Enam

782 Kata
Kata pepatah setiap manusia memiliki pasangannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan dirinya? Kebaikan William telah membuat Sia mengakui perasaannya terhadap laki-laki itu. Meski kenyataannya laki-laki itu tak mungkin dimilikinya. Karena William adalah milik Lia. Seperti mama-nya yang selalu menjadi milik Lia. Ingatan Sia siang itu melayang pada kemarin hari di mana William memintanya untuk naik ke atas motornya. Tapi ketika melihat jok motor yang kosong itu, membuat Sia seakan-akan melihat bayangan Lia di belakangnya. Untungnya bis yang biasa dinaiki Sia berhenti. Sedikit berlari, Sia langsung meninggalkan William yang terus mengikuti gerakannya. Ada rasa tidak enak, namun Sia tidak ingin membuat Lia marah. "Si, siang ini kita nonton yuk!" ajak Maya disela-sela Ibu Nani, guru Biologi yang sedang menerangkan pelajarannya. Membuat Sia tersadar dari lamunannya. "Males May. Lagian nyokap suka ngomel kalo gue nggak langsung pulang." "Anak mami banget sih Si. Kali-kali lo harus nikmati masa muda lo," ujar Maya sok tau. "Berarti lo udah tua ya May? Gaya bicara lo kaya tante-tante aja," ledek Sia. Maya tertawa kecil. "Bukan begitu. Tapi seenggaknya lo harus nikmati masa sekolah. Bukan merenungi nasib lo di dalem kamar seharian," lanjut Maya yang berhasil memukul tepat di hati Sia. Benar, selama ini setelah pulang sekolah yang dilakukan Sia adalah menghabiskan waktunya di kamar. Semua itu dia lakukan demi ucapan terakhir papanya. Sia, jangan nakal dan jangan menjadi beban untuk mama ya... "Pikiran lo ngaco May. Gue nggak se-depressed itu," bantah Sia mengakhiri pembicaraan diantara mereka. Karena tatapan tajam dari Ibu Nani di depan sana siap mengeluarkan lasernya kapan saja. *** Lia memandang William yang sedang bermain basket dengan lincahnya. Laki-laki itu selalu berhasil membuat pandangan matanya terkunci pada dirinya. Hingga tanpa disadarinya senyum lembut selalu terlukis di bibirnya saat memandangi William. "Itu bola mata udah mau keluar begitu," kata seorang gadis berambut pendek seperti anak laki-laki. "Hey, Dhea. Konotasi lo berlebihan tau," balas Lia sambil tersipu. Tapi sejelas itukah pandangan matanya saat ini sampai Dhea, teman baiknya berkata seperti itu. Dhea tertawa lalu duduk di sisi Lia. Pelajaran olahraga memang terkadang menjadi waktu untuk para siswi puas memperhatikan siswa yang mereka sukai. Termasuk Lia di dalamnya. Ia menyukai William sejak kelas satu. Untungnya ketika ia memberanikan diri menyatakan perasaannya, Lia lebih cepat memberikan penawaran kepada William yang akhirnya disetujui laki-laki itu. Sebelum kamu menolakku, setidaknya cobalah menjalin hubungan denganku. Enam bulan saja, jika ternyata dalam enam bulan kamu masih belum memilik perasaan untukku, kamu boleh pergi. Sudah satu bulan berlalu, sikap William kepadanya memang baik. Tapi Lia tahu, laki-laki itu belum menyukainya. Dan sebaiknya Lia mencari cara lain supaya William memiliki perasaan yang sama untuknya. Karena waktu terus berjalan. *** Dengan langkah penuh hati-hati, Sia berjalan menuju ruang guru dengan membawa beberapa gulungan karton berwarna-warni milik Pak Rosadi, guru Fisika sekolah ini. Tadi Sia dimintai tolong oleh guru itu untuk membawa gulungan keramat ini ke mejanya. Tanpa diduga Sia menabrak sebuah tubuh yang tidak terlihat olehnya dari balik gulungan karton yang panjangnya semeter itu. "Ma-maaf," ucapnya cepat kemudian memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat korban yang baru saja ditabraknya. Dan ia mendapati William tepat di hadapannya. Terdengar sebuah decakan kesal. "Seharusnya yang minta maaf itu orang lain. Bukan korbannya." "Hah? Kan gue yang nabrak lo." "Iya, tapi seharusnya yang minta maaf itu gue. Bukan lo. Secara mata gue nggak kehalangan apapun. Sedangkan lo? Buat liat jalan aja susah. Sini gue bantu." Sontak mata Sia membesar. "Nggak usah. Gue bisa kok." Tidak mungkin Sia memberikan sebaguan gulungan itu kepada William. Bisa-bisa  Pak Rosadi marah besar kalau tahu. "Udah sini," kata William memaksa. Lalu ia meraih sebagian gulungan, salah hampir semuanya, dari tangan Sia dan membantunya membawa ke ruangan guru. Akhirnya Sia terpaksa mengalah ketika hampir semua gulungan itu berada di tangan William. Membuat jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya, dan entah mengapa tiba-tiba Sia menjadi sedikit gugup. "Kenapa kemarin lo kabur dan memilih naik bis daripada ajakan gue? Apa karena lo adiknya Lia?" Hening. Ucapan William kali ini membuat Sia tidak bisa membalasnya. Jantungny berdebar cepat, rasa gugup kala mengingat kejadian kemarin membuat Sia mengatupkan rapat-rapat bibirnya. "Siana," panggil William yang tak kunjung mendapatkan jawaban. "Gu-gue rasa itu nggak penting untuk dibahas," jawab Sia ketus. "Kenapa? Kita kan teman. Dan teman dapat membicarakan apa saja." Kedua mata Sia mendelik. Apa katanya? "Sejak kapan?" "Sejak gue kasih pinjem payung gue ke lo," jawab William diiringi senyum lebarnya. "Kalau gitu nanti gue balikin payung lo. Jadi jangan berpikir kalau gue adalah temen lo. Dan terima kasih atas bantuannya. Lain kali gue nggak perlu bantuan lo." Cepat-cepat Sia meraih gulungan-gulungan tersebut dari tangan William dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang guru. Meninggalkan William yang terpaku di tempatnya dengan pandangan bingung dan berakhir tersenyum. Sia kamu sangat menarik, ucapnya dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN