[Kemana Rossie?]

1522 Kata
"Selamat ya Sayang, kamu keterima di Universitas yang kamu pengen!" seru Mama bahagia sambil berjingkrak ria. Aku menghela napas. Haruskah aku senang? Di saat kematian Archy baru menginjak satu minggu? Oh, Archy... Kamu udah bisa terbang kan disana? Kangen sama aku, gak? Kamu pasti kangen kan? Tapi kenapa kamu gak pernah kunjungi aku? Mama menurunkan lembar penerimaan mahasiswa di tangannya. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, menatapku dengan tatapan sendu. "Sayang," panggil Mama. Aku hanya diam, tidak menjawab panggilan Mama meskipun dia sudah mengusap punggungku dengan lembut. Posisiku yang duduk menghadap jendela dengan selimut membungkus hingga sebagian wajah membuat ekspresiku tak bisa dilihat Mama. "Kamu gak boleh terus-terusan kayak gini," ucap Mama. "Kalo kamu sedih, apa Archy akan tenang disana?" Bukannya menatap Mama, wajahku justru semakin tenggelam di selimut. Entahlah. Aku hanya tak ingin berbicara dengan siapapun. Aku ingin sendiri. Menikmati sisa kenangan yang kupunya bersama Archy. Tiba-tiba, ada lengan lembut yang melingkar di tubuhku. Ini tangan Mama. "Sayang, Archy pasti udah bahagia disana," jeda Mama. "Dia pasti udah bisa terbang, ketemu temen-temen dia, bahkan mungkin ketemu sama keluarga dia. Jadi, bukankah harusnya kamu senang karena Arcy udah menemukan kesenangan?" Aku mendongak, menatap Mama yang selama ini selalu berusaha mengerti diriku. "Mama gak ngerti, Rena bukannya gak seneng kalo Archy bahagia. Tapi—" "Rena, kayaknya kamu harus keluar deh. Jalan-jalan," tukas Mama. Aku menggeleng, kembali menutup wajahku dan berbaring. Meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Ada hening beberapa saat karena aku tidak menjawab perkataan Mama. Bisa kurasakan sisi ranjang yang di duduki Mama bergerak, disusul dengan pintu ruangan yang tertutup. Mama pergi. Meninggalkanku sendiri. Semuanya tidak ada yang mau berteman denganku. Si Anak Aneh. Archy bahkan meninggalkanku. Cairan panas itu kembali mengalir. Membasahi wajah yang belum sempat kubasuh dengan air. Dadaku terasa sesak karena menyadari aku sendirian. Brakk! Suara daun pintu yang menghantam dinding kamar membuatku menoleh, mendapati seseorang yang selama ini selalu bersamaku. Orang yang memelukku kala kematian Archy. Nevan. "Bangun, Rena!" teriaknya sambil menarik selimutku. "Ayo siap-siap!" Tubuhku berputar hingga menabrak Nevan dan tangannya memeluk pinggangku erat. Wajahnya menampilkan cengiran lebar. Sudah beberapa hari ini Nevan selalu mengunjungiku. Beda dengan hari biasanya yang memakai kaos lalu duduk numpang baca komik di pinggir jendela kamarku, hari ini dia berpakaian rapi. Nevan terkesiap saat melihat air mataku. Kedua ibu jarinya mengusap cairan bening itu dan menepuk-nepuk pipiku agak keras sambil bergumam, "cengeng banget sih." Tak ada balasan berarti dariku. Aku hanya diam, menatap Nevan dengan wajah datar. Beberapa detik kami bersitatap dalam diam hingga akhirnya aku melepaskan diri saat wajahku terasa panas. Nevan hanya terkekeh dan mundur beberapa langkah sembari mengusap tenguk. "CIYEE KAK RENAA!!" Bersamaan dengan Nevan yang sering datang, Rossie dan Andy selalu menggodaku. Ini menyebalkan. "Kakak... Andy pengen es krim..." rengek Andy. Aku hanya menghela napas, kemudian berbalik arah dan kembali meringkuk, membelakangi Nevan yang entah melakukan apa. Andy menyembul dari bawah ranjang, menyisakan wajahnya yang berjarak beberapa centi dariku. Mataku tertutup rapat ketika Rossie sudah mulai dengan akrobat kepala terbang. Bodo amat deh. "Rena!" bentak Nevan. Ia menarik lenganku, memaksaku untuk bangkit lalu mendorong tubuhku menuju kamar mandi. Dengan handuk di lengan kanannya, ia menunjuk pintu yang sangat malas kumasuki. "Mandi," ujarnya pelan. "Papa udah nunggu di bawah." Aku mengerjap sekali. Papa Nevan? ♥♥♥ "Wuaaaaa!" Aku berteriak sembari merentangkan kedua tanganku lebar-lebar. "Udharhanyhaa sheegheer sehkahliiihhhhh...." "RENAAA!" Nevan kaget setengah mati ketika melihat tubuhku yang setengahnya keluar dari jendela mobil. Apaan sih Nevan? Norak banget, kayak gak pernah naik mobil aja. Oh ya, aku diajak camping di gunung sama Papa Nevan. Katanya sih mau merayakan kelulusan kami berdua. Dan hebatnya lagi, aku satu jurusan sama Nevan! Dengan wajah panik Nevan menarikku untuk masuk ke dalam mobil, sedangkan Papa Nevan hanya tertawa kecil di balik kemudi. "Kahhmuuuhh haaahhrruuss choohbhaaah, Nevhhh..." suaraku tak jelas karena hembusan angin yang kencang mengenaik bibirku hingga melebar seperti bebek. Mataku bahkan tak bisa melihat apapun. "Masuk!" bentak Nevan gemas. Dia menarikku paksa hingga aku duduk dengan tangan berlipat di d**a. Aku cemberut. Lagi asik kok diganggu. Nevan rese. Aku mencoba untuk membuka kaca jendela dan melongo keluar lagi, tapi segera ditahan Nevan. Tangannya itu, nemplok di bahu aku dengan erat. "Nevan, lepasin." Dia tak bergeming. "Kalo gue lepasin nanti muka lo ancur kena semak belukar atau lebih parahnya lagi, kepala lo putus karena tabrakan sama batang pohon. Mau?" "Nevan nyebelin. Aku gak bakalan nyakitin diri aku sendiri kok." Aku mendengus kesal. Bibirku manyun tiga centi dengan pipi menggelembung. "Duduk. Yang. Tenang." "Iyah!" Aku membuang muka, tak mau menatap Nevan yang super nyebelin. "Nev, jangan galak-galak sama Rena, nanti diserang sama Rossie dan Andy loh," celetuk Papa Nevan sambil melirik pantulan kami dari kaca spion tengah. "Nevan gak takut, Pa," ujar Nevan santai. Bener tuh kata Papa Nevan. Nanti diserang sama Andy-Rossie loh. Meskipun mereka iseng sama aku, tapi kalo ada orang yang berbuat nyebelin ke aku pasti kena batunya dari mereka berdua. Kalo kuperhatikan, mata Nevan bergerak kesana-kemari. Kenapa sih? Ah! Hihihihi, dia nyariin Andy Rossie ya? Padahal sih mereka berdua gak tau kemana. Aku curiga mereka ngumpet di bagasi. "Yah," Papa Nevan mengedikkan bahu sekilas."Pokoknya sih jangan sampe malu-maluin diri sendiri di depan Rena, ya." Nevan mendelik, wajahnya merona dan dia melirikku sekilas. Ketika mata kami bertemu, spontan dia melepaskan tangannya di pundakku dan membuang wajah. Bibirnya mengucapkan beberapa kata yang tak jelas. Nevan kenapa, sih? Papa Nevan juga, kenapa ketawa-tawa gitu? "Kakak," wajah Andy yang tiba-tiba menempel di kaca mobil membuatku terperanjat kaget dan mengelus d**a. Astaga, Andy. "Apaan?" tanyaku tanpa menatap matanya. "Ngomong sama siapa?" tanya Nevan. Aku menoleh, menunjuk kaca mobil—tempat di mana Andy menempelkan wajahnya. "Andy. Dia lagi mencoba untuk meratakan wajah sok-lucunya." Nevan memutar matanya dengan malas, sedangkan Papa Nevan hanya tertawa. Oom, jangan ketawa terus. Nanti lama-lama aku panggil Mbak Kunti ya biar bisa nemenin Oom ketawa. "Kakak!!" Merasa diabaikan, Andy akhirnya muncul tepat di wajahku dengan mata berkaca-kaca. Nah ya, dia mewek? "Rossie diculik." Keningku berkerut dalam. "Siapa yang nyulik Rossie? Kolong wewe? Dia gak ada disini, Andy. Lagian kan dia keluarnya nanti kalo matahari udah tenggelam." Nevan menoleh dengan wajah kaget. Keningnya berkerut dalam, ia menatapku bingung. Apa, sih? Bener dong? Kalo bocah ilang kan biasanya diculik sama kolong wewe. "Apaan?" tanyaku akhirnya karena Nevan hanya diam. "Apaan lo bawa-bawa kolong wewe segala?" "Kolong wewe yang itu-nya gede, kan ya?" celetuk Papa Nevan. "Papa!!" pekik Nevan sambil melotot, tak percaya dengan perkataan ayahnya. Lha Nevan kenapa, sih? Emang bener kan, kolong wewe itu-nya gede? Aku curiga dia itu operasi untuk mendapatkan ukuran sebesar itu. Tapi masa sih, Rossie diculik kolong wewe? Oh wewe gombel, dirimu akan menyesal seumur mati karena telah menculik Rossie. Baru saja aku akan kembali menatap Andy, bocah itu sudah lenyap. Keningku berkerut dalam. Kemana dia? ♥♥♥ Baru pertama kalinya aku merasakan hawa sedingin ini. Pusatnya berasal dari punggungku. Aku yang sedang duduk di pinggir jurang hanya bisa terdiam. Menatap aliran sungai dengan bebatuan besar di bawah sana. Aku takkan bisa mengira bagaimana jika tubuhku menghantam bebatuan itu. Sepertinya kepalaku akan remuk dan berdarah-darah. Trus aku jadi setan gentayangan deh. Takutin siapa, ya? Oke, kembali lagi pada sesuatu yang menyentuh tengukku. Dingin, seperti kulitku menyentuh es di freezer. Sensasi itu menyebar hingga leher bagian depanku. sesuatu ini sepeti mencengkram leherku. Telingaku juga terasa dingin, seperti ada hembusan nafas disana. "Andy, Rossie," aku menggeram, "jangan bercanda deh." Sebenernya aku cuma pengen jalan-jalan bentar sementara Nevan dan ayahnya menyiapkan tenda. Tapi berhubung udaranya enak banget, aku jadi duduk di pinggir jurang ini deh. Kini sensasi dingin itu merambat menuruni leher, menggelitik punggungku yang tertutupi cardigan tipis. Bulu kudukku semakin meremang, tapi aku berusaha menekan rasa takutku. "Gak usah pura-pura berani... Kikikikikikkikkii!!!" suara cekikikan itu! Gak mungkin Andy ngikik kayak gitu. "Kakak..." Aku terkesiap saat melihat Andy tengah menatapku sambil menunjukku—arah belakangku. Lho, Andy ada disitu. Berarti yang dibelakangku itu... Mbak Kunti? Aku menoleh dengan cepat. Mendapati seorang—eh salah, sehantu wanita dengan rambut acak kadut, kepalanya pitak setengah—bisa ngaca gak ya? Bajunya robek sana-sini dan terdapat banyak bercak darah. Tapi yang paling parah itu wajahnya. Ternyata bau amis yang daritadi kucium berasal dari luka menganga lebar di bagian pipi kanannya. Setengahnya lagi bahkan dagingnya sudah terlihat, mencuat keluar dan kulitnya tersisa sedikit. Sepertinya dia terperosok jatuh dengan wajah duluan. Buktinya wajahnya ancur gitu. Astaga. Mbak, sabar ya. Nanti aku telponin dokter bedah biar kamunya bisa kembali cantik. "Gak sopan ya kamu liatin aku kayak gitu!" bentaknya setengah kesal. Aku mengerjap sekali. Andy sudah berada di sisiku dengan wajah merengut sebal. Ada apa sih dengan para setan ini? "Kalian kenapa, sih?" tanyaku seraya bangkit dan menepuk-nepuk bagian belakang. Andy merapat sebelum benar-benar memeluk lenganku dengan erat. Dengan cuek aku berjalan melewati wanita itu. Andy masih saja nempel di tanganku. Seperti akan mengatakan sesuatu. Aku menunduk, menatap Andy sembari bertanya, "kamu kenapa? Rossie juga, dia kemana?" Dengan wajah cemberut Andy menoleh ke belakang, tempat dimana wanita itu berdiri. "Tadi Rossie diculik sama dia tau, Kak." "Jangan bercanda deh, Ndy. Mana ada yang mau nyulik Rossie." Andy menghentakkan kakinya. "Beneran! Tadi Rossie ditarik-tarik sama dia!" Oke. Jadi, aku harus nolong Rossie nih? Setan cilik yang centil dan hobi ngambek itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN