi sama Redhood Witch, Rena," gumam Nevan sembari menarik kepalaku yang lehernya sudah memanjang maksimal, sampai terasa sakit. "Dia itu siapa kamu, sih?" ♥♥♥ "Namanya Nathan, dia adik gue, dan Redhood Witch adalah penjaga-nya selama di dunia manusia." Aku mengangguk mengerti, tapi kemudian segera menggelengkan kepala sembari memperhatikan Nevan yang tengah menggantungkan jaketnya di balik pintu. Setelahnya, cowok itu memutar kursi belajar dan duduk menghadapku. "Jadi... apa maksud dari minta-temenin-malem-ini yang selalu membuat orang salah paham?" "Ya itu... aku minta temenin malem ini," ucapku sambil memainkan jemari. Nevan berjalan mendekat dan mendekatkan wajahnya. "Lo minta diserang, ya?" "Diserang?! Aku udah sering diserang dalam mimpi!" "RENA!" "Ya?" "Lo sebenernya ngerti, gak, sih, sama apa yang lo omongin?" Aku mengangguk sekali. "Ngerti, kok. Mungkin kamu gak akan ngerti Nev, kamu, kan, gak pernah diganggu atau diserang sama setan-setan itu..." "Jadi selama ini lo ngomongin para setan itu?" tanyanya tak percaya, lalu duduk di sisi lain dari kasur. Aku mengangguk. "Iya. Emang kamu pikir aku ngomongin apa?" Nevan menghela napas berkali-kali, jemarinya menyisir rambut dengan kasar. "Bilang dong! Kalo ngomong itu yang jelas, jangan bikin orang mikir macem-macem!" Aku gak ngerti sama perkataan Nevan... Ah, yasudahlah. Yang penting sekarang aku udah ditemenin sama Nevan. Ketika mataku menyisir isi perabot di kamar Nevan, pandanganku tertuju pada jam dinding. Udah jam setengah 12! "Nevan! Selamat ulang tahun!" ucapku senang sambil melebarkan senyum, namun segera berganti dengan cemberutan. "Tapi aku gak punya hadiah kayak Nathan..." Temen macam apa aku ini? Masa gak tau kalo hari ini Nevan ulang tahun? Nathan aja yang jauh bisa nyempetin dateng, tengah malem pula. Lha aku? Tadi pagi pas dia ngajak berangkat bareng aja akunya malah lupa. "Dengan lo ada di sini, itu hadiah terbaik yang pernah gue dapet." Aku mendongak setelah mendengar perkataan Nevan. "Bukannya aku selalu repotin kamu? Kenapa malah hadiah?" "Gue seneng kok direpotin sama lo." "Yakin? Besok aku mau minta tolong Nevan buat pindahin lemari di kamarku, ya, kayaknya ada sesuatu yang mencurigakan di belakang lemari. Tiap malem selalu ada yang garuk—nah! Kayak gitu!" Aku terdiam beberapa saat, bersamaan dengan Nevan yang melompat mendekatiku. Matanya terlihat awas, dan tangannya mencengkram kemejaku dengan erat. "Jangan aneh-aneh, lo! Minta dicekek, ya?" "Kapan aku minta dicekek, Nev?" Pletak. "Sakit," ringisku sambil mengusap kepala. "Kok kamu gitu, sih?" Nevan menghela napas dan duduk menjauhiku. Dia menatap arah lemari yang tadi sempat terdengar suara aneh, seperti ada sesuatu yang menggaruknya. "Paling itu suara tikus." Bener juga... Kayaknya itu tikus, deh. "Nevan, aku mau jujur." Nevan menoleh dengan kening berkerut. "Sebenernya, beberapa hari ini ada sesuatu yang ngikutin aku." Cowok itu kembali mendekat. Mungkin dia budeg, jadi harus mendekat biar suaraku jelas di kuping dia. "Bukannya lo emang selalu diikutin, ya?" "Tapi, ini beda," aku mendongak, menatap matanya lurus-lurus. "Aku takut, Nev." "Lo serius?" Aku menghela napas dengan berat. Mungkin ini pertama kalinya aku benar-benar merasakan takut yang teramat. Coba pikirkan, bagaimana bisa sesuatu yang kamu rasakan di dalam mimpi bisa terbawa ke dunia nyata? Rasa ketakutan itu, seperti mengikutiku kemana pun. Rasa takut yang sama seperti di dalam mimpi itu. "Kita minta bantuan sama Papa." Aku menggeleng enggan. "Papa kamu jauh, lagian aku gak enak kalo repotin dia." Tiba-tiba dia mengeluarkan ponsel setelah memintaku untuk menyerahkan ponselku. Aku bingung, tentu. Dengan gerakan cepat, Nevan mengetikkan sesuatu di sana. Setelah beberapa detik, ia memperlihatkan layar ponsel di hadapanku. "Lo bisa hubungi Nathan kapan pun," jeda Nevan, "gue yakin dia bakal bantuin elo." "Kenapa dia?" "Meskipun dia gak sejago Papa, tapi gue yakin dia bakalan bisa bantu lo untuk masalah perhantuan. Dia punya kemampuan itu sejak lahir, turunan dari Papa." "Tapi... gue bahkan baru kenal sama dia." "Gak apa," Nevan meletakkan ponsel itu di tanganku. "Gue yakin dia bisa diandalkan." Aku mengangguk, agak ragu karena sebenarnya baru mengenalnya. Tapi mungkin perkataan Nevan ada benarnya. Aku sama sekali tidak mengenal seseorang yang bisa membantuku untuk mengatasi masalah ini. Bibirku tertarik membentuk senyuman. "Makasi banyak, Nev." Nevan mengangguk. "Apapun buat lo, Rena."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN