Angin berhembus kencang, membuat tubuhku melayang melewati suatu daerah dengan deretan pepohonan rimbun. Tanganku kaku, kakiku dingin dan keram. Aku tak bisa bergerak.
Itu Nevan, batinku saat melihat sesosok laki-laki bersandar di salah satu batang pohon.
Aku berteriak memanggil namanya, namun tak ada suara yang terdengar. Aku bisu.
Wajah datar Nevan membuatku takut kalau dia akan meninggalkanku kapan saja.
Tanpa kusangka cewek berambut keriting kayak mie yang pernah bersama dengan Nevan ketika malam keakraban itu datang menghampirinya. Memeluk lengan cowok itu dengan mesra dan membisikkan sesuatu.
Apa yang bisa kulakukan?
Tak ada.
Aku merutuk dalam hati saat Nevan berbalik arah dan berjalan menjauhiku.
Bersama cewek itu.
Rasanya rambut cewek itu pengen aku tarik dan potong kecil-kecil lalu aku jadikan umpan ikan.
Beberapa saat setelah kepergian Nevan dan cewek-berambut-mie itu, angin kembali berhembus kencang dan membawa tubuhku menuju sungai besar. Aku berdiri di atas jembatan dan menatap aliran sungai.
Rena... Temani aku di sini...
Entah telingaku yang rusak atau memang air itu memanggilku? Dia memintaku untuk terjun?
Dugh. Dugh. Dugh.
"Rena? Telpon gue kok gak diangkat?"
Aku mengerjapkan mata karena mendengar namaku disebut berulang kali bersamaan dengan gedoran pintu. Mataku melirik jam dinding yang berada tepat di dinding depanku. Sudah pukul delapan pagi dan aku baru bangun?
Astaga. Pasti karena mimpi itu, aku jadi kesiangan.
"KAK RENA! AKU BOSEN! AKU BOSEN!"
Teriakan Andy yang kelewat besar membuatku lompat dari kasur dan mencium lantai dengan keras. Aku mengernyitkan kening saat melihat sepasang mata mengintip dari gelapnya kolong kasur.
"Mata kamu minta dicolok, ya?" tanyaku sambil memanjangkan tangan ke arahnya.
Saat aku akan menyentuh sepasang mata itu, dia menghilang.
Aneh.
"RENA! Bangun! Kuliah pagi!" suara Nevan seakan membangunkanku dari lamunan. Aku bangkit dari posisi dan membuka pintu kamar dengan tampang bingung.
"HAH? Bukannya kita masuk siang?"
"Jadwal diubah. Kita masuk jam sembilan. Gue baru banget dapet jarkom."
Mampus.
Aku melotot dan segera menutup pintu dengan keras.
"RENA! GUE MASIH ADA DI SINI!" teriakan Nevan membuatku menghentikan langkah.
"Eh, iya, lupa," aku terkekeh dan kembali membuka pintu.
Nevan terlihat mengusap hidungnya yang agak memerah. Bibirnya mengerucut sebal, sesekali menatapku sambil mendumal.
"Yaudah mandi dulu sana, gue mau mandi juga," gumamnya sambil berbalik arah, berjalan menuju tangga. Tapi baru beberapa saat melangkah, cowok itu berbalik arah. "Nanti berangkat bareng."
♥♥♥
Mataku melirik ke berbagai arah, mencari tempat teraman untuk bersembunyi dari tatapan tajam mengerikan yang seakan siap mengulitiku. Bulu kudukku meremang ketika seringaian dan kekehan keluar dari bibir mereka yang lebar.
Aku menyesal memilih kampus ini.
"Apa liat-liat?" tegurku sebal pada sehantu anak kecil.
Dia tersenyum lebar, saat kubentak dia malah makin senang dan akhirnya ngintilin aku. Astaga. Rossie, temen kamu nih ngikutin aku! Dia ke mana pula?
Kepalaku menoleh ke kanan kiri, dan aku sama sekali tidak menemukan sosok Rossie. Andy juga. Oke, jadi mereka ninggalin aku? Mereka main sendiri? Dunia kejam sekali!
"Pagi, Rena..."
Aku menoleh, mendapati Carlos berjalan di sampingku. Dia terlihat berusaha menyamai langkahku yang secepat ninja. Tidak terlihat dan tidak terasa kehadirannya.
Tapi kenapa cowok itu menemukan keberadaanku?
"Mas-mas, awas tuh, ada kepala terbang mau lewat," aku menepuk pundak seorang cowok yang tengah bercanda dengan temannya di depan pintu kelas.
Wajahnya mendadak pucat pasi. "Apaan sih, lo? Aneh banget."
Aneh.
ANEH. Satu kata yang sudah sangat sering terdengar di telingaku. Mungkin sekarang aku harus lebih pendiem? Hmm. Ah, itu bukan aku banget.
"Rena? Hey."
Dhuakk.
"Aduuh," aku meringis sembari mengusap jidat yang baru saja mencium pintu kelas.
Ini kenapa pintu ada di sini, sih? Minggir kek, gak liat ada orang mau lewat, apa?
"Makanya jangan bengong terus," Carlos berdiri di depanku sambil mengusap keningku yang agak memerah. Sesekali ia meniup-niup keningku.
"Eh Carlos," aku mundur beberapa langkah, "jangan tiup-tiup, bau jigong."
Beberapa cewek yang sebelumnya menatapku dengan sorot iri kini berubah menjadi cengo' kayak orang bego. Awas, nanti ada gajah masuk ke mulut kamu.
Saat aku kembali terfokus pada Carlos, ternyata ia sedang mengecek napasnya—bau atau tidak. Bau jengkol, Carlos.
"Jangan bercanda gitu dong, Rena," Carlos tertawa dan menepuk-nepuk kepalaku. "Gue udah gosok gigi tadi pagi."
"Yaudah... Lagian, aku bukan dokter gigi. Kamunya gak usah laporan gitu."
Dia tertawa, diikuti tatapan tidak suka dari para gadis. Apa? Aku bener, kan?
Tangannya yang masih bertengger di kepalaku kini sudah menggoyangkan kepalaku ke kanan dan kiri. Apaan sih, emangnya aku kucing yang suka dielus?
Baru saja aku akan menepis tangannya dari kepalaku, pundakku terasa tertarik dan ada lengan yang memelukku dari belakang. Ketika mendongak, ternyata wajah Nevan terlihat.
"Pagi, Nevan!" sapaku dengan senyuman lebar.
Nevan menunduk dan tersenyum. "Tadi pagi gue bilang apa?"
"Apa?"
Dia memutar bola matanya dengan malas.
"Matamu kenapa? Mau copot?"
"Bukannya gue udah bilang kita berangkat bareng?"
"OH iya," aku terkekeh dan mulai berjalan karena mulai ditarik oleh Nevan. Tanganku melambai pada Carlos yang masih saja diam sambil tersenyum padaku. "Dadah, Carlos!"
"Gue bilang kan, gak usah deket-deket sama dia," Nevan menjepit bibirku diantara jempol dan jari telunjuknya.
Mata Nevan melirik Carlos dengan tajam seakan ingin mencolok mata cowok itu. Carlos yang ditatap sinis hanya nyengir dan berbalik arah, berjalan memasuki kelas di seberang kelasku.
"Mm-mmh mmhh-mmah..."
"Ngemeng apa sih?"
Setelah jepitan maut Nevan dilepaskan, aku membuka mulut. "Emang kenapa, sih? Dia baik—ASTAGA!"
Aku memekik kaget dan segera kabur dari cengkraman Nevan. Saat melihat bangku yang kosong dan tidak ada sehantu pun yang duduk di sana, aku memberanikan diri untuk bergabung diantara para hantu yang mondar-mandir.
Penasaran, sebenernya ini kampus tempat apa, sih? Setannya kok, banyak banget.
"Kenapa, sih? Teriak gak jelas dan kabur."
Nevan akhirnya duduk di sampingku. Tepat menduduki telapak tangan entah-milik-siapa yang bergerak-gerak mencari ruang bebas karena terjepit Nevan.
"Nev, itu jari setan kejepit sama p****t kamu," aku mendongak dengan muka polos, "mendingan kamu bangun dulu sebelum yang punya marah."
Sepersekian detik kemudian Nevan sudah bangkit lalu menoleh ke segala arah. Mataku kembali terfokus pada jari tangan yang sudah kabur dan diambil oleh si empunya. Sehantu kakek yang berdiri di belakang Nevan.
"Jangan ngaco lo, setan mana ada pagi-pagi gini," gerutu Nevan lalu segera duduk kembali.
"Ih kamu gak percaya mulu sama aku. Untung aku kasihtau. Kalo enggak mungkin kakek itu udah..."
"Rena!"
"Yaa?"
"Diem."
"Oke." Diam itu emas. Emas itu mahal. Kalo aku sering diem berarti bakal ada gunungan emas di kamar nanti. Trus akhirnya aku jadi kaya deh.
Eh. Tunggu.
Emasnya itu, emas asli atau emas alami yang terbentuk dalam hidung?
"Rena, tadi kenapa teriak dan kabur gitu aja?" tanya Nevan tiba-tiba.
Aku menoleh, hanya menatap Nevan dengan wajah datar.
"Kenapa?"
Aku menggeleng, lalu menggerakkan jemariku di udara, membentuk satu hurup demi hurup demi membentuk kalimat.
"T-A-D-I K-A-T-A K-A-M-U—Rena! Ngomong biasa aja deh. Lo bukan anak SD yang suka main kode-kode pake jari kayak gitu."
Aku menghela napas. "Tadi kata kamu aku harus diem?"
"Maksud gue, kalo ada sesuatu tentang makhluk gaib itu lo diem-diem aja, gak usah membeberkan dan ngasihtau ke orang-orang."
"Oh..." aku mengangguk mengerti akan perkataan Nevan.
"Jadi...?"
"Jadi?"
"Tadi kenapa?"
"Hah? Tadi apa?"
Nevan menggeram kesal. "Pertanyaan gue yang tadi. Lo pasti lupa, ya."
"Oh..." aku ingat Nevan bertanya kenapa tadi aku kabur begitu saja. "Gak ada apa-apa, kok."
Nevan bilang aku gak usah bilang kalo ada sesuatu tentang hal gaib. Jadi, aku gak perlu kasihtau kalo beberapa hari ini—sejak malam keakraban—ada sesuatu yang mengikutiku.
♥♥♥
Setelah kelas usai, aku bangkit dan membereskan peralatan tulisku dengan cepat karena hawa di sekitarku mendadak berubah menjadi panas. Padahal ruangan ini ber-AC.
"Kok buru-buru?"
Pertanyaan Nevan membuatku menghentikan langkah dan menatapnya jengah.
"Pulang. Laper. Mau makan."
Aku bohong.
Rena...
Dia memanggilku lagi.
Sosok itu. Yang belakangan ini suaranya sering terdengar di dekatku. Bahkan ketika aku berada di kamar kosan pun, suara itu tetap ada. Sama seperti panggilan sebelumnya, tubuhku tak bisa digerakkan.
Sosok yang berdiri di pojok ruangan itu menghampiriku.
Perlahan-lahan penglihatanku memburam bersamaan dengan dia yang sudah berada di sisiku. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Bahkan aku baru sadar kalau sekarang aku tidak berada di kelas, melainkan berada di jembatan.
Jembatan dengan aliran air yang tenang.
Sama persis dengan yang ada dalam mimpiku.
"Rena?" goncangan kecil di bahu membuatku mengerjapkan mata. Keringat dingin mengucur turun melewati permukaan wajah. Aku mendongak, tanganku mencengkram kemeja Nevan dengan erat. "Lo kenapa?"
Aku merapat pada Nevan, dengan bibir bergetar aku berucap, "nanti malem Nevan mau temenin aku di kamar, gak?"
Nevan yang biasanya langsung menjawab setiap pertanyaan yang aku lontarkan mendadak diam seribu bahasa. Telingaku menangkap sorakan dari anak-anak dan itu membuat Nevan mendorongku agak menjauh.
"Lo ngomong apa, sih?" tanyanya jengah.
"Hah? Aku minta temenin kamu nanti malem. Gak boleh, ya?"
Nevan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan itu membuatku memiringkan wajah. "Kenapa, Nev? Nevan gak mau?"
"NEVAN DIAJAKIN BOBO BARENG SAMA RENA!"
Suara kikikan geli dan berbagai ejekan terdengar di telingaku. Aih, aku gak bilang buat bobo bareng sama Nevan. Aku kan cuma minta temenin sama Nevan malem ini.
"Awas Nev, nanti ketularan anehnya si Rena," celetuk seorang gadis.
Enak aja aku aneh! Kamu tuh yang aneh.
Udah rambut keriting kayak mie—eh tunggu. Dia kok ada di sini?
"Nev, lo gak lupa kan, malem ini mau ngerjain laporan sama gue?"
Nevan melirikku sejenak lalu kembali menatap gadis itu. "Bentar, Yas."
Yasmin menaikkan sebelah alis. Oh ya, dia teman satu kelasku. "Jangan bilang lo lebih mentingin dia dari pada laporan kita? Lusa di kumpul, Nev!"
"Iya-iya, tunggu gue di luar. Gue mau ngomong dulu sama Rena."
"Gak ada. Sekarang. Ke perpus."
Yasmin menarik tangan Nevan dengan kuat, memaksa cowok itu untuk mengikuti langkah gadis itu. Nevan mengucapkan "sorry" berkali-kali dengan gerakan bibir. Saat melihat wajah Nevan yang terlihat sangat menyesal, entah kenapa hatiku menghangat.
Aku baru sadar.
Hal yang paling menakutkan adalah saat melihatnya pergi dengan yang lain.