Lagi-lagi, tubuhku transparant. Jiwaku keluar dari tubuh untuk ketiga kalinya. Sampai kapan aku akan seperti ini? Keluar masuk tubuh. Emangnya gak capek apa? Eh enggak sih.
"Rena? Lo kenapa?"
Aku menoleh ke asal suara. Nevan, dia memangku tubuhku dengan wajah cemas. Apa Nevan sebegitu khawatirnya dengan keadaanku? Gak mungkin, Rena. Geer aja sih kamu.
"Aku gak kenapa-napa, kok." Itu suara siapa, astaga?!
Suara melengking namun menusuk dan terasa dingin itu ternyata keluar dari bibirku. Dia mencoba bangkit, dibantu Nevan yang keningnya sudah berkerut dalam menatapku. Nev, kamunya kenapa?
"Lo masih marah sama gue?" tanya Nevan sambil menatapku heran. Hehe, Nevan kok kamu lucu sih, dari tadi ekspresinya berubah terus.
"Marah? Enggak kok, gimana bisa aku marah sama cowok sebaik kamu," ucapku centil kemudian tertawa seperti cewek berambut tebal yang suka cari perhatian di depan cowok-cowok di sekolah.
Astaga, seenak jidatnya aja dia nyolek-nyolek Nevan! Emangnya Nevan sabun colek?
"Mau kemana dah?" Pertanyaan Nevan membuatku kembali menoleh, mendapati cowok itu sudah digandeng olehnya.
"Ehh! Aku gak pernah gandeng Nevan, ya! Kamu kok tengil banget sih? Gak boleh ngelangkahin aku!" teriakku frustasi seraya menendang udara bebas. "Dasar setan ngeselin! Ganjen!"
Lalu, dengan gaya sengak dia menoleh padaku dan melet. Eh, kurang ajar! Mukaku ternyata gitu ya kalo lagi melet. Jelek banget. Nevan juga kelewat pinter, dia ngapain juga ngikutin langkah cewek itu. Apa Nevan gak sadar kalau dia bukan aku?
Tiba-tiba kepala terbang muncul di hadapanku. "ANDY!" dengan bahagia aku memeluk kepala itu dan menciumnya berkali-kali. "Kamu kemana aja, sih?"
Bibirnya cemberut. "Kak Rena tuh, gak bosen apa keluar-masuk tubuh?"
"Kata siapa aku bosen? Gak kok! Ini asik," Aku nyengir kuda tetapi langsung mengerucutkan bibir ketika melihat Nevan yang berjalan mengikutiku menuju jurang.
"Kak Rena, aku udah nemuin Rossie," bisikan Andy membuatku hilang fokus.
Kini tubuh Andy sudah lengkap. Dia menarik tanganku—mengajakku untuk ikut dengannya. Aku melayang mengikuti Andy, tapi segera berhenti karena ingat Nevan bersama dengan orang yang salah. Akhirnya aku berhenti.
Aku menggenggam tangan Andy, "Andy bisa kan bawa Rossie kesini? Kakak gak bisa biarin Kak Nevan sendirian bareng sama dia."
Andy melirik arah pandangku. Dimana Nevan dan dia berdiri di ujung jurang. Cewek muka hancur itu menunduk, menunjuk ke dalam jurang. Heh, mau ngapain? Bungee jumping? Astaga, gak ada pelindungnya!
"Jadi Kakak lebih milih Kak Nevan dibandingkan Rossie?!" pekik Andy tak percaya. "Awas loh Kak, nanti Rossie bakalan ngamuk!"
Plup! Andy menghilang dengan ngambeknya yang luar binasa. Tumben dia ngambek, biasanya nangis. Tunggu, tadi dia bilang Rossie ngamuk? Sudah biasa. Nanti juga diem sendiri. Dia kan anak ajaib.
Aku melayang rendah tepat di belakang setan itu. Ingin rasanya mencekik dia biar mati sekalian. Baru saja tanganku akan melingkar di lehernya, aku baru ingat. Lha, ini kan tubuhku. Kalo aku cekek dia, nanti aku mati dong? Jadi sekarang, aku harus apa?
Papa Nevan!
♥♥♥
"Kamu suka sama aku kan, Nev?"
Kepalaku berputar dengan cepat, mendapati bibirku menyunggingkan senyum semanis gula. Yaampun, ternyata aku cantik juga ya. Eh. Tunggu. Tadi tu bibir bilang apa? Suka sama gue? Nevan?
"Lo ngomong apa sih? Aneh banget," jawab Nevan sambil menggaruk kepalanya dengan gugup.
Nevan, kamu punya kutu ya? Sini deh aku panggilin monyet biar kutunya bisa dimakan sama dia. Kenapa tu anak jadi aneh gitu? Lagian—EH! Tadi dia boleh gandeng Nevan! Tapi melihatnya sekarang memeluk Nevan, tiada ampun lagi!
"Rena? Ke—kenapa?" suara gugup Nevan membuatku kesal entah kenapa.
"NEVAN! ITU BUKAN AKU!!" pekikku sebal, berusaha menarik tangan Nevan agar ia menjauh dari pelukan kloninganku, tapi ternyata gagal. Setan itu memeluk Nevan dengan erat, menyeringai menyeramkan. Bersamaan dengan matanya yang memerah, bibirnya mendekati telinga Nevan.
"Nevan, aku tau kamu suka sama aku," bisik setan terkutuk itu, "kamu mau kan mati bareng sama aku?"
"Mati sama lo?" tanya Nevan tak percaya.
Bibirku menyunggingkan senyum, berbisik lagi di telinga Nevan namun aku tak mendengar apapun. Ping, kuping, kenapa kamu budeg sekarang, sih? Apa yang dibisikin kloningan itu?
"Pacar kamu ganteng, aku pengen dia nemenin aku di bawah sana," suaranya yang dalam terdengar sangat menusuk jantungku. Dia menatapku tajam, seakan menyatakan bahwa Nevan adalah miliknya.
"Papa Nevaan! Anaknya mau dibawa setan! Cepetan dateng dong Om!" teriakku frustasi karena bingung mau melakukan apa.
"Jadi, Nevan," bisiknya sekali lagi, "mau kan mati sama aku?"
Aku ingin menangis ketika Nevan dengan kepinterannya mengangguk setuju dan memeluk setan itu balik. Melihat perlakuan Nevan yang seperti itu, setan itu tertawa senang dan mulai memiringkan tubuh mereka—berusaha menjatuhkan diri ke jurang.
"NEVAN BEGOOOO!" teriakku kecang, namun aku yakin itu sama sekali tidak terdengar oleh Nevan.
Aku berputar, memperhatikan wajah Nevan yang kini datar, tak ada ekspresi apapun yang ditampilkan olehnya. Kelopak matanya terkulai, sorot matanya pun berbeda dari sebelumnya. Nevan kenapa?
Baru saja aku akan mencoba untuk masuk ke dalam tubuhku, tiba-tiba tubuhku itu terjatuh, begitupula dengan Nevan. Aku tercengang. Mulutku melongo dan lalerpun masuk. Untungnya aku gak dalem wujud manusia. Gak asik banget kalo keselek laler.
"Inilah alasan kenapa Papa ingin nemenin Rena, Nevan."
Suara Papa Nevan yang khas terdengar di telingaku. Aku terharu. Papa Nevan menjawab panggilan alam dariku. Om, apa sebenarnya kita berjodoh? Eh. Enggak mungkin lah. Aku melayang mendekati Papa Nevan yang kini berjongkok di depan Nevan.
"Nevan kenapa sih Om? Masa tadi diajak bunuh diri mau aja," kataku bingung.
Papa Nevan menunjuk tubuhku dengan cepat, "kamu cepetan masuk ke dalam tubuhmu, mumpung dia udah keluar dari sana."
♥♥♥
"Pa?" suara serak Nevan terdengar.
Papa Nevan yang setengah tidur matanya langsung melek sempurna. Aku yang tadinya sedang bermain games langsung mendongak, menatap Nevan yang kini berusaha bangkit dibantu oleh ayahnya.
"Minum dulu," ucap Papa Nevan sembari menyerahkan botol minuman.
Nevan mengangguk, mulai meneguk air mineral itu. Baru saja aku akan merangkak mendekati Nevan, cowok itu menatapku dengan cemas. Seperti ingin mengatakan sesuatu namun gagal karena Papa Nevan sudah berucap lebih dulu.
"Cewek tadi itu udah merhatiin Nevan semenjak kita tiba disini," jelas Papa Nevan. "Dia pengen Nevan ikut, nemenin dia di alam sana. Untungnya Papa dateng tepat waktu, kalo enggak, kalian berdua udah gak akan ada disini.
"Papa udah ngusir dia, udah nelpon polisi juga untuk ngambil mayatnya yang masih ada di jurang biar dia bisa tenang dan gak ganggu siapa-siapa lagi. Kasian dia, dicelakai sama pacarnya sendiri."
Aku bergidik ngeri ketika mengingat Nevan yang tadi hampir saja terjun bebas ke dalam jurang. Gimana kalo Nevan beneran terjun dan mati? Kalo tubuhku dan Nevan terjun bebas, artinya aku mati juga dong ya?
Mati bareng Nevan? Ide bagus...
Astaga. Kenapa aku jadi ketularan setan itu?
"Rena," panggilan Nevan membuatku sadar dari lamunan.
Aku mendongak, menatap Nevan yang sudah tersenyum lembut. Wajahku memanas tanpa sebab, namun segera kembali normal ketika menyadari kami hanya berdua di tenda. "Loh, Om kemana?"
"Keluar, mau nenangin Rossie sama Andy katanya," ucapan Nevan membuat mataku membulat.
"Mereka udah balik? Aku harus—"
"Rena, bisa gak, sekali aja, lo menomerduakan mereka?" tukas Nevan. Tangannya mencekal pergelanganku, menarikku untuk duduk tepat di hadapannya.
"Tapi kan mereka sahabat aku, Nev," jedaku, "sahabat itu nomer satu, di atas segalanya."
"Kalo Andy dan Rossie itu yang pertama, gue nomer berapa?"
Aku mengerutkan kening. Nevan nomer berapa, yak? Hmm. Nomer dua? Ah, tapi enggak deh. Soalnya tadi aku sempet gak mau ikut Andy yang ngajak untuk bawa Rossie.
"Satu setengah, deh!" kataku senang.
Nevan memutar bola mata dengan malas, lalu berbaring dan memunggungiku. Menarik selimut hingga menutupi keseluruhan wajahnya. Aku mengerutkan hidung. "Nevan! Tadi aku disuruh disini, tapi kamunya kok malah munggungin aku gitu, sih?"
"Udah deh, sana ke Andy sama Rossie aja," ucapnya singkat.
Eh? Oh, Nevan mungkin udah ngantuk ya. Makanya dia langsung tiduran dan narik selimut. Baiklah, aku akan mengabulkan permintaannya.
"Yaudah deh aku keluar ya." Aku mendekat, mengusap pundak Nevan dengan pelan sebelum bangkit dan beranjak keluar dari tenda.
Tapi sayup-sayup aku mendengar Nevan berkata, "gue harap suatu hari nanti gue bisa jadi nomer satu. Gak pake setengah."
Aku berhenti bergerak. Menoleh dengan kening berkerut. "Hah? Maksudnya kamu apa, Nev?"
Bermaksud menanyakan maksud pada Nevan, aku terduduk kembali. Tapi ternyata dia sudah menutup mata. Apa Nevan ngigo, ya? Jadi Nevan pengen jadi sahabat aku, ya seperti Rossie dan Andy? Tanpa sadar aku tersenyum senang.