[Tempat Baru, Kenalan Baru]

1147 Kata
Dua minggu semenjak kejadian Nevan terhipnotis setan dan hampir masuk jurang. Dua minggu juga sikap cowok itu menjadi aneh. Sebenernya Nevan emang udah aneh, tapi sekarang lebih aneh lagi. Tiada hari tanpa sms atau telpon aku. Aneh kan, dia? Mungkin kebanyakan pulsa ya tu anak. Nevan: makan bareng, yuk! Aku melirik jam digital di ponsel. Baru jam sepuluh pagi. Nevan udah laper? Rena: aku gak napsu makan. Nevan: kenapa? Rena: abisnya cewek di kamar aku daritadi pamer isi perut. Nevan: asdfghjkl!@# Rena: kenapa, Nev? Aku gak bohong! Kamu bisa bayangin gak, ada cewek berwajah pucat di pojokan kamar, berdiri dengan wajah tertunduk, memegang perutnya yang—uhh, yang isinya keluar. Aku bisa melihat lambung, usus, dan lainnya meneteskan darah. Entahlah, mungkin dia kebanyakan makan jadi perut dia meleduk kayak kompor gas. Nevan: 15 menit lagi gue ke kamar lo. "Kakak! Aku gak suka disini!" teriak Rossie jengkel. Oh ya, kini aku sudah tinggal di kosan, resmi jadi anak kuliahan. Kamar Nevan tepat berada di lantai atas kamarku. Yap, bener banget. Ini kosan campur. Cewek-cowok. Tepat di depan rumah kosan ada rumah Ibu Kos yang cerewetnya melebihi Rossie. "Huee..." suara isakan terdengar, membuatku menoleh dan mendapati Andy dengan wajah tertunduk. Rossie yang melihat Andy menangis langsung menghampiri. "Andy kenapa?" tanya Rossie. "Tadi ada anak tuyul ngajakin Andy main, terusnya dia nendang kepalaku," rengek Andy. Aku mengedip beberapa kali. "Mungkin dikirain kepala Andy itu bola kali." Bukannya tertawa, tangisan Andy justru mengeras. Udah tau gak ada air mata yang keluar, tapi kok tu anak tetep aja mewek yak. Yasudahlah... Namanya juga bocah. "KAK RENA!" pekik Rossie dengan mata merah dan melotot. "Apa?" tanyaku bingung. Duagh. Duagh. Duagh. "RENA! RENA! BUKA!" Aku mengernyitkan kening. Nevan ngapain sih gedor-gedor pintu segala? Lagi main dikejar penjahat ya? Aku berdiri, ikut menggedor pintu kamar dari dalam. Akhirnya Nevan menghentikan tindakan ekstrimnya. "Rena! Buka! Jangan ikutan gedor pintu!" teriaknya panik. Ceklek. Akhirnya aku membuka pintu kamar, dan terlihatlah Nevan dengan wajah ngos-ngosan. Dia langsung menarik dan membawaku menjauhi kamar kosan—keluar rumah. "Kenapa sih kamu?" tanyaku tiba kami berhenti di taman depan kosan. Nevan menoleh dengan wajah horor. "Tadi ada cowok dateng ke kosan." "Terus? Dia mau ngapain? Numpang pup?" Pletak. Dengan gemas Nevan menjitak kepalaku dan duduk di sampingku—di pembatas taman. "Dia nyari kamar kosan gitu, nanya, apa ada yang kosong." Aku manggut-manggut. "Trus tau gak parahnya apa?" sambung Nevan. Aku menggeleng tak mengerti. "Dia banci! Banci! Astaga, melambai banget. Perutnya mana besar pula," jeda Nevan dengan wajah horor. "Sumpah gue gak mau banget kalo dia sampe ngekos disini." Kepalaku miring, memandang Nevan dengan bingung. "Trus kalo dia banci emangnya kenapa?" "Geli, Rena! Tadi aja dia udah—" "Gue sedih nih cyin," suara tak dikenal terdengar di telingaku. Aku menoleh, mendapati cowok dengan perut buncit tengah duduk di sampingku. "Gak ada kamar kosong." Tiba-tiba Nevan menarikku berdiri. "Eh?" "Ih elo cowok yang tadi kan cyin? Yaampun! Kenapa tadi kabur gitu aja? Padahal kan gue mau ngajak kenalan," cerocosnya. Genggaman Nevan di tanganku semakin menguat, wajahnya seperti meminta pertolongan padaku. Hmm, dia mau dikenalin sama cowok ini, ya? Apa Nevan tadi gugup banget ya makanya langsung kabur begitu aja ketika ketemu sama dia? "Hai!" Aku melangkah ke depan, menjulurkan tangan ke cowok itu, "Aku Rena, ngekos disini. Nama kamu siapa?" "Lohan, cyin! Gue lagi nyari kosan nih," ujarnya senang. Tapi baru saja dia akan menyambut uluran tanganku, Nevan dengan cepat menarik tanganku dan pergi menjauhi cowok yang bernama Lohan itu. "Lah, Nevan. Gak sopan tau ninggalin orang gitu aja," ucapku bingung, dengan kaki terseret dan tangan melambai kepada Lohan. "Berisik," kata Nevan dengan wajah memerah. Aih Nevan, mukanya lucu banget sih. ♥♥♥ Aku masih memikirkan bagaimana hebatnya Papa Nevan melumpuhkan setan berwajah hancur yang memasuki tubuhku waktu itu. Kata Papa Nevan, suatu saat nanti ketika ilmuku sudah tinggi maka aku bisa mengusir roh-roh jahat. Waw, aku bisa jadi artis kalo gitu. "Makan, jangan bengong aja," senggol Nevan. Aku menunduk, memperhatikan soto ayam dan nasi putih yang masih mengepul panas. Ketika tanganku terangkat untuk mengambil sendok dan garpu, aku melihat seorang gadis dengan sehantu di belakangnya. Pengunjung di warung ini gak terlalu rame. Cuma aku, Nevan, dan dua gadis itu. "Nev, ada setan," ucapanku membuat Nevan tersedak dan menyeruput es jeruk di depannya. "Apaan, sih? Setan mana ada siang-siang?" sewot cowok itu. Aku mengernyitkan kening. "Andy sama Rossie aja ada kok tiap waktu." Nevan menghentikan pergerakannya, menatapku sambil bertopang dagu. "Dimana?" Dalam hitungan detik, aku berdiri dan menghampiri kedua gadis itu. Keduanya mendongak, menatapku dengan heran. Teman satunya yang bermata sipit memperhatikan gelagatku yang memperhatikan Nevan. "Dibelakang dia, bapak-bapak gitu hantunya," ujarku sambil menunjuk gadis yang masih belum bisa mengucapkan sepatah kata pun. "Ada hantu Ri, dibelakang lo," bisik temannya. Sehantu bapak-bapak itu tersenyum melihat tingkahku, dia terbang mendekat dan berkata, "kamu bisa liat saya?" Aku mengangguk. "Bisa dong." Tanpa disangka, hantu itu memandang gadis yang masih melongo. Temannya sudah menarik-narik tangan dia dengan risih. Kenapa, sih? Aneh banget. "Maaf, dia cuma bercanda, kok," Nevan tiba-tiba datang dan menarik tanganku. "Aku gak bercanda, Nevan! Emang ada hantu bapak-bapak yang ngikutin dia!" tunjukku langsung. Gadis itu masih diam, tapi saat Nevan akan berkata lagi, dia bangkit dan menatapku. "Apa dia memiliki kumis? Tubuhnya tinggi dan besar?" Aku mengangguk menanggapi perkataan gadis itu. Tiba-tiba, ia menangis. Aku bingung. "Papa..." bisiknya pelan. "Papa disini?" Temannya yang kaget langsung bangkit dan mengusap pundak gadis itu, menenangkannya. "Dimana Papa sekarang?" tanyanya. "Disamping kamu," ucapku singkat. Tangan gadis itu meraba-raba dengan mata berkaca-kaca, dan saat itu juga ada perasaan sedih memeluk hatiku. "Papa... Airi kangen..." Nevan berhenti menarikku dan terdiam, menggenggam tanganku yang tiba-tiba terasa dingin. Mataku memperhatikan bapak-bapak yang ternyata adalah orangtua dari gadis ini. Jadi Papa dia sudah meninggal? Sehantu itu menatapku dan tersenyum sambil berkata, "jaga diri baik-baik ya, Airi. Papa seneng kamu bisa bersama dengan seseorang yang menyayangimu seperti dirinya sendiri. Salam buat Mama." Dengan cepat aku menyampaikan perkataannya tanpa melewatkan sepatah katapun. Namun tangisan gadis itu semakin mengeras, membuatku ingin menangis juga. Apa kehilangan seseorang begitu menyedihkannya? Setelah aku menyampaikan beberapa pesan dari Papa gadis itu, ia mengucapkan terima kasih dan sempat berkata bahwa tahun depan akan mengikuti ujian masuk di universitas ini. Dia berharap bisa bertemu kembali denganku. Apa dia sudah menganggapku teman? Kalau aku meninggal nanti, apa akan ada seseorang yang menangisiku seperti itu? Ah, aku pernah melihat Mama dan Papa menangis saat aku di rumah sakit kala itu. Aku tau, hanya mereka yang menyayangiku dengan tulus. Hanya mereka satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Bagaimana jadinya kalau mereka tak ada? Aku memandang lekat kepergian kedua gadis itu. Mereka bersahabat, aku yakin itu. Tanpa disangka, Nevan menggenggamku erat. Membuatku sadar kalau aku ternyata tidak sendirian, aku memliki Nevan. "Ayo buruan abisin makanan lo trus kita balik, siap-siap buat makrab ntar malem," sahut Nevan. Ah, malam keakraban. Malam dimana kita akan mengenal teman-teman satu angkatan. Apa aku akan mendapatkan teman? Atau malah sebaliknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN