[Malam Keakraban]

1417 Kata
Aku ngumpet di balik pohon. Andy dan Rossie melayang bebas di udara, bermain sulap di depanku. Kepala mereka berdua terlepas dan dilemparkan berualng kali oleh keduanya. Fokusku kembali beralih pada gerombolan teman satu angkatan yang sedang mengobrol seperti lebah yang selalu berdengung. "Kak Rena ngapain, sih?" tanya Rossie penasaran. "Psst, aku lagi menyusun rencana pedekate." Kepala Rossie berhenti tepat di depan wajahku. Matanya menyipit, bibirnya maju beberapa centi dan ia terlihat seperti bebek. "Apa?" tanyaku akhirnya. "Kakak bukannya udah punya Kak Nevan, ya? Kok masih pedekate sama yang lain?" tanyanya sembari memiringkan kepala. "Punya? Nevan punya Mama-Papa dia, bukan punyaku." Rossie menggembungkan pipi. "Kakak kok aneh banget, sih?" "Rossie yang aneh!" "Kakak!" "Rossie! Pokoknya Rossie!" "Enggak! Yang super duper triple mega aneh itu Kak Rena!" "Aku gak suka sama Kakak itu," ucapan Andy membuatku berhenti melotot. Matanya menatap lurus dengan tangan tertunjuk. Disana ada seorang cowok yang nyengir lebar, setiap ucapannya diikuti tawa oleh cewek-cewek di sekitarnya. Duh ya, dia ngapain coba? Lagi memperagakan iklan odol kayaknya. Nunjukkin bagaimana gigi yang sehat. Terus, kenapa Andy gak suka sama dia? "Kenapa Ndy? Gigi dia bagus loh, rata, putih, bersih juga," mataku masih memperhatikan cowok itu, "apa jangan-jangan gigi dia pake pemutih, ya?" Tak ada jawaban apapun dari Andy maupun Rossie. Aku menoleh, tak mendapati dua setan kecil itu. Kebiasaan. Mereka selalu datang dan pergi sesuka hati. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Eh. Itu kayak mantra apa, ya? Hmm. Perasaan ini lagi. Angin dingin terasa menyapu tenguk, menyebabkan bulu-bulu halusku meremang. Aku merinding. Ada sesuatu yang bergerak dari bawah, perlahan memeluk tubuhku. Sesuatu itu merambat, naik hingga akhirnya aku sadar tubuhku membeku. Ekor mataku menangkap sesuatu yang panjang merangkak naik ke atas, menuju wajahku. Aku memilih berada di dalam freezer dibandingkan merasakan dingin nan mencekam seperti ini. "Berikan..." sayup-sayup terdengar desisan, "berikan padaku..." Bibirku bergetar, ingin berkata namun tak bisa mengeluarkan suara. Sekarang sesuatu itu melilit leherku, memaksa agar aku menghirup oksigen seminimal mungkin. Aku kehabisan napas. Sampai akhirnya ekor mataku melihat wujudnya. "Rena?" Semuanya kembali normal. Aku mendongak, menatap Nevan yang tengah memandangku dengan sorot bingung. Ia menyentuh kepalaku. "Lo ngapain? Bentar lagi mau dimulai." "Oh—eh, tadi ada yang meluk aku gitu masa, Nev." Nevan dengan seenak jidatnya menarik lenganku. Bibirku komat-kamit mengucapkan mantra, berhadap Nevan akan melepaskan tangannya namun itu tidak terjadi. Nevan kejam! Aku lagi mendongeng nih, kok gak di dengerin, sih? "Hah? Siapa?" tanyanya cuek. "Setan. Bentuknya kayak uler gitu, tapi ada mukanya," jedaku sambil membayangkan wujudnya, "serem, Nev. Mukanya banyak iler gitu—eh salah, darah maksud aku. Tapi apa jangan-jangan dia olesin mukanya pake cat rumah, ya?" "Rena..." bisik Nevan. "Ya?" "Jangan ngomong macem-macem, deh." Aku menghentakkan kaki. "Aku serius!" "Gue gak percaya." "Yauda kalo gak percaya," gerutuku, "nanti biar kamunya di datengin baru tau rasa." Nevan berhenti mendadak. Membuat jidatku mentok di punggungnya. Dia berbalik arah, menarik kedua pipiku sambil terus bergumam, "jangan ngomong macem-macem, Rena." ♥♥♥ Rasa jengkel menggerogoti jantungku saat melihat Nevan tengah mengobrol dengan seorang cewek berambut ikal. Rambutnya kayak mie, pengen aku makan. Tapi rasanya pasti gak enak, waks. "Halo," sapaan seseorang sama sekali tidak membuatku menoleh. Aku masih sibuk merapalkan mantra agar Mbak Kunti yang sedang cekikikan sambil mainin rambutnya mau menghampiri cewek yang lagi godain Nevan itu. Enak aja godain Nevan. Mau aku setrika ya rambutnya biar lurus? "Hei..." Sebuah tangan bergoyang-goyang tepat di depan wajahku. Akhirnya aku menoleh, mendapati cowok dengan gigi bersih seperti iklan odol itu. "Tangan kamu kenapa goyang-goyang gitu? Keseleo, ya?" Dia terperanjat sejenak, lalu tawanya berhamburan. Ih, dia kenapa, coba? "Ada cabe tuh di gigi kamu, gede banget." Tawanya langsung berhenti. Dia membuang pandangannya dariku dengan wajah memerah. Mulutnya ia tutupi dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia sembunyikan di baliknya. "Eh, kamu kok ngupil ngumpet-ngumpet gitu? Gak apa kok gali emas di depanku juga." Dia berdeham, membuatku mengerjap beberapa kali lalu memekik karena ada tangan yang menarik-narik rambutku. Ini kenapa, sih? Rambutku gak akan panjang kalo ditarik-tarik kayak gini. "Lepas ih..." gerutuku. "Lo kenapa?" "Ada yang narik rambut aku," kataku sambil cemberut, menoleh dan membuang tangan buntung yang penuh darah itu jauh-jauh. Baunya amis, kayak ikan. Gak suka, ah. Gak suka. "Siapa?" Cowok itu menoleh ke kanan dan kiri. "Gak ada siapa-siapa." "Tangan buntung." Dia mengerutkan keningnya dalam, menatapku dengan bingung seakan perkataanku adalah hal teraneh di seluruh dunia. Aku kembali fokus pada Nevan. Tapi ternyata cowok itu sudah memperhatikanku. Mulutnya manyun. Kenapa dia? "Gue Carlos," dia berdeham lagi, "nama lo?" "Rena." "Nama lo cantik, kayak orangnya," satu mata Carlos mengedip bersamaan dengan senyum lebar, dan aku hanya bisa mengerutkan hidung. "Mata kamu kenapa? Kelilipan, ya?" Lagi-lagi, cowok itu tertawa. Kayaknya sekarang banyak orang bahagia, ya. Wah, berarti kejahatan di dunia ini telah berkurang. Apa mungkin berakhir? Ah, tapi gak juga kok. Buktinya tadi rambutku kena tarik tangan buntung. Itu tindakan kriminal juga, kan? "Lo lucu ya, unik." Carlos memiringkan wajah, menatapku dengan senyum lebar. Hal yang dilakukannya membuatku menutup mulutnya. "Awas nanti gigi kamu kering." "HAHAHAHA!" Dia kembali tertawa keras hingga orang-orang yang berada di sekeliling api unggun menoleh pada kami. Eh loh, dia kerasukan apa gimana? Dari tadi kok ketawa aja. Udah baik aku nutupin mulut dia biar gak kering itu gigi. "Rena." Dalam kebingungan, aku mendongak. Mendapati Nevan dengan tangan bersidekap. Dia dan Carlos saling menatap dalam. Jangan bilang kalo Nevan jatuh cinta sama Carlos? Astaga, Nevan.. "Ayo, berdiri. Pindah tempat," Nevan menarikku bangkit tanpa seizinku. "Lo duduk sama gue di sana." ♥♥♥ "Kenapa aku harus pindah?" Aku bingung, tiba-tiba ditarik paksa sama Nevan. Cowok itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku. Tiba seorang senior meminta kami untuk berkumpul dan mendengarkan ceramahnya, Nevan mengajakku duduk di barisan paling belakang. "Cowok itu siapa?" tanya Nevan. "Yang mana?" Nevan menghela napas. "Yang tadi, di sebelah elo, cowok calon penghuni rumah sakit jiwa." "Hah? Siapa? Ya ampun Nev, kita harus nolongin dia. Kasian dia! Aku yakin banget dia sebenernya gak pengen masuk rumah sakit jiwa..." "Rena..." Nevan mendesis seperti ular. "Iya?" "Cowok-berkemeja-hitam-yang-tadi-duduk-di-sebelah-elo. SIAPA?" Wuii Nevan kenapa? Kok ngomongnya terpatah-patah gitu, sih? "OH! Carlos. Aku gak kenal dia siapa. Tiba-tiba aja dia duduk di sebelah aku dan nanyain namaku." Kepalaku manggut-manggut ketika membicarakan kejadian tadi. Nevan yang sebelumnya menatapku tajam kini matanya menyipit. "Trus dia ngomong apa lagi?" "Hmm.. Dia bilang 'nama lo cantik, kayak orangnya.' Trus dia juga bilang kalo aku itu lucu, unik," aku menggerutu. "Emangnya aku badut ya, kok dibilang lucu, sih?" "Jangan deket-deket dia." Aku mengedip beberapa kali. "Loh. Kenapa? Kayaknya dia baik, deh. Aku juga bisa belajar cara senyum yang baik dan benar biar bisa banyak temen." "Pokoknya kalo dia deketin elo, lo harus kabur sejauh-jauhnya," Nevan menoleh, "ngerti?" "Kenapa sih, gak boleh?" "Gak boleh aja. Titik." "Ih, yaudah. Nevan ngeselin nih." Nevan tidak menjawab perkataanku. Ah, Nevan budeg nih. Tau, ah. Ngeselin banget. Aku akhirnya duduk terdiam, memperhatikan seorang gadis yang tengah ditemplokin oleh Mbak Kunti. Tangan Mbak Kunti yang kurus dan pucat itu memeluk leher gadis itu. Kening gadis itu berkerut dalam. Tangannya sesekali mengusap tenguk. "Nevan," senggolku. "Hmm." "Itu cewek ada yang nemplokin loh. Mbak Kunti," ucapku sambil menunjuk cewek itu. "Kukunya panjang-panjang, runcing, warna item pula." "Jangan ngomong macem-macem." "Aku gak ngomong macem-macem! Tuh, buktinya dia mau masuk ke dalam tubuh cewek itu," ucapku jujur. Bener loh, Mbak Kunti itu kayak mau masuk ke dalam tubuhnya. Wah, jangan-jangan bakalan kejadian kayak aku pas camping itu? Dengan panik aku mengguncang tubuh Nevan. "Nevan! Buruan! Ntar dia kesurupan!" Aku bangkit, tapi segera ditahan oleh Nevan. "Gak usah! Sini aja, duduk manis!" Terjadilah tarik menarik antara aku dan Nevan. Cowok itu bersikeras bahwa aku tak harus menolong gadis itu. Tapi aku tau rasanya bagaimana dirasuki. Dan jangan sampe deh dia kena. "MBAK BAJU IJO! ITU ADA MBAK KUNTI NEMPLOK DI PUNGGUNG KAMU! CEPETAN PERGI!" teriakku. Spontan, semua orang yang berada di acara ini langsung terdiam, menoleh padaku dengan kening berkerut dalam. Beberapa gadis yang menyadari tatapanku ke arah cewek yang ditemplokin itu tampak ketakutan dan mulai menjauhi cewek berbaju hijau itu. "Maaf, dia bercanda," Nevan menarik tubuhku agar kembali duduk. Aku merengut sebal. "Aku gak bercanda!" "Rena... Ayo duduk..." desis Nevan. Akhirnya aku nurut. Aku duduk dengan di sebelah Nevan, dengan tatapan tajam ke Mbak Kunti itu. Aku melotot, mata dia juga membesar. Bedanya, mata dia berwarna merah dan mengeluarkan cairan kental itu. Kita saling menatap tajam, hingga akhirnya Mbak-Mbak dengan rambut berantakan itu pergi meninggalkan gadis itu. Rasanya aku mau nyisirin dia aja deh. Mbak Kunti gak punya sisir, ya? Tapi kok, kenapa orang-orang jadi natap aku dengan pandangan aneh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN