[Mencari dan Dicari]

1260 Kata
"Lo mau kemana?" Nevan mencekal pergelangan tanganku ketika kakiku melangkah menjauhi perkemahan. Sebenarnya bukan hanya kami bertiga yang berkemah, tapi beberapa kelompok mahasiswa terlihat mendirikan tenda di sekitar kami. Dari tadi siang udah banyak setan berkeliaran di sekitar pengunjung perkemahan. Seperti makhluk yang saat ini tengah nangkring di pohon besar belakang tendaku. Bentuknya seperti anak kecil namun wajahnya seperti monyet dan dia berlarian kesana kemari. Saat tertawa, giginya yang runcing dan tajam terlihat. Kambali pada pertanyaan Nevan, aku hanya bisa menjawab, "mau nyari Rossie." "Apaan sih Rossie-Rossie mulu dari siang," Nevan menarikku kembali mendekati tenda dimana Papa Nevan tengah membakar sosis dan daging untuk makan malam kami. "Udah malem. Jangan kemana-mana." "Kamu kan gak kenal sama Rossie," sungutku berusaha melepaskan genggaman Nevan. "Lepas ah, aku mau nyari Rossie, tau!" "Gak," ucapnya singkat. "IH!" Aku menghentakkan kaki. Nevan kenapa jadi semakin rese sih? Emang apa salahnya kalo aku nyari Rossie malem-malem? Rame tau, disini. Aku disapa mulu daritadi. Lagian, menurutku yang berbahaya itu manusia, bukannya mereka. "Eh, ayo makan dulu," ajak Papa Nevan  sembari menyodorkan piring. "Mumpung masih anget." Tangan kanan Nevan yang bebas mengambil sosis dan memberikannya padaku. Aku menggeleng dengan bibir melengkung ke bawah. Tangaku bergerak-gerak, berusaha melepaskan genggaman Nevan namun gagal. "Yaudah kalo gak mau," Nevan mengunyah sosis dengan penuh penghayatan seolah-olah itu adalah makanan terenak sedunia. Nevan tau aja elah kalo aku laper! Ngeselin banget tu orang. Minta ditabok. Tergoda akan wajah Nevan yang menyebalkan, aku akhirnya ikut mengambil sosis dan lupa akan niat awal yang ingin mencari Rossie. "KAKAK! Ayo cari Rossie!" teriakan Andy membuatku terkesiap. "Bentar, aku lagi laper nih," ujarku cuek sambil terus mengunyah sosis. Wajah Andy mendadak kesal, pipinya menggelembung dan bibirnya melengkung ke bawah. Lucu banget dia. Aku tertawa ngakak dan menyodorkan dia sosis. Pengennya sih nyumpel mulut dia, tapi mana bisa? Aku lupa, dia kan bukan manusia. "KAK RENA JAHAT!" pekiknya histeris, lalu plup! menghilang begitu saja dari hadapanku. Eh? Kayaknya aku bikin anak orang nangis lagi nih. Ah tapi dia kalo nangis gak keluar air mata. Kepalaku menoleh ke kanan dan kiri dengan mata menyisir sekitar. Mencari keberadaan Andy. "Rena," sentuhan ringan di pundak membuatku terlonjak. Saat menoleh, ternyata Papa Nevan sudah berdiri di belakangku dengan senyum mengembang. "Ada apa?" tanyanya. Aku menghela napas. "Oom, bisa gak sih setan nyulik setan?" Beliau menggaruk kepalanya sekilas, lalu mengangguk. "Mereka bukan diculik, lebih tepatnya diajak main. Apalagi hantu sekecil Rossie, pasti banyak yang suka." Aku mendelik. "Banyak yang suka gimana, Oom? Dia tuh kerjaannya ngambek mulu." Tanpa berkata apapun, Papa Nevan berjalan mendekati Nevan yang masih asik menghabiskan makan malamnya. Mungkin setelah ini Nevan akan berburu rusa dan memasaknya untuk mengenyangkan perut. "Papa mau temenin Rena dulu ya," ucapan Papa Nevan membuatku mendongak. Begitupun dengan Nevan, dia berhenti makan dan menatap ayahnya lekat. "Temenin kemana, Pa?" Nevan mengerutkan kening. "Jangan bilang kalo Papa percaya Rossie-Rossie itu diculik?" "Nevan lupa, kalo Papa juga bisa ngeliat kayak Rena, hm?" Bibir Nevan terkatup rapat. Tangannya terkepal, dan itu membuatku ingat akan satu hal. "Nevan, kamu kebelet boker, ya?" tanyaku memastikan. Mungkin Nevan bolot, dia melotot dan berteriak, "APAA?!" Aku menggelengkan kepala tak percaya sembari menunjuk tangan Nevan yang seperti menggenggam sesuatu. "Kamu kebelet, kan? Itu tangannya sampe megang batu gitu." Dalam hitungan detik, tawa Papa Nevan pecah. Nevan yang tadinya berwajah masam malah membuang muka dan menutupi mulutnya seperti menahan tawa. Kenapa sih, dia? Bukannya bener ya, kalo orang kebelet boker itu pegang batu biar apa gitu, aduh, lupa. "Kalian kenapa, sih?" kataku sebal. Papa Nevan menghentikan tawanya, lalu beralih menepuk pundak Nevan. "Yaudah deh, Papa berangkat dul ya sama—" "Biar Nevan aja yang nemenin Rena," ucap Nevan singkat, dan dia sudah berada di sisiku. Aku mengerutkan hidung. "Nevan gak jadi boker?" "Enggak." Tanpa aba-aba Nevan berbalik arah dan melingkarkan lengannya di leherku. Dengan seenak jidatnya dia berjalan, membuatku harus melangkah mundur mengikuti langkah kakinya. Papa Nevan hanya bisa tersenyum sembari melambaikan tangannya pada kami. Duh, jadi aku ditemenin Nevan nih nyari Rossie-nya? ♥♥♥ "Rena," bisikan Nevan membuatku menoleh dengan kening berkerut. "Iya?" "Balik ke tenda aja yuk," ucapnya agak ragu. Nevan bejalan dengan tegap di depanku, namun bisa kurasakan tangannya menggenggam pergelanganku dengan erat. Nevan bener-bener mau ke kamar mandi ya? Disini dibangun toilet umum, letaknya dekat perkemahan. "Kamu bener-bener kebelet banget, ya?" tanyaku sembari menghentikan langkah, diikuti oleh Nevan yang juga berhenti. Dia menghela napas dengan panjang hingga kedua pundaknya terjatuh melemas. Aku mengerutkan kening. Nah ya, Nevan kenapa lagi? Dia berbalik menatapku, sebelah tangannya dia masukkan ke dalam saku jaket. "Emangnya Rossie siapa elo, sih? Kenapa lo mati-matian nyari dia?" Aku diam, tidak menjawab perkataan Nevan. Kenapa ya? Apa karena Andy yang terus merengek dan sekarang juga ikut hilang entah kemana? "Dia kan bukan seseorang yang hidup lagi, Rena." Nevan kini menggenggam kedua tanganku dengan erat. "Dunia kita dan mereka itu beda. Masalah mereka, biar aja mereka yang urus." Entah kenapa ada sesuatu yang menghantam hatiku. Secuil dalam hatiku membenarkan perkataan Nevan, namun sebagian besarnya menolak dengan tegas. Bahkan sampai pergerakan tanganku yang menepis genggamannya membuat Nevan terkesiap. "Kenapa?" tanyanya, melangkah mendekat saat aku mulai mundur beberapa langkah. "Kamu gak ngerti, Nev," ucapku sambil memalingkan wajah. "Gue gak ngerti apa? Jelas-jelas Rossie itu beda alam sama kita! Lo gak boleh campuri urusan mereka lagi, Rena!" bentak Nevan. Tanganku terkepal bersamaan dengan mataku yang mulai memanas. Rahangku pun mulai mengeras, bersiap menjawab pertanyaan Nevan. Alasan mengapa aku ingin menolong Rossie. "Kamu gak ngerti gimana rasanya gak punya temen, Nev." ♥♥♥ Aku tersesat. Sepertinya begitu. Aku yakin banget daritadi muter-muter disini aja. Ada satu jurang yang daritadi aku selalu lewati. Kakiku sudah pegal. Dan sepertinya sekarang sudah mulai larut, dilihat banyaknya mereka yang mengelilingiku. "Kamu nyari apa sih? Daritadi kok muter-muter aja," ucap sehantu laki-laki yang sepertinya usianya gak jauh dariku. Dia sedang duduk di dahan pohon, wajahnya pucat dan ada luka memar di beberapa bagian tubuhnya. "Rossie dan Andy," jawabku pelan. "Mau kakek bantu?" Kalo itu, suara kakek-kakek yang sebelah tangannya sudah tidak utuh lagi. Batasnya hanya sampai sikut, dan bagian yang terpotong itu masih meneteskan darah. Aku kasian sama dia. "Gak usah, Kek," ucapku sambil menggeleng. Aku meninggalkan dua hantu itu setelah melambaikan tangan. Lenganku agak memerah dan banyak goresan kecil akibat tergesek semak belukar. Kakiku terasa berat karena ada tangan yang daritadi menempel erat di kakiku. Entahlah, aku tidak mengerti kenapa tangan buntung ini mengikutiku. Tapi sama sekali tidak ada rasa penyesalan karena aku telah berlari meninggalkan Nevan tadi. Lagian, salah sendiri. Dia tuh, ngomong seenaknya aja. Suasana dingin mencekam itu kembali terasa. Aku terdiam sejenak ketika sayup-sayup mendengar sesuatu. Suaranya sangat halus, pelan, dan berbisik. Namun terasa jauh. Aku tau. Katanya, kalau suara dia jauh, artinya dia dekat. "Apa kamu yang nyulik Rossie dan Andy?" tanyaku hati-hati. Bola mataku bergerak ke arah kiri dengan perlahan hingga batas ekor mataku. Tiba aku tak melihat sosoknya dari sebelah kiri, aku melirik ke kanan. Dan disanalah dia, wanita dengan wajah hancur berjarak kurang dari satu centi. Dia menyeringai, menatapku dengan kepala dimiringkan. "Kalau kamu ingin mereka, kamu harus menyerahkan tubuhmu," desisnya. Aku tercekat. Perlahan-lahan aku merasakan panas yang teramat menjalar di pundakku. Perasaan panas dan berat memaksaku untuk menjerit tertahan. Tak lama kemudian aku bersimpuh karena kakiku sudah tak kuat lagi menopang tubuh. "Ka..mu.. mau.. ap..paaah?" tanyaku diantara napas yang tersengal. Tak ada jawaban apapun darinya. Penglihatanku yang mulai kabur menandakan bahwa kesadaranku mulai menghilang. Tapi di saat terakhir, aku bisa melihat Nevan yang berlari mendekatiku dengan wajah cemas. Apa Nevan mencariku? Ada rasa bahagia ketika memikirkan Nevan yang mencariku. Tapi, hati kecilku berkata, tak seharusnya Nevan disini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN